Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Rumah Kosong


__ADS_3

Langit mulai gelap, ketika guratan senja mengubah awan menjadi keunguan. Dan, matahari seolah berpindah menyoroti bagian belahan bumi yang lain. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, sedangkan Dimas dan Cindy masih berkutat di jalanan.


"Sayang, sebentar lagi adzan maghrib lhoh? Yakin mau mampir ke rumah orang tua Rangga sekarang?" tanya Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari depan kaca mobilnya.


"Menurut Mas Dimas bagaimana? Jika terlalu mepet, mending pulang ke rumah abi dulu juga gak apa-apa. Baru nanti selepas isya', kita ijin ke luar sebentar sama Ummi, untuk mendatangi rumah mertua Reyna," usul Cindy yang berada di jok belakang sembari menggendong Aruna yang sedang tidur di pangkuannya.


Sedangkan baby Aroon terlelap di atas baby car seat, di samping kanannya, Qila tidur di samping kirinya, dan Umar juga tertidur di kursi samping kemudi sebelah Dimas. Mereka semua sudah lelah, setelah capek berlarian di pondok pesantren. Kini suasana di mobil menjadi hening.


"Baiklah, kita pulang ke rumah abi saja dulu. Lagi pula, kasihan anak-anak, pasti kelelahan hingga tertidur semua di mobil," ujar Dimas sembari melirik ke kaca spion tengah yang berada di atasnya.


"Iya, Mas. Aku juga pengen pulang dulu sih, sudah kangen sekali sama abi pengen tahu keadaannya," ujar Cindy lirih sembari menahan kantuk efek belum tidur siang.


"Kamu juga ngantuk, kan? Tidur saja dulu, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai!" titah Dimas kepada istrinya yang terlihat menguap beberapa kali.


"Nanggung dong, Mas. Bentar lagi juga sampai, kan!" ujar Cindy sembari menyapu sudut matanya yang berair dengan jarinya.


"Masih ada waktu sekitaran lima belas menit ini kok, lumayan, kan? Gih tidur aja dulu!" bujuk Dimas yang merasa kasihan kepada istrinya.


Cindy diam saja tidak menyahutinya. Saat Dimas melirik ke belakang ternyata istrinya sudah menutup mata. Dimas tersenyum, merasa betapa lucunya sikap sang istri, yang sering kali mendebat meski akhirnya patuh juga. Dimas kembali fokus ke jalanan, dan mengemudi dengan kecepatan sedang.


Setelah kurang lebih hampir satu jam berkendara, akhirnya mereka sampai juga di halaman rumah abi. Terlihat ummi sudah menunggu di depan pintu rumah. Dimas memarkir mobilnya kemudian membangunkan Umar.


Umar ke luar dari mobil, kemudian salim pada ummi dan langsung masuk ke dalam.


Dimas segera ke luar dari dalam mobil, mengitarinya kemudian membuka pintu bagian tengah. Di bangunkannya sang istri yang masih terlelap, dengan mengusap pipinya lembut agar tidak membuatnya terkejut.


Perlahan-lahan mata Cindy mengerjai. "Sudah sampai ya, Mas?" tanya Cindy sembari membenarkan posisi duduknya.


"Iya ... aku bawa Qila masuk ke dalam dulu! Nanti aku bantu bawa Aroon," ujar Dimas kemudian menggendong Qila.


"Assalamu'alaikum, Ummi!" ujar Dimas menyalami mertuanya yang ikut mendekat ke samping mobil.


"Wa'alaikumussalam, Nak Dimas. Qila di tidurkan ke dalam kamar dulu saja," ujar ummi.


"Baik, Ummi! Saya masuk dulu ...," ujar Dimas kemudian beranjak pergi menuju ke dalam rumah.


Sepeninggal Dimas, ummi melihat ke arah Cindy yang masih diam duduk di kursinya.


"Kamu, kenapa gak turun, Cin?" tanya ummi kepada Cindy yang seolah menahan sesuatu.


"Bentar, Ummi. Kaki Cindy kesemutan, ini!" tutur Cindy sembari meluruskan kakinya ke samping secara pelan-pelan.


"Ya, sudah. Aruna biar sama, Ummi saja," ujar ummi kemudian mengambil alih Aruna ke dalam gendongannya.


"Terima kasih, Ummi!" ujar Cindy merasa senang atas perhatian uminya.


"Iya," ucap ummi kemudian pergi meninggalkan Cindy dan masuk ke dalam rumah.


"Sayang, kamu gak turun?" tanya Dimas seusai kembali.


"Ini, Mas. Kakiku kesemutan ... bentar deh aku luruskan kakiku dulu, Mas. Tolong masukin Aroon dulu deh, ke dalam!" ujar Cindy.

__ADS_1


"Okey, kamu jangan kemana-mana, ya? Tunggu dulu di mobil!" ujar Dimas, kemudian memutari mobil dan mengambil Aroon yang masih tertidur pulas pada baby car seat di samping Cindy.


Tak berapa lama Dimas kembali saat Cindy baru saja turun dari dalam mobil.


"Ehh, dibilangin jangan ke mana-mana, kenapa kamu malah turun, Sayang!" ujar Dimas saat melihat istrinya berdiri dengan ragu.


"Udah agak enakan kok, Mas. Nih ..., nih ...!" ujar Cindy sembari menggerak-gerakkan kakinya. "Ehh ... ehh, Mas Dimas, turunin ngga!" seru Cindy ketika tiba-tiba Dimas membopongnya. Reflek Cindy melingkarkan tangannya ke leher Dimas, karena takut jatuh.


"Ssstt ... jangan banyak gerak!" ujar Dimas pada Cindy.


"Mas Dimas, ihh! Kalau dilihat tetangga bagaimana? Di luar rumah juga, masa gendong-gendong, Cindy kan malu!" ujar Cindy lirih di depan muka Dimas.


"Yang gendong suami sendiri, bukan pacar! Sah-sah saja, kan, Sayang?" ujar Dimas sembari terkekeh merasa senang menggoda istrinya.


"Ishh, udah turunin di sini, Mas. Cindy malu sama abi dan ummi!" mohon Cindy dengan pipi merona, menahan malu.


"Cium, dulu!" ujar Dimas sembari menghentikan langkahnya di depan pintu.


Cindy membelalakkan mata, "Astaghfirullah, Mas Dimas, ada-ada saja sih! Ini gimana kalau ad yang lihat?" ujar Cindy masih dengan setengah berbisik.


"Makanya cepetan!" desak Dimas pada istrinya.


Cindy celingak-celingukan melihat ke samping kanan dan kiri, mengecek ke rumah tetangga, mana tahu ada yang sedang berkeliaran di luar. Saat dirasa aman, Cindy memandang lekat ke arah Dimas.


"Pipi, yah?" tawar Cindy pada Dimas.


"Yaah pakai ditawar aja sih, Sayang. Biasanya juga di mana-mana gak masalah!" jawab Dimas kembali tergelak dengan tingkah istrinya.


"Ya udah terserah, deh. Yang mana saja boleh!" ujar Dimas mengalah.


Cindy dengan ragu memajukan wajahnya mendekat ke muka suaminya. Belum sampai pada tujuannya, tiba-tiba saja Dimas menurunkan Cindy dari gendongannya.


"Ehm ... ehm ...!" terdengar suara seseorang yang sedang batuk.


"Assalamu'alaikum, Abi!" ujar Dimas menyapa mertuanya, kemudian melangkah ke arah mertuanya untuk salim.


"Wa'alaikumussalam. Kalian masuk dulu, Abi mau ke masjid!" tutur abi.


"Memangnya Abi sudah sembuh?" tanya Cindy sembari salim pada abinya.


"Alhamdulillah, sudah agak enakan. Abu berangkat dulu ya, Cin!" ujar abi kemudian melangkah pergi.


"Alhamdulillah. Hati-hati, Bi!" seru Cindy, memandang punggung abinya yang lama kelamaan semakin menjauh. Sedangkan Dimas ternyata sudah lebih dulu pergi menuju ke dalam rumah. "Ishh, mas Dimas main kabur aja!" ujarnya kemudian ikut masuk ke dalam.


Saat masuk ke dalam kamar betapa terkejutnya Cindy saat melihat baby Aroon sudah duduk di meja yang dahulu digunakannya untuk belajar.


"Masya Allah, salehnya Umma, calon hafidz Qur'an, dan calon penghuni surga!" pekik Cindy saking terkejutnya melihat si baby merangkak naik sendiri ke atas meja.


"Ada apa, Sayang?" ujar Dimas saat kembali dari mengambil wudhu.


"Tuh, lihat anak laki-laki, Mas Dimas! Cindy pikir Aroon masih tidur, gak taunya udah nongkrong di atas meja!" ujar Cindy kemudian mendekati baby Aroon yang malah tertawa saat Cindy memergokinya.

__ADS_1


"Wahh ... keren, Boy. Anak Papa pemberani!" ujar Dimas sembari mengacungkan jempol.


"Ishh, Mas Dimas, nih. Main tinggal aja tadi pake berlama-lama di luar. Gak taunya anaknya udah berpetualang aja. Untung gak jatoh!" ujar Cindy sembari merengkuh baby Aroon kedalam gendongannya.


"Ini baru namanya laki-laki. Pas jatuh, aku rasa dia gak akan kapok untuk mengulanginya," ujar Dimas sembari mengelus pipi anaknya.


"Mas Dimas mau ke masjid, kan? Buruan sana, keburu khomad nanti!" ujar Cindy sembari mendorong lengan tangan suaminya.


"Mana kemeja koko sama sarungnya? kamu bawakan tidak?" tanya Dimas sembari menengadahkan tangan.


"Bawa, dong. Ada di tas, kan masih di mobil tasnya!" ujar Cindy kepada suaminya. "Mas Dimas, sih! Bukannya bawa tasnya mlah gendong aku, jadinya barang-barang yang dibawa masih di mobil semua."


"Oh, iya!" Dimas menepuk jidatnya saat mengingat hal itu. "Ya udah aku aja yang ambil ke mobil. Aku sekalian berangkat ke masjid kalau gitu!"


"Dadah, Papa!" ujar Cindy sembari mengayunkan tangan Aroon dadah-dadah.


****


Sesuai makan malam dan sholat isya' Cindy meminta ijin untuk ke rumah mertua Reyna. Qila tidak ikut karena asyik bermain game dengan Umar. Sedangkan Aruna dititipkan pada Ummi karena kembali tidur.


Baby Aroon yang terbiasa tidur di jam-jam larut malam, akhirnya dibawa pergi.


Sesampainya di rumah mertua Reyna, suasana rumah nampak sepi dan terlihat kotor di halaman seperti lama tidak ditinggali.


"Mas, sepertinya rumah ini tidak ditinggali deh!" tutur Cindy. Ekor matanya mengitari sudut-sudut rumah yang terlihat dari depan.


"Iya, Sayang. Aku rasa sudah kosong cukup lama, debunya tebal banget lhoh ini!" ujar Dimas sembari meneliti kursi teras yang sangat kotor.


"Cari siapa, Mas?" ujar seseorang yang baru datang dari arah gerbang.


"Saya mencari pak Reza atau Rangga pemilik rumah ini, Tapi sepertinya sudah lama tidak ditinggali ya, Mas?" tanya Dimas sembari mendekat ke arah laki-laki itu.


"Mereka sudah lama pindah ke Jakarta sejak anak laki-lakinya meninggal, Pak. Rumah ini sudah lama dijual, namun belum ditempati lagi sama yang membeli," tutur laki-laki itu.


"Anak laki-lakinya meninggal? Maksudnya, Rangga yang meninggal?" tanya Dimas sembari membelalakkan mata karena terkejut.


Begitu pun dengan Cindy yang sangat kaget mendengar hal itu.


"Wah, saya kurang tahu soal namanya, Pak. Saya hanya sedikit mendengar dari pembantunya."


"Mas, pesenan saya sudah jadi?" tanya seorang pembeli kepada mas-mas yang tadi ngobrol dengan Dimas.


"Iya, Mas. Sebentar saya ambilkan!" ujar laki-laki itu. "Maaf, Mas. Saya harus melayani pembeli dulu!" ujar laki-laki itu yang ternyata adalah penjual nasi sate ayam.


"Baik, Mas.Terima kasih informasinya!" tutur Dimas pada penjual sate.


Laki-laki itu kemudian berlalu.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun, apa yang terjadi terhadap keluarga ini ya, Mas? jika benar Rangga meninggal, kasihan sekali Reyna dan anaknya, terlebih janin yang dikandungnya!" ujar Cindy merasa sangat iba dengan kemalangan yang menimpa keluarga Reyna dan Rangga.


____________________Ney-nna________________

__ADS_1


__ADS_2