
Fely tengah duduk bersimpuh menghadap kiblat seraya melafalkan doa. Dia telah usai melaksanakan salat istikharahnya. Hanya kepada Allah dia berserah dan meminta pertolongan. Dia yakin Allah tidak pernah salah dalam menentukan takdir seseorang.
Seperti halnya pelangi yang nampak seusai hujan, selalu ada hikmah tersendiri mengapa kita harus menghadapi perihnya hidup sebelum kebahagiaan berpihak pada kita. Dia ikhlas, dia mencoba sabar menjalani takdirnya. Kini tiba saatnya dia berharap kebahagian akan datang kepadanya.
"Ya Allah ... Engkau Maha mengetahui mana yang baik dan yang tidak baik bagiku. Engkau Maha berkehendak atas ketetapan-Mu. Kumohon tunjukkanlah yang baik bagiku dan agamaku, yang baik bagi sekarang hingga di akhirat nanti, jika dia jodohku maka dekatkanlah aku padanya, jika dia bukan jodohku maka jadikanlah aku ridho karenanya. Aku berserah kepada-Mu atas takdirku. Hanya kepada-Mu aku meminta petunjuk dan pertolongan. Kabulkan doa'ku ya Allah, aamiin," ucap Fely dalam doanya seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.
Seusai berdoa Fely segera melipat mukena yang dipakainya, kemudian beranjak duduk di tepian tempat tidur. Kemarin dia meminta waktu untuk memikirkan tentang lamaran kedua laki-laki yang datang kepadanya. Sesungguhnya hal ini sulit baginya untuk memilih salah satu di antara mereka. Ibu Nabil begitu baik padanya, dia tidak sanggup jika harus membuat beliau kecewa.
Sedangkan dengan Raka, tidak bisa dipungkiri ketika kembali bertemu dengan cinta pertamanya itu benih-benih cinta yang dulu tumbuh di hatinya, kini bersemi kembali.
Diambilnya foto suami pertamanya dalam bingkai foto kecil yang terdapat di atas nakas.
Mas Nabil, aku meminta ijin kepadamu untuk menikah lagi, tolong ridhoi aku ya, Mas! aku akan tetap mengenang mu sepanjang hidupku, aku akan selalu mendoakan mu, semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali di surga. Bersamamu adalah kenangan indah dalam hidupku yang tak akan ku lupa! gumam Fely di dalam hati.
Didekapnya bingkai foto itu ke dalam pelukannya, kemudian dia mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ada perasaan lega usai melaksanakan salat istikharah dan meminta ijin kepada suami pertamanya. Dia berharap keesokannya Allah menuntunnya pada pilihan yang tepat yang terbaik untuknya.
Keesokannya di meja makan.
"Fe, memangnya kamu tahu betul tentang keluarganya? berbeda dengan Naufal yang sudah kita kenal baik keluarganya, sementara Raka hanya kamu saja yang mengetahui latar belakangnya. Kakak tidak ingin kamu dibohongi lagi olehnya," tanya Abiyu seusai menyelesaikan sarapannya.
"Fely kenal baik dengan mamanya, Kak. Fely bahkan kemarin sempat bertemu mamanya seusai menghadiri pernikahan Mika, namanya tante Rahma. Beliau sangat baik. Dan, beliau yang memberikan surat dari Maura kepadaku, Kak," ujar Fely mencoba mengungkapkan hal baik yang dia ketahui dari keluarga Raka.
"Apa kerjanya?" cecar Abiyu.
"Em ... Fely tidak tahu apakah pekerjaannya masih sama, dulu dia sempat mengatakan jika dia lolos diangkat sebagai asisten direktur. Setelah itu aku tidak tahu karena baru bertemu lagi dengannya, Kak," tutur Fely.
"Bagaimana kalau dia membohongi mu lagi?" ujar Abiyu lagi.
__ADS_1
"Kakak! jahat banget sih dari tadi menyudutkan Raka terus! aku yakin Raka tidak seperti itu dan dia sangat menyayangi ibunya. Laki-laki yang menyayangi ibunya, menurutku adalah laki-laki yang akan memperlakukan wanita dengan baik sebagaimana dia menjaga ibunya," bela Fely.
"Eh, sok tahu kamu, Dek!" ejek Abiyu.
"Iya, Bunda lihat sepertinya kamu lebih condong kepada Raka dibandingkan Naufal, Fe," ujar bunda menelisik.
"Ah ... i-itu enggak seperti itu, Bun. Fely cuma memberitahukan yang Fely ketahui saja," ujar Fely mengelak dengan tuduhan bunda.
"Baiklah, jadi siapa yang akan kamu pilih?" tanya bunda lagi.
Fely terdiam tanpa menjawabnya.
****
"Bu, bagaimana keadaan Ibu? sehatkan?" tanya Fely sembari memeluk ibunya Nabil.
"Alhamdulillah Ibu sehat, Nak. Ibu kangen sekali sama kamu, Ibu sudah menunggu sedari kemarin lhoh," ujar ibunya Nabil.
"Maaf, Bu. Fely menunggu kedatangan Bunda terlebih dahulu," jawab Fely sopan.
"Ekhm ... ekhm ..., Pak, Bu, saya mewakili keluarga ingin menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini, yaitu pertama untuk bersilaturahmi dan yang kedua ingin menjawab lamaran dari Naufal untuk Fely," tutur Abiyu menjeda kata-katanya. "Langsung saja kami ingin memohon maaf kepada Ibu, Bapak dan juga Naufal ... maaf adik saya tidak bisa menerima lamaran dari Naufal," tutur Abiyu menyampaikan jawabannya dengan hati-hati.
Naufal, ibu dan bapak seketika terkejut mendengarnya. Tadinya mereka sangat bahagia saat keluarga Fely datang berkunjung. Acara pernikahan pun sudah sempat mereka rancang jika Fely bersedia menikah dengan Naufal. Namun, nyatanya Fely tidak menerima lamaran dari Naufal.
"Mengapa, Nak? apa anak Ibu tidak sesuai untukmu?" tanya ibu dengan sedih.
"Bukan seperti itu, Bu. Fely cukup tahu Mas Naufal pria salih dan sangat baik, bisa dibilang hampir sepadan dengan Mas Nabil. Justru Fely lah yang hanya wanita biasa yang masih banyak kekurangan. Tolong maafkan Fely yang tidak bisa menuruti keinginan, Ibu. Meskipun begitu, Ibu tetap Ibu mertua Fely sampai kapan pun, yang sudah Fely anggap seperti Ibu Fely sendiri. Kalian adalah bagian dari keluarga Fely juga, hanya saja--," ucapan Fely terhenti saat Naufal memotong kata-katanya.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, Fe. Kita kan belum ada ikatan apa-apa, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah begitu. Jika keputusanmu itu adalah yang terbaik bagimu aku ikhlas. Bukankah jodoh itu adalah rahasia Allah. Jika kamu menolak lamaranku itu pun adalah kuasa dari Allah. Mungkin saat ini jodohku di luar sana sedang menunggu untuk aku perjuangkan," tutur Naufal dengan tersenyum damai.
"MasyaAllah, kamu bijak sekali, Mas. Terima kasih karena sudah mau mengerti dan berbesar hati untuk menerima keputusan Fely, Mas. Fely akan berdoa semoga Mas Naufal segera di pertemukan dengan jodohmu!" tutur Fely dengan rasa haru. Dia tidak menyangka jika Naufal cukup dewasa untuk memahami keputusannya.
"Aamiin!" ucap Naufal.
"Apa sudah ada laki-laki lain yang juga melamar mu, Nak?" tanya ibu.
"Benar, Bu. Fely memilih laki-laki lain karena sudah sejak lama Fely mengenalnya, bahkan sebelum mengenal Nabil. Waktu itu mereka hampir merencanakan untuk menikah juga, tapi terjadi kesalahpahaman di antara mereka," tutur bunda yang langsung membantu menjawab.
"Baiklah Ibu akan merestui kalian. Selagi melihatmu bahagia kami ikut berbahagia dengan mu, Nak!" ujar ibu tulus. "Nanti jika sudah menikah jangan lupa diperkenalkan dengan ibu, ya?"
"Pasti, Bu! terima kasih banyak atas pengertiannya, Fely sangat beruntung mempunyai Ibu," ujar Fely sembari memeluk ibunya Nabil.
****
Sepulang dari rumah Nabil mereka mendatangi rumah Rahma untuk menyampaikan keputusan Fely.
"Bismillah ... aku memilihmu, Raka. Tolong kali ini jangan mengecewakan aku lagi!" tutur Fely kepada Raka.
"Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih, Fe. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang samaa untuk kedua kalinya, Fe. Bahkan jika kamu bersedia aku akan menikahi mu sekarang juga!" jawab Raka.
"Eits tidak-tidak, aku tidak setuju kalau menikah siri lagi. Jika kamu bersungguh-sungguh dengan adikku, aku beri waktu kamu satu minggu untuk mengumpulkan surat-surat yang diperlukan untuk menikah secara resmi yang sah di mata agama maupun negara. Jika selama waktu yang aku tentukan kamu tidak bisa memenuhinya, sebaiknya kamu lupakan untuk menikah dengan adikku!" tutur Abiyu tegas.
"Kakak ...!" protes Fely yang merasa kakaknya terlalu keras memperlakukan Raka.
"Baik, Kak. Saya akan membuktikan kesungguhan saya! saya pastikan untuk menikahi Fely tepat waktu" ujar Raka mantap.
__ADS_1
...__________Ney-nna__________...