
Reyna menyiapkan baju ganti dan sarapan untuk Rangga. Sambil menunggu Rangga bersiap dan sarapan, Reyna meminta ijin untuk menemui Kakek dan Nenek yang sedang bersantai di teras rumah. Kakek sedang duduk di kursi rodanya, sambil menikmati sinar mentari pagi yang kaya akan vitamin D. Reyna duduk di samping Nenek.
"Nek, ini obat Kakek?" Reyna menunjuk pada beberapa macam kapsul dan tablet yang bertenggger diatas meja.
"Iya, belum diminum sama Kakek. Katanya bosen minum obat terus, kayak anak kecil saja Kakekmu itu." Nenek cemberut karena tidak berhasil membujuk suaminya meminum obat.
"Biar Reyna yang coba bujuk!" Reyna melangkah menuju kakek yang berada di samping teras, bagian atas tidak ada atapnya, sehingga matahari langsung menembus mengenai kulit.
"Kek, tangan dan kakinya sambil digerak-gerakkan perlahan biar tidak kaku." Reyna memperagakan gaya olahraga yang sederhana dan bisa dilakukan sambil duduk.
"Kakek, sudah berjemur dari tadi Reyn, sudah capek ini, mau udahan aja."
"Ayo, dorong Kakek." akhirnya Reyna menuruti. Didorongnya kursi roda hingga mendekati meja.
"Kakek mau tanya sesuatu, Reyn." Reyna kemudian duduk di kursi dekat Nenek.
"Tanya apa, Kek?" Reyna mengambil bungkus obat dan memperhatikan aturan minum yang tertera pada bungkus obatnya.
"Reyn, kamu menyesal tidak menikah dengan Rangga." tanya Kakek.
"Nggak, Kek. Justru Reyna sangat berterimakasih kepada Kakek, Rangga adalah suami yang baik dan sayang sama aku, Kek." ucap Reyna tulus.
"Nenek juga merasa, akhir-akhir ini kalian terlihat sangat dekat. Kami turut bahagia jika kamu bahagia sayang." aku merangkul tubuh Nenek merasa diperhatikan dan disayang oleh keluarga ini.
'Nenek dan Kakek bagaikan orangtua kedua bagiku. Aku bersyukur Allah mengirimkan mereka di hidupku.'
Setiap manusia pasti akan mendapat ujian masing-masing dalam hidupnya. Namun kita harus percaya, selalu ada kemudahan dibalik kesulitan yang kita rasakan. Seperti yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur'an surah Al-Insyirah ayat 5-6.
"Terimakasih, Nek...Kek." kami tersenyum bahagia.
"Sekarang waktunya Kakek minum obat dulu." tiba-tiba muka Kakek berubah menjadi masam, bagaikan anak kecil yang sedang merajuk karena tidak ingin meminum obat.
"Reyna, Kakek sangat bosan meminum obat itu terus, Kakek kan sudah sembuh." kilah Kakek.
"Eitz...Kakek ingat tidak, banyak orang sakit di luar sana yang nggak mampu buat beli obat, karena terkendala biaya. Mereka harus pasrah menahan sakit yang luar biasa karena tidak mempunyai penawarnya. Kita harus bersyukur Kek, meskipun Kakek sakit namun Kakek diberi kemudahan untuk berobat, diberi kesembuhan. Obat Kakek ini sangat mahal lho, jadi Kakek harus meminumnya sesuai anjuran dokter."
"Reyna, pengen nanti Kakek sudah bisa berdiri dengan gagah menyambut tamu yang datang di acara pernikahan Reyna nanti." bujuk Reyna.
"Ahh..kamu ini paling bisa ya Reyn, buat Kakek nggak bisa membantah kata-kata kamu."
"Ya sudah mana, Kakek minum obatnya." Reyna dan Nenek tersenyum senang.
"Ngomongin apa sih, sepertinya seru banget!" Rangga datang dari dalam rumah.
"Nggak apa-apa kok, By. Ayo berangkat!" Reyna menggandeng tangan Rangga setelah mereka berpamitan dengan mencium punggung Nenek dan Kakek.
"Assalamu'alaikum Kek, Nek!" Reyna berdada-dadah dengan ceria.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Nenek dan Kakek berbarengan.
Reyna dan Rangga masuk ke dalam mobil. Rangga menyalakan mesin mobilnya, kemudian mobil melaju meninggalkan pelataran halaman kediaman Kakek.
"Sayang, aku boleh nemenin kamu kerja nggak?" tanya Rangga
"Nemenin kerja? Katanya mau bertemu temen, By." Reyna sedikit tersenyum.
"Nanti di jam makan siang baru ketemu, dia kan masih kerja."
"Daripada aku pulang lagi ke rumah, mending sambil menunggu aku nemenin kamu kerja." ujar Rangga.
Reyna nampak berpikir, "Ya udah, boleh deh!"
__ADS_1
"Makasih, Sayang!" Rangga menjawil pipi kanan Reyna dan tersenyum senang. Kemudian kembali fokus memandang jalanan.
Tak berapa lama, mobil sampai di halaman ruko. Reyna dan Rangga keluar dari dalam mobil. Kemudian jalan bergandengan menuju pintu utama ruko dengan tampak mesra sambil tertawa-tawa. Mereka tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang mengawasi mereka dari dalam mobil yang terparkir di depan resto. Begitu Reyna dan Rangga masuk ke dalam ruko, ia menyalakan mobilnya kemudian pergi meninggalkan halaman resto.
Saat masuk ke ruko, Reyna dan Rangga bertemu dengan Gina yang berada di front office.
"Pagi, mbak Reyna!" Gina menyapa.
"Pagi, Gina!" Reyna balik menyapa.
"Oiya, mbak Reyn..ini ada titipan dari seseorang." Gina menyerahkan paper bag berwarna coklat yang di dalamnya terdapat sebuah kotak hadiah dengan pita yang tertata indah diatasnya. Bingkisan yang sungguh cantik jika dilihat dari bungkusnya.
"Dari siapa, Gin?" tanya Reyna.
"Nggak tau, Mbak namanya. Orangnya baru sekitar lima menit yang lalu mbak perginya. Tapi saya baru lihat sekali ini disini, tadi cuman bilang kalau temennya mbak Reyna. Usai menyerahkan bingkisan itu orangnya langsung pergi." Gina menjelaskan.
Reyna mengerutkan dahi, 'mungkinkah ini dari..!' gumam Reyna dalam hati, namun terpotong saat tiba-tiba Mira datang.
"Weys..pengantin baru ke kantor aja ditemenin!"
"Hai, Ga?" sapa Mira.
"Baik, Mir!" Rangga tersenyum ramah.
"Ya udah aku ke atas dulu ya Mir!"
"Yuk, By. Kelamaan di isini nanti disindir terus sama Mira!" Reyna menarik lengan Rangga untuk mengikutinya menuju tangga.
"Ieyh..dasar kamu ya, Beb. Mentang-mentang ada suami, aku dikacangin!" Mira cemberut melihat pasangan suami istri itu pergi.
"Aduh..bikin ngiri kita-kita aja ya mbak!" Senengnya kerja ditemenin suami gitu." ungkap Gina.
"Justru kalau kaya gitu mana bisa konsen kerja. Yang ada malah ngerjain yang lain-lain!"
"Iihh..apa sih mbak Mira itu, nggak jelas banget deh...!" Gina melanjutkan pekerjaannya.
Rangga melihat suasana ruangan kantor Reyna. Terlihat rapi dan bersih, dengan aksen pernak-pernik khas perempuan.
Reyna terlihat sibuk menekuni pekerjaannya yang baru ia mulai. Rangga duduk di sofa yang ada di dekat jendela sambil mengecek email-email yang masuk di handphonenya. Meski pekerjaan sudah di handle oleh Doni ia tetap mengecek perkembangan yang terjadi di perusahaan.
Reyna melirik ke arah suaminya yang juga menekuni pekerjaannya lewat handphone. Ia beranjak berdiri kemudian mendekati Rangga.
"By, mau aku buatkan kopi?" tanya Reyna yang berdiri di depan Rangga.
"Boleh." jawab Rangga.
"Ya udah aku tinggal bentar ya!" Rangga menangguk. Kemudian Reyna berlalu keluar ruangan menuju pantry.
Pandangan Rangga mengarah ke bingkisan yang bertengger di atas meja kerja Reyna. Ia sedari tadi sangat penasaran dengan bingkisan tersebut. Pikirannya tidak dapat fokus lagi ke kerjaan.
Kemudian muncullah Reyna dari balik pintu membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi.
"Ini By, diminum dulu." Reyna menyerahkan satu cangkir kopi ke arah Rangga.
"Makasih ya, Sayang." Reyna mengangguk kemudian tersenyum.
Rangga menyesap kopi buatan istrinya. Kemudian lagi-lagi beralih memandang pada bingkisan itu.
"Reyn, coba buka bingkisannya. Aku dari tadi penasaran apa sih isinya!" titah Rangga.
Reyna jadi beralih ikut memandang ke arah yang sama. Ada kekhawatiran di benak Reyna. Sudah cukup lama ia tidak menerima hadiah. Dulu hanya ada satu orang yang selalu menyempatkan untuk memberinya hadiah.
__ADS_1
"Emm..iya aku akan membukanya, By." dengan ragu Reyna mengambil bingkisan itu, kemudian duduk di sofa di samping Rangga.
Perlahan Reyna mengambil kotak yang berada di dalam paper bag. Kemudian ia buka tutup kotak yang terdapat hiasan pita indah dibagian atasnya. Setelah dibuka di dalamnya terdapat kotak kayu dengan ukiran foto Reyna dibagian atasnya. Terdapat ukiran tulisan di samping fotonya.
'Happy Birthday, Reyna Hanania'
Reyna kemudian menggeser bagian atasnya, seketika terputar ketukan nada lagu You are my sunshine pada kotak musik tersebut. Bagian samping komponen pemutar musik juga terdapat tulisan.
'Jangan pernah bosan tuk tersenyum, percayalah ada hati yang selalu bahagia ketika melihat senyummu'
Reyna mengakui hadiah ini sangat indah. Tapi Reyna tak mampu berucap apapun. Saat ini yang ia pikirkan adalah Rangga. Reyna melirik ke arah Rangga yang mukanya sudah sangat masam. Ia khawatir akan memicu pertengkaran.
Reyna mengerutkan dahi kemudian meng gigit bibir bagian bawahnya, "Emm...By...!"
"Buka kartu ucapannya!" Rangga langsung memotong Reyna yang hendak berbicara.
Perlahan Reyna mengambil kartu ucapan yang tersisa di dalam kotak. Saat Reyna membaca tulisannya, ia tahu bahwa tebakannya benar.
'Reyna, kotak music ini adalah kado yang ingin aku berikan di saat usiamu tepat 20th. Kamu boleh menyimpannya atau membuangnya. Karena ini dibuat khusus untukmu, maka aku tetap memberikannya.
Semoga pernikahan mu bahagia
Sahabatmu'
"Dari cowok yang tadi pagi telepon kan ?!" selidik Rangga. Reyna dapat melihat Rangga mengepalkan tangannya.
Reyna mengangguk, "Iya, By. Nanti kotak musiknya biar aku kasih ke Mira aja, By. Kamu jangan marah ya?" bujuk Reyna sambil memegang lengan tangan Rangga yang tampak mengeras.
"Ternyata Dia lebih tau tentang kamu ya...kamu pasti seneng banget dapat kado dari dia. Bahkan aku aja nggak tau tanggal lahirmu!" ucap Rangga ketus.
"By, aku nggak pernah merayakan hari ulang tahunku. Memangnya kenapa kalau kamu nggak tahu tanggal lahir ku? Aku pun juga nggak tau tanggal lahirmu. Kita baru aja menikah tanpa pacaran sebelumnya. Wajar saja jika banyak yang belum kita tau tentang hal-hal yang mendetail tentang pasangan kita. Jadi itu bukan hal yang paling special buat aku." ungkap Reyna.
"Bagiku, ini hanya bentuk perhatian dari seorang sahabat buat aku, By. Hal itu nggak akan merubah perasaan aku ke kamu!"
"Kamu inget nggak waktu makan malam bersama setelah akad nikah? Awalnya aku pun juga nggak tau jika kamu alergi makanan seafood. Dan mantanmu lebih tau. Akupun mengerti karena kalian sudah lama pacaran, sehingga dia lebih mengenal kamu daripada aku. Meski kita dulu satu kelas waktu SMP, tapi kita nggak saling bicara dan sudah lama juga kita nggak pernah bertemu setelahnya."
"Tapi akan aku pastikan untuk kedepannya, hanya aku yang paling mengerti kamu lebih dari siapapun!" Reyna menggenggam tangan Rangga.
Rangga menyadari bahwa saat itu Rangga kurang peka dengan keberadaan Putri yang pastinya membuat Reyna tidak nyaman. Sama seperti saat ini Rangga yang merasa cemburu dengan perhatian laki-laki lain terhadap Reyna.
Rangga merengkuh Reyna ke dalam pelukannya, "Sayang, maaf ya saat itu aku nggak peka dengan perasaan kamu, pasti kamu sangat sedih!"
"Itu sudah berlalu, By. Kita nggak usah bahas itu lagi. Yang terpenting buat saat ini, kita harus saling mengerti satu sama lain. Dan percaya bahwa kita saling mencintai." Rangga mengecup kening Reyna kemudian meneluknya erat.
Reyna bersyukur dapat meyakinkan Rangga. Situasi yang sempat memanas bisa mencair dan menghangat karena komunikasi yang terjalin dengan baik antara keduanya.
Rangga mengendurkan pelukannya sambil berkata, "Aku mencintaimu, Hanania!"
"Aku juga mencintaimu, By!" keduanya nampak saling berpandangan.
Perlahan Rangga mencondongkan wajahnya ke depan, mengarah ke bibir ranum istrinya. Kecupan singkat ia berikan pada bibir istrinya. Namun hal itu memunculkan gairah yang lebih terhadap istrinya yang sudah menjadi candu baginya. Di rengkuhnya tengkuk istrinya agar semakin mendekat. Kemudian di l******* bibir istrinya dengan lembut.
Nggik!
Rangga dengan sigap langsung menghentikan ciumannya tatkala ada yang membuka pintu.
"Aduuhhh..maaf...maaf! Kelupaan kalau ada suaminya!" Mira yang hendak masuk ke ruangan akhirnya terurung dan kembali menutup pintu.
Renyna menutup mukanya dengan telapak tangannya. Mukanya semakin bersemu karena malu kepergok berciuman di ruangan kantor.
Rangga kembali memeluknya dan mengusap kepala Reyna yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Ya ampun, aku malu, By!" ungkap Reyna.
"Nggak apa-apa, Sayang. Mira sudah cukup dewasa untuk mengerti." Rangga mengusap pipi Reyna yang merona untuk menenangkan.