
Reyna dan Rangga sedang berada di mobil menuju klinik dr.Dimas. Reyna hendak mengambil koper sekaligus berpamitan kepada Dimas. Rangga fokus pada jalanan, sedangkan Reyna sibuk mengunyah jajanan yang tadi di beli di CFD depan hotel.
"By, kenapa nggak doyan makanan sea food. Takoyakinya enak lhoh!" ujar Reyna sembari mengunyah.
"Ya karena habis makan itu, nanti badan aku gatel-gatel jadi merah di kulit! Gimana kalau kaya gitu, bukannya nikmat malah menderita gara-gara nekad makan-makanan sea food," ujar Rangga.
"Semoga Ade nanti sehat nggak pake alergi-alergian ya, De?" ujar Reyna sambil mengelus-elus perutnya yang rata.
"Mamanya kan sehat, Ade juga pasti sehat!" Rangga mengusap-usap kepala istrinya lembut, "Oh ya, Sayang. Telepon Nenek gih, aku kan belum ngasih kabar kalau kamu sudah ketemu, sama Mira juga, terus Bibi kamu, mereka semua khawatir sama kamu yang kemaren nggak ada kabar."
Reyna menepuk jidatnya, "Astaghfirullahal'adzim, aku lupa, By! Siniin By, pinjam handphone kamu, aku nggak hapal sama nomor-nomornya."
"Nih..!" Reyna mengambil handphone Rangga, dari tangan kirinya yang terulur. Sedangkan, tangan kanan masih fokus memegang stir kemudi.
"Hallo, Nek! Assalamu'alaikum!" setelah mendial nomor di handphone, telepon pun tersambung.
"Wa'alaikumussalam, Reyna ya? Ini suara Reyna kan?" tanya Nenek dengan sendu.
"Iya, Nek. Ini, Reyna! Nenek jangan khawatir yah, Reyna baik-baik saja, Nek!" ungkap Reyna.
"Alhamdulillah! Cepat pulang ya, Nenek sudah sangat rindu sama kamu, Reyn. Kakek juga terus bertanya tentang kamu! Bibimu bilang kamu hamil?" Terdengar suara Nenek sedikit serak, seperti sedang menangis.
"Iya, Nek. Reyna juga sudah kangen banget sama masakan Nenek. Bentar lagi cicitnya nambah, Nenek musti sehat biar bisa gendong anak Reyna, ya?" hibur Reyna.
"Pasti dong, Reyn. Kamu jaga kesehatan juga, jangan sampai kecapekan ya! Kalo ngidam sesuatu minta Rangga buat nyariin, jangan sampai ditahan sendiri!" ujar Nenek.
"Hahhahaha...Nenek bisa aja sih, Nek! Sejauh ini Reyna, masih belum kerasa ngidam yang aneh-aneh kok, Nek. Ya sudah ini Reyna dan Rangga sudah sampai di tempat tujuan nanti kalau senggang Reyna telepon lagi ya, Nek. Assalamu'alaikum!" ucap Reyna mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsalam!" telepon dimatikan.
Reyna memutuskan untuk mengabari Mira dan Bibinya lain waktu saja. Perjalanan memakan 30 menit sampai lah mereka di klinik dr.Dimas. Turun dari mobil Reyna menuju kamar yang kemaren di pakainya. Ia bereskan barang-barangnya agar setelah berpamitan bisa langsung pulang.
"By, tunggu di sini bentar ya? Aku ke klinik dulu mencari dr. Dimas," ujar Reyna.
"Iya, jangan lama-lama ya, Sayang!" ujar Rangga melepas kepergian Reyna menuju klinik depan. Rangga duduk di teras depan kamar, melihat ke arah taman yang ada di depannya.
__ADS_1
"Mas...Rangga kan?" ucap seseorang perempuan yang berjalan mendekat dari arah belakang klinik.
"Maaf, siapa ya?" tanya Rangga kepada perempuan yang sekarang sudah berdiri di depannya.
"Aku Rosa, yang kemaren ketemu di stasiun, yang pinjam handphone!" ungkap Rosa.
"Ouh, yang kemaren? Maaf, saya agak lupa dengan wajah anda," ujar Rangga.
"Gak apa-apa, Mas," Rosa tersenyum, "Mas, lagi ngapain di sini?"
"Saya sedang mengantar istri saya," jawab Rangga seperlunya.
"Ouhh... istrinya lagi sakit?" tanya Rosa lagi.
"Iyah, kamu sendiri?" belum sempat terjawab ada suara orang datang dari arah depan klinik.
Rangga dan Rosa menoleh ke sumber suara.
"Rosa, bukannya ini cowok yang kemaren. Ada urusan apa kamu ke sini?" Dimas memandang tajam ke arah Rangga.
"Ini pacar kamu? Kakak bilang apa!? Kamu itu masih kecil, masuk kuliah juga baru aja, tapi sudah sok-sokan pacaran. Belajar dulu lah yang bener," ucapnya kepada Rosa, kemudian Dimas beralih memandang ke arah Rangga, "Kamu senior di kampus Rosa? Sebaiknya kamu fokus sama kuliah kamu, supaya nantinya dapat kerjaan yang bagus baru deh klo udah succes datang melamar pada saya!" Reyna dan Rangga terbelalak mendengar ucapan Dimas.
Reyna yang merasa bingung memandang tajam pada Rangga.
"Sayang, itu nggak bener. Mas itu salah paham," Rangga meraih kedua tangan Reyna.
"Sayang...??" Dimas kaget melihat ke arah Rangga dan Reyna bergantian.
"Mas, jangan asal bicara, saya nggak ada hubungan apa-apa dengan adik anda. Kemaren itu saya cuma menolong, sebelumnya saya sama sekali tidak mengenal adik anda!" ungkap Rangga dengan tegas.
"Iya, Kak. Kemaren itu aku pinjem handphone sama, Mas ini. Terus pas nunggu Kakak belum datang, aku minta tolong Mas Rangga untuk menunggu sebentar sampai Kakak datang. Karena di stasiun sudah sepi, Rosa takut ketemu sama preman! Kakak nih, malu-maluin aja!" ujar Rosa ketus.
"Ohh begitu, maaf...maaf, Mas. Terus Mas ini...," ujar Dimas sambil menunjuk kepada Rangga dan melirik kepada Reyna. Ia mulai paham dengan keadaan yang sesungguhnya.
"Iya, Dok. Ini suami saya yang mau saya kenalkan," ucap Reyna.
__ADS_1
"Saya benar-benar minta maaf ya Mas..." ucap Dimas sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Saya Rangga...," ucap Rangga saat menjabat tangan Dimas.
"Ohh iya, Mas Rangga saya Dimas. Saya benar-benar minta maaf karena tadi sudah menuduh anda yang bukan-bukan," ucap Rangga.
"Baik lah kita lupakan saja, kesalahpahaman yang terjadi. Saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih, karena sudah menolong istri saya dan memberi tumpangan tempat tinggal kepada istri saya," ujar Rangga tulus.
Sama-sama Mas, saya juga berterima kasih karena telah membantu adik saya!" ungkap Dimas. Akhirnya semua pun tersenyum lega.
Terdengar bunyi handphone berdering. Rangga yang merasa ada getaran di saku celananya kemudian mengambil handphone tersebut.
Tertera nama Papi yang di tampilkan di layar handphone. "Pa-pi...!"
"Aku angkat dulu teleponnya, Sayang!" ucap Rangga sambil sedikit menjauh dari mereka berdiri. Reyna mengangguk setuju.
"Dokter, kalau boleh saya kasih saran, Cindy itu kepribadiannya cukup baik, Dia cukup pintar dalam bidang akademik maupun mengaji. Dokter, bisa meminta Cindy untuk mengajari Qila, supaya Qila bisa belajar berinteraksi dengan orang lain. Saya lihat Qila susah bergaul dengan teman-temannya. Maaf kalau saya banyak bicara?" ungkap Reyna.
"Ya, Reyna. Kamu benar, nanti coba saya bicarakan hal ini dulu sama Qila, semoga anak itu setuju. Saya memang kurang memahami anak itu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan saya . Terima kasih ya, berkat pendekatan dari kamu Qila sekarang jauh lebih terbuka kepada Saya maupun Neneknya " ujar Dimas.
"Sayang, ayo kita ke rumah sakit. Mami mengalami kecelakaan!" ungkap Rangga dengan penuh kekhawatiran.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un! Apa yang terjadi dengan, Mami?" Reyna menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena sangat terkejut.
"Belum tau, Sayang. Sebaiknya kita bergegas!" ujar Rangga gelisah.
"Dokter, mohon maaf, kami harus segera pergi. Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum!" ucap Reyna.
"Wa'alaikumussalam! Hati-hati Rangga jangan panik ya nyetirnya. Semua akan baik-baik saja," ungkap Dimas menenangkan.
Reyna dan Rangga kemudian berlalu meninggalkan klinik dan menuju rumah sakit di mana Mami Lena di rawat.
πΎπΎπΎ
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, vote, dan comment ya teman-teman semua π
__ADS_1