
Sore harinya sepulang Dimas kerja, Cindy dan Dimas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk abi Cindy. Sebelumnya Rosa dan bu Lilis membawa Cindy jalan-jalan sore ke taman agar tidak ikut ke rumah sakit.
"Cin, jalannya jangan cepat-cepat, aku yakin keadaan Abi saat ini sudah aman," ujar Dimas menegur Cindy yang setengah berlari.
"Iya, Mas. Maaf aku pengen cepet-cepet ketemu Abi dan Ummi," Cindy lantas memperlambat jalannya.
Tak berapa lama sampailah mereka di ruangan di mana abi Cindy di rawat.
"Assalamu'alaikum!" ujar Cindy saat membuka pintu. Sebelumnya ummi sudah memberi tahu nama kamar di mana abi di rawat.
"Wa'alaikumussalam!" jawab semua orang yang berada di ruangan.
Cindy dan Dimas kemudian menyalami ummi, abi dan juga budhe Asri kakak dari abinya Cindy.
"Abi, gimana keadaannya?" ujar Cindy pada abinya yang terbujur di atas tempat tidur.
"Abi hanya kecapekan, Cin. Abi sudah jauh lebih baik!" abi berusaha untuk menenangkan anaknya, "Katannya hamil, apa kandungannya baik-baik saja?"
"Alhamdulillah kandungan Cindy sehat, By. Abi kenapa bisa kambuh asam lambungnya?" tanya Cindy khawatir.
"Abimu biasa itu sudah tau tidak kuat makan yang pedas, malah kemaren nekat di makan jadi sakit perut, habis sakit perut malah gak mau makan, kena deh asam lambungnya!" ujar ummi.
"Oh ya Cin, kamu hamil kenapa kliatan kurusan?" tanya budhe Asri.
"Cindy teler, Budhe. Gak doyan makan muntah-muntah terus!" ujar Cindy.
"Walah, yo sing sabar yo, Nduk. Awal kehamilan ya kebanyakan seperti itu, tapi nanti lama-lama tidak," ujar budhe Asri.
"Iya, Budhe. Sebaiknya Budhe dan Ummi pulang dulu saja, biar Cindy yang jagain Abi," usul Cindy.
"Ummi mana tega, kamu kan sedang hamil dan keadaanmu tidak cukup baik. Mbak saja yang pulang biar saya tetap di sini!" ujar Ummi agar budhe Asri yang pulang.
"Kan Abdul nanti malam sudah menyanggupi untuk datang menjaga, Dek. Kamu jangan memaksakan diri. Kamu kan juga butuh istirahat," tutur budhe memberi masukan.
Abdul adalah pak liknya Cindy yaitu adik kandung dari abinya Cindy. Beruntung keluarga besar Cindy hubungannya cukup baik sehingga gotong royong terjalin dengan baik.
"Nah, bener itu kata Budhe, Ummi. Jadi sekarang Ummi pulang dulu istirahat. Sekarang Cindy dan mas Dimas yang jagain. Nanti malam kalau Pak Lik Abdul datang, Cindy pulang. Nah, besok Ummi lagi kan yang jagain Abi. Jadi Ummi harus istirahat dulu!"
"Benar tidak apa-apa?" tanya ummi.
"Iya, Ummi. Saya akan membantu Cindy untuk menjaga Abi," ujar Dimas.
"Iya, Ummi. Ummi pulang saja dulu istirahat," ujar abi menambahkan.
"Ya sudah, ayo Mbak kita pulang! Kalau ada sesuatu kabari Ummi ya, Cin!" ujar ummi memperingatkan, "Nak, Dimas tolong titip Abi ya?"
__ADS_1
"Baik, Ummi. Insyaallah semua akan baik-baik saja," ujar Dimas.
"Ummi, pulang ya, Bi. Assalamu'alaikum!" pamit ummi.
"Wa'alaikumussalam!" ummi dan budhe Asri berlalu meninggalkan rumah sakit.
Tinggal lah Dimas dengan Cindy yang menjaga Abi. Tak berapa lama abi kembali tertidur karena pengaruh obat.
"Sayang, aku keluar sebentar ya. Sekalian aku belikan kamu minum dan makan. Jangan sampai kamu dehidrasi karena kurang minum!" perhatian Dimas.
"Iya, Mas. Cepetan ya, jangan lama-lama!" ujar Cindy.
"Memangnya kenapa kalau lama? Nggak kuat menahan rindu?" goda Dimas.
"Ishh, mas Dimas bisa-bisanya. Ya sudah sana pergi!" Cindy berpura-pura ngambek.
"Iya, Mas akan segera kembali tuan putri!" Dimas mengecup pucuk kepala istrinya kemudian, berlalu pergi.
Akhir-akhir ini Cindy memang semakin manja, selalu ingin di temani. Karena ini sudah yang ke-tiga kalinya ia menjumpai istri yang sedang hamil, tentunya Dimas sudah cukup paham dengan tabiat wanita yang sedang hamil.
Dengan Shila dua kali, namun yang ke dua anaknya meninggal tanpa sempat di lahirkan karena meninggal bersama istrinya yang mengalami kecelakaan, dan dengan Cindy merupakan anak ketiganya.
Saat ini Dimas berniat untuk mengurus biaya administrasi ayah Cindy, dan juga berniat untuk memindahkan abinya Cindy di ruangan VIP. Sehingga Cindy atau pun yang menjaga bisa lebih nyaman menjaga abi.
Sementara itu tiba-tiba Cindy kedatangan tamu yang ingin menjenguk abinya. Orang itu adalah Ustadz Maulana beserta Fadhil.
"Tidak perlu nak Cindy, biarkan abimu beristirahat. Abimu mungkin kecapekan sehingga butuh waktu beristirahat!" ujar ustadz Maulana.
Meskipun tidak jadi besanan, hubungan abi dan ustadz Maulana tetap terjalin dengan baik.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada panggilan dari handphone ustadz Maulana. Beliau kemudian meminta ijin untuk mengangkat telepon di luar.
Kini tinggal lah Cindy, Fadhil dan abinya yang sedang tidur.
"Dek Cindy, mungkin nasi telah menjadi bubur. Tapi ketahuilah akibat pembatalan khitbah sepihak dari kamu waktu itu yang tanpa penjelasan yang pasti. Membuat ganjalan di hati saya hingga kini. Saya merasa di ghosting, karena saya tidak mendapatkan alasan yang sesungguhnya mengapa waktu itu kamu tiba-tiba membatalkan khitbahnya. Apa karena lebih condong pada dokter itu sehingga kamu menghianati saya!" setelah sedari awal hanya diam saja Fadhil akhirnya angkat bicara.
"Astaghfirullahal'adzim, Mas Fadhil. Mengapa mas Fadhil jadi mengaitkan hal itu dengan menuduh saya menghianati mas Fadhil! Saya tidak pernah mengkhianati kamu, Mas. Maaf jika mas Fadhil merasa terus terbebani dengan hal itu, tapi saya punya alasan yang kuat kenapa saya tidak bisa memberi alasan yang sebenarnya kepada mas Fadhil. Dan ini tidak ada hubungannya dengan saya yang akhirnya menikah dengan mas Dimas. Keputusan saya waktu itu murni karena ada sesuatu yang mengharuskan saya untuk membatalkan khitbahnya, Mas. Tolong mas Fadhil ikhlas untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak berjodoh, Mas!" tutur Cindy panjang lebar.
"Saya sudah berusaha mengikhlaskannya, Dek. Tapi tetap saja saya merasa ada yang mengganjal tentang alasan yang sebenarnya. Tolong katakan yang sesungguhnya agar ganjalan di hati saya terlepas dan saya bisa menjalani kehidupan saya ke depan tanpa adanya beban, Dek!" Fadhil terus memaksa Cindy mengatakan yang sesungguhnya.
"Tolong, Mas. Jangan paksa saya untuk mengatakannya. Lebih baik mas Fadhil tidak perlu tahu. Karena bisa jadi jika mas Fadhil tau justru keadaannya akan lebih buruk untuk mas Fadhil!" Cindy kekeuh.
"Ehm...ehm...Nak Fadhil, tanyakan saja kepada salah seorang di keluarga nak Fadhil sendiri. Sebab, sebenarnya pembatalan datangnya dari keluarga nak Fadhil bukan kemauan Cindy pribadi. Mungkin sudah saatnya nak Fadhil tau Cindy," tutur abi yang ternyata terbangun saat mendengar keributan antara Cindy dan Fadhil.
"Abi, kenapa mengatakannya? Saya sudah berjanji untuk tidak mengatakannya, Bi!" Cindy terperangah saat abinya berbicara.
__ADS_1
"Dari keluarga saya? Siapa yang meminta kamu membatalkannya, Dek?" tanya Fadhil yang juga terkejut.
"Nak Fadhil silakan cari tahu sendiri?" ujar Abi.
"Ada apa ini?" tanya ustadz Maulana.
"Mas, terima kasih sudah menjenguk saya. Alhamdulillah keadaan saya sudah lebih baik," abi mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, syafakallah! Allahummasyfi Abu, Allahumasyfi Abu, Allahumasyfi Abu," do'a ustadz Maulana.
"Aamiin, jazakumulloh khoiron katsiran," jawab abi.
"Waiyyaka'. Kalau begitu kami permisi dulu ya, Assalamu'alaikum!" ustadz Maulana berpamitan.
"Wa'alaikumussalam."
Saat kepergian mereka mas Dimas muncul dari balik pintu.
"Sepertinya tadi ada tamu ya, maaf saya agak lama ya?" Dimas menangkap ada sesuatu di wajah istrinya dan abi. Ia menduga mungkinkah sempat terjadi sesuatu.
"Tadi itu ustadz Maulana dan nak Fadhil menjenguk. Nak Dimas bawa apa?" tanya Abi mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ini jus untuk Cindy. Dari kemarin susah makan, Bi. Saya khawatir dehidrasi jadi saya belikan jus dan beberapa kue untuk persediaan bagi yang menjaga. Oh ya, Bi. Kamarnya dipindahkan ke ruangan VIP ya? Mohon Abi tidak keberatan," ujar Dimas.
"Wahh, nak Dimas kenapa musti repot-repot. Terima kasih atas bantuannya!" ujar abi.
Pukul 19.00 WIB, abi sudah di pindahkan ke ruang VIP. Kemudian pukul 21.00 adiknya abi sudah datang untuk menggantikan menjaga abi. Dimas dan Cindy akhirnya di minta pulang oleh abi karena sudah larut, Cindy harus beristirahat.
"Pak Lik, Cindy pulang dulu ya. Sebelumnya terima kasih bantuannya. Saya titip abi ya Pak Lik," ujar Cindy berpamitan.
"Iya, jangan sungkan. Kalian pulang hati-hati ya di jalan," ujar Pak Lik Abdullah.
"Pulang dulu ya, Bi. Assalamu'alaikum!" ujar Cindy.
"Iya, hati-hati. Wa'alaikumussalam!"
Cindy dan Dimas berjalan di lorong rumah sakit berdampingan.
"Terima kasih ya, Mas. Mas Dimas sudah banyak membantu keluarga Cindy," ujar Cindy kepada suaminya.
"Kamu ini kaya sama siapa saja, Cin. Aku kan suami kamu. Abimu kan juga orangtuaku, jadi itu sudah menjadi tanggung jawabku juga, Sayang," jawab Dimas.
"Ehh...tunggu, itu kan Rangga, Mas. Rangga...!" teriak Cindy saat melihat Rangga melintas tak jauh darinya.
____________________Ney-nna________________
__ADS_1
Mohon untuk komentar di tag komentar yang di buat author ya reader's. Terimakasih dukungannya, semoga sehat selalu 🙏💕💕💕