Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Selingkuh Lagi


__ADS_3

"Than....!" Jonathan menoleh pada seseorang yang telah menarik tangannya.


Begitu pula dengan Mira, Shinta dan Dipa yang baru datang, semua mata mengarah pada wanita itu.


"Kamu....!" seketika Jonatan membulatkan mata tanda bahwa ia sangat terkejut melihat wanita yang tak asing baginya.


"Sebentar, Ra. Ntar aku bakal jelasin!" Jonathan terlihat panik, kemudian beralih pada wanita tadi, "Ikut aku!"


Dengan cepat Jonathan menarik tangan wanita itu untuk menjauh. Ia tidak ingin jika wanita tersebut mengatakan yang tidak seharusnya di dengar oleh Mira.


Mira menatap kepergian kekasihnya dengan heran dan penuh tanya. Belum pernah ia melihat wanita itu sebelumnya. Sebab semua saudara dan kerabat dekat Jona sudah diketahuinya, sehingga Mira yakin bahwa itu bukan kerabat dari jona.


Pikiran-pikiran buruk pun seolah bermunculan. Bagaimana pun Jona sudah pernah menduakannya, dan tidak menutup kemungkinan hal itu akan terulang lagi. Sebab bagi orang yang pernah berselingkuh, kemungkinan lebih besar untuk mengulang kesalahan yang sama.


"Permisi sebentar ya, Tante?" pamit Mira, dan di jawab dengan anggukan oleh Shinta.


Mira tidak ingin sampai kecolongan, ia lantas dengan langkah pelan mengikuti ke mana arah Jona dan wanita tadi pergi. Ternyata Jona ada di balik pintu keluar galery. Mira diam-diam menguping di balik tembok dekat pintu masuk.


"Ngapain kamu ngikutin aku? Aku kan sudah bilang, aku akan segera menikah kenapa kamu masih mencariku!" Jonathan berbicara setengah berbisik namun masih terdengar oleh Mira.


"Ada yang harus kamu ketahui, Than. A-aaku...," ucap wanita itu dengan terbata-bata dan isak tangis yang mengiringi ucapannya.


"Kita tidak ada hubungan apa-apa. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan dan melupakan kejadian waktu itu!" terdengar suara Jona yang sedikit meninggi seperti menahan amarah.


Kejadian? batin Mira semakin di buat penasaran saat mendengar percakapan mereka.


"Tapi, Than, aku..., aku hamil!"


Deg.


Hamil!?


Ucapan dari wanita itu terdengar jelas di telinga Mira. Seketika ia menutup mulutnya yang menganga dengan jari-jemainya seakan tak percaya. Ia merasa seolah di sambar petir saat mendengar ada wanita lain yang mengaku hamil kepada kekasihnya.


Air mata kekecewaan pun tak kuasa terbendung dari sudut matanya. Pundaknya bergetar menahan isak tangisnya yang tanpa suara. Sakit! Sungguh teramat sakit di hatinya. Dadanya sesak menahan perih. Luka hatinya yang sempat retak kembali pecah. Bahkan ini lebih sakit dari yang pertama kali.


"Hamil!" pekik Jonathan yang terdengar sama terkejutnya dengan Mira, "Nggak kamu pasti bohong kan?"

__ADS_1


Jonathan seolah tak percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu.


Sedangkan Mira yang berada di balik tembok mengepalkan tangan berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya yang sudah membuncah di ubun-ubun.


"Aku nggak bohong, Than. Aku nggak pernah melakukan hal itu dengan laki-laki lain. Waktu itu adalah pertama kalinya aku melakukan itu, dan itu pun dengan kamu!" ujar wanita itu dengan kekeuh, "Aku sudah melakukan test kehamilan dan hasilnya positif, Than. Aku hamil anak kamu!"


Mira merasa lemas mendengar pernyataan wanita itu. Dunia seolah runtuh, saat itu juga. Ada yang lebih berat yang ia pikirkan selain rasa sakit di khianati oleh sang kekasih. Saat ini yang ia pikirkan adalah kondisi mamanya jika mengetahui hal ini. Bagaimana jika mamanya tahu jika Jonathan telah menghamili perempuan lain di saat menjelang hari pernikahannya.


Saat Jonathan ketahuan menduakannya dengan Wulan, setelahnya Jonathan selalu datang ke rumahnya setiap malam untuk meminta maaf kepada Mira. Mamanya yang tidak tahu menahu akan duduk permasalahan yang sesungguhnya mengira jika yang terjadi adalah pertengkaran biasa. Dan mamanya meminta Mira untuk memaafkan Jona, karena mereka sudah lama berpacaran.


"Jika berbeda pendapat itu adalah hal biasa Mira, kasih lah kesempatan kepada Jonathan, kalian kan sudah lama pacaran. Mungkin ini adalah ujian untuk perjuangan kalian menuju jenjang pernikahan," ujar mama Mira.


Lamanya Mira dan Jona berpacaran membuat Jonathan cukup dekat dengan mamanya Mira. Begitu pula sebaliknya. Mira cukup dekat dengan mamanya Jonathan maupun adiknya. Sehingga mamanya sudah menganggap Jonathan seperti anak laki-lakinya sendiri. Atas desakan dari mama dan kegigihan Jonathan yang terus berusaha untuk meminta maaf, akhirnya ia menerima kembali Jonathan waktu itu.


Mamanya Mira mempunyai penyakit ginjal. Jika mamanya sampai down itu pasti akan sangat berpengaruh pada kesehatannya. Beratnya memutuskan hubungan yaitu karena hubungan yang terjalin sudah cukup dekat antara mereka dan keluarganya. Bahkan hampir semua kerabat tahu jika mereka akan segera menikah.


"Kita gak bisa omongin hal ini di sini, jangan sampai calon istri aku mendengarnya. Ayo kita bicara di tempat lain!" ujar Jonathan dengan Lirih.


Jonathan kemudian pergi bersama wanita itu tanpa berpamitan kepada Mira.


Sepeninggal Jonathan Mira menangis dan tak beranjak dari tempat itu. Ia hanya diam dan menangis lirih tanpa suara.


Sejenak Mira hanya diam dan menuntaskan tangisannya.


"Tante, Mira mohon maaf, Tante!" ujar Mira akhirnya.


"Minta maaf untuk apa, Mira?" tanya Shinta.


"Saya, tidak jadi membeli gaun pengantinnya, Tante. Saya tidak jadi menikah! Hiks....hiks...hiks!" ujar Mira di sela-sela isaknya.


"Sudah, tidak apa-apa. Sekarang kamu tenangkan diri kamu terlebih dahulu ya!" tante Shinta mengusap-usap punggung Mira menenangkan.


Sesaat Mira merasa lebih tenang merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Sebab saat berada di rumah nanti ia tidak bisa menunjukkan kesedihannya kepada mamanya. Setelah bisa tenang Mira mengurai pelukannya kemudian berniat untuk pulang.


"Tante, sekali lagi saya mohon maaf karena sudah membuang waktu anda menjadi sia-sia!" ujar Mira dengan rasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa Mira, saya mengerti. Kamu yang sabar ya? Selesaikan saja masalah kalian terlebih dahulu. Semoga masalahmu dapat terselesaikan dengan baik, ya Mira!" Mira mengangguk kemudian menyeka air matanya.

__ADS_1


"Tante, kalau begitu saya permisi untuk pulang. Sekali lagi mohon maaf, Tante!" ujar Mira berpamitan.


"Iya sayang. Kamu tadi datang ke sini dengan pacarmu bukan? Sebaiknya pulangnya biar diantar saja sama Dipa ya?" ujar Shinta menawarkan agar Mira diantar oleh anaknya.


"Tidak perlu repot-repot, Tante! Saya pulang sendiri saja. Permisi ya Tante, Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam!"


Mira berjalan meninggalkan butik milik Shinta. Namun ia tidak memesan taxi online justru ia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan ia melamun memikirkan masalahnya hingga menyusuri jembatan yang di bawahnya mengalir deras sebuah sungai. Mira naik sedikit pada pagar jembatan untuk menengok air pada sungai yang membentang di bawah jembatan.


"Aaaaarrggghh...!" Mira berteriak meluapkan rasa sedih, sakit, dan amarahnya, "Aaaaarrggghh...!" ia mengulanginya lagi hingga beberapa kali.


"Breng zek kamu Jona! Kamu laki-laki breng zek dan gak tau diri! Aku benci sama kamu!" teriak Mira sekencang-kencangnya.


Srhuuuurt.


Mira terjatuh ke bawah karena ada seseorang yang menariknya dari belakang.


"Arghhh...!" pekiknya saat tubuhnya jatuh ke lantai.


"Elo...! Ngapain lo ngikutin gue!" Mira marah karena Dipa adalah orang yang telah menariknya dari pagar jembatan.


"Gue nggak ngikutin lo, gue mau pulang tapi malah ngelihat lo di jembatan!" kilah Dipa menjelaskan.


"Terus ngapain lho narik gue sampe jatohh!" Mira nyolot merasa terganggu oleh laki-laki di depannya.


"Gue nolongin lo lah! Meskipun lo sedang menghadapi masalah, bunuh diri itu gak akan menyelesaikan masalah lo. Yang ada lo bakalan masuk neraka ntar!" ujar Dipa menasehati perempuan ngeyel di depannya.


"Arghhh...!" Mira memukuli lengan tangan Dipa dengan kepalan tangannya, "Siapa yang mau bunuh diriii...!" teriaknya kepada Dipa penuh emosi.


"Ishhh, bar-bar banget sih lo jadi cewek! Ayo gue anter pulang!" Dipa langsung menarik tangan Mira masuk ke dalam mobilnya.


Flashback Off.


"Sekarang lo tenangin diri lo, gue anter pulang ke rumah lo. Dan lo gak perlu cerita soal permasalahan lo tadi ke nyokap lo. Yang perlu lo lakukan adalah meminta penjelasan terlebih dahulu sama tuh cowok tentang kebenaran apa yang tadi lo dengar. Okey!" ujar Dipa akhirnya setelah beberapa kali berputar-putar yang tak tentu arah karena Mira belum siap untuk pulang ke rumahnya.


Mira mengangguk kemudian menatap Dipa dalam. Ia tidak menyangka jika cowok yang baginya asing ini bisa sepeduli ini kepadanya. Mereka hanya sempat bertemu sesekali saat ia menemui Reyna. Sungguh beruntung Reyna di kelilingi oleh laki-laki yang baik. Tidak seperti dirinya yang selalu di duakan oleh kekasihnya yang telah lama dipacarinya.

__ADS_1


___________________Ney-nna__________________


__ADS_2