Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Akan ada saatnya


__ADS_3

Sesampainya di rumah Fely dikejutkan dengan kedatangan bunda dan Abiyu. Di sana ada nenek Arum juga yang berkunjung setelah dijemput oleh Abiyu.


"Assalamualaikum, Bunda kok tidak bilang kalau mau datang?" tanya Fely seraya memeluk bundanya dengan manja.


"Wa'alaikumussalam. Bunda nggak pengen ngrepotin kalian. Habis dari mana?" tanya bunda.


"Dari rumah mama. Kak Reyna sama anak-anak nggak ikut, Kak?" tanya Fely sembari menyalami Abiyu.


"Enggak, Reynand diminta menginap di rumah neneknya. Reyna menemaninya dengan Alesha juga," ujar Abiyu.


"Oh, begitu."


"Nek, tadi Fely ketemu orang yang agak aneh di depan apotek," ujar Fely saat beralih pada nenek Arum.


"Orang aneh gimana, Fe?" tanya nenek Arum.


"Ada nenek-nenek yang sudah sangat tua sekali, meminta uang kepada Fely, waktu Fely hendak mengambilkan uangnya, tiba-tiba beliau memegang tangan Fely dan terus melihat ke wajah Fely. Nenek itu kemudian memanggil Fely dengan sebutan Sekar. Beliau terus bertanya apakah aku ini Sekar. Kemudian, seorang kakek-kakek dengan berjalan pincang menariknya pergi. Apa mungkin mereka mengenal nenek Sekar ya, Nek?" tanya Fely.


Semua mata kemudian menatap pada nenek Arum.


"Kira-kira siapa, Bu Lik?" tanya Maya.


Nenek Arum terdiam sembari berpikir. Mungkinkah itu adalah pak lik Darmadji dan istrinya. Semenjak minggat dari kampungnya mereka tidak pernah kembali lagi. Sehingga Arum tidak mengetahui keberadaannya lagi.


......................


Fely mengerjapkan mata tatkala terbangun dari tidurnya. Ada rasa tidak nyaman yang membuatnya ingin muntah. Dilihatnya jam di dinding masih menunjukkan pukul 03.45 pagi.


Disingkapnya selimut dan perlahan turun dari tempat tidur. Dibukanya laci nakas yang berada di samping tempat tidur. Diambillah sebuah benda pipih yang tidak terlalu panjang. Fely dengan segera menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Lagi-lagi dia muntah dipagi hari.


Badannya seketika terasa lemas. Sejenak dia duduk di atas closed untuk memulihkan tenaga. Dipandanginya benda pipih yang berada di tangannya. Dengan sedikit ragu dia tampung sedikit urinenya pada cawan kecil, kemudian menaruh testpack itu pada cawan.


Fely sedikit cemas menunggu setiap detik dan menitnya untuk membaca hasil test yang membuatnya penasaran. Setelah dirasa lima menit telah berlalu, Fely membuka matanya perlahan untuk melihat hasilnya.


Tok tok tok.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Fely tidak jadi melihat hasilnya dan segera menyimpannya.


"Sayang, kamu di dalam nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Raka dari balik pintu. Dia merasa khawatir karena pintu toilet tertutup, namun tidak ada suara apa pun yang terdengar.


"Iya, Mas. Sebentar!" jawab Fely kemudian membuka pintu.


"Sayang, tadi aku sempet khawatir, karena semuanya hening," ujar Raka seraya mengusap rambut istrinya.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Cuma mencoba ini," ujar Fely sembari menunjukkan testpack ke hadapan suaminya.

__ADS_1


Raka melihat ke arah benda pipih yang dipegang istrinya. Kemudian dia mengambilnya. Dilihatnya dengan seksama garis yang melintang pada testpack.


"Alhamdulillah! selamat, Sayang!" Raka segera merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan. Senyumnya terkembang serta netranya berembun karena haru.


"Aku hamil, Mas?" tanya Fely yang belum sempat melihat hasilnya.


Raka mengurai pelukannya dan menatap lekat pada istrinya. "Memangnya kamu belum melihat hasilnya?" tanyanya.


Fely menggeleng. "Pas mau lihat hasilnya aku ragu, Mas. Terus kamu ngetuk pintunya."


Raka seketika terkekeh mendengar hal itu. "Kamu hamil, Sayang. Garisnya dua, positif!"


Raka menyodorkan testpack ke depan muka Fely.


Fely terpana melihat hasil yang terbaca dari benda pipih yang dibawanya. Terlihat ada dua garis di sana. Netra Fely seketika berkaca-kaca dengan perasaan senang bercampur dengan rasa haru yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada nyawa yang tengah tumbuh di dalam rahimnya.


Seketika dia memeluk erat suaminya menumpahkan tangis haru di bahu suaminya.


"Selamat ya, Sayang!" ujar Raka kemudian mengecup kening istrinya.


......................


Seorang kakek tua duduk di sebuah kursi reot yang berada di sudut ruangan.


"Jangan melamun, cepat buatkan aku teh manis!" ujar kakek tua pada wanita yang duduk di tepian tempat tidur.


"Aku yakin melihat Sekar di wajah wanita muda itu, Mas," ucap si nenek tua.


"Kalau pun benar, kamu mau apa? kamu nggak punya malu menunjukkan wajahmu pada mereka?" ujar si kakek tua.


"Paling tidak aku ingin meminta maaf. Mungkin saja itu bisa mengurangi beban kita untuk di akhirat nanti. Kita sudah menjalani bertahun-tahun hidup dengan menderita," ujar nenek tua.


Setelah menyeruput tehnya si kakek tua terdiam. Beliau kembali menerawang pada masa lampau. Rasa sesal, malu, dan sedih berkecamuk di dadanya.


Flashback On ...


"Ayo cepat, Bune. Kalau kita tidak bergegas pergi sekarang juga, Sekar pasti akan mendatangi kita. Aku yakin Arum pasti mendengar pembicaraan kita hingga menaruh hantaran nasinya di luar," ujar Darmadji


"Sebentar, Mas. Aku harus mengemasi barang-barang berharga kita!" ujar Trinem sembari memasukkan baju-baju, perhiasan, dan barang-barang berharga miliknya.


"Bergegaslah, jika Sekar tau dan mengadu pada Edi dan pak Lurah kita akan dijebloskan ke penjara. Kamu mau?" tutur Darmadji.


"Baiklah-baiklah, ayo pergi sekarang, Mas! rasanya sungguh berat meninggalkan rumah yang selama ini kita tinggali."


Mereka pergi dengan mengendap-endap melewati pintu belakang. Dua tas jinjing besar susah payah mereka bawa di kedua tangannya. Meskipun gelap gulita mereka tetap awas mencari jalan demi menemukan jalan raya.

__ADS_1


Setelah berjalan kurang lebih 200 meter dari rumah, mereka sampai di jalan raya. Darmaji meminta tukang becak yang sedang mangkal untuk mengantarkan mereka ke terminal kota.


Sudah jauh-jauh hari Darmaji menjual rumahnya pada seorang tuan tanah. Setelah seminggu mengulur waktu kepindahan mereka, akhirnya tibalah saat ini di mana mereka harus angkat kaki dengan terburu-buru setelah merasa perilaku mereka terhadap Sekar selama hampir tiga tahun ke belakang diketahui oleh Arum.


Sesampainya di terminal kota, Darmaji dan Trinem segera membeli tiket bus agar dapat membawa mereka ke tempat yang jauh hingga keberadaan mereka tidak ditemukan oleh Sekar maupun anak Pak Lurah, akhirnya mereka membeli dua tiket menuju ke Semarang.


Darmadji kemudian menempati rumah yang dibelinya dari seorang teman di desa Tambakrejo, kelurahan Tanjungmas yang terletak di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT). Di sana Darmadji menjadi pengusaha tambak, berkat uang yang dirampas dari uang kiriman Wirya untuk Sekar. Darmadji pun menjadi orang yang terpandang karena termasuk orang kaya raya di desa itu.


Tiga puluh tahun berlalu mereka habiskan di kota Semarang. Namun, kebijakan pemerintah untuk mengosongkan lahan tanah di bantaran sungai tersebut, mengharuskan warga untuk pindah ke rusunawa. Banyak warga yang bersikeras tidak mau pindah lantaran jarak rusunawa dengan pantai yang jauh. Sementara mereka yang berprofesi sebagai nelayan tentunya kesulitan. Namun penggusuran tidak terelakkan.


Darmadji akhirnya kembali ke Yogyakarta dengan sisa-sisa harta benda yang masih bisa diselamatkan. Di perjalanan mereka sempat bertemu Wirya.


Wirya memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Darmadji dan istrinya. Namun, mereka kehilangan jejak Darmadji yang bersembunyi masuk ke pemukiman warga.


Darmaji dan istrinya lari tunggang-langgang menuju perkampungan untuk mencari tempat persembunyian sementara Saat mereka berlari tanpa arah, tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan yang tengah melaju kencang.


Brakk!


Darmadji tertabrak mobil itu hingga mental ke belakang dan terlempar sejauh tiga meter sebelum jatuh ke tanah.


Trinem terperanjat menyaksikan suaminya yang terkulai tak bertenaga merintih ke sakitan. Darmadji berlumuran darah di sebagian tubuhnya. Trinem segera berteriak meminta tolong kepada warga setempat agar suaminya dapat dibawa ke rumah sakit. Sedangkan mobil yang menabrak Darmadji langsung kabur tanpa ada tanggung jawab.


Saat itu juga Darmadji harus menjalani operasi patah tulang di bagian paha kanannya. Uang simpanan Darmadji akhirnya terkuras untuk biaya operasi dan untuk biaya rawat inap selama dirawat di rumah sakit.


Trinem akhirnya hanya mampu membeli rumah petak kecil di gang sempit untuk mereka tinggal. Sementara untuk bertahan hidup Trinem terpaksa menjual perhiasan-perhiasannya yang masih tersisa.


Namun, uang simpanan itu lama kelamaan habis untuk biaya hidup mereka. Darmadji yang belum pulih tidak bisa bekerja, begitu pun dengan Trinem. Jarang ada yang mau memperkerjakan nenek tua sepertinya.


Setelah semua uang habis mereka hanya bisa memunguti sampah-sampah yang bisa di daur ulang dan bernilai jika dijual ke pengepul. Karena pendapatannya tak seberapa, Trinem terkadang meminta-minta di depan toko atau warung yang mereka lewati sembari mengumpulkan sampah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.


Flashback Off.


Darmadji kemudian ke luar rumah. Langkahnya tertatih-tatih akibat kakinya yang tidak sama panjang pasca operasi sepuluh tahun silam.


"Mau ke mana?" seru sang istri mengikuti hingga ke depan pintu.


"Jala-jalan!" ujarnya tanpa berbalik.


Sesampainya di jalan raya beliau meminta tukang ojek untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Sesampainya di tempat tujuan, beliau memandangi pemandangan yang berada di seberang jalan. Nampak sebuah restoran yang cukup ramai dikunjungi pengunjung. Meski bangunannya sudah banyak berubah, namun dia yakin dengan ingatannya tentang letak rumah pak lurah yang kini telah berubah menjadi restoran di bagian depannya.


Di sebelahnya nampak dua wanita berjalan menuju parkiran. Nampak wanita yang tidak asing baginya meski sudah bertambah tua dan yang satu lagi ada wanita muda yang kemarin dilihatnya bersama sang istri.


Dia meneteskan air mata di sana, betapa Allah itu maha adil. Bagi setiap hambanya.


...Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun....

__ADS_1


...(QS. An-Nahl Ayat 61)...


...________Ney-nna________...


__ADS_2