Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Tamu Dadakan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 16.15 WIB. Aku sengaja pulang telat karena menunggu yang lain pulang terlebih dahulu. Hanya karena aku tidak ingin yg lain tahu, jika aku mendapat buket bunga dari dr.Dimas. Entah, apa jadinya saat mereka tahu. Yang jelas aku akan merasa sangat malu.


Sembari menenteng kantong plastik, aku bergegas keparkiran untuk mengambil sepeda motorku dan pulang. Tapi, belum sampai di parkiran tiba-tiba saja hujan turun. Aku segera berlari menuju mushola untuk berteduh. Di saat bersamaan aku mendapati dr.Dimas yang juga baru sampai di teras mushola untuk berteduh. Aku mengambil jarak agak jauh dari tempat dr.Dimas berada.


"Cindy, kamu baru akan pulang?" tanya dr.Dimas.


"Em...iya, Dokter. Tadi sekalian menyelesaikan pekerjaan nanggung tinggal dikit," kilahku.


Hujan semakin lebat, aku menyesal karena tidak pulang lebih cepat saja tadi. Sehigga aku tidak perlu berpapasan dengan dr. Dimas saat pulang kerja. Entah mengapa setelah menerima buket bunga itu aku merasa sangat canggung saat berhadapan dengan dr.Dimas.


Beberapa saat kami hanya sama-sama diam. Namun, hatiku begitu resah saat harus berada di tempat yang sama. Sebelumnya aku tidak pernah merasa seperti ini, bahkan saat dulu berbicara dengan mas Fadhil. Aku merasa santai-santai saja. Sungguh berbeda dengan saat ini, aku merasa untuk bernafas saja sulit.


"Cindy...," ucap dr.Dimas.


"I-iya, Dokter..," jawabku gelagapan tersadar dari lamunanku.


"Apa saat ini kamu sedang menjalani ta'aruf dengan seorang laki-laki?" tanya dr. Dimas.


"Emm, tidak, Dokter." jawabku tanpa berani memandang ke arahnya.


Ya Allah, ku mohon berhentikan hujannya. Aku sungguh tidak sanggup jika harus berlama-lama di sini dengan dr.Dimas.


Dan sepertinya alam berpihak padaku. Hujannya berangsur-angsur reda. Aku rasa Allah telah mendengar do'aku. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan do'aku!


"Dokter, saya permisi pulang. Assalamu'alaikum," pamitku dan langsung berlari menerjang rintik-rintik gerimis sisa-sisa hujan.


Sesampainya di parkiran aku membuka jok motorku untuk mengambil jas hujan. Aku harus tetap menggunakannya karena hujannya belum benar-benar berhenti. Aku benar-benar merasa senang bisa segera pergi dari sana. Sebab, berdekatan dengan dr.Dimas membuatku tak bisa bernapas dengan baik. Aku sempatkan melirik ke mushola sebentar. Eh, ternyata dr.Dimas sedang memperhatikanku juga. Ishh malunya aku!


Aku segera menyalakan mesin motorku kemudian memacunya segera meninggalkan area klinik, tanpa melihat lagi kebelakang. Sepanjang jalan aku tersenyum senang mengingat-ingat serangkaian kejadian hari ini yang telah terlewati.


Sesampainya di rumah aku langsung mandi. Kata ummi kalau habis kehujanan langsung mandi biar tidak sakit. Seusai mandi ternyata sudah masuk waktunya sholat maghrib. Aku pun segera mengambil wudhu dan menjalankan sholat.


Usai sholat aku sematkan do'a. Semoga Allah memberiku kesehatan. Dan satu lagi, aku berdo'a supaya Allah mendekatkan aku dengan jodoh yang telah ditakdirkan untukku. Ku sempatkan membaca Al-Qur'an beberapa ayat untuk menenangkan hati. Saat melipat mukena aku teringat akan sesuatu.


"Astaghfirullah, buket bungaku!" aku buru-buru berlari kebelakang. Saat aku hendak mandi aku sempat menaruhnya di dekat kamar mandi. Dan sesampainya di belakang.


'Aaarghh...! Bunganya di pegang oleh Ummi!' seruku dalam hati.


"Emm, Ummi...," panggilku lirih pada Ummi.

__ADS_1


"Cindy, bunga ini milikmu?" tanya Ummi.


"Em, iya, Ummi!" jawabku lirih.


Aku melihat ummi tersenyum sembari geleng-geleng kepala, masih dengan memandangi buket bunga di tangannya.


Aku pun menggigit jariku, memikirkan apa yang akan di katakan ummi selanjutnya.


"Cantik sekali ya, Cin bunganya. Dari siapa ini, Cin?" tanya ummi tepat dengan dugaanku. Ummi pasti akan menanyakan siapa pemberi bunga itu.


"Emm, dari temen, Ummi. Biar Cindy pindah ke toples ya, Ummi. Biar nggak cepet layu," aku harus segera mengamankan bunganya agar tidak di lihat oleh abi juga.


"Temennya namanya siapa?" tanya ummi lagi saat aku memgambil buket bunganya dari tangan ummi.


Aku tidak menjawab pertanyaan ummi, aku beralih mengambil toples yang ku isi dengan air kemudian membuka buket bunganya, dan menempatkan bunganya ke dalam toples.


"Anak muda jaman sekarang ya, sudah beraneka ragam cara mengekspresikan perasaannya. Ingat ya Cindy, jangan berpacaran!" ummi memperingatkan.


"Ya enggak lah, Ummi. Cindy tahu batasannya Ummi. Memangnya Cindy kurang wejangan dari Abi. Ini bunganya Cindy nemu di loker Ummi bukan di kasih langsung kaya yang di sinetron gitu Ummi," ujar Cindy sambil merapikan Bunganya kemudian membuang bungkusnya.


"Baiklah, Ummi percaya sama kamu. Terus siapa yang kasih?" ummi semakin penasaran.


"Assalamu'alaikum!"


Aku tahu itu adalah bentuk kasih sayang dari kedua orangtuaku, agar aku tidak terjerumus pada zina. Kebanyakan remaja di zaman ini sudah berbaur antara laki-laki dan perempuan hingga melupakan batasannya. Maka tidak jarang terjadinya pernikahan dini di kalangan remaja.


Seusai meletakkan bunga di meja dekat jendela kamarku, aku kembali ke dapur untuk makan bersama dengan orangtuaku. Kami hanya makan bertiga karena Umar sudah kembali ke pesantren. Beruntung ummi adalah ibu yang paling memahamiku. Ummi tidak membahas bunganya lagi di depan abi.


Seusai makan aku membantu Ummi merapikan piring. Sedangkan Abi berangkat ke masjid untuk sholat isya' berjamaah di masjid. Seusai sholat Isya' aku membantu ummi mengemasi kue pesanan tetangga untuk acara pertemuan rutin bapak-bapak di kampungku. Yang sebentar lagi akan di ambil pemesannya. Alhamdulillah tetangga banyak yang cocok dengan kue atau masakan ummiku. Sehingga ummi punya tambahan penghasilan untuk di tabung.


Ummi bilang keuntungan dari membuat kue untuk tabungan naik haji. Seandainya saja ummi punya toko kue pasti akan lebih banyak untungnya. Aku berharap suatu saat bisa membuatkan ummi toko kue.


'Ya Allah mudahkanlah hamba memperoleh rezeki untuk membantu ummi ya Allah!' do'aku dalam hati.


"Assalamu'alaikum!"


Terdengar ada tamu di luar.


"Wa'alaikumussalam!" ternyata abi sudah lebih dulu menyambutnya.

__ADS_1


"Ummii, ada nak Imah mau ambil pesanan," seru abi dari ruang tamu.


"Cin, tolong bawa ke depan kardus yang satunya," titah ummi sembari beranjak ke depan.


Aku pun mengambil kardus satunya yang di tunjuk ummi, kemudian membawanya ke depan.


"Nak Imah sendirian? Mana bisa membawa dua kardus ini sendiri," ujar ummiku.


"Iya, Budhe. Mama tadi nggak bilang kalau sebanyak itu Budhe," ujar Imah.


"Ya sudah, biar Cindy yang bantu bawa, Ummi. Ayo dek!" aku menawarkan diri untuk membantu membawa pesanan kue-kuenya.


"Baik, Mbak. Ini uangnya, Budhe!" Imah menyerahkan sejumlah uang pada ummi.


"Tolong sampaikan kepada Mama nak Imah ya, Ummi mengucapkan banyak terima kasih," ujar ummi saat membantuku membawa kardusnya saat aku membonceng motor Imah.


"Iya, Budhe. Mama tadi juga berpesan untuk berterima kasih sama Budhe. Saya pamit ya, Budhe. Assalamu'alaikum! ujar Imah kemudian menghidupkan motornya.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati!" ujar ummi.


Kami pun berlalu menuju rumah dek Imah. Seusai meletakkan pesanan kue di rumah dek Imah. Dek Imah mengantarkan aku kembali ke rumahku. Saat sampai di depan rumah, aku agak terkejut karena ada mobil yang terparkir di halaman rumah, dan terdengar suara orang mengobrol.


"Mbak Cindy, sepertinya ada tamu ya? Kalau begitu saya pulang dulu ya, Mbak. Terima kasih, tadi sudah di bantu. Assalamu'alaikum!" ujar Imah saat aku turun dari motornya.


"Iya, Dek. Sama-sama," jawabku kemudian berjalan masuk menuju halaman rumah.


Aku terkejut saat menyadari siapa pemilik mobil yang terparkir di halaman rumah.


'Ya Allah ini kan mobil dr.Dimas. Mau apa dr.Dimas kemari,' gumamku dalam hati sembari *******-***** gamisku.


Sejenak aku mondar-mandir kesana-kemari, sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, dan mengulanginya beberapa kali untuk menenangkan diri.


Setelah beberapa saat aku bisa tenang. Akhirnya aku melangkahkan kakiku ke teras rumahku.


"Assalamu'alaikum...!"


____________________Ney-nna_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader's 💕💕

__ADS_1


Selalu dukung author, agar semangat Up ya 😍


Terimakasih bagi yang sll berbaik hati membagi hadiah untuk karya ini, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat-lipat. Aamiin.


__ADS_2