
Sepulang dari rumah sakit Rangga langsung membersihkan diri. Sedangkan Reyna sedang bermain salon-salonan dengan Chaca yang sedari pulang selalu mengekori mereka hingga ikut masuk ke dalam kamar. Reyna mendandani rambut anak gemas berumur lima tahun ini dengan banyak kuncir di rambutnya, dengan karet warna-warni.
"Wow...aunty kuncirnya banyak banget. Chaca sukaa deh!" tutur si anak gemas sambil tersenyum menengok ke kanan dan ke kiri, memandangi pantulan dirinya di depan cermin.
Wajahnya condong mirip dengan Windi yang cantik dan putih namun terdapat lesung pipit di pipinya keturunan Daddynya. Terlihat semakin manis jika tersenyum.
"Bagus kan kuncirannya? Dulu sewaktu kecil rambut aunty panjang, terus sama ibu selalu dikuncir lucu-lucu gini kalau berangkat sekolah." ujar Reyna.
Reyna jadi teringat betapa senangnya Ibunya dengan rambut Reyna yang lebat, lurus dan panjang. Dikarenakan rambut ibu yang keriting dan tipis karena sering rontok. Ibu jadi suka menata tata rambut Reyna dengan berbagai model kuncir maupun kepang waktu kecil. "Huh...jadi kangen Ibu jadinya!" batinnya.
"Terimakasih aunty." gadis mungil ini memeluknya erat.
"Iya sayang, nanti ditunjukin sama Mommy pasti seneng."
"Sayang, Aunty siapin bajunya Om dulu yah." Reyna beranjak ke depan almari mencari kaos untuk Rangga.
Diambilnya kaos berwarna hitam paling atas, karena kebanyakan kaos Rangga berwarna hitam. "Rupanya suka warna hitam." gumam Reyna.
Tak berapa lama dilihatnya Rangga sudah keluar kamar mandi mengenakan celana pendek. Disodorkannya kaos yang ia pilih ke depan suaminya.
"Ini Ga, bajunya." ucap Reyna.
Rangga agak sedikit kaget dengan perlakuan Reyna yang memilihkan baju untuknya. Dalam hati ia merasa senang jika akhirnya Reyna mulai menerimanya sebagai suaminya. Diambilnya baju dari tangan Reyna kemudian segera ia pakai.
"Terimakasih Reyn." ungkap Rangga sambil menjawil dagu istrinya. Ia bisa melihat tindakannya membuat istrinya tersipu malu melihat pipi Reyna yang merona.
"Om!...Om! Coba lihat kuncir Chaca banyak. Bagus kan Om?" suara anak gemas ini membuyarkan kisah manisnya yang sedang PDKT dengan pacar halalnya.
"Emm...iya, cantik banget Cha. Coba deh tunjukkin sama Mommy and Daddy, terus Nek Uyut juga. Pasti pada suka." bujuk Rangga.
"Okey...Om. Chaca ke kamar Mommy dulu yah." Rangga mengacungkan dua jari jempolnya tanda setuju. Dia sudah tidak sabar ingin berduaan saja dengan istrinya.
"Dadah Aunty!" ucap si anak gemas sambil berlari menuju pintu keluar, kemudian menutupnya.
__ADS_1
"Aku mandi dulu, Ga." tutur Reyna kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju ganti.
Rangga hanya mengangguk sambil tersenyum menyaksikan istrinya berlalu. Ia kemudian duduk berselonjor di atas kasur dan bersandar sambil memainkan handphone. Rupanya Doni mengirimkan pesan bahwa besok siang ada rapat penting dengan klien yang tidak bisa di wakilkan olehnya. Karena harus Rangga atau Papinya sendiri yang nantinya memutuskan untuk menyetujui kontraknya. Sudah jelas bahwa Papinya saat ini sangat dibutuhkan untuk Kakek. Sehingga sudah pasti dirinyalah yang harus menghadiri rapat tersebut.
Ia mengabari Papinya tentang hal ini. Ia berdiskusi bagaimana jika ia juga mengajak Reyna kembali ke Solo. Pasalnya ia baru saja menikah dengan Reyna, tidak rela jika harus meninggalkan istri yang baru ia nikahi, dan bahkan belum sempat ia gunakan hak kepemilikannya. Bersyukur Papi mengijinkannya.
Kemudian ia mengabari Doni untuk memesankan dua tiket untuk kepulangannya bersama Reyna. Ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ditolehnya ke samping menampakkan Reyna yang berjalan menuju meja rias, dengan mengenakan dress piama selutut, berkancing depan dari atas sampai bawah dengan lengan pendek dan rambutnya yang masih terikat ke atas tanpa adanya hijab di kepalanya.
Dadanya bergemuruh melihat istrinya yang memperlihatkan sebagian auratnya itu. Dipandanginya Reyna yang melepas kuncir sehingga nampaklah rambutnya yang tergerai hitam, lurus dan panjang sampai ke punggung yang sedang disisirnya. Cantik!
Ia merasa senang akhirnya Reyna mau melepas hijabnya saat sedang berdua saja di dalam kamar mereka. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Reyna melepas hijabnya di depannya. Dari kemarin tidur pun Reyna masih mengenakan hijabnya. Bagaimana mungkin ia bisa meminta haknya jika semua terbungkus rapi.
Reyna sekilas melihat ke arah Rangga. Rupanya ia baru sadar jika sedari tadi Rangga terus memandanginya. Reyna jadi sedikit gugup, dengan segera ia beralih kembali menatap ke cermin sambil mengoleskan krim malamnya.
Dengan sedikit ragu ia berjalan hati-hati menuju ranjangnya. Ia membuka selimut kemudian duduk berselonjor di atas ranjang. Ditariknya selimut menutupi kakinya sampai ke perut. Diliriknya Rangga yang masih tak lepas memandanginya sambil tersenyum ke arahnya.
"K-kenapa Ga, ada yang salah ya?" tanya Reyna.
"Enggak, justru ini sangat benar." diraihnya kedua jari jemari tangan Reyna sehingga kini posisinya berhadapan.
"Justru aku yang harusnya minta maaf Ga. Kemarin aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Kedepannya aku akan berusaha untuk..." ucapan Reyna terhenti ketika Rangga menariknya mendekat kemuadian mengecup keningnya.
"Kamu tidak salah, aku tau ini tidak mudah bagi kamu untuk menikah dengan laki-laki yang belum kamu cintai."
"Kita mulai dari awal, tumbuhkan rasa percaya di antara kita, kita perbaiki bersama hubungan ini agar pernikahan ini di ridhoi oleh Allah hingga ke jannah-Nya." jelas Rangga. Reyna menatap Rangga penuh haru dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mencintaimu, Ga. Bahkan sejak dulu saat kita masih SMP. Dan aku rasa cinta lama ku bersemi kembali untukmu."
Ungkap Reyna dalam hati. Ia belum bisa mengungkapkan perasaannya kepada Rangga.
"Jangan menangis, nanti hilang cantiknya."
Rangga mengacak-acak rambut Reyna bagian atas kemudian membelai lembut rambut Reyna dari atas ke bawah. Keduanya saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat. Lama-lama Rangga semakin mendekat, di kecupnya bibir Reyna sekilas kemudian memandang ke arahnya. Reyna tidak menolak.
__ADS_1
Ditariknya tengkuk Reyna mendekat. Perlahan ia kembali memajukan bibirnya dan mencium Reyna lebih lama. Rangga menyadari jika Reyna masih nampak kaku menandakan ini baru pertama kali baginya. Rangga mulai memperdalam ciumannya, namun terurung dikala terdengar pintu kamar terbuka.
"Braakkk!"
Keduanya langsung berhenti kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Oh..sial! Aku lupa mengunci pintu." gumam Rangga dalam hati.
Pintu terbuka lebar menampakkan Chaca yang berlari menuju ranjang dimana mereka berada. Reyna buru-buru merapikan rambutnya. Kemudian di susul Windi yang baru muncul di depan pintu.
"Ehh Dek, Chaca maksain pengen bobo sama kalian tuh. Udah dibilangin gak boleh malah lari ke sini." ujar Windi yang habis berlarian mengejar Chaca.
"Chaca mau bobo sama Om dan Aunty. Besok kan Chaca mau pulang ke Solo. Bolehlahh...bolehlahh!" rengek Chaca sambil menampakkan puppy eyesnya.
Rangga memandang ke arah Reyna seperti meminta Reyna yang menjawabnya.
"Iya boleh dong cantik, ayoo sini!" titah Reyna.
Chaca naik ke atas ranjang sambil tersenyum membawa boneka teddy bearnya.
"Gakpapa kak, biar dia disini sama kita." Sambung Reyna.
"Okey...kakak kembali ke kamar dulu." setelah berucap Windi menutup pintu kemudiam pergi.
"Ayo sayang kita bobo, berdo'a dulu yah!" ucap Reyna sambil memeluk Chaca.
Dilihatnya Rangga menggaruk bagian belakang kepalanya frustasi. Gagal sudah harapannya untuk mendapatkan haknya malam ini. Akhirnya malam ini mereka tidur bertiga.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To reader's tercinta 😘 yang sudah membaca novel aku, mohon maaf jika akhir-akhir ini suka telat Up 🙏 dikarenakan kesibukan author yang terkadang tidak terduga. Kedepannya diusahakan bisa Up setiap hari yah.
Mohon dukungan like, vote, komentar kritik dan saran tentang karya aku.
__ADS_1
Terimakasih bagi yang sudah membagi hadiah semoga diberikan kelancaran rezeky. aamiin 🤲