
POV. Reyna
Malam pukul 22.00 WIB aku dan Rangga tiba di kediaman kakek. Nenek yang awalnya sudah tidur terbangun saat kami memasuki rumah. Suara si embak yang riuh saat membukakan pintu membuatnya terbangun.
"Non Reyna, aku kangen banget lho, lama banget di Solonya!" si embak langsung saja memelukku erat. Aku pun tersenyum haru. Rupanya hadirku di rumah ini ada yang merindukan.
"Ehh... hati-hati ya, Mbak. Jangan kencang-kencang meluknya nanti anakku ke gencet!" canda Rangga.
"Ahh iya, non Reyna kan sedang hamil. Tapi kan masih rata, Den. Masa iya kegencet," si embak mengusap-usap perutku. Kami pun tertawa.
"Ehh, kalian pulang? Kok nggak ngasih kabar sama Nenek?" ujar nenek saat keluar dari dalam kamarnya.
"Nenek...!" aku pun menghambur memeluk nenek. Aku sangat merindukan nenek.
"Reyna, kamu sehat, nak?" Nenek mengusap punggungku lembut. Bagiku pelukan nenek sehangat pelukan ibu. Ya nenek adalah ibu bagiku setelah ibu kandungku tiada.
"Reyna sehat, Nek. Nenek dan Kakek juga sehat kan?" tanyaku sembari mengendurkan pelukanku pada nenek.
"Kami sehat Reyna, Nenek tahu yang kamu alami kemaren, jangan beritahu Kakek hal buruk yang menimpamu ya, karena Nenek tidak memberitahukannya. Kakekmu sejak kemaren mengkhawatirkan mu meski Nenek bilang kamu baik-baik saja," ucap nenek lirih di samping telingaku.
"Iya, Nek. Reyna mengerti!" kondisi jantung kakek yang lambat laun menurun membuat nenek waspada. Aku berharap kakek berumur panjang hingga menyaksikan anakku lahir, agar kakek tahu aku menjalani hidup dengan bahagia atas jodoh yang dipilihkannya sesuai dengan keinginan kakek.
"Mamimu sudah baikan?" tanya nenek. Nenek pasti tahu jika mami telah menjalani operasi patah tulang.
"Sudah, Nek. Mami sudah bisa menggerakkan tangannya dengan perlahan. Sudah bisa dipakai untuk makan, dengan rajin berlatih pasti akan segera kembali beraktivitas seperti sedia kala," ujarku pada nenek.
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, ini sudah sangat larut, kamu pasti capek. Istirahat lah!" titah nenek.
"Iya, Nek. Selamat malam, Nek!" ujarku sambil memeluk nenek sebentar kemudian berjalan menuju kamarku. Kamar yang sudah hampir sebulan tidak aku sambangi. Aku sangat merindukan kamarku.
__ADS_1
Kulihat nenek tersenyum, kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.
Aku buka pintu kamar, nampak suamiku sudah berbaring di ranjang sembari melihat ke layar handphone.
"Lama sekali sayang, ayo kita tidur!" ucapnya padaku.
"Sebentar, By. Aku mau ke kamar mandi buat pipis dan bersih-bersih dulu," ujarku sembari mengambil piama tidur kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Tak berapa lama aku kembali Rangga masih menungguku dengan setia. Padahal aku tak keberatan jika ia mau tidur terlebih dahulu.
Melihatku datang ia langsung mengulurkan kedua tangan agar aku segera menghampirinya di ranjang. Begitu aku merebahkan tubuhku di sampingnya ia langsung memelukku. Aku merasa begitu di cintai olehnya. Dia mendusel padaku. Kepalanya berada di atas bahuku, tangannya melingkar di bawah perutku. Kulirik matanya sudah terpejam.
Lima menit kemudian aku masih terjaga, aku mendengar ia mendengkur lirih. Ternyata ia kecapekan hingga tidurnya mendengkur, sebab biasanya tidak begitu. Ku lihat jam di dinding, suara dentingnya terdengar lebih keras dari biasanya. Tiga puluh menit berlalu, aku yang sudah memaksakan diri untuk memejamkan mata, hingga sekarang tak juga tertidur. Aku merasa perutku keroncongan karena lapar.
Perlahan aku memindahkan tangan suamiku yang melingkar di atas perutku. Kemudian aku beranjak bangun. Ku ambil kotak susu khusus ibu hamil di dalam koper, lalu ku pakai hijab instan, kemudian aku keluar dari kamar. Dengan perlahan aku berjalan mengendap-endap menuju dapur. Aku mengisi panci dengan air terlebih dahulu untuk membuat susu.
Menunggu sendirian ternyata sungguh membosankan. Aku menjentik-jentikkan jariku di meja. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.
Aku melihat ke pintu dapur menanti siapa yang akan muncul dari balik pintu.
Ngiik...! pintu terbuka.
Muncul suamiku dari balik pintu, aku pun merasa lega.
"By, kamu terbangun?" tanyaku.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanyanya masih dengan mata sayunya.
"Hehe, aku kan tidak ingin membangunkan mu. Tadi tidurmu nyenyak sekali," ucapku sembari memeluk pinggangnya yang berdiri di depanku.
__ADS_1
Kulihat dia menoleh ke arah kompor.
"Mau bikin apa?" tanyanya mengusap pucuk kepalaku yang tertutup hijab.
"Aku lapar, aku mau bikin susu dan merebus telur," ujarku sambil mendongak melihat wajahnya dari tempat dudukku.
"Ya udah kamu duduk aja biar aku yang buatkan!" ujarnya sembari melangkah menuju kompor.
Aku menyaksikan Rangga membuat susu untukku, kemudian mengupas kulit telur yang sudah matang.
"Yakin, begini saja sudah kenyang?" ujarnya padaku sembari meletakkan susu dan piring kecil berisi telur di hadapanku.
"Iya, By. Kan adanya cuma ini. Ini saja sudah cukup kok, kan tadi sore sudah makan berat," ujarku sambil mengambil gelas berisi susu kemudian meneguknya dengan cepat.
"Kalau masih lapar aku belikan makanan di luar," ujarnya sembari duduk di depanku.
"Nggak usah!" ucapku sambil menggigit telur rebus di hadapanku, "Begini saja aku sudah merasa nikmat. Mungkin karena di buatnya dengan penuh cinta dari suamiku!"
Ia terlihat tersenyum, kemudian menjawil hidungku, "Kamu semakin pandai menggombal, sayang!"
"Hhhahaha....!" aku pun tertawa senang.
Meski hanya dengan situasi sederhana seperti ini, namun aku sangat bahagia bersamanya.
____________________Ney-nna_________________
Dikit dulu ya nanti insya Allah Up lagi 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung author ya 😍🌹🌹🌹💞
__ADS_1