
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, tapi Mira dan Dipa baru sampai di tebing Paralayang, Watu gupit, Yogyakarta.
Di galery, tiba-tiba ada komplain yang dari seorang klien, untungnya semua dapat segera terselesaikan oleh Dipa. Mereka pun segera pergi menuju tempat yang ingin mereka tuju. Perjalanan cukup macet, kawasan di Jl. Parangtritis ini sangatlah padat.
Karena khawatir akan kemalaman, akhirnya Dipa meminjam sepeda motor milik salah satu temannya, agar cepat sampai di tempat tujuan sebelum maghrib. Terlebih jalanan menuju tebing Watu gupit pun ternyata cukup ekstrim dengan belokan tajam dan tanjakan tajam karena berada di dataran tinggi perbukitan.
Dari tempat parkir mereka masih harus berjalan kaki naik ke atas, sebab jalan menuju tempat masuk cukup curam.
Sesampainya di pintu masuk mereka harus berjalan kaki menaiki tangga dengan jalan yang cukup sempit. Banyak tempat duduk bagi pengunjung yang ingin menyaksikan sunset sambil menikmati jajanan yang ditawarkan oleh para penjual makanan, minuman atau sekedar jajanan untuk mengganjal perut.
Di tebing teratas, tempatnya cukup luas yaitu tempat yang biasa digunakan bagi para pecinta olahraga paralayang untuk terjun ke bawah. Di sana banyak pengunjung terutama muda-mudi yang duduk-duduk lesehan menunggu matahari terbenam. Di tempat itu lah yang merupakan salah satu spot sunset terbaik, yang menampilkan sunset dengan pemandangan sepanjang pantai Parangtritis di bagian bawah yang dapat terlihat dari atas tebing Watu gupit.
"Gimana Mi, suka nggak sama tempatnya?" tanya Dipa pada istrinya.
"Masya Allah ini indah sekali pemandangannya!" ujar Mira dengan riang sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya takjub.
"Mau beli jajanan, nggak?" tanya Dipa.
"Boleh, aku juga haus banget, akhirnya mereka pun memesan makanan dan minuman dari tempat penjaja jajanan di sana. Ada banyak sekali penjual sehingga tidak perlu takut akan kelaparan.
Mira memesan bola-bola mie, bakso bakar dan membeli air mineral botol untuk menemani mereka melihat sunset. Mereka kemudian mencari duduk yang masih kosong. Ternyata pengunjung sangat ramai hampir semua kursi sudah terisi.
Beruntung mereka masih bisa kebagian bangku. Mira menyantap makanannya sembari memandang indahnya pantai Parangtritis dari tempatnya kini.
"Di, kamu kok tahu tempat ini? udah sering ke sini ya?" tanya Mira.
"Aku kan kuliah di Yogya, mana mungkin aku tidak tahu tentang tempat ini. Dulu sewaktu masih kuliah aku sering liburan bersama temen-temen untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Yogya. Dari mulai pantai, candi, gunung, museum, pusat belanja pernik-pernik oleh-oleh di malioboro dan masih banyak yang lainnya," tutur Dipa menceritakan banyak hal.
__ADS_1
"Ya ampun, seru sekali! mau dong di ajakin ke tempat-tempat itu," tutur Mira.
"Iya, Sayang. Nanti setiap weekend kita agendakan!" tutur Dipa sembari mengelap mulut istrinya yang belepotan makanan di bagian ujungnya, dengan ibu jarinya.
"Oh ya, Didi pernah pacaran nggak?" tanya Mira tiba-tiba.
"Emm, enggak sih! cuma deket-deket saja tidak pernah ada yang aku sukai dari temen-temen di kampus!" ujar Dipa.
"Pasti karena kamu masih berharap kepada Reyna, ya?" tebak Mira.
"Bisa dibilang begitu juga sih, soalnya aku tiba-tiba loose contact dengan Reyna, rasanya tuh kaya digoshting karena hilang begitu saja tanpa jejak!" ujar Dipa mengingat saat Reyna tiba-tiba tidak bisa ditemukan, karena handphonenya tidak bisa dihubungi juga karena Reyna tidak lagi tinggal di rumahnya.
"Oh, iya sih, Reyna memang dulu pindah rumah, kasihan juga kisah cintamu yang bertepuk sebelah tangan dengan Reyna!" tutur Mira sedikit mengejek dan mengulum senyum di wajahnya.
"Sudah-sudah jangan bahas Reyna lagi, memangnya kamu nyaman membahas kisah di masa lalu orang yang pernah singgah di hati pasanganmu? aku saja tidak nyaman membahas tentang mantanmu itu. Bukan karena, aku cemburu ya! cuma males aja," tutur Dipa beralasan.
"Nggaklah itu bukan cemburu, tapi males saja lihat barang-barang dari dia masih kamu simpen!" elak Dipa.
Huh, nggak mau ngaku! batin Mira.
"Kalau tadi, cewek pengantar makanan catering tadi, siapa namanya?" tanya Mira yang tiba-tiba ingat dengan keponakan Reyna yang terlihat tidak ramah kepadanya dan seperti menangis seusai ke luar dari ruangan kantor Dipa.
"Dina? aku nggak ada hubungan apa pun sama dia! aku mengenalnya karena di kerja part time di rumah makan, dan seringkali dia yang mengantar catering nya. Lagi pula aku terlihat akhrab juga semenjak tahu kalau dia itu ternyata keponakan Reyna," ujar Dipa menjelaskan.
"Jangan-jangan kamu tidak peka, karena aku bisa lihat dari sikapnya yang tidak suka terhadapku terlebih aku melihatnya menangis setelah ke luar dari ruangan kantormu," tutur Mira yang yakin jika Dina mempunyai perasaan yang lebih terhadap suaminya.
"Mungkin bukan karena aku sih dia menangis, Mi. Mungkin dia sedang ada masalah!" kilah Dipa yang merasa tidak mungkin, karena selama ini mereka tidak terlalu dekat, dan Dipa tidak pernah mencoba mendekati Dina.
__ADS_1
"Kamu saja yang mungkin kurang peka sama signal-signal yang dia berikan sama kamu selama ini, Di!" ujar Mira yang kekeuh dengan pendapatnya.
"Sudah lah jangan bahas dia juga, kamu nih malah bahas orang lain terus. Yuk ke atas, kita coba lihat pemandangan sunset dari atas!" tutur Dipa memutus arah pembicaraan yang tidak baik.
"Iya, maaf!" ujar Mira kemudian beranjak berdiri sembari mengikuti suaminya melangkah pergi.
Kemudian mereka menaiki anak tangga kembali untuk mencapai tebing paling atas.
Sesampainya di atas mereka melihat seseorang yang sedang bersiap-siap akan meluncur terjun ke bawah dengan paralayang.
Setelah beberapa saat berancang-ancang akhirnya orang itu melompat dengan cepat dan terbang dengan cantik. Mira terpukau melihat pemandangan sunset yang cantik dengan pemandangan orang yang sedang terjun payung.
Mira dan Dipa segera menempatkan diri untuk duduk lesehan di barisan belakang karena ternyata di tebing teratas cukup penuh pengunjung yang memadati lokasi.
"Masya Allah, indah sekali senja sore di tempat ini, Di. Terima kasih karena sudah menunjukkan tempat sebagus ini," tutur Mira.
"Dan ini adalah sunset terindah yang aku lihat karena ada kamu di sampingku!" tutur Dipa dengan tersenyum sembari merangkul bahu istrinya kemudian mengecup pucuk kepalanya yang tertutup hijab.
Seusai menyaksikan sunset mereka singgah sejenak untuk melaksanakan salat maghrib di musala yang tersedia di tempat itu, sehingga tidak perlu bersusah payah untuk ke luar dari lokasi wisata untuk mencari masjid. Seusai salat mereka singgah sebentar lagi untuk makan malam, kemudian baru pulang.
"Didi, berlibur itu tidak perlu jauh dan bermewah-mewah, hanya sesederhana ini saja asalkan denganmu aku sudah sangat bahagia!" ujar Mira sembari meluk Dipa dari belakang, di atas boncengan motor.
Tangan kiri Dipa mengusap lembut tangan halus Mira yang tertaut melingkari pinggangnya.
__ADS_1
...___________Ney-nna__________...