
Hujan semalam rupanya masih menyisakan rintik-rintik gerimis di pagi buta. Selepas subuh Rangga duduk menyandar pada sandaran sofa sembari tangan kanannya memegang kitab suci Al-Quran, dan tangan kirinya melingkar di perut istrinya. Reyna duduk menyandar di dada Rangga sembari memejamkan mata meresapi lantunan surah Maryam yang dibacakan oleh Rangga dengan cukup merdu. Tak terasa waktu terus bergulir hingga fajar menyongsong menampakkan diri.
"Shadaqallahul adzim...!" Rangga mengakhiri bacaannya ketika sudah di penghujung ayat, "MasyaaAllah betapa bagusnya kandungan pada surah Maryam ini, Sayang."
Ia menutup kembali Qur'an di tangannya. Di letakkannya Al-Qur'an di atas nakas, kemudian mengelus-elus perut istrinya.
"Iya, By. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ya, By. Allah telah menganugerahkan Nabi Zakaria seorang anak meski di usia tuanya dan kisah perjuangan Maryam yang telah melahirkan Nabi Isa seorang diri bahkan tanpa adanya sosok seorang laki-laki. Sungguh banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil dari Surah Maryam ya, By," ujar Reyna.
"Benar, Sayang. Ini adalah ikhtiar seseorang agar senantiasa berdo'a tiada henti hanya kepada Allah sebagaimana Nabi Zakaria. Dan juga sebagai orang tua hendaknya senantiasa mendo'akan anak yang ada dalam kandungan, supaya anak yang di kandung kelak setelah ia besar tumbuh menjadi anak yang berbakti dan shalih. Dan bagi seorang ibu yang hendak melahirkan, agar senantiasa berprasangka baik saat menjalani persalinan, harus banyak berdo'a bahwa sesakit apapun itu proses persalinan yang akan di jalani nantinya Allah pasti akan memberikan pertolongan," Rangga menjelaskan panjang lebar inti sari dari Surah Maryam tersebut.
"Makasih ya, Papa. Dedeknya anteeeng banget waktu denger Papanya ngaji!" ujar Reyna sembari mendongak ke wajah suaminya berada.
"Iya, Sayang. Baik-baik di perut Mama ya, Nak. Semoga nanti saat lahiran tiba, proses persalinannya lancar, Dedek dan Mamanya sehat-sehat semua!" Rangga mengusap-usap perut Reyna lembut.
"Aamiin...!" Reyna mengamini.
Rangga, kemudian mendekap erat tubuh istrinya itu dengan gemas, "Aku harap nanti saat tiba waktunya untuk bersalin, aku bisa nemenin kamu saat persalinan, Sayang!"
"Tentu, By. Kamu harus nemenin aku...," ujar Reyna manja sembari memeluk lengan Rangga.
Rangga tersenyum, kemudian meraih pucuk kepala Reyna dan menciumnya dengan sayang.
"Anak kita laki-laki atau perempuan ya, By?" tanya Reyna.
"Apa saja yang dikasih Allah, Sayang. Semuanya sama saja buat aku. Yang terpenting baby dan Mamanya sehat," jawab Rangga.
Tok tok tok.
Terdengar bunyi ketukan di pintu. Reyna segera beranjak menuju pintu.
"Reyna...!" seru dari luar memanggil.
Dibukanya pintu, nampak lah Mami di balik pintu.
"Iya, Mi. Ada apa, Mi?" tanya Reyna.
"Temenin Mami Spa yuk, Reyn. Mumpung lagi di Jakarta Mami pengen nyobain Spa di tempat temen Mami," Lina melirik ke dalam, "Kalian gak ada rencana mau pergi kan?"
Reyna menoleh ke arah Rangga. Rangga mengangguk sembari tersenyum tanda memberi persetujuan.
"Enggak kok, Mi. Ya udah Reyna temenin Mami ke Spa deh!" ujar Reyna sembari tersenyum.
"Nah gitu dong, habis sarapan kita berangkat ya. Yuk buruan sarapan, udah di tunggu tuh sama Kakek kamu!" ujar Lena.
"Iya, Mi. Nanti kita nyusul," ujar Reyna.
Mami berlalu Reyna kemudian menghampiri suaminya.
"Gak apa-apa kan, By. Aku tinggal pergi sama Mami?" setiap hari minggu Reyna dan Rangga sepakat untuk menghabiskan weekend bersama-sama meski hanya di rumah. Untuk itu Reyna bertanya.
"Gak apa-apa. Mami pasti kesepian gak ada kamu yang nemenin. Aku seneng lihat kamu sama Mami akur, Sayang. Aku bangga sama kamu, Sayang. Kamu terlalu sabar menghadapi, Mami. Tapi aku lihat kesabaran kamu ternyata berbuah manis. Kamu sungguh wanita yang begitu baik, Sayang. Dan aku merasa sangat beruntung telah memiliki kamu," ujar Rangga sembari memeluk tubuh istrinya yang berdiri di depannya.
"Kamu berlebihan, By. Aku hanya ingin di sayangi. Aku tidak suka permusuhan. Dan karena Ibumu adalah Ibuku juga," Reyna mengalungkan tangannya ke leher Rangga.
Tanpa aba-aba Rangga dengan cepat mengecup bibir Reyna.
Cup!
"You are my everything, Sayang!" mendengar penuturan Rangga, pipi Reyna langsung bersemu merah dengan perlakuan manis suaminya.
****
Seusai breakfast, Rangga mengantarkan Reyna dan Mami ke tempat Spa milik teman Mami. Rangga memarkirkan mobilnya di halaman kemudian Reyna dan Mami turun. Saat hendak menuju pintu masuk, Reyna melihat orang yang tak asing baginya sedang berjalan keluar dari tempat Spa.
Wulan terlihat berjalan menuju mobil yang tengah terparkir di pinggir jalan yang menunggunya, kemudian masuk ke dalam mobil itu. Sehingga Reyna tidak jadi menyapanya.
__ADS_1
Perlahan mobil itu berjalan menuju jalan raya. Reyna tercengang saat melihat mobil itu melaju.
"Bukankah itu mobil, Jona!" pekik Reyna kemudian membekap mulutnya sendiri tak percaya.
"Siapa, Reyn? Kamu kenal?" tanya Mami.
"Ya Allah. Apa mungkin..., " Reyna tidak melanjutkan kata-katanya saking terkejutnya.
"Seperti temen Reyna, Mi. Semoga saja Reyna salah lihat. Ayo, Mi kita masuk saja!" ajak Reyna pada mertuanya.
Reyna masuk ke dalam tempat Spa sambil terus memikirkan hal yang tadi dilihatnya. Jika benar itu Jona, itu artinya Jona tengah bermain mata dengan Wulan di belakang Mira. Pantas saja kalungnya bisa sama. Lantas, bagaimana jika Mira sampai mengetahui hal ini. Kasihan sekali sahabatnya itu. Namun, Reyna tak ingin gegabah. Ia harus membuktikan kebenarannya terlebih dahulu.
****
Keesokannya Reyna berangkat agak kesiangan karena harus mengantar Mami dan Papi ke bandara terlebih dahulu. Saat sampai Reyna buru-buru salim kepada Rangga dan segera turun karena jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Artinya ia sudah terlambat ke ruko selama satu jam. Namun, karena ia ownernya tak akan ada yang akan memarahinya.
Reyna melambaikan tangan pada Rangga, hingga mobil Rangga mulai melaju menuju jalan raya. Saat berbalik hendak masuk, pandangan mata Reyna menangkap Abiyu yang sedang berdiri di samping mobilnya, melihat ke Reyna. Reyna hanya tersenyum kemudian mengangguk sebagai pengganti sapaan, sembari berlalu menuju pintu ruko.
Saat membuka pintu ruko, ia melihat Wulan sedang berada di panggilan telepon kantor. Sehingga Reyna mengurungkan niatnya untuk mengklarifikasi apa yang ia lihat kemarin. Reyna bergegas menaiki tangga, kemudian menuju ruangan Mira.
"Weys, Bu Bos, akhirnya datang juga," canda Mira.
"Tadi nganterin Mami sama Papi ke bandara dulu, Mir," ujar Reyna sembari duduk di kursi depan meja kerja Mira, "Oya, Mir. Kemarin kamu hari minggu kemana?"
"Kemaren nganterin Mama ke rumah sakit, jenguk Om gue yang lagi di rawat habis kecelakaan, Reyn. Emangnya kenapa?" Mira mengalihkan pandangannya dari komputer ke arah Reyna.
"Ouhh, aku kira kamu pergi sama, Jona!" pancing Reyna untuk mencari tau tentang keberadaan Jona.
"Tadinya emang gue ada rencana mau pergi sama dia, Reyn. Tapi ya apa boleh buat, karena Mama minta di anter ya gue batalin. Untungnya dia mengerti," ujar Mira.
Reyna geleng-geleng kepala mendengar jawaban Mira.
'Astaghfirullah, apa jadinya jika Mira tahu Jona malah menggantikannya dengan pergi bersama Wulan!' gumam Reyna di dalam hati.
****
Saat jam makan siang pun tiba. Reyna masih mencoba menahan diri untuk bersikap biasa. Padahal ia sudah ingin bertanya kepada Wulan sesegera mungkin untuk menjawab kekhawatirannya.
"Reyn, bisa bicara sebentar. Masih menunggu pesanan datang kan?" tiba-tiba saja Abiyu datang ke meja mereka dan meminta Reyna untuk berbicara.
"Ciyee, Kak Abi , yang diajak bicara Reyna doang. Awas lhoh ya kalo tiba-tiba Rangga datang, Reyn!" goda Mira. Dan yang lain ikut tertawa menggoda Reyna.
Reyna sebenarnya merasa canggung dan aneh, karena tumben-tumbennya Abiyu mengajaknya bicara empat mata. Akhirnya ia mengangguk kemudian mengikuti Abiyu untuk pindah ke meja yang lain yang agak jauh dari mereka. Sehingga teman-teman Reyna tidak bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.
Abiyu lantas mempersilakan Reyna untuk duduk. Masih terdengar candaan dari temannya, namun Abiyu tidak mempedulikannya.
"Reyn, maaf membuat kamu tidak nyaman. Sebenarnya saya hanya ingin bertanya tentang pacar Mira," ujar Abiyu.
"Pacarnya, Mira? Memang kak Abi kenal?" tanya Reyna yang merasa aneh dengan pertanyaan Abiyu.
"Beberapa hari yang lalu aku pernah bertemu dengan Mira dan pacarnya. Dan Mira memperkenalkannya padaku," tutur Abiyu.
"Ouhh, begitu. Lantas ada apa, Kak, dengan pacar Mira?" tanya Reyna yang masih bingung.
"Aku merasa pernah melihatnya, namun aku sulit untuk mengingatnya. Baru tadi aku ingat setelah melihat Wulan tadi pagi saat ia baru datang ke rukomu," ujar Abiyu.
"Wulan...! Jangan-jangan Kak Abi juga?" Reyna mulai menduga jika Abiyu juga mengetahui sesuatu hal tentang Jona dan Wulan.
"Iya, Reyn, Aku menduga jika ada sesuatu antara mereka. Kamu ingat tidak sebelum aku berangkat ke Jogja bulan kemaren itu? Aku bilang pernah bertemu Wulan dengan seorang laki-laki saat makan di resto bukan? Dan laki-laki itu adalah pacar Mira. Apa kamu juga sudah tahu? Aku rasa kamu sebagai sahabat Mira lebih tahu harus berbuat apa akan hal ini di banding aku langsung memberitahukannya kepada Mira," tutur Abiyu menjelaskan.
"Emm, aku kemarin melihat Wulan masuk ke dalam mobil Jona kak, tapi aku tidak tahu orang yang berada di dalam mobil itu benar-benar Jona atau tidak. Karena itu aku masih harus mencari tahu kebenarannya. Dan aku bingung Kak, musti gimana ngasih tau Mira!" Reyna menjadi bingung dan kasihan terhadap sahabatnya.
Ia tahu Mira sudah mau serius untuk menuju jenjang pernikahan, justru malah Jona yang masih main-main dengan hubungan mereka.
Tiba-tiba terlihat Mira berlari hendak keluar dengan tergesa. Reyna lantas mencegatnya.
__ADS_1
"Mau ke mana, Mir?" tanya Reyna
"Ehh, Beib. Maaf...maaf, gue keluar bentar ya, Beib. Si Jona katanya mobilnya mogok di perempatan sana. Nih, dia mau pinjem mobil gue buat balik ke kantornya," tutur Mira dengan tergesa-gesa.
"Iya, Mir. Hati-hati...!" seru Reyna. Ia pun akhirnya hanya bisa berkata itu saja, karena Mira sudah mulai berlalu.
Reyna mulai berpikir, bagaimana seandainya mereka bertiga akhirnya bertemu dalam waktu bersamaan.
****
Waktu berjalan dengan cepat akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Karyawan yang lain hendak pulang. Aku pun bersiap untuk pulang. Aku melihat Mira juga tengah ke luar dari ruangannya.
"Udah di jemput ya, Mir?" tanyaku.
"Belum, Beib. Tapi katanya sudah OTW dari kantor. Aku mau nungguin di luar," Mira lantas menggandeng lengan tangan Reyna, lantas menuruni tangga bersama.
Sampai di luar Wulan terlihat sudah siap hendak pulang. Ia biasanya di bonceng oleh Gina sampai halte busway. Dengan cepat aku harus menahannya agar tetap tinggal sampai Jona datang.
"Gin, tunggu. Emm..coba kamu cek gudang udah di kunci belom tadi," titahku pada Gina.
Mira terlihat duduk di ruang tunggu, sembari membaca komik online kesukaannya, saat Reyna melirik ke layar handphonenya. Sedangkan Wulan berdiri di depan meja FO, sambil memainkan handphonenya.
Tak berapa lama muncul mobil Rangga memasuki pelataran Ruko. Reyna pun hendak keluar untuk menemui suaminya terlebih dahulu untuk memintanya menunggu sejenak. Lantas Reyna kembali berjalan hendak masuk ke dalam ruko.
Bersamaan dengan itu terlihat mobil Mira yang di bawa oleh Jona memasuki pelataran ruko. Jona keluar dari mobil, kemudian berjalan ke teras ruko hendak menyapa Reyna.
"Hai Reyn, apa kabar?" tanya Jona.
"Baik. Mau jemput kan, biar aku panggilkan," ujar Reyna.
"Mira...!" panggil Reyna.
Wulan ikut menoleh dan ikut melihat ke arah luar. Karena bagian pintu ruko terbuat dari kaca, sehingga dapat terlihat orang di luar.
"Mas, Nathan...!" panggil Wulan saat melihat Jona di depan pintu.
"Wulan...!" Jona nampak mengeryit dan teramat kaget saat melihat Wulan juga sedang berada di sana.
"Mas Nathan ngapain di sini?" tanya Wulan kemudian mendekat kearah Jona.
Jona tak bisa berkutik saat tau Mira berdiri di belakang Wulan sembari bersedekap dan melotot tajam padanya.
"Emm...a-a-aku jem-put pacar......," ujar Jona dengan terbata-bata, keringat membanjiri di pelipisnya, dan muka memucat.
Reyna, yang berada di sampingnya terus memperhatikan gelagat Jona yang langsung berubah drastis, dari awal pertama datang menyapanya.
"PACAR...?" seru Wulan dengan keterkejutannya kemudian menoleh dengan enggan ke belakangnya.
Mira melihat ke arah Wulan dan Jona secara bergantian untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Emm...mbak Mira....si-silakan, Mbak!" ucap Wulan akhirnya sembari memundurkan diri memberi ruang untuk di lewati Mira.
"Kalian saling kenal?" tanya Mira dengan tegas.
Wulan nampak diam merapat ke belakang dan pandangannya menunduk ke bawah.
"Dia temennya Jessica kok, Ra. Ayo kita pulang, Ra!" Jona berkilah bahwa Wulan adalah teman adiknya, kemudian melangkah maju menarik tangan Mira ke luar.
Dengan cepat Mira menepisnya saat berada tepat di depan Wulan. Mira meraih kalung yang di kenakan oleh Wulan dan bertanya ke arah Jona, "Apa ini pemberian dari kamu juga?"
"Ituu...mungkin Jessica yang kasih sama dia...," ujar Jona masih berusaha menutupi.
"Dia atau bukan 'kakak ketemu gede' yang kamu maksud itu Lan?! Jawab jujur!" ujar Mira dengan tegas.
__________________Ney-nna_________________
__ADS_1