
Setelah berkutat di jalanan Abiyu memarkirkan mobilnya di pelataran rumah unik dan cukup luas halamannya.
Pagi itu Abiyu mendatangi kediaman Hadi Jaya. Abiyu sengaja tidak mengajak Reyna sebelum semuanya pasti dan jelas. Dia tidak ingin istrinya kembali terluka jika tante Lena masih kekeuh tidak mau menyerahkan hak asuh Reynand kepada mereka.
Abiyu turun dari mobilnya dan bergegas menuju teras rumah. Seperti biasa ketika dia datang di pagi hari pasti akan mendapati penghuni rumah yang sedang duduk-duduk santai untuk memulai harinya dengan pancaran sinar mentari di teras depan yang kaya akan manfaatnya.
Beruntung sekali saat itu Reza belum sempat meninggalkan rumah untuk menuju kantornya. Sehingga kehadiran Abiyu sepagi itu masih disambut oleh Reza.
"Assalamu'alaikum," ucap Abiyu sembari melangkah menuju tempat di mana mereka berkumpul.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka hampir berbarengan.
"Roman-romannya ada yang sangat penting ini, Bi. Sudah sarapan belum?" tanya Reza menyambut kedatangan Abiyu dan berjabat tangan.
"Ah ... iya, betul itu Om. Alhamdulillah sudah sarapan, Om," tutur Abiyu sembari mengulas senyum.
Setelah itu Abiyu menyalami nenek juga.
"Maaf semuanya jika lagi-lagi saya harus datang ke mari, padahal baru semalam kita bertemu ya, Om?" ujar Abiyu, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Jika tidak keberatan saya meminta waktunya dulu untuk berbicara. Gak apa-apa ya, Om. Terlambat sebentar?" tutur Abiyu.
"Okelah duduk-duduk, Bi. Ada apa lagi ini, Bi?" tanya Reza sembari kembali duduk di meja bundar yang berada di teras.
"Sebenarnya ini masih seputar Reynand, Om. Saya, mama, dan adik saya tadi pagi sempat diskusi tentang hal itu. Jadi bunda mempunyai sebuah rencana untuk menempatkan adik saya, Fely untuk mengelola resto yang berada di Yogya."
"Jika diijinkan saya, Reyna dan Fely akan berangkat ke Yogya dengan membawa Reynand. Sementara waktu kami akan tinggal di rumah belakang resto yang dulunya adalah rumah kakek saya. Dan, sebelum adik saya turun kelapangan secara mandiri saya akan mendampinginya sembari menjaga Reynand dan Reyna yang berada di rumah belakang."
"Nanti ketika Fely sudah mampu untuk mengelola resto secara mandiri Abiyu dan Reyna akan pindah kembali ke Jakarta untuk mengelola resto yang ada di sini. Sedangkan bunda akan berada di rumah untuk membantu Reyna mengurus anak-anak. Dengan begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan, untuk keamanan mereka? Karena saya akan memiliki lebih banyak waktu untuk menjaga mereka," tutur Abiyu mengungkapkan yang tadi sempat di rencanakan bersama bunda.
Reza menoleh ke arah istrinya. "Bagaimana, Mi?" tanya Reza kepada istrinya.
"Kamu yakin, bisa menjaga Reynand dengan baik?" tanya Lena lagi masih merasa tidak rela melepas cucu kesayangannya itu.
"Insyaallah, Tante. Saya akan berusaha untuk menjaga mereka dengan sebaik-baiknya!" tutur Abiyu meyakinkan kepada Lena dan Reza.
"Saya setuju dengan rencanamu, Nak," tutur nenek angkat suara.
"Papi juga setuju, Mi. Dengan begitu Abiyu akan punya banyak waktu untuk menjaga Reynand bukan, jadi apa salahnya jika kita mempercayakan Reynand untuk dirawat mereka. Apalagi Reynand bersama dengan ibu kandungnya. Papi percaya Abiyu dan Reyna bisa membagi kasih sayang dengan adil untuk kedua anaknya nanti. Mami jangan terlalu over protective. Dimata hukum, mereka jauh lebih berhak dibandingkan dengan kita yang hanya nenek dan kakeknya. Mami sebenarnya ingin bersama dengan Reynand karena berharap Reynand dapat menggantikan Rangga di kehidupan, Mami, kan?" tutur Reza menebak isi di kepala istrinya.
Lena terkesiap dengan penuturan suaminya. Tidak menyangka jika hal itu dapat ditebak oleh suaminya.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan menyerahkan Reynand kepada kalian. Tapi, ingat ... jangan sampai kalian melupakan jika kita sebagai opa dan omanya juga berhak untuk bertemu dengan Reynand kapanpun juga!" tutur Lena menegaskan hak mereka.
__ADS_1
"Baik, Tante. Terima kasih sudah menyetujuinya, saya berjanji tidak akan menghalangi kalian kapan pun ingin berjumpa dengan Reynand," ujar Abiyu meyakinkan.
"Baiklah, kapan kalian akan membawa Reynand?" tanya Lena.
"Mingkin masih dalam beberapa hari lagi Tante, saya mempunyai sebuah rencana untuk memberi kejutan kepada Reyna. Jika semua sudah siap saya akan memberi kabar kepada kalian, karena acaranya nanti juga melibatkan kalian semua," tutur Abiyu menjelaskan panjang lebar. "Sementara saya menyiapkan acaranya, saya minta tolong titip Reynand agar berada di sini dulu," tambahnya.
"Baiklah, Nak Abi. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," tutur nenek turut mendoakan.
"Karena semuanya sudah jelas dan sudah mendapatkan kesepakatan dalam masalah hak asuh Reynand, saya pamit dulu untuk berangkat ke kantor. Kedepannya semoga kalian dilimpahkan kebahagiaan. Assalamu'alaikum!" ujar Reza sembari bangkit berdiri kemudian menepuk pundak Abiyu dengan perlahan tapi mantap.
Reza pun berlalu terlebih dahulu untuk berangkat bekerja.
"Ini, minumannya, Den!" ujar ART sembari meletakkan cangkir ke atas meja.
"Ayo, Nak ... diminum dulu!" titah nenek.
"Baik, Nek. Terima kasih," ujar Abiyu kemudian menyeruput minumannya.
Setelah mengobrol dengan mereka dan bermain sebentar dengan Reynand, Abiyu pun pamit. Dia harus bergegas menyiapkan acara kejutannya untuk Reyna.
Abiyu segera meminta bantuan kepada teman-temannya untuk ikut membantu. Dari yang pemilik WO (Wedding Organizer) diminta untuk mempersiapkan dekorasi dan pernak-pernik pernikahan, catering disiapkan oleh timnya bunda, untuk tempat Abiyu menggunakan Cafe yang telah dirintisnya dengan temannya itu sementara akan dibooking untuk acaranya.
****
"Mbak, ada masalah ini. Si Jerry tidak masuk bekerja tanpa keterangan. Dan, anak-anak yang lain juga gak ada yang tau di mana tempat tinggalnya," tutur Ricky kepada Fely yang saat itu sedang berada di ruang kantornya.
"Kok, Bisa begitu sih, Mas Ricky? Bukankah dia baru bekerja di sini selama tiga hari? Kenapa sudah membolos?" tanya Fely kepada Ricky yang duduk di hadapannya.
"Iya, Mbak. Kalau dia nggak masuk kita kekurangan karyawan lagi ini. walau sebenarnya dia juga belum terima gaji juga kalau tidak melanjutkan kerja, dengan begitu dia yang rugi juga sih, Mbak!" ujar Ricky.
"Ya sudah Mas Rickiy, misalkan besok tidak masuk lagi, coba suruh salah satu karyawan diutus untuk mendatangi alamatnya sesuai yang tertera di surat lamaran kerjanya kemarin, siapa tahu dia memang sakit!" tutur Fely memberi ide.
"Baik, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu," ujar Rickiy kemudian ke luar dari ruangan kantor.
"Ada apa sih, Fe?" tanya bunda Maya.
"Itu Bun, ada karyawan baru, dan baru masuk tiga hari tapi sudah beraninya bolos nggak masuk kerja," tutur Fely kepada bunda.
"Oh, ya sudah misal besok gak balik ya sudah biarkan saja. Mungkin dia dapat pekerjaan lain yang jauh lebih baik," tutur bunda menasehati.
"Baik, Bun. Aku susul mbak Reyna dulu ke ruko samping, ya Bun. Jangan-jangan mereka kebingungan lihat penampilan baru Kak Reyna sehingga tidak mengenalinya," kata Fely sembari beranjak dari meja kantornya.
__ADS_1
"Ya, sudah sana cepat!" titah bunda.
****
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Sesha kepada perempuan bercadar di hadapannya.
"Miranya ada, Mbak?" tanya Reyna.
"Ada, Bu. Apa sebelumnya sudah membuat janji?" tanya Sesha.
"Belum!" jawab Reyna singkat.
"Maaf ada keperluan apa ya, Bu? Karena mbak Miranya sedang sakit," tutur Sesha.
"Permisi! Kak Reyna masih di sini?" tanya Fely yang baru datang dan melihat Reyna masih di lobby pasti Sesha tidak mengijinkan Reyna masuk dengan mudah.
"Mbak Sesha bolehin Kak Reyna masuk, dia masih owner kamu juga lhoh!" perintah Fely dengan mengungkapkan siapa wanita di depannya.
"Ya ampun jadi ini Bu Reyna?" pekik Sesha terkejut merasa bersalah karena menahannya. "Maaf saya nggak tahu karena wajahnya tidak terlihat!" tutur Sesha dengan menyesal.
"Tidak apa-apa, Mbak. Jadi boleh saya bertemu Mira, kan?" tanya Reyna lagi.
"Boleh, Bu. Mari saya antar," ujar Sesha dengan ramah.
Reyna dan Fely pun segera mengikuti Sesha menaiki tangga untuk menuju lantai dua di mana ruang kerja Mira berada.
Tok tok tok.
"Mbak Mira, ini Sesha!" ujar Sesha meminta ijin untuk masuk.
"Iya, masuk saja, Sha!" seruan dari dalam.
Sesha membuka pintu, dan mereka mengikuti Mira untuk masuk ke dalam ruangan Mira.
Nampak Mira yang sedang berbaring di sofa. Melihat ada orang lain selain Sesha, Mira pun sedikit terkejut, kemudian bangkit untuk membenarkan posisi duduknya.
"Ini Mbak obatnya," ujar Sesha sembari menyerahkan obat kepada Mira.
"Siapa itu?" ujar Mira dengan setengah berbisik pada Sesha.
..._____________Ney-nna_____________...
__ADS_1