Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Tinggal Kenangan


__ADS_3

Seorang wanita dengan amarah yang menggelora, mengobrak-abrik seluruh perabot yang ada di kamarnya. Dibuangnya bantal, guling, dan sprei ke sembarang arah. Lampu tidur ia lempar ke tembok hingga bohlam di bagian dalamnya pecah. Alat make up yang semula tertata rapi di atas meja riasnya kini berhamburan di lantai. Ia tumpahkan segala kekesalan yang bercokol di hatinya.


"Breng zek kau, Jono. Beraninya kamu membohongiku!"


"Siapa yang ada dibelakangmu hingga kau lebih menurutinya daripada aku!"


"Aku akan mencarimu dan mencincangmu jika menemukanmu! Aaaaarrggghh... !!" dilemparnya bangku ke dinding hingga patah.


Braakkk.


"Kenapa harus kamu yang mati! Kenapa harus kamu!" tangisnya pecah seketika, "Aku hanya ingin menghancurkan pernikahanmu yang terlihat bahagia dengan perempuan sok suci itu yang telah merebutmu dariku. Bukan untuk mencelakaimu dan membuatmu pergi untuk selama-lamanya!"


Wanita itu terus meracau mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di hatinya.


"Hhhhahaha... ! Namun, itu pantas bagimu karena telah memilih dia dari pada aku, Rangga! Mati saja kau, dengan begitu diantara dia dan aku sama-sama tak akan bisa memilikimu! Hhahhaha... !" ujar wanita itu bergumam sembari menertawakan dirinya sendiri di depan cermin bagaikan orang gila.


"Tuan, non Putri mengamuk!" ujar seorang pembantu kepada tuannya.


"Benarkah? Apa penyakitnya kambuh?" laki-laki itu bergegas untuk menuju kamar anaknya.


Sesampainya di depan kamar, laki-laki setengah baya itu mencuri dengar dari balik pintu kamar itu. Ia menyadari bahwa putrinya kembali kambuh penyakitnya. Putri satu-satunya yang ia miliki menderita gangguan jiwa. Anaknya mengidap stress pascatrauma akibat pelecehan seksual yang dialaminya dan membuatnya harus mengandung seorang anak di luar pernikahan akibat di perkosa saat ia mabuk oleh temannya sendiri.


Semenjak mengetahui dia hamil, Putri menjadi stress tidak fokus dengan karirnya. Impiannya untuk menjadi model pupus sudah, ia dikeluarkan dari agensi yang menaunginya. Kerjasama endorse produk di cabut oleh pihak perusahaan. Ia semakin depresi saat melihat surat kabar memberitakan tentang apa yang menimpanya. Semua mata memandangnya jal*ng dan menggunjingnya. Mengatakan jika itu adalah hal yang pantas ia dapatkan.


Ia terus membenci Reyna, dan menganggap semua ini berawal dari Reyna. Jika saja Reyna bukan cinta pertama Rangga. Maka Rangga akan mencintainya sebagai pacar pertamanya. Jika Reyna tidak datang ke keluarga Hadi Jaya, maka Rangga akan menikah dengannya, dan jika malam itu ia tidak melihat Rangga dan Reyna yang sedang melakukan dinner romantis maka hati Putri tak akan panas sehingga hal buruk itu terjadi padanya. Semakin banyak kebencian di hatinya hingga membuat jiwanya terguncang.


Orangtuanya membawa Putri tinggal di luar negeri untuk tinggal bersama sekaligus untuk berobat. Putri menjalani pengobatan di psikiater untuk mengobati ganguan kejiwaannya. Berbulan-bulan Putri menjalani pengobatan akhirnya ia membaik dan mau untuk merawat kandungannya.


Namun, saat kembali ke Solo. Tidak disangka jika Putri akan kembali melihat Rangga dan Reyna. Dan hal itu berhasil menyulut emosinya kembali dan membuatnya kembali stres. Ditambah dengan menjelang persalinan yang membuatnya harus menyadari status barunya nanti yaitu menjadi seorang ibu tanpa suami akibat hamil di luar nikah.


Seminggu yang lalu, akhirnya Putri melahirkan dengan cara caecar. Setelah melahirkan bayinya itu dirawat oleh mamanya dan dibantu seorang baby sitter. Putri sendiri tidak mau mengurus bayinya. Sebab setiap melihat bayi itu ia akan teringat kembali dengan Ferdy.


Putri tidak pernah tahu tentang Ferdy lagi semenjak itu. Terakhir kalinya ia melihat Ferdy, saat papanya meminta agar Ferdy datang menemui papanya. Putri tidak tau apa yang papanya lakukan terhadap Ferdy setelahnya. Sebab semenjak saat itu Putri tidak pernah lagi melihatnya ada di sekitarnya dan Putri pun enggan untuk melihat laki-laki yang telah menghancurkan hidupnya itu.


****

__ADS_1


Sore harinya dilangsungkan acara pemakaman untuk Rangga. Reyna hanya terdiam di depan jenazah suaminya sembari sesekali menyeka air matanya yang menggenang di pelupuk mata, saat prosesi takziah berlangsung.


Tidak ada lagi teriakan dan meraung di depan jenazah, meski saat ini ia sangat ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama suaminya. Namun, itu tidak lah mungkin. Sebab dalam ajaran islam pun tidak memperbolehkan yang demikian itu.


Ia mencoba sabar, pasrah, dan ikhlas, meski hal itu masih di niatannya saja, sebab pada kenyataannya ia belum bisa sabar, emosinya masih naik turun. Pasrah ia pasrah namun dalam hati masih bertanya-tanya, mengapa harus secepat ini? Dan untuk mengikhlaskan, tentu ia akan mencoba untuk bisa ikhlas meski itu sangat sulit untuk dilakukannya


Sedangkan baby Reynand, sementara dijaga oleh Mira dan Gina saat takziah berlangsung.


"Mbak, aku gak nyangka ya, Mbak. Jodoh mereka begitu singkat. Kasian banget aku, Mbak. Lihat Reynand masih sangat kecil, tapi sudah kehilangan Papanya! Terlebih untuk mbak Reyna, aku gak bisa bayangin bagaimana perasaannya saat ini. Aku bisa merasakan diamnya saat ini, sebab menyimpan sedih yang mendalam! Hiks... hiks... !" Gina pun ikut terharu dengan apa yang terjadi pada Reyna.


"Lo jangan mancing-mancing dong Gin, gue dari tadi nahan-nahan juga mau nangis. Coba lihat ni anak mirip banget sama Papanya. Gimana gak bikin keinget terus tuh, sama Papanya ntar si Reyna!? Huwaaaaaa....!" keduanya malah semakin larut dalam kesedihan.


Tepat saat itu juga Reynand terbangun dari tidurnya. Bayi itu menangis meraung-raung di tempat tidurnya. Mira dengan sigap langsung menggendongnya, namun baby Reynand tetap menangis meski sudah di gendong oleh Mira.


"Gin, Reynand demam nih, badannya panas. Cepat panggilin Reyna!" perintah Mira.


Gina buru-buru keluar kamar menuju ruang tamu di mana Reyna berada. Nenek dan kakek yang melihat dari ruang tengah pun ikut panik saat Reynand terlihat terus menangis tanpa henti.


"Sebentar ya, Pa. Aku tengok Reynand dulu!" ujar Nenek pada suaminya. Kakek pun mengangguk dengan sedih. Dadanya terasa perih membayangkan kehidupan Reyna selanjutnya tanpa Rangga.


"Reynand kenapa? Coba biar saya gendong, Mir!"


"Ohh, Reynand demam ya? Tangannya sakit ya, Sayang?" ujar nenek sembari mengayun-ayun cicitnya itu.


Tak berapa lama Reyna muncul dari balik pintu diikuti Gina di belakangnya.


"Reynand, ini Mama, Nak. Tenang ya, Sayang. Ayo sama Mama!" ujar Reyna yang baru datang, kemudian mengambil alih.


"Tolong tutup pintunnya, Gin. Biar aku susui Reynand!"


Reyna membawa Reynand duduk di sofa, kemudian menyusuinya. Beruntung bayi itu kembali tenang.


"Reyna, sebaiknya kamu kompres tangannya yang tadi diimunisasi, supaya tidak bengkak. Kemungkinan dia akan kembali rewel ketika merasakan tangannya yang sakit," Reyna mengangguk.


"Baik, Nek!" jawab Reyna singkat.

__ADS_1


Nenek kembali keluar dari kamar Reyna, menyisakan Mira dan Gina yang masih setia mendampinginya.


Tak berapa lama terdengar ada ribut-ribut di luar kamar. Gina dan Mira berpandangan.


"Seperti ada keributan di luar ya, Mbak?" Gina menajamkan pendengarannya begitu pun Mira melakukan hal yang sama.


"Iya, Gin. Ayo kita lihat ke luar!" kedua teman Reyna itu membuka pintu, kemudian ke luar kamar, lantas menutupnya kembali.


Ternyata keributan yang terjadi karena kakek mengalami serangan jantung saat menyaksikan jenazah Rangga hendak dikebumikan. Kakek segera di larikan ke rumah sakit terdekat oleh Reza.


"Ada apa Mir?" tanya Reyna saat melihat kedua temannya kembali masuk ke dalam kamar.


Mira dan Gina sejenak berpandangan. Tak ada pilihan lain akhirnya mereka menceritakan apa yang mereka ketahui.


"Kakekmu mengalami serangan jantung, Reyn!" ujar Mira.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un! Kakeekk... !" pekik Reyna sembari terisak.


Cobaan apalagi ini ya Allah! batin Reyna sendu.


"Lo yang sabar ya, Reyn!" Mira dan Gina mengelus punggung Reyna untuk menenangkan.


Cobaan hidup terkadang bertubi-tubi tanpa bisa kita mencegahnya. Tapi Allah sesungguhnya yakin bahwa kita mampu untuk mengatasinya jika kita mau bersabar dan bertawakal kepada-Nya.


****


Seperti biasanya, saat bayi usai di imunisasi akan rewel karena demam. Begitu pula dengan Reynand yang selalu menangis jika di turunkan dari gendongan. Sedari sore Reyna mengurus Reynand sendirian hingga melewatkan waktu makannya. Windy sibuk mengurus kerabat yang datang sehingga tidak mengetahui jika Reyna sedang kesusahan mengurus bayinya.


Pukil 21.30 WIB, akhirnya kerabat yang datang kembali pulang. Sebagian ada yang menunggu kakek di rumah sakit dan tinggal lah Reyna beserta bayinya dan Windy juga Chaca. Ani pun menghilang bak ditelan bumi. Tidak ada yang tau kemana ia pergi. Setelah mendengar kematian Rangga tiba-tiba saja nenek sudah tak menemukan barang-barangnya di rumah. Beruntung ada Bejo dan istrinya yang membantu bersih-bersih rumah sejak tadi sore hingga menginap di paviliun belakang.


Reyna meletakkan bayinya yang sudah tidur di atas kasur. Ia kemudian meringkuk di sudut kamarnya. Kepalanya tertunduk dan bertumpu pada kakinya yang di tekuk. Ia terisak dalam tangisnya merasakan lelah hati dan juga fisiknya. Ia menyadari mulai saat ini hingga nanti, ia hanya akan sendiri di kamar ini bersama anaknya. Suaminya telah pergi untuk selama-lamanya. Tidak akan ada lagi Rangga yang akan merangkulnya memberi pelukan, mengecup keningnya sayang, memberi bahu tempatnya bersandar, memberinya kehangatan di malam-malamnya. Kini semua hanya tingal kenangan.


____________________Ney-nna_________________


😭😭😭🤧 bawang-bawang bertebaran.

__ADS_1


Jangan lupa kasih dukungan ya buat author 🙏💓💓💓


💪💪💪 dan jangan bersedih hati 😉


__ADS_2