
Selesai menunaikan sholat dhuhur Reyna bergegas ke ruangan Mira. Dibukanya pintu ruangan Mira.
"Mir, makan siang yuk!" ajak Reyna. Terlihat Mira sedang membereskan meja kerjanya.
"Hmm..masih inget sama aku ternyata! Aku pikir ntar bakalan maksi sendiri." Mira memasang muka cemberutnya.
"Ihh...ngambek ya..? Masa nggak inget sih sama sahabat aku yang cantik ini!" Reyna mendekati Mira memeluknya dari samping.
"Sudah ketebak ada maunya nih kalau muji-muji gini!"
"Ehh..suami kamu mana, Beb?" Mira menoleh ke pintu tidak ada orang lain selain mereka berdua yang terlihat.
"Udah balik barusan, ada urusan sama temennya." jawab Reyna sambil menaruh bingkisan di atas meja kerja Mira.
"Itu apaan, Beb?" Mira memperhatikan bingkisan yang dibawa Reyna.
"Mir, minta tolong simpenin ini di ruangan kamu ya?" Reyna mendorong bingkisannya ke depan Mira.
"Apa ini isinya? Gue buka ya!" Mira mengambil kotak yang berada di dalam paper bag.
"Ciyee..romantis banget sih Rangga. Aku juga mau dong dikasih kado kayak gini!" Mira membuka kotak musik sehingga terdengar nada lagu yang terputar.
"Tapi masalahnya itu bukan dari suamiku Mir. Makanya aku titipin ke kamu!" ucap Reyna sedih.
"Lahh..emang dari siapa, Beb?" Mira menoleh ke arah Reyna, dengan mata membulat saking terkejutnya.
"Dari Dipa..!" Reyna duduk di kursi, sambil berpangku tangan.
"Trus...truss..Rangga liat ini nggak?" tanya Mira nggak sabaran. Reyna mengangguk mengiyakan.
"Dia nggak marah sama kamu, Beb?" tanya Mira.
"Marah sih awalnya, tapi alhamdulillah dia percaya sama penjelasan aku." jawab Reyna
"Kalau menurut aku, Dipa ada rasa sama kamu deh, Beb!" tebak Mira.
"Soal itu..kemaren malem dia bilang memang ada rasa sama aku. Saat dia mau ngungkapin ke aku dulu, kita udah keburu lost contact hingga sekarang baru ketemu. Tapi aku yakin kok Mir, Dipa nggak akan mengganggu hubungan aku sama suamiku." jelas Reyna.
"Kita mana tau, Beb. Isi hati seseorang!"
"Yuk ahh, kita makan. Udah pada protes ini cacing-cacing di perut!" ungkap Mira sambil melenggang menuju pintu.
"Tungguin dong, Mir!" Reyna mengikuti dari belakang.
****
Beberapa hari berlalu, keadaan berjalan dengan baik hingga hari-H tiba. Reyna tengah berada di kamar hotel bersama dengan Mira, dan salah seorang MUA.
"Mbak jangan terlalu tebel ya riasannya, saya mau yang lebih soft saja." ucap Reyna menjelaskan pada Mbak MUAnya yang bernama Rani.
"Iya mbak, beres!" Mbak Rani mengangkat tangannya tanda Ok.
"Sesekali tampil wow'kan nggak apa-apa, Reyn." biar pada pangling gitu." Mira mendekat ikut memantau proses make up.
"Saya biasanya kalau riasan menyesuaikan karakter orangnya mbak. Biar auranya lebih keluar. Kalau mbak Reyna aku kasih make up tebel pasti nanti jadi nggak nyaman. Kaya nggak cocok gitu." ungkap Mbak Rani sambil merias.
"Bener juga ya, Mbak. Wah Mbaknya jago banget bikin alisnya." Mira memperhatikan setiap langkah yang ditorehkan oleh MUA.
"Aunty....!" tiba-tiba muncul Chaca yang tengah berlari kecil dan diikuti Windy dari arah pintu.
"Halo, sayang!" tangan kiri Reyna mengusap pipi Chaca yang berada di sampingnya.
"Waah...Chaca juga mau dirias kaya Aunty, Mommy!" rengek bocah itu kepada Windy.
"Iya, Sayang. Nanti nunggu aunty selesai dirias dulu ya?" bujuk Windy.
"Iya, Mommy!" terlihat bocah itu menarik kursi kemudian duduk disamping Reyna memperhatikan proses rias.
"Mommy tinggal dulu ya, ke Om kamu?" tanya Windy kepada anaknya.
"Iya, Mom. Chaca mau di sini ajah!" Chaca nampak antusias mengamati gerak-gerik MUA.
"Cha, sini maen di handphone tante Mira saja sambil nunggu aunty selesai!" bujuk Mira.
"No, tante. Chaca sedang konsensasi lihat yang rias!" semua menoleh ke arah Chaca.
"Konsensasi? Apa itu konsensasi?" Mira mengeryit heran.
"Masa Tante Mira nggak tau sih konsensasi, itu yang sedang fokus!" jawab anak itu ketus.
"Fokus? Konsentrasi kali Cha, bukan konsensasi! Hahhhhahaa...!" Mira menertawakan kesalahan Chaca.
__ADS_1
"HWAAAAAA....tante Mira jahat!" bocah itu menangis merasa disudutkan.
"Bentar Mbak." Reyna meminta untuk menghentikan proses rias.
"Hwaaa.. huwaaaaaa...nggak mau lihat tante Mira!" Chaca mendekati Reyna.
Direngkuhnya Chaca dalam pelukannya, diusapnya punggung anak itu lembut.
"Mir, kamu keluar dulu gih, biar aku bujuk dulu!" titah Reyna.
"Aduhh, maaf ya Cha? Tante nggak bermaksud jahat!" ucapnya kemudian keluar meninggalkan kamar.
"Sayang, katanya mau dirias juga. Kalau nangis nanti make upnya jadi nggak bagus!"
"Chaca mau nggak dipakaikan lip balm kaya Aunty?" perlahan anak itu berhenti menangis. Chaca mengangguk tanda setuju.
"Ini air matanya di lap dulu ya?" Reyna mengusap air mata di pipi Chaca dengan tisyu.
"Nah, kalau begini kan kelihatan cantik. Coba merem dulu!" anak itu menurut, kemudian disemprotnya face mist pada wajah Chaca.
"Udah, Sayang. Seger kan mukanya?" tampak Chaca mengangguk senang.
"Sekarang kita oles yah, bibirnya pakai lip balm. Karena Chaca masih kecil belum boleh pakai lipstik ya baru boleh pakai ini." Reyna hendak mengoleskan lip balm miliknya yang aman untuk anak kecil. Chaca mengangguk-angguk.
"Nah, sudah. Bibirnya jadi glossy." Chaca tersenyum senang melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Makasih, Aunty!" ucap anak itu. Reyna mengangguk sambil tersenyum.
"Cha, maafkan Tante Mira ya? Tante Mira nggak bermaksud jahat kok, tante Mira tertawa karena lihat Chaca yang menggemaskan."
"Kalau Chaca mau memaafkan, nanti dapat pahala." bujuk Reyna.
"Iya, Aunty. Chaca maafin kok. Chaca mau dapat pahala."
"Anak pintar, sekarang Aunty dirias lagi ya. Chaca tungguin Aunty ya." diusapnya kepala anak itu saat mengangguk.
"Aduh mbak Reyna ini sabar sekali ya, menghadapi anak-anak. Saya saja terkadang sampai pusing kalau anak rewel banyak maunya.
"Anak-anak itu sebenernya hanya ingin diperhatikan dan disayangi Mbak, jadi ketika berbuat salah dinasehati dengan cara baik-baik saja. Karena mereka hatinya lembut, semakin dimarahi maka akan semakin membangkang nantinya." ucap Reyna.
"Wah saya jadi dapat ilmu ini cara mendidik anak dengan baik. Semoga nanti segera dikasih momongan ya Mbak Reyna!" Mbak Rani mendoakan.
"Aamiin!"
****
Satu jam berlalu, Reyna sudah selesai di rias dan berganti baju. Windy datang untuk menjemput Reyna agar segera menuju ke gedung tempat di selenggarakannya resepsi, karena acara akan segera dimulai. Reyna berjalan mendekati Rangga yang sudah menunggu di luar kamar bersama Papi dan Mami. Rangga terlihat menawan dengan setelan jas berwarna silver dan bagian dalamnya kemeja warna pink nude senada dengan gaun yang dikenakan Reyna.
Rangga sejenak terpaku melihat Reyna yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Reyna yang terlihat anggun dengan gaun berwarna pink nude membuat kesan cantik natural dan terlihat segar.
"Ayo, Ga. Buruan jalan, malah bengong aja!" ucap Windy tatkala Rangga tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ehh..iya. Ayo, Sayang!" Rangga menyodorkan lengan tangannya ke arah Reyna. Reyna menyambutnya dengan menggenggam lengan kiri suaminya. Semua orang tersenyum bahagia mengiringi langkah mereka menuju tempat resepsi.
Memasuki ruangan ballroom hotel yang tertata rapi dengan konsep simple, elegan dan modern. Reyna dan Rangga melangkah melewati pilar-pilar putih yang terlilit kain tule berwarna pink muda dan terselip bunga-bunga berwarna pink dan putih yang membungkus indah pada pilar. Dalam pijakannya terdapat karpet merah yang memanjang menuju pelaminan bertabur bunga diatasnya.
Background pelaminan didominasi dengan kain abutai berwarna putih mix kain tule berwarna pink muda dan putih. Terdapat hiasan bunga mawar putih dan pink, tulip putih, hydrangea putih dan pink, dan baby breath warna putih menghiasi indahnya pelaminan, dengan sofa berwarna putih dibagian tengahnya. Bagian langit-langit gedung terdapat tenda kain yang berkulum melintang berwarna putih dan lampu-lampu kristal yang menggantung mempercantik ruangan. Bagi tamu undangan disediakan meja bundar berwarna putih. Sehingga ketika sedang makan, tamu-tamu bisa duduk dengan nyaman menikmati hidangan.
Tamu-tamu berdecak kagum saat menyaksikan kehadiran kedua mempelai menuju kursi pelaminan. Keduanya terlihat nampak serasi dan memancarkan aura kebahagian. Susunan acara mulai dari pembukaan pun telah terlaksana dengan baik. Kini tamu undangan dipersilahkan untuk memberi ucapan selamat pada kedua mempelai dan sebagian dapat menikmati hidangannya sambil menyaksikan hiburan yang disuguhkan.Tamu undangan juga diperkenankan untuk menyumbang lagu.
"Selamat ya, Beb. Semoga bisa langgeng terus hingga maut memisahkan. Aamiin!"
"Seneng banget liat kalian berdua dipelaminan tersenyum bahagia nggak kaya waktu di akad." ucap Mira heboh. Kali ini ia datang ditemani oleh kekasihnya, Jonathan.
"Iya, makasih ya Mir. Semoga buruan nyusul deh."
"Jona..ini kode ya, buat kamu!" ucap Reyna melirik ke arah belakang Mira.
"Siip.. beres!" Jona mengiyakan.
Kemudian nampak Dina di belakang, datang bersama-sama dengan Reta dan Ana sahabat Reyna sejak SMP.
"Haii, ya ampun kejutan banget ini kalian akhirnya sampai di pelaminan. Samawa ya buat kalian berdua." Dina menjabat tangan Rangga kemudian memeluk erat Reyna karena sudah lama tidak bertemu. Dina sempat tinggal di Sumatera saat kuliah.
"Selamat ya buat kalian berdua. Pokoknya nanti kita tunggu dibawah ya Say, aku penasaran banget, cerita kalian bisa sampai nikah." ucap Reta yang berada di belakang Dina kemudian juga memeluk Reyna.
"Iya..iya.. nanti aku samperin ke meja kalian deh!" Reyna yang tau maksud sahabat-sahabatnya langsung mengiyakan. Jangan sampai buka kartu disini, dia bisa malu kepada Rangga. Pasalnya sahabat-sahabatnya jelas tau bahwa Reyna menyukai Rangga sejak SMP.
"Selamat ya Ga, Reyn, do'a terbaik buat kalian semoga langgeng. Aku kemaren juga sampai syok liat undangan." ungkap Ana.
"Ehh..emangnya kenapa sih kalian aneh banget? Apa salahnya coba aku nikah sama Reyna.?" tanya Rangga penasaran.
__ADS_1
"Hahaha...! Gak apa-apa kok, Ga."
"Justru kita seneng banget lihat kalian sampai menikah." mereka serempak mengangguk-angguk mengiyakan.
"Udah-udah sana buruan makan!"
"Gantian sama yang antre di belakang tuh." ucap Reyna. Kemudian mereka pun berlalu pergi.
"Sayang, selain jelasin ke mereka nanti malam kamu juga musti jelasin ke aku ya sikap aneh mereka!" tantang Rangga.
"Enggak ada apa-apa ya, By!" kilah Reyna.
"Ciyee..yang udah sayang-sayangan aja nih!" sekelompok cowok-cowok teman SMP mereka dulu.
"Selamat ya buat kalian berdua, semoga Rangga bisa menjadi suami yang baik buat Reyna. Dan begitu sebaliknya. Semoga segera diberikan keturunan yang sholeh & sholihah." ucap Farhan memimpin do'a. Yang lain meng'aamiini.
Kemudian banyak yang lainnya ikut memberi ucapan selamat. Sempat bunda memberi ucapan dengan Fely, namun tidak nampak ada Abiyu bersama mereka. Tante Shinta juga terlihat sendiri saat memberikan ucapan selamat.
Kemudian Reyna meminta ijin untuk menemui sahabatnya. Sedangkan Rangga bersama teman-teman laki-lakinya.
Reyna menceritakan dari awal mula pertemuannya dengan Rangga hingga akhirnya Reyna tau bahwa ia adalah cinta pertama Rangga. Sahabatnya ikut bahagia mengetahui mereka mempunyai perasaan yang sama, meski awalnya menikah terjadi karena perjodohan.
Tanpa mereka sadari ternyata banyak pasang mata yang mengawasi Reyna. Ratna, Yumna dan Nesa yang juga datang di pernikahan Rangga dan Reyna duduk tidak jauh dari meja Reyna dan sahabatnya pun ikut mendengar.
"Cih, gak nyangka ya mereka bisa sampai nikah. Ehh..padahal nih setau aku Rangga itu pacaran sama model. Bahkan sedari masih SMA. Gue yakin nih Reyna pakai cara licik memanfaatkan Kakek Rangga buat dapatin Rangga!" ungkap Yumna.
"Iya gue pernah lihat kok di akun medsos milik Rangga, beuh...cantik banget deh ceweknya." Nesa menimpali.
"Lihat tuh gayanya kaya yang sok cantik dan baik, padahal hatinya busuk!" Ratna melirik tajam ke arah Reyna.
Dipa yang duduk di samping meja tiga cewek berisik itu pun akhirnya ikut terganggu dengan ucapan mereka yang menjelek-jelekkan Reyna.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas panggung mengalihkan perhatian tamu-tamu yang ada.
"Selamat malam untuk semua kerabat, teman-teman, seluruh tamu undangan yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir pada acara pernikahan saya. Kami segenap keluarga mengucapkan terimakasih banyak atas kehadirannya. Untuk menghibur anda semua saya akan menyanyikan sebuah lagu, yang saya persembahkan untuk istri saya tercinta, Reyna Hanania. I Love you!" Rangga duduk di depan panggung bersama dengan teman-teman nya siap mengiringi dari belakang.
Reyna yang berada di tengah-tengah para tamu pun merasa sangat terkejut dengan kejutan dari suaminya itu. Semua bersorak-sorai memandang ke arah Reyna, tatkala namanya disebut. Reyna menutup sebagian mukanya dengan kedua telapak tangannya dengan mata berkaca-kaca saking harunya.
Lagu pun mulai dilantunkan oleh Rangga dengan merdu.
🎶 Dengarkanlah wanita pujaanku
malam ini akan kusampaikan
hasrat suci kepadamu dewiku
dengarkanlah kesungguhan ini
🎶Aku ingin mempersuntingmu
tuk yang pertama
dan terakhir
🎶Jangan kau tolak dan buatku hancur
ku tak akan mengulang tuk meminta
satu keyakinan hatiku ini
akulah yang terbaik untukmu.
Semua yang datang merasakan ketulusan cinta yang ingin disampaikan oleh Rangga kepada Reyna. Reyna merasa sangat di cintai oleh Rangga. Ditengah-tengah bernyanyi Rangga meminta Reyna untuk naik ke atas panggung.
"Sayang, tolong naik ke atas panggung!" Reyna sangat malu dan ragu untuk berdiri, namun atas desakan dari semua orang Reyna pun akhirnya berdiri. Beberapa tamu undangan ikut berdiri menyemangati Reyna.
Saat Reyna hendak melewati Ratna, Yumna, dan Nesa, Yumna tiba-tiba terlihat menyerobot gelas yang berada di atas meja dan tersenyum licik menatap Reyna. Dipa yang mengetahui akan terjadi sesuatu dengan Reyna dengan sigap mendekat ke arah Yumna. Saat Yumna akan menumpahkan minuman ke arah Reyna. Dipa langsung melewati Yumna yang mengakibatkan tangan Yumna tersenggol dan beralih ke samping hingga gelas menumpahi baju Nesa yang berada di sampingnya.
"Iihh..gimana sih kamu, Na. Basah nih baju aku!" omel Nesa sambil mengusap-usap bajunya yang basah.
"Aduh.. maaf-maaf, Nes. Aku tadi nggak bermaksud numpahin minuman ke kamu. Gara-gara cowok itu tuh, tiba-tiba lewat gitu aja di depanku. Jadi gagal deh rencana aku!" Yumna menatap tajam ke arah Dipa yang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Ayo, buruan aku anter ke toilet. Kita bersihkan dulu bajumu, Nes!" Ratna menggandeng tangan Nesa, Yumna mengikuti.
Dipa merasa lucu sekali bisa mengerjai gadis-gadis jahat seperti mereka.
❤️❤️❤️❤️
Yang sudah datang menyaksikan prosesi pernikahan Reyna & Rangga, jangan lupa menyumbangkan like, vote, dan komentarnya di bawah ya 😘
Terimakasih,
__ADS_1
Neyna