Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Berburuk Sangka


__ADS_3

Sesampainya di rumah Fely menangis sesenggukan. Dia tidak menyangka jika penolakan kakek untuk memberi restu pada pernikahan mereka disebabkan oleh neneknya yang pernah bersalah pada beliau.


Selama ini dia tidak mengetahui hal itu. Dan tidak pernah berpikir hal yang buruk tentang keluarganya yang memang demikian adanya. Seumur hidupnya Fely memang belum pernah melihat sang kakek yang merupakan suami nenek Sekar, ayahnya memang meninggal sejak iya masih kecil, terlebih tentang kakaknya yang menikah dengan Reyna yang seorang janda, juga nasib pernikahannya dengan Nabil yang cukup singkat.


Ingin hatinya mengelak bahwa itu adalah suratan takdir yang telah digariskan oleh Allah, namun mengingat kata-kata kakek Wirya membuatnya goyah. Pikirannya yang sedang kalut tidak bisa berfikir dengan jernih.


Mendengar kisah dari si kakek, tentu saja membuatnya prihatin. Jika kisah itu benar maka neneknya lah yang telah bersalah pada si kakek. Dikhianati seorang istri tentunya sangat menyakitkan.


Fely pun jadi teringat kejadian tempo hari, bagaimana sakit hatinya saat mendapati dalam foto ada tangan wanita lain yang tengah memeluk tubuh sang suami. Hatinya pun seketika hancur. Dia tidak bisa membayangkan jika suaminya benar-benar selingkuh. Beruntungnya hal itu hanya jebakan saja.


Sedangkan kakek Wirya, jelas melihat istrinya yang lama tidak berjumpa tengah berbadan dua, dan bisa dipastikan itu adalah buah cinta dengan orang lain.


Laki-laki mana yang tidak sakit hati mendapati istrinya tengah menikah dengan laki-laki lain sebelum ada kata cerai darinya. Namun, benarkah neneknya telah berkhianat? jika benar neneknya yang berkhianat, maka bisa jadi Allah mengabulkan doa kakek yang sedang terdzolimi oleh nenek Sekar.


Dia gelisah memikirkan seandainya kata-kata kakek Wirya benar-benar terjadi. Dia tidak ingin hal buruk itu menimpa suaminya. Dia akan merasa sangat sedih jika suaminya pergi dari hidupnya selama-lamanya akibat dari kutukan itu yang diijabahi oleh Allah. Dia tidak mampu jika harus kehilangan suaminya lagi.


Cklek!


Raka membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Dilihatnya sang istri yang tengah tengkurap di atas ranjang dengan Isak tangisnya membuatnya sangat sedih. Jelas semua itu pasti karena perkataan kakeknya.


"Sayang jangan memikirkan apa pun tentang perkataan, kakekku!" ujar Raka pada istrinya.


"Mana mungkin aku tidak memikirkan hal itu, Mas. Aku tidak mau kehilanganmu, Mas. Aku ingin selalu bersamamu, Mas! kenapa nenekku harus berkhianat pada kakekmu hingga kita harus mendapat imbasnya! hiks ... hiks ...!" ujar Fely dengan egonya.


Raka duduk di tepian tempat tidur seraya mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Kemudian, lengan kekarnya melingkar pada punggung sang istri untuk memberi pelukan yang nyaman dan menenangkan. Dia mengerti saat ini istrinya tengah dilanda kecemasan yang mendalam.


"Sayang, kita hanya mendengar dari salah satu pihak, kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi saat itu. Jangan berburuk sangka terlebih dahulu pada nenek Sekar," ujar Raka mengingatkan.

__ADS_1


Fely dengan perlahan memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang suami.


"Aku takut, Mas. Aku tidak ingin hal itu terjadi padamu! aku mencintaimu, Mas. Aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya! haruskah kita bercerai agar kamu selamat, Mas? hiks ... hiks ...," rengek Fely dengan isak tangisnya.


"Sayang, singkirkan semua pikiran negatif. Allah tidak menyukai perceraian, ini ujian bagi kita, lupakan tentang ucapan kakekku, berdoalah agar aku berumur panjang, dan pernikahan kita diberkahi oleh Allah hingga ajal menjemput kita pada usia renta. Doakan kebahagiaan pernikahan kita, berdoalah semoga Allah memberikan kita keturunan yang banyak. Panjatkan semua doa terbaikmu kepada Allah untuk pernikahan kita. Percayalah bahwa kedepannya kita akan terus bersama-sama. Yang terakhir pasrahkan semuanya kepada Allah!" tutur Raka memberi nasehat kepada Fely, sembari mengusap lembut pipi istrinya untuk menenangkan.


Fely seketika memeluk erat suaminya. Merasakan kehangatan pelukan tubuh sang suami yang memberikan kenyamanan dan ketenangan. Dia sangat beruntung suaminya telah mengingatkannya agar tidak berpikir hal-hal buruk secara berlebihan. Dia menyesal karena telah mencemaskan hal-hal yang belum tentu terjadi.


"Maafkan aku, Mas!"


"Iya, Diajeng. Sekarang tidurlah! kamu pasti sangat kelelahan," ujar Raka, lalu menyelimuti tubuh sang istri.


*****


Keesokannya saat duduk-duduk di teras sembari meminum kopi, Raka teringat pada hari dimana dia pertama kali menjadi menantu di rumah ini. Dia teringat saat pagi-pagi duduk di tempat yang sama sembari ditemani oleh nenek Arum.


Bukankah saat itu nenek Arum sempat bertanya tentang kakek? dan nenek Arum adalah adik dari neneknya Fely. Berarti nenek Arum adalah adik dari nenek Sekar. Nenek Arum pasti tahu tentang kisah kakek dan nenek Sekar. Aku akan menanyakan hal itu pada nenek Arum nanti! gumam Raka dalam lamunannya.


"Mas ...," panggil Fely pada suaminya.


Saat ini mereka tengah berjalan kaki sembari bergandengan tangan menuju rumah nenek yang tak jauh dari rumah mereka. Hanya perlu berjalan 200 meter saja ke dalam kampung. Udara pagi yang bersih di jalanan perkampungan dan suasana asri yang membuat mereka memilih untuk berjalan kaki.


"Iya, Diajeng?" jawab Raka sembari menoleh ke arah istrinya.


"Mas, tidak akan kerja di perusahaan orang tua Yasmine lagi, kan?" tanya Fely.


Raka memutuskan untuk tidak kembali bekerja di perusahaan Bu Ratih. Dia akan lebih fokus pada pengembangan usaha yang dirintisnya saja.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Raka balik bertanya.


"Ish, malah balik nanya sih, Mas! aku nggak setuju kamu kerja di sana lagi, Mas. Apa pun itu alasannya aku nggak rela jika kamu kembali kerja di sana, Mas," ujar Fely dengan posesif.


"Cemburu, yah?" goda Raka.


"Enggak, aku cuma nggak mau kalau kamu dijebak lagi sama mereka, Mas. Jika bukan karena perintah kakekmu, aku akan melaporkan mereka ke kantor polisi dengan memberikan bukti rekaman itu!" tutur Fely.


"Kamu memaafkan mereka semua karena kakekku?" tanya Raka.


Fely menganggukkan kepala perlahan.


"Kamu nggak benci sama kakekku?" tanya Raka lagi.


"Awalnya aku kecewa, namun aku mengerti kondisinya dan sebab akibat yang menjadikannya seperti itu. Hal itu pasti tidak mudah baginya, Mas. Kakekmu sedang membutuhkan perhatian dari keluarganya, Mas. Sesungguhnya aku dapat melihat jika kakek sebenarnya kesepian. Rangkul kakek untuk bertaubat, Jangan tinggalkan seseorang yang sedang berbuat salah sendirian. Maka beliau akan semakin larut dan menjiwai kesalahan sebagai bentuk kebiasaan."


"Kita harus menghadapinya dengan kepala dingin, kita harus mendampingi kakek, menuntun beliau agar di saat tuanya dia masih memiliki bekal amalan baik," tutur Fely panjang lebar.


"MasyaaAllah aku bangga padamu, Diajeng!" ujar Raka sembari mengecup kening istrinya.


"Kita sudah sampai, Mas!


"Assalamu'alaikum, Nek!" seru Fely setelah sampai di rumah nenek Arum.


"Wa'alaikumussalam, ayo masuk!" ujar nenek Arum saat sampai di depan pintu.


Nenek Arum mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah. Kemudian, Raka menceritakan tentang kakeknya kepada nenek Arum.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku pikir selama ini kakekmu sudah tiada sehingga kalian bisa menikah. Kakekmu memang sudah salah paham saat itu, Raka. Namun, beliau tidak mau mendengarkan penjelasan dari kami. Antarkan aku kepadanya agar dia tahu kisah yang sesungguhnya!" pinta nenek Arum.


..._______Ney-nna_______...


__ADS_2