Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Reynand Go To Jakarta


__ADS_3

Saat berada di depan Dhewi, Mira memang terlihat tegar dan kuat, namun sesungguhnya hatinya rapuh. Sejak kedatangan Dhewi, ia sudah menahan agar air matanya tidak tumpah di depan wanita itu. Dan ketika wanita itu berlalu ia tidak mampu menahan sesak di hatinya yang tertahan sejak tadi. Mira menjatuhkan kepalanya di atas meja. Bahunya bergetar mengiringi isak tangisnya.


"Mira, ada apa?" Mira mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat keberadaan seseorang yang menyentuh kepalanya.


"Bunda!" melihat mata Mira yang sembab Bunda Maya kemudian merengkuh Mira ke dalam pelukannya.


"Bunda tidak tahu apa yang menyebabkan kamu bersedih, Mira. Tapi Bunda merasa iba ketika melihat kamu tak seperti biasanya yang selalu ceria," ujar Bunda Maya.


"Hiks...hiks...hiks...! Bunda....!" Mira semakin terisak di dalam pelukan bunda Maya.


"Sedari tadi Bunda memperhatikan kamu dari jauh. Sepertinya kamu sedang menghadapi masalah yah dengan wanita tadi?" ujar Bunda Maya menelisik.


"Hati Mira sakit, Bunda. Mira tidak jadi menikah dengan kekasih Mira, Bunda!" Mira merasa tidak tahan untuk mencurahkan isi hatinya kepada seseorang untuk mengurangi beban pikirannya.


"Tidak jadi menikah? Kenapa bisa batal, Mir?" Bunda mengusap punggung Mira yang terus terisak di pelukannya.


"Kekasih Mira, menghamili wanita lain, Bunda," ungkap Mira dengan sendu.


"Astaga, dia selingkuh, Mira?" tanya bunda Maya dengan terkejut.


"Entahlah, Bunda. Dia mengaku itu berawal dari ketidaksengajaan," tutur Mira kemudian menceritakan semuanya kepada Bunda Maya, tentang hal yang ia dengar dari Jonathan dan juga keresahan hatinya yang menghawatirkan kondisi mamanya jika mengetahui pernikahannya dengan Jonathan batal di laksanakan.


"Mira, bagaimana pun kamu harus memberi tahukan itu ke mamamu. Jelaskan secara pelan-pelan agar mama tidak shock ya," bunda Maya menasehati.


"Baik Bunda, Mira akan mencoba untuk menceritakan kepada Mama pelan-pelan. Bun, terima kasih karena sudah mendengarkan keluh kesah Mira. Biasanya hanya kepada Reyna saya bercerita jika sedang ada masalah. Namun, Reyna tak kunjung kembali dari Solo. Kangen sekali sama dia," tutur Mira sembari mengusap air matanya dengan tissue.


"Sama-sama Mira, jangan sungkan-sungkan untuk berbicara sama Bunda, meskipun mungkin Bunda tidak bisa memberi nasehat yang baik, tapi Bunda akan berusaha menjadi pendengar yang baik."


"Ohya, bukankah harusnya sudah lahiran ya si Reyna?" tanya Bunda Maya.


"Sudah Bun, anaknya laki-laki. Mira baru lihat dari fotonya sih, ganteng banget anaknya, Bun" ujar Mira.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bunda ikut seneng. Hhhhh..., andai saja Abiyu mau segera menikah. Bunda sudah pengen bisa gendong cucu!" tutur Bunda Maya dengan sendu.


Maya merasa sangat sedih ketika Abiyu juga tak kunjung mau menikah. Sejak terakhir lamarannya dengan Reyna batal saat itu ia tak pernah lagi dekat dengan perempuan lain.


Papanya Mega beberapa kali menyinggung untuk menjodohkan Abiyu dengan Mega. Namun, saat Maya memberitahukannya kepada Abiyu, anak sulungnya itu menolak. Entah sampai kapan anaknya itu memikirkan untuk menikah.


"Kak Abi itu pria yang mapan tanpa cela, Bunda. Tinggal tunjuk saja mau perempuan yang mana sudah pasti diterima. Bunda nggak perlu khawatir. Nanti jika tiba saatnya, pasti akan datang jodoh yang tepat untuk kak Abi," hibur Mira agar bunda Maya tidak sedih.


Bahkan beberapa karyawannya juga mengagumi Abiyu. Namun, tak ada yang berani mendekati. Sebab semua tahu siapa wanita beruntung yang pernah di lamar Abiyu.


"Semoga saja saat yang tepat itu segera tiba ya, Mira. Bunda hanya ingin kebahagiaan untuk anak-anak, Bunda. Ehh, harusnya kan Bunda yang hibur kamu, kenapa Bunda yang curhat ya, Mira. Buat kamu juga Mira semoga segera mendapatkan jodoh yang baik."


"Aamiin. Terima kasih, Bunda. Mira balik ke ruko dulu ya, Bun. Mira udah lama ninggal kerjaan. Jangan-jangan di cariin ini sama Gina,"


"Iya, Mira. Semangat kerja yah!" bunda Maya menyemangati.


Mira kembali ke ruko untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sedari pagi belum tersentuh karena kedatangan Dhewi.


****


"Sayang, ukurannya yang apa nih?" tanya Rangga sembari memilah-milah diapers yang di display pada rak gondola di depannya.


"Reynand yang S, By," jawab Reyna.


Tiba-tiba baby Reynand terbangun dari tidurnya. Dan menggeliat menggerakkan tangan dan kakinya. Si bayi gembul itu kini berusia tiga bulan lebih. Berat badannya 7kg. Asi yang di berikan Reyna bahkan lebih dari cukup sehingga Reynand tumbuh dengan baik dan sehat.


"Uhh, anak papa bangun ya? Mau minta jajan apa nak. Biar papa belikan, Sayang," ujar Rangga penuh perhatian.


"Belikan keripik singkong, kue dan ice cream Papa!" jawab Reyna dengan suara yang di buat-buat menyerupai suara anak kecil.


"Gak ahh, itu sih yang jajan emaknya bukan Reynand!" canda Rangga untuk menggoda istrinya.

__ADS_1


"Kan jajan emaknya juga mengalir tuh lewat ASI-nya. Ada jatah Reynand juga Papa di setiap jajan emaknya," kilah Reyna.


"Aduh emaknya pinter nodong nih! Iya deh bakal dibeliin buat mamanya juga yang banyak!" ujar Rangga dengan tersenyum sembari mengusap-usap pucuk kepala istrinya.


"Hhhhhhahha...terima kasih, Papa!" Reyna tertawa senang.


Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan. Ia sungguh merasa iri saat melihat keharmonisan keluarga kecil itu.


Rangga kemudian mengitari rak yang berisi makanan. Ia mengambil beberapa makanan yang menurutnya sangat di gemari istrinya belakangan ini.


Walaupun sering ngemil tapi berat badan Reyna tampak langsing ideal. Justru pancaran seorang ibu membuatnya ia semakin mempesona.


Seusai berbelanja dan melakukan transaksi di kasa minimarket, Reyna dan Rangga berlalu dengan mengendarai mobilnya.


"Tunggu saja aku akan memporak poranda kehidupan kalian?" gumam seseorang yang sejak tadi memperhatikan Reyna dan Rangga.


****


Sesampainya di rumah Reyna segera mempersiapkan kebutuhan yang akan di bawa ke Jakarta besok. Dokter mengungkapkan usia Reynand yang sudah mencapai 3 bulan, sudah di perbolehkan untuk naik pesawat.


Mami sebenarnya sempat melarang Reyna untuk kembali ke Jakarta. Mami merasa tak mampu untuk berjauhan dengan cucu laki-lakinya yang sangat ia sayangi. Namun, apa boleh buat, keadaan kakek yang sedang sakit-sakitan membuat kakek tak bisa lagi mengontrol perusahaan. Rangga di minta untuk segera kembali oleh kakek.


"Reyn, apa tidak bisa biar Rangga saja yang kembali ke Jakarta, terus kamu dan Reynand tetap di sini?" tanya Mami Lena selalu saja berharap Reyna tidak membawa Reynand pergi ke Jakarta.


"Mami, kan kemaren kita sudah membahasnya. Reyna janji deh nanti sering-sering vidcall sama Mami," bujuk Reyna.


"Baiklah! Reynand oma akan sangat merindukanmu, Sayang. Cepatlah besar agar Oma bisa membawamu untuk tinggal di rumah Oma okey!" ujar Mami sembari menggendong baby Reynand.


Sementara Reyna hanya tersenyum menanggapi kata-kata ibu mertuanya yang seolah enggan untuk berpisah dengan Reynand. Reyna segera menyelesaikan packingnya, untuk mempersiapkan perlengkapan yang akan di bawa ke Jakarta besok.


Dan keesokannya Reyna, Rangga dan baby Reynand akhirnya meninggalkan kota Solo menuju Jakarta.

__ADS_1


"Susul mereka ke Jakarta dan pantau terus jangan sampai lolos. Nanti aku akan memberikan alamat tempat tinggal mereka!" ujar seorang wanita yang sedang berbicara dengan anak buahnya.


____________________Ney-nna________________


__ADS_2