
Pov Fely.
Keesokannya seusai adzan subuh aku bangkit dari tempat tidur dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan mas Nabil tengah mendirikan salat.
Seusai mandi aku duduk di depan meja rias untuk menyisir rambutku. Mas Nabil terlihat bangkit dari bersandar pada ranjang, kemudian membenarkan posisi duduknya di tepian tempat tidur mengahadap ke arahku.
"Masih merah, ya?" tanyanya seraya melihat ke arahku.
"Masih belum tuntas, Mas. Sabar ya!" ucapku sembari mencakup kedua pipinya dengan kedua tanganku.
Mas Nabil terlihat sedikit kecewa, dan aku merasa bersalah melihatnya. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah kehendak Allah.
"Iya, mau bagaimana lagi, kan!" ujarnya dengan pasrah.
Saat aku bangkit berdiri, tiba-tiba Mas Nabil menarik tanganku.
"Mau ke mana?" tanyanya padaku.
"Masak dong, Mas. Katanya mau dimasakin," jawabku dengan posisi berdiri menghadap ke arahnya.
"Oh iya, ya udah yuk aku temenin masak!" ujarnya seraya beranjak berdiri, kemudian menggenggam jemari tanganku.
"Ada yang bisa aku bantu, nggak?" tanya mas Nabil sesampainya kita di dapur.
"Enggak usah, Mas. Biar aku aja yang masak, Mas duduk aja di situ!" ujarku sembari menunjuk pada kursi di samping meja makan.
Mas Nabil mengangguk tanda setuju, kemudian duduk di tempat yang tadi aku tunjuk, netranya mulai fokus pada handphone di tangan.
Pertama, aku memasak air untuk menyeduh kopi kesukaan mas Nabil yang selalu dibuatnya dipagi hari. Kemudian, aku muai menyiapkan bumbu untuk memasak ayam bulgogi. Mas Nabil sangat menyukainya. Sejak semalam sudah request mau di buatkan menu itu untuk sarapan pagi ini.
Tak berapa lama air mulai mendidih. Aku segera menyeduh kopi dan menaruhnya di depan mas Nabil. "Ini kopinya, Mas!"
"Terima kasih, Sayang!" ucapnya kepadaku, dan aku balas tersenyum kepadanya.
Aku kembali menekuni masakanku. Hingga setengah jam berlalu akhirnya masakanku matang. Aku menghidangkannya di hadapan mas Nabil, kemudian kami memulai sarapan.
"Gimana, Mas? enak nggak?" tanyaku saat melihatnya mulai menyuap makanan di piring.
"Baru juga mau masukin ke mulut, Sayang, udah ditanya aja," ujarnya sembari tersenyum. "Bismillah!" ucapnya kemudian memasukkan sendok ke dalam mulut.
"Hehehehe ...!" aku terkekeh ke arahnya.
Mas Nabil terlihat mengunyah makanannya dengan lahap.
"Emmh, masakan kamu enak banget, Sayang! terima kasih, ya? aku suka apa pun yang kamu masak semuanya enak." Puji Mas Nabil sembari mengusap lembut pipiku.
"Sama-sama, Mas. Habisin, semuanya ya, Mas!" ujarku pada mas Nabil sembari menambahkan ayam bulgogi di atas piringnya.
"Fe, bisa-bisa aku makin gendut nih, berasa makan ala restoran setiap hari, dengan porsi suka-suka!" ujarnya.
"Maksudnya, Mas?" tanyaku sembari melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Masakan kamu tuh enak-enak ala chef, tapi bedanya kalau makan di resto porsinya kan cuma dikit, tampilannya menarik dihias dengan sedemikian rupa. Nah kalau di rumah kamu bikinnya banyak kaya porsi makan di warteg, Sayang. Gimana gak bikin gemuk, soalnya bikin pengen nambah terus," ujar Mas Nabil mengomentari porsi masakanku.
Aku memang sengaja bikin agak banyak. Aku suka saat melihatnya selalu menghabiskan masakanku.
"Habisnya tiap liat kamu makannya lahap, bikin aku semangat masak, Mas. Gak apa-apa sih kalau gendut asalkan setia. Hahahaha ...," ujarku dengan bercanda.
"Ish, aku gendut kamu tetep sexy begitu, Sayang! aku yang harap-harap cemas dong ...."
"Kenapa, Mas? aku juga setia tau, Mas," ujarku meyakinkan.
"Kamu cantik, cerdas, pinter masak, salihah, masih segel lagi ..., Mas takut aja ketikung sama takdir," ujar Mas Nabil asal.
"Hahaha apa sih, Mas? ngomongnya suka asal deh!" ujarku sambil terkekeh.
Tanpa sengaja, sepintas ku melihat ke arah jarum jam di dinding yang menunjukkan pukul 05.55 yang tepat berada di belakang mas Nabil.
"Ya ampun, Mas! udah hampir jam enam tuh, yuk buruan makannya, nanti bisa ketinggalan kereta kamu, Mas!"
"Oh iya, cepet banget sih jamnya! bikin berat nih mau pergi, padahal sebelum menikah malah seneng kalau dapat tugas ke luar kota gini, sekarang kok kaya males mau pergi-pergi," ujar Mas Nabil sembari bergegas menyelesaikan makanannya.
"Dua hari doang, Mas!" pungkasku.
"Iya deh, semangat-semangat!" ujar mas Nabil menyemangati diri sendiri.
Seusai sarapan aku membereskan meja makan kemudian segera kembali ke kamar untuk bersiap-siap untuk mengantarkan Mas Nabil ke stasiun Tugu. Keretanya akan berangkat pukul 07.30.
"Udah siap, Mas?" tanyaku saat masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba Mas Nabil menarik lengan tanganku hingga aku terjatuh ke pelukannya. Mas Nabil memelukku dengan erat seolah tak ingin melepaskanku. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya yang masih bertelanjangg dada sehabis mandi. Tercium aroma sabun yang sangat wangi dan menyegarkan.
Mas Nabil melonggarkan pelukannya, kemudian mengecup bibirku sekilas. Dia memandangi wajahku dengan intens.
"Gih pakai baju dulu, Mas!" perintahku.
Mas Nabil sudah mengenakan celana panjang, namun belum memakai kemejanya. Ku lirik ke samping tempat tidur, kemejanya masih terlipat dengan rapih di atasnya.
"Sebentar lagi!" kilahnya.
Tangan kiri mas Nabil menelusup pada tengkuk leherku dan tangan kanannya menarik pinggangku seraya mendekatkan wajahnya ke depan memutus jarak di antara kita.
Aku mulai menerka-nerka apa yang akan terjadi pada detik-detik berikutnya. Dan, benar saja, selanjutnya Mas Nabil mulai mencium bibirku dengan sangat lembut, membuatku terbuai dan tak bisa berkutik dibuatnya.
Hingga cukup lama hal itu terjadi tanpa jeda. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut hingga aku terengah-engah untuk mengimbanginya. Beberapa saat berlalu dan dia masih belum rela melepaskan pagutannya di bibirku.
Tiba-tiba terdengar dering handphoneku berulang kali, hingga membuat mas Nabil akhirnya melepaskanku.
"Ish, siapa sih yang telepon!" ujarnya dengan raut muka yang terlihat kesal.
"Bentar, ya Mas!" ujarku dengan tersenyum sembari mengusap pipinya.
Kemudian, aku beranjak menuju handphone yang berada di atas nakas dan segera mengangkatnya. Sayangnya teleponnya sudah terputus.
__ADS_1
"Siapa, Sayang?" tanya mas Nabil sembari mengenakan kemejanya.
"Kak Reyna, Mas. Nih dia kirim pesan baru aja, katanya nanti malam disuruh menginap saja di sana kalau Mas jadi ke Jakarta," ucapku seusai membuka pesan dari kak Reyna.
"Iya sih mending kamu tidur di sana saja lebih aman, aku juga gak tenang kalau kamu di sini sendirian, Fe," ujar mas Nabil sembari mengenakan jaket kulit berwarna hitam sangat matching dengan kaos bagian dalamnya yang berwarna grey, dan juga celana jeans berwarna hitam.
MasyaAllah, so coolnya suami aku! bikin meleleh saja sih kamu, Mas! batinku saat memperhatikannya yang sedang berbicara.
"Sayang, kok malah bengong sih? gih buruan ganti baju! udah setengah tujuh lebih lhoh," ujar Mas Nabil yang membuatku seketika tersadar dari lamunanku.
"Eh, i-iya, Mas!" aku terlonjak, kemudian bergegas menuju almari dan mencari baju ganti karena aku masih mengenakan baju rumahan.
Setelah selesai bersiap kami berangkat menuju stasiun. Jalanan sudah mulai sedikit macet, karena bertepatan dengan jam keberangkatan anak sekolah.
Pada saat di lampu merah mas Nabil menghubungkan kabel pada audio mobil dengan handphonenya. Sebuah lagu romantis terputar dan dia mulai bersenandung mengikuti irama lagu yang terputar.
...π΅πΆπΆ...
...So as long aa I live I love you...
...Will have and hold you...
...You look so beautiful in white...
...And from now to my very last breath...
...This day I'll cherish...
...You look so beautiful in white...
...Tonight...
...What we have is timeless...
...My love is endless...
...And with this scream I...
...Say to the world...
...You're my every reason you're all that I believe in...
...With all my heart I mean every world...
MasyaAllah! pekikku di dalam hati.
Aku sungguh terkesima saat mas Nabil mulai menyanyi dengan suaranya yang merdu. Terlebih lagunya yang romantis membuatku tak bisa berkata-kata. Lagu beautiful in white'nya Shane Filan yang liriknya sungguh indah membuatku semakin jatuh hati padanya.
Mas Nabil, i'm falling in love with you! ucapku dalam hati.
...__________Ney-nna_________...
__ADS_1