Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Jalan Keluar


__ADS_3

"Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Gunawan," tutur Raka pada seorang reseptionis yang berada di front office lobby perusahaan papa Maura.


"Pak Raka, ya? silakan, Pak. Anda sudah ditunggu di ruangan Pak Gunawan sejak tadi," ucap seorang resepsionis yang langsung mengenali siapa tamunya.


"Baik. Terima kasih, Mbak!" ucap Raka dengan ramah.


Raka kemudian berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai empat ruangan kantor papa Maura berada. Raka segera masuk ke dalam tepat ketika pintu lift terbuka.


Ini memang bukan yang pertama kalinya Raka mendatangi perusahaan papanya Maura. Sebab, Raka sudah sangat sering mendatangi perusahaan ini ketika mengantarkan Maura ke kantor atau untuk mendatangi RUPS mewakili kakeknya sebagai pemilik saham. Beberapa dari karyawan kantor juga tahu jika Raka adalah suami dari anak pemilik perusahaan.


Tok tok tok.


"Masuk!" ucap seseorang dari dalam.


"Assalamualaikum, Pa," ujar Raka saat memasuki pintu.


"Wa'alaikumussalam, Raka. Akhirnya kamu datang juga," ujar Gunawan menyambut kedatangan menantunya.


Setelah menyalami mertuanya, Raka dipersilakan duduk di sofa ruang tamu yang berada di ruang kantor tersebut.


"Sehat, Pa?" tanya Raka mengawali obrolan.


"Alhamdulillah, lebih baik dari sebelumnya, Raka. Mamamu akhir-akhir ini sangat ketat mengatur pola makan Papa agar penyakit Papa tidak kambuh," tutur Gunawan.


"Itu bagus, Pa. Semua demi kebaikan Papa juga." Raka menimpali.


"Benar, Raka. Oh ya, Papa sudah mengetahui tentang kondisimu saat ini dari istriku. Papa sangat prihatin dengan apa yang dilakukan kakek mu terhadapmu. Papa juga tahu kakek mu mengancam pihak investor untuk menanamkan modal mereka di perusahaan yang baru kamu rintis. Tapi, rasanya Papa tidak bisa diam saja mengetahui kamu sedang mengalami kesusahan dan Papa hanya menonton saja," tutur Gunawan panjang lebar.


"Tapi, kakek bisa melakukan hal yang tidak baik pada perusahaan Papa jika Papa membantuku," elak Raka mengkhawatirkan perusahaan mertuanya jika sampai terkena imbasnya saat ketahuan membantunya.


"Papa tahu, dan untuk itulah Papa mengajakmu bertemu, Raka. Papa punya rencana yang bagus agar kakek mu tidak tahu jika aku membantumu," tutur Gunawan dengan senyum cerah di wajahnya.

__ADS_1


"Bagaimana, Pa?" tanya Raka penasaran.


"Papa akan memberikan modal untuk perusahaan mu tanpa tercatat sebagai pemilik saham atau investor. Papa akan memberikan pinjaman modal secara bertahap. Dengan begitu kakek mu tidak akan bisa melacak pinjaman dana yang aku berikan," ungkap Gunawan.


"Mana bisa begitu, Pa? bagaimana dengan bagi hasilnya jika tidak ada hitam di atas putih, Pa?" tanya Raka yang merasa hal itu tidak adil sebab tidak akan menguntungkan bagi perusahaan mertuanya.


"Tidak apa-apa, Raka. Kamu sudah terlalu banyak membantuku, kini saatnya Papa membantumu yang sedang dalam masalah. Kamu cukup mengembalikan modal itu perlahan-lahan ketika perusahaan mu sudah berjalan dengan baik."


"Papa percaya jika Raka akan mengembalikan pinjaman modal dari Papa?" tanya Raka.


"Papa sangat percaya padamu, Raka," tutur Gunawan dengan yakin. "Dan, satu lagi, rekan bisnis Papa meninggal dunia beberapa hari yang lalu, akhirnya sementara waktu perusahaan itu dikelola oleh istrinya dengan dibantu seorang asisten. Dia ingin kedepannya perusahaan itu dikelola oleh putri sulungnya."


"Namun, putrinya baru saja lulus kuliah sehingga kurang pengalaman. Karena itulah ibunya membutuhkan tenaga ahli untuk membimbing dan mendampingi putrinya untuk mengelola perusahaan sampai putrinya bisa mandiri mengelola perusahaan itu. Dia tidak ingin perusahaan itu jatuh ke tangan saudaranya yang kurang bisa dipercaya dapat mengelola perusahaan dengan baik. Jika kamu setuju, kamu bisa mendapatkan gaji yang besar dan itu adalah kesempatan mu untuk mengumpulkan modal bagi perusahaan mu," tutur Gunawan memaparkan sebuah ide.


Raka nampak terdiam memikirkan tawaran tersebut sembari memegangi dagunya. Menurutnya itu adalah tawaran yang cukup bagus. Dengan begitu dia dapat bekerja sesuai job desknya sembari mengembangkan perusahaan yang dirintis olehnya.


"Bagaimana, Raka?" tanya Gunawan saat Raka tidak segera menjawab usulannya.


"Sama-sama, Raka. Nanti aku akan berbicara dengan istri rekan bisnis Papa itu terlebih dahulu untuk membicarakan kapan kamu bisa bekerja di perusahaannya," tutur Gunawan dengan senyuman di wajahnya.


"Sekali lagi terima kasih, Pa." Raka memeluk papa Maura dengan sangat senang.


****


Acara pernikahan Fely dan Raka sudah sangat dekat, yaitu dua hari lagi akad nikah mereka akan digelar di rumah bunda. Abiyu dan bunda Maya telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk acaranya.


Rencananya mereka akan menjadikan restoran mereka sebagai tempat menjamu tamu yang datang pada acara akad nikah dilaksanakan. Meskipun pernikahan itu bukan pertama kalinya bagi Fely dan Raka. Tapi, mereka berusaha untuk sebisa mungkin menjadikan acara tersebut cukup berkesan bagi keduanya.


Sementara Reyna bertugas untuk menyiapkan baju seragaman yang akan dikenakan oleh anggota keluarga inti dengan bantuan Mira sebagai pengelola rukonya. Dan Miralah yang sering bolak-balik Yogyakarta-Jakarta demi kelangsungan bisnis online mereka. Dan untuk baju pengantin yang akan dikenakan oleh kedua mempelai telah dipesankan langsung oleh Mira kepada ibu mertuanya, yaitu tante Shinta. Sehingga dalam waktu singkat saja mereka telah siap dalam mempersiapkan segala sesuatunya.


Tok tok tok.

__ADS_1


Reyna mengetuk pintu kamar Fely.


"Fe, baju pengantin mu datang!" seru Reyna kepada adik iparnya yang masih berada di dalam kamarnya.


"Iya, Kak. Sebentar!" sahut Fely dari dalam kamarnya.


Reyna kemudian kembali ke ruang tamu di mana Mira masih setia menunggu.


"Sebentar ya, Mir. Bentar lagi Fely ke luar," ujar Reyna seraya mendudukkan diri di atas kursi ruang tamu.


"Iya, Reyn. Anak-anak ke mana?" tanya Mira saat tidak melihat anak Reyna di sana.


"Ada, mereka ikut papanya ke resto sama bunda," jawab Reyna.


"Reyn, mana Fely? suruh dia jemput nek Arum di bandara ya, satu jam lagi," perintah bunda Maya yang tiba-tiba datang sembari menggendong Alesha sedang tertidur di gendongannya.


"Masih di kamar, Bun. Sebentar lagi dia ke sini. Alesha biar aku tidurkan dulu Bun, di kamar," tutur Reyna sembari mengambil alih putrinya dari tangan bunda.


"Eh ... ada Mira," pekik bunda ketika menyadari ada Mira yang duduk bersama Reyna di ruang tamu.


"Apa kabar, Tante?" sapa Mira seraya bangkit dari duduknya dan melakukan cipika cipiki dengan Bunda Maya. Karena Mira tinggal di Yogyakarta setelah menikah dengan Dipa, sehingga mereka jarang bertemu. Sebab, ketika Mira ke Jakarta untuk memantau ruko pun belum tentu bisa bertemu bunda Maya.


"Alhamdulillah. Tante sehat, Mir," tutur bunda. "Eh gimana, sudah isi belum ini, Mir?" tanya bunda seraya meraba perut Mira. Setahu bunda Reyna pernah bercerita jika Mira belum memiliki anak dari pernikahannya dengan Dipa.


"Belum, Tante. Doakan agar Mira segera diberi kepercayaan untuk memiliki momongan ya, Tante!" ujar Mira dengan sendu.


"Iya, Mir. Semoga nanti diberikan momongan diwaktu yang tepat oleh Allah," ucap bunda ikut prihatin.


"Aamiin." Mira berharap hal yang sama.


Dia tidak menundanya, Namun belum juga mendapatkan momongan hingga dua tahun lebih usia pernikahannya. Segala cara sudah dia upayakan, namun belum ada hasilnya. Dia hanya bisa berdoa agar Allah segera memberikannya keturunan demi keharmonisan rumah tangganya.

__ADS_1


...________Ney-nna_______...


__ADS_2