Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Menghadapi Kenyataan


__ADS_3

Di bawah kucuran air yang menetes membasahi tubuhku, aku berharap segala beban yang ada di kepalaku hanyut dan hilang terbawa oleh aliran air.


Tentu saja tak semudah itu, masalah tak akan hilang begitu saja meski kita lari untuk menghindar pasti akan timbul masalah yang sama di kemudian hari. Dan, menyalahkan orang lain pun bukan lah jalan yang tepat, sebelum kita berkaca pada diri kita.


Sudah kah kita melakukan hal yang benar hingga cobaan datang menimpa kita. Terlebih mengeluh pada masalah yang datang hanya akan menambah goresan luka karena terus-menerus meratapinya.


Aku harus bangkit dan bertindak. Sebab, terus bungkam tak akan membuat masalahnya terselesaikan. Aku harus menghadapi kenyataan hidup yang tak selamanya baik. Yang harusnya terjadi maka akan terjadi tanpa bisa kita cegah. Saat ini yang harus aku lakukan adalah bersabar dan tenang untuk mengurai benang kusut itu satu persatu.


Seusai menyelesaikan ritual mandiku, aku menuju ke ruang tengah untuk mencari mama. Sudah saatnya untuk aku bicara kepada mama tentang masalah yang saat ini ku hadapi. Benar saja tebakanku, saat ini mama sedang menyaksikan acara televisi kesukaannya. Aku mendekat dan ikut duduk di sebelah mama.


"Mah, emang sinetronnya jalan ceritanya bagus?" tanyaku berbasa-basi.


"Iya nih Mir, menguras hati deh kalau lagi konflik gitu. Kasihan banget nih jadi pemain utamanya sudah anaknya di buang dan dia di buat gila oleh ibu mertuanya. Cobaan hidupnya bikin Mama mengsedih nih!"


Mama semakin antusias saat ditanya tentang jalan ceritanya. Aku sedikit terhibur dengan kata-kata mama yang terhanyut dalam kesedihan mendalami ceritanya. Namun, terkadang ada saja yang menganggap remeh bahkan menertawakan masalah orang lain. Miris! Mengapa bisa begitu? Tentu karena bukan kita sendiri yang mengalaminya.


"Ya kan begitu, Ma. Dalam kenyataannya semua orang pasti akan di hadapkan pada masalahnya masing-masing. Hingga akhirnya menemukan kebahagiaan. Tak terkecuali sama Mama dan Mira, pasti pernah mengalami masa-masa terberat dalam hidup kan?"


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan menggiring Mama menuju pada kenyataan hidup yang saat ini sedang aku jalani.


"Tentu saja Mira, dulu waktu awal nikah itu adalah saat-saat terberat Mama. Hidup dengan pas-pasan. Awalnya ada kesalahpahaman juga dengan keluarga besar. Pokoknya Mama tuh berusaha untuk sabar dan banyak-banyak berdo'a. Alhamdulillah sekarang Mama bisa hidup dengan serba berkecukupan. Kerjaan Papa kamu lancar. Panjang deh kalo di ceritain," ungkap Mama panjang lebar.


"Mira pengen ngomong serius nih, Mah."


Mama mulai mengalihkan pandangannya dari televisi dan memandang ke arahku.


"Ngomong apa, Mir? Kamu nervous ya menjelang hari pernikahan kamu?" tanya Mama.


"Mira minta tolong sama Mama buat bersabar, dan bantu do'a supaya Mira bisa tetap tegar untuk menjalani cobaan hidup yang sekarang sedang terjadi sama Mira, ya Ma?" ungkap Mira lirih.


"Cobaan hidup? Maksudnya kamu sedang ada masalah?" tanya Mama dengan panik.


"Mama, tenang dulu ya. Jangan panik, Mama harus kuat, karena Mira butuh Mama juga untuk menguatkan Mira."


"Saat ini Mira sedang mengalami masalah yang Mira rasa ini cukup berat buat Mira. Tolong Mama kasih dukungan ke Mira agar Mira bisa sabar dan ikhlas menerima kenyataan hidup yang saat ini Mira jalani."


"Iya... iya, Mama akan berusaha untuk tenang. Ayo katakan!" pinta Mama yang memandangku dengan serius.


"Ma, maafkan Mira harus membuat Mama kecewa. Mira harus membatalkan rencana pernikahan Mira dengan Jona!" ungkap Mira.


"Kamu lagi ada masalah sama Jonathan? Coba di bicarakan dulu baik-baik. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Menjelang pernikahan itu memang ada-ada saja godaannya," ujar mama menasehati.


"Tapi, Ma. Ini masalahnya cukup rumit dan melibatkan orang ketiga," Mira mencoba memberi tahu pelan-pelan agar mama tidak shock.


"Maksud kamu ada orang ketiga yang menggangu hubungan kalian, begitu? Ada perempuan lain?" mama memperjelas kata-kataku, "Hhhhh, pantas saja dari kemarin Mama perhatikan kamu sama dia kaya lagi marahan. Mama udah curiga juga tuh dari tadi pagi. Kamu kaya jutek banget sama dia!"


"Iya, Ma. Ada perempuan lain yang tiba-tiba hadir di antara kita!" ucapku sendu.


"Kamu jangan mau kalah, Mir. Singkirkan wanita penggoda. Jangan sampai kamu lengah. Kamu seharusnya kasih dia perhatian lebih supaya hatinya balik lagi ke kamu. Mama bejek-bejek nih awas aja kalau Jonathan sampai menyakiti hati anak Mama!" mama mulai terbawa emosi.

__ADS_1


Aku menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, "Hhhhh...!"


"Jona, menghamili perempuan lain, Ma!" kataku singkat.


Menghamili!? Astaghfirullahal'adzim!" seru mama dengan mata membulat dan mulut yang menganga seolah tak percaya.


Aku mengangguk pelan. Mataku sudah mulai berkaca-kaca menahan perih.


"Mira, kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi nak?" mama merengkuhku ke dalam pelukannya.


Aku menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Jonathan pada mama.


Beruntungnya mama cukup kuat dan mengerti. Mama membelaiku dengan penuh kasih dan sayang. Memberiku semangat agar aku tidak semakin terpuruk dalam kesedihan. Mama juga akan menemui keluarga Jona yang tentunya belum tahu-menahu karena Jona belum mengatakannya kepada keluarganya.


Kami pun menangis bersama meratapi nasibku kedepannya. Aku gagal menikah. Mungkin tak lama lagi akan ada tetangga, teman, kerabat maupun orang-orang yang mengenalku akan memggunjingku, dan mengorek latar belakang masalah yang sedang terjadi yang mengakibatkan kegagalan pernikahanku.


Untuk mengurus pembatalan sewa gedung, katering dan wedding organizer mama yang akan mengurusnya. Rugi. Tentu tidak hanya hatiku yang terluka, tapi juga kerugian materiil yang harus aku tanggung.


Mama menasehatiku untuk mengikhlaskannya dan memintaku tetap bersabar. Aku merasa lega karena beban di pundakku berkurang setelah berbagi keluh kesah dengan mama. Aku bersyukur karena aku punya mama sebaik mamaku yang selalu mengerti aku.


****


Reyna menuju dapur hendak membuatkan kopi untuk Rangga. Di dapur ternyata ada mbak Ani pembantu baru yang kata nenek baru dua bulan ini bekerja. Si embak pembantu nenek yang lama sedang sakit sehingga memutuskan untuk pulang kembali ke kampungnya.


"Eh, Non Reyna. Mau buat apa biar saya yang buatkan, Non?" tanya mbak Ani.


Reyna mengintip ke dalam kompor yang sedang di tekuni oleh mbak Ani. Ia terlihat sedang mengaduk-aduk masakannya dengan spatula di tangannya.


"Ini Non, saya masak cumi asam manis. Kebetulan tadi dapat di pasar cuminya masih seger-seger," ujar mbak Ani.


"Aduh, cumi ya menu pagi ini? Suami saya gak bisa makan seafood, Mbak. Nanti bisa kambuh alerginya," ujar Reyna nampak cemas.


"Lhah, maaf, Non. Saya nggak tau soal itu," ujar mbak Ani merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, Mbak. Kan mbak Ani belum tau. Lain kali kalau masak seafood di barengi menu yang lain ya, Mbak," ujar Reyna menasehati.


"Iya, Non. Saya buatkan nasi goreng saja bagaimana, Non?" tanya mbak Ani.


"Boleh, Mbak. Saya mau mandiin Reynand dulu ya, Mbak?" Reyna membawa secangkir kopi yang di buatnya dan kembali ke kamar.


"By, ini kopinya!" Reyna menaruh secangkir kopi untuk suaminya di atas nakas, "Halo ade ganteng, mandi dulu yah sama Mama!"


Reyna mencium pipi putranya, kemudian mengambil alih baby Reynand dari pangkuan Rangga.


"Papanya, nggak nih?" tanya Rangga.


"Mau apa? Ohh kecupan di pipi?" Reyna meletakkan Reynand di atas kasur kemudian menghadiahi kecupan di kedua pipi Rangga.


"Mmuach... ! Mmuach...!" dua kecupan di layangkan di pipi suaminya.

__ADS_1


Dengan cepat Rangga menahan pinggang istrinya agar tidak beralih dari hadapannya.


"Apalagi, By?" tanya Reyna.


Rangga menarik pinggang istrinya hingga terduduk di atas pangkuannya dan mencium bibir ranum istrinya.


"Ao... ao... achh...!" tiba-tiba terdengar suara ocehan dari Reynand yang membuyarkan suasana intim mereka.


Terlebih kaki Reynand yang bergerak-gerak tak mau diam, seolah menendang paha Rangga yang sedang duduk di samping Reynand di baringkan.


Rangga melepaskan ciumannya dari bibir istrtrinya, "Aduhh Reynad bikin aku gak konsen aja nih!"


"Hhahhaha...!" keduanya tertawa merasa di ingatkan bahwa ada anak kecil di bawah umur yang sedang menyaksikan kemesraan orang tuanya.


"Lagian kamu iseng banget sih, By. Orang mau mandiin Reynand malah di tahan-tahan!"


Reyna beralih melepas baju Reynand satu persatu.


"Habisnya semalem juga gatot sih, baru juga sampai pemanasan, Reynand uda kebangun aja. Jadi ngeganjel nih sampai pagi!" ujar Rangga yang kembali kecewa karena semalam acara bercintanya digagalkan oleh Reynand yang terbangun karena mau menyusu pada ibunya.


"Hhhaha... ,yang sabar ya, By!" ujar Reyna pada suaminya.


Tok tok tok!


Keduanya berpandangan saat ada yang mengetuk pintu. Rangga kemudian beranjak dari duduknya menuju pintu.


Nampak nenek berdiri di balik pintu.


"Ga, si Bejo katanya sakit. Coba kamu cari supir pribadi yang bisa menggantikan bejo. Jika sewaktu-waktu mau pergi kan repot kalau gak ada supir," tutur nenek.


"Iya, Nek. Nanti coba saya bilang sama Om Haryo, supaya di carikan supir.


"Maaf, Nyonya, Den. Jika berkenan saya punya teman yang sedang mencari kerja. Awalnya juga supir pribadi. Majikannya yang sebelumnya pindah ke luar negeri, jadi sekarang menganggur. Orangnya rajin kok, Den. Bisa dites dulu kalau mau," ujar mbak Ani memberi usulan.


"Boleh itu, Mbak. Suruh saja nanti sore datang menemui saya sepulang dari kantor!" ujar Rangga.


"Baik, Den. Nanti saya kabari dulu orangnya."


"Sarapannya sudah siap, Nyonya. Saya permisi mau membersihkan halaman," mbak Ani pun berlalu ke depan untuk menyapu halaman.


"Iya, Ani. Lanjutkan pekerjaanmu!" titah nenek.


Sesampainya di halaman Ani sembunyi-sembunyi menghubungi seseorang lewat handphonenya.


____________________Ney-nna_________________


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya untuk karya ini agar author rajin Up.


Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung semoga sehat sll 🙏💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2