
Setelah sekian lama akhirnya detektif menemukan pelaku yang telah menyebabkan resto kebakaran. Seorang penyetor ikan segar pagi itu telah tertangkap kamera masuk ke dalam dapur. Meskipun di dalam dapur tidak terpasang kamera CCTV, namun ketika pengantar ikan segar itu memasuki dapur, dapat terlihat dari CCTV yang termonitor dari handphone Abiyu, yang terpasang pada lorong menuju rumah belakang.
Setelah didesak dengan ancaman, penyetor ikan yang sudah berhenti bekerja sejak tiga bulan lalu itu mengaku jika dia diperintah oleh Mega. Mega membayar sejumlah uang yang cukup banyak untuknya melarikan diri dari kota ini. Dua bulan lebih melarikan diri ke kota lain dan tidak mendengar ada desas-desus tentangnya, membuatnya kembali pulang kepada keluarganya. Dan, ketika dia membuka tempat usaha, jejaknya terlacak oleh detektif Abiyu. Polisi segera menangkapnya setelah Abiyu melaporkan tindakannya. Sedangkan Mega masih menjadi buron.
Detektif melaporkan jika Mega telah pergi ke negara lain sejak tiga bulan yang lalu. Detektif menduga Mega juga yang telah menculik Reyna. Detektif meminta rekaman CCTV dari pemilik pabrik yang berada di jalan sepi yang siang itu dilewati oleh Reyna.
Dari rekaman CCTV terlihat Reyna berlari di jalanan kemudian tersandung dan jatuh. Dua orang laki-laki terlihat mengejarnya kemudian menangkapnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Dan, salah seorang lagi mengendarai motor yang digunakan Reyna saat itu. Sehingga keempat laki-laki yang tertangkap kamera tersebut masih menjadi buron.
Saat dikonfirmasi dengan pihak kepolisian, keempat orang tersebut ternyata adalah komplotan pembunuh bayaran yang pernah ditahan, dan menjadi buron. Sampai saat ini keberadaan mereka belum diketahui. Sehingga lagi-lagi kasus itu belum menemukan titik terang.
...****...
Sudah tiga hari ini anak laki-laki Lastri pulang ke rumah, saat liburan semester tiba. Lala merasa tidak nyaman karena harus serumah dengan laki-laki asing. Terlebih lagi karakter Dino yang pendiam membuatnya sulit akrab. Setiap ditanya jawabannya selalu singkat, sehingga lama-kelamaan Lala malas untuk bertanya.
Saat pulang dari sekolah Lala menunggu bus di halte. Lala mendapati selembar brosur yang tertinggal di bangku yang tak jauh dari tempatnya duduk. Waktu itu suasana halte sedang sepi. Lala iseng-iseng mengambil brosur tersebut dan membacanya.
"Penerimaan peserta didik baru Pondok Pesantren Al-Kharima," eja Lala setelah mengambilnya.
"Dari yang terlihat di gambarnya, programnya sepertinya bagus!" gumam Lala sendiri kemudian memasukkan brosur itu ke dalam tasnya.
Dia tertarik dengan hal itu, namun bus terlihat muncul dari kejauhan. Akhirnya Lala memutuskan untuk membacanya setelah sampai di rumah saja.
...****...
Sesampainya di rumah Lastri, Lala berpapasan dengan Dino di ruang tengah.
"Assalamu'alaikum," ucap Lala.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Dino tanpa mengalihkan pandangannya dari permainan game di handphonenya.
"Budhe ke mana?" tanya Lala.
__ADS_1
"Ke tetangga sebelah!" jawab Dino masih tanpa mengalihkan pandangan dari handphone di tangannya.
Selama tiga hari ini sikap Dino memang agak dingin kepada Lala. Sehingga Lala merasa tidak nyaman juga berada di rumah Lastri. Dan tepat dihari ini, Lastri tidak berada di rumah karena sedang ke rumah tetangga untuk bantu-bantu memasak yang hendak punya hajat. Sedangkan Dina, bekerja part time seusai kuliah.
Hal seperti itu yang membuatnya kikuk berada di rumah hanya berdua bersama laki-laki dingin yang asing baginya. Lala segera beranjak ke dalam kamarnya. Lala mencoba berpikir positif, namun tetap waspada. Sesampainya di kamar Lala mengunci pintu kamarnya. Baru setelahnya dia berganti baju.
Sepulang sekolah Lala biasanya segera mengambil makan karena merasa lapar, tapi kali ini dia menahannya. Dia merasa sungkan untuk mengambil makan ke dapur. Selama pulang ke rumah, Dino tidak pernah sekalipun memulai mengajaknya bicara. Sehingga Lala menduga jika Dino tidak menyukai Lala yang hanya menumpang di rumah ini.
Akhirnya Lala memilih berdiam diri di kamarnya. Lala beranjak menuju tasnya, dan mengeluarkan brosur yang tadi didapatkannya. Lala mencoba mencari informasi tentang pondok pesantren tersebut di internet. Ternyata pondok pesantren tersebut cukup terkenal di daerah Solo.
Lala menjadi berandai-andai jika dia mondok di pesantren. Mungkin lebih seru jika tinggal di pesantren, karena dia bisa fokus menuntut ilmu sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Di pondok dia hanya akan berkumpul dengan teman-teman yang pastinya perempuan semua. Toh, di sana akan lebih aman ketimbang di rumah ini. Terlebih di sini juga bukan keluarganya yang sesungguhnya.
Bi Lastri memang cukup baik, tapi Lala lebih nyaman ketika berada di rumah Reyna. Mungkin karena Reyna memperlakukannya seperti seorang adik sekaligus teman. Begitu juga dengan Abiyu yang sangat baik seperti seorang kakak laki-laki baginya, sehingga Lala merasa bagaikan bersama dengan keluargannya sendiri.
Tok tok tok.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Lala menduga pasti Dino yang mengetuk pintu. Lala sedikit ragu untuk membuka pintu. Dia takut jika terjadi sesuatu setelah membuka pintu. Lala memandang nanar pada pintu kamarnya yang masih terkunci. Bingung mau membuka atau tidak.
Namun, lagi-lagi terdengar ketukan di pintu. Lala menjadi semakin tidak menentu, antara ingin membuka atau tidak. Pasalnya tidak akan ada yang bisa menolongnya nanti jika Dino melakukan sesuatu terhadapnya, tapi jika tidak membukakan pintu, kesannya tidak sopan juga jika Dino ternyata tidak memiliki niatan buruk dengannya.
"Ada apa?" tanya Lala yang hanya menyembulkan kepalanyanya sedikit di balik pintu yang hanya terbuka sebagian saja.
"Lo, bisa masak nggak?" tanya Dino dengan muka datar.
"Bisa, memangnya kenapa?" Lala balik bertanya sembari mengernyit heran dengan pertanyaan laki-laki di depannya itu.
"Ibu belum menyiapkan makan siang, gue laper! Masaklah sesuatu yang bisa dimakan!" tutur Dino kemudian langsung berbalik dan pergi begitu saja seusai mengatakan yang ingin dikatakannya. Dino meninggalkan Lala yang masih terbengong sendirian.
Lala agak kesal dengan sikap laki-laki dingin itu, yang memerintah seenaknya saja. Namun, akhirnya dia terkikik sendiri, sembari menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Ternyata dia terlalu jauh dengan pikiran negatifnya terhadap Dino. Padahal Dino hanya ingin dibuatkan makanan saja olehnya. Akhirnya Lala ke luar dari kamarnya dan menuju dapur untuk memasak.
Sesampainya di dapur Lala mencoba mencari bahan untuk memasak. Namun, dia tidak menemukan sayuran maupun bahan lainnya yang bisa untuk dimasak. Hanya ada nasi di magic com, dan telur mentah di kulkas. Sehingga diputuskannya untuk membuat nasi goreng spesial dengan telur mata sapi.
__ADS_1
Ketika sibuk memasak Lala seperti mendengar ada orang yang sedang mengobrol di depan rumah. Lala meninggalkan masakannya dan mencoba mengintip dari celah pintu ruang tengah yang terbuka sebagian, untuk melihat tamu yang datang.
"Yes ... Alhamdulillah, ada Mas Abiyu!" gumam Lala sembari tersenyum senang.
Lala kemudian kembali ke dapur dan berpikir untuk menambahkan porsi masakan untuk tiga orang, sehingga bisa makan bersama-sama. Sembari mengaduk-aduk nasi gorengnya dengan spatula, Lala juga memasak air untuk menyeduh teh.
Setelah beberapa saat berkutat di dapur untuk memasak. Akhirnya nasi goreng ala Lala telah siap untuk disajikan. Lala mematikan kompor kemudian menyeduh tehnya terlebih dahulu. Setelah itu dia segera membagi nasi gorengnya menjadi tiga bagian. Satu untuk dirinya dan dua piring untuk laki-laki yang berada di depan. Kemudian, Lala menuang tehnya ke dalam tiga gelas.
Lala menaruh ketiga piring yang sudah berisi nasi goreng dan telur mata sapi di atas nampan, kemudian membawanya ke depan, beserta tiga gelas teh, untuk menemani menyantap nasi goreng spesial buatannya.
"Assalamu'alaikum, Mas!" sapa Lala kepada Abiyu.
Lala kemudian menaruh nampan yang dia bawa di atas meja ruang tamu.
"Wa'alaikumussalam, La. Wah nasi goreng, ya? tahu dari mana kalau aku akan datang, La?" tanya Abiyu yang merasa heran, karena ikut dibuatkan makan.
Sejak dari tiga bulan yang lalu dia kurang memperhatikan waktu makannya. Abiyu tidak lagi merasa berselera makan saat istrinya tidak kunjung ditemukan. Baginya makan hanya untuk sekedar bertahan hidup. Terlebih dia hanya makan sendirian, yang disiapkan oleh koki resto. Bukan masakan yang telah dimasak penuh cinta oleh sang istri. Tidak ada kenikmatan di setiap suapannya, karena mengingat entah bagaimana keadaan istrinya saat ini.
Apakah istriku baik-baik saja ya Allah? Apa dia terluka? Apa yang dilakukannya selama tiga bulan berlalu ya Allah? batin Abiyu bertanya-tanya setiap akan menyantap makanannya.
"Tahu dong! Lala sudah meneropong tadi dari kejauhan, Mas. Hhehehe ...!" jawab Lala dengan bercanda sembari menaruh piring dan gelas kehadapan masing-masing orang.
"Wow ... bisa gitu, ya? Bagus deh sering-sering saja meneropong kedatanganku, biar aku dapat makanan gratis!" tutur Abiyu, kemudian menyruput tehnya.
"Wah, nanti berkurang dong uang jajanku yang dikasih sama Mas Abi. Gak jadi untuk aku mah kalau musti banyak beli persediaan bahan makanan juga! Hehehehe ...!" tutur Lala, kemudian menyendok nasi goreng buatannya.
"Kamu ternyata perhitungan sekali, La!" tutur Abiyu kemudian ikut terkekeh.
Sedangkan Dino hanya diam saja dan sudah lebih dahulu menyantap bagiannya. Sesekali Abiyu dan Lala menyela dengan bercanda tawa, tapi tidak dengan Dino yang sedari tadi diam dan hanya makan tanpa ekspresi. Lala sampai heran dibuatnya. Kok beda jauh sekali sifatnya dengan Lastri dan Dina yang ramah dan cerewet. Karena Dino amat sangat pendiam dan selalu bersikap dingin kepadanya.
Seusai makan Lala mengobrol di teras dengan Abiyu. Abiyu menyerahkan dua amplop untuk di berikan satu kepada Lastri sebagai biaya hidup Lala tinggal di sini, dan amplop yang satunya untuk uang jajan Lala selama sebulan dan juga biaya sekolah. Namun, kali ini Lala menolaknya.
__ADS_1
"Mas, masukkan aku ke pondok pesantren saja!" ujar Lala sembari mengembalikan amplop bagiannya.
__________________Ney-nna_________________