Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Langkah Awal


__ADS_3

Himbauan sebelum baca tengok kanan tengok kiri, karena bab ini bakalan bikin baper πŸ˜…πŸ€­


Bagi yang belum cukup umur, baca sampe tengah aja 🀣🀣


πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Aku merapikan baju-bajuku ke dalam almari di rak yang kosong. Sedangkan Qila menonton televisi bersama papanya. Seusai merapikan baju aku keluar berniat untuk bergabung dengan mereka.


Namun, saat berada di ruang tengah mereka sudah tidak ada. Sekilas aku sempat melihat Ibu mertuaku masuk ke dalam kamarnya. Mungkin Qila di kamar bersama papanya. Akhirnya aku kembali ke dalam kamar dr.Dimas yang mulai sekarang menjadi kamarku juga.


Jika dibandingkan dengan kamar ku, tentu saja kamar ini jauh lebih bagus, malah cenderung mewah bagaikan kamar hotel berbintang. King bed yang empuk, almari besar dari kayu jati, lampu tidur di atas nakas yang bagus, kamar mandi lengkap dengan bathtub dan shower di dalam kamar, ruang ganti pakaian yang terpisah, bahkan di lengkapi dengan pendingin ruangan dan semua pernak-pernik ruangan yang cukup mahal harganya. Semua kemewahan yang tak terjangkau untuk keluargaku. Namun semewah apa pun kamar ini tentu saja bagiku sekarang yang lebih nyaman tetap lah berada di kamarku sendiri.


Apa aku bisa tidur malam ini? Entahlah karena ini pertama kalinya, aku tidur di rumah orang lain. Apa lagi harus berbagi kamar dengan seorang laki-laki.


'Mumpung dr.Dimas berada di kamar Qila, sebaiknya aku tidur duluan saja. Sehingga ketika beliau datang, beliau akan mengira aku sudah tidur,' gumamku.


Aku pun akhirnya pergi ke toilet untuk mencuci muka dan bersih-bersih. Kemudian, tidak lupa untuk berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Setelah itu aku membaringkan tubuhku di atas ranjang. Merasai badanku yang terasa sangat pegal. Sungguh suatu kenikmatan dapat berbaring di kasur empuk ini.


Dan, kali ini aku tak melepas hijab ku saat tidur. Karena aku masih merasa canggung untuk memperlihatkan aurat ku kepada dr.Dimas. Bahkan aku tidur masih mengenakan gamisku.


Aku mencoba memejamkan mata, tapi rasanya aku tidak juga mengantuk. Tiba-tiba terlintas bagaimana jika beliau meminta haknya malam ini.


'Ya Allah Aku belum siap!' batinku sembari *******-***** selimut.


Untuk membayangkannya saja aku sungguh takut. Aku masih meraba-raba seperti apa yang biasa dilakukan seorang suami istri saat berhubungan badan. Aku belum cukup mengerti tentang hal itu, namun dikatakan pula bahwa seorang istri tidak di perbolehkan untuk menolak ajakan suaminya.


Saat di majelis, ustadz menyampaikan, 'seorang istri akan dilaknat oleh para malaikat hingga subuh, jika ia menolak keinginan suaminya untuk berhubungan, sampai suaminya memaafkannya.


Itu artinya jika dr.Dimas menginginkannya sekarang, maka aku tidak boleh menolaknya. Justru jika dengan keikhlasan seorang istri melayani suami dengan segala kerelaannya maka ia akan mendapat pahala. Sebab melakukan hubungan intim dengan pasangan halal merupakan ibadah. Dan yang halal akan mendatangkan kebaikan. Hal itu yang selalu ku ingat sebagai bekal berumah tangga.


Namun, saat sekarang mengalaminya sendiri, hal itu cukup sulit untuk aku lakukan. Ada perasaan takut, canggung, malu memperlihatkan aurat ku, meskipun itu tidak berdosa karena sudah sah menjadi mahromku. Ada perasaan rendah diri, apa kah aku cukup diinginkan atau bisakah aku memberi kepuasan, kepada pria dewasa yang sudah pernah menikah. Ada kekhawatiran jika aku dibanding-bandingkan dengan istri pertamanya.


'Astaghfirullahal'adzim, kenapa aku berpikiran sejauh itu. Cindy tenangkanlah dirimu!' gumamku sendiri menyesali pikiran konyol itu. Bagaikan kalah sebelum bertanding.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar knop pintu di tekan.


Klekk.


Nampak lah dr.Dimas dari balik pintu. Refleks seketika aku langsung terduduk.


"Kamu belum tidur? Aku kira kamu sudah tidur. Tadi Qila merengek minta di temenin bobo sama kamu. Aku bilang padanya, mungkin kamu kecapekan, sehingga tidur lebih awal, " ujar dr. Dimas.


"Emm, Maaf. Tadi saya sempat menengok ke ruang tengah, tapi kalian nggak ada. Saya pikir anda mungkin sedang menidurkan Qila di kamarnya."


Dr.Dimas kemudian duduk di sisi ranjang yang lain.


"Ya sudah tidak apa-apa, toh sekarang dia juga sudah tidur. Cindy, sepertinya kita perlu bicara terlebih dahulu sebelum tidur," aku yang semula menunduk, memberanikan diri untuk memandang wajah suamiku, kemudian menganggukkan kepala dua kali tanda setuju.


"Aku merasa kamu masih menganggap ku seperti orang asing bagimu, padahal kita sudah menikah. Aku tahu kamu pasti canggung, dan merasa tidak terbiasa denganku. Namun, kita ini sekarang adalah suami dan istri, aku bertanggung jawab atas dirimu, jadi aku mohon mulai saat ini biasakan. Dimulai dari cara kamu memanggilku. Aku tahu ini sulit karena kamu sudah terbiasa memanggilku dengan sebutan 'dokter' sebagai atasanmu. Mulai saat ini anggaplah aku seperti seorang kakak bagimu. Jangan lagi memanggilku dengan sebutan 'dokter', apa kata orang jika mendengar hal itu. Aneh bukan sama suami sendiri kaya atasan dan bawahan. Emm, aku tidak akan memintamu memanggilku dengan sebutan yang aneh-aneh, cukup panggil saja aku dengan 'mas'. Tidak sulit bukan?" ujar dr.Dimas dengan bijaksana.


Baiklah aku akan mencoba menganggapnya seperti seorang kakak bagiku.


"Coba panggil!" titahnya seperti sedang mengujiku.


"Emm..., i-iya, Mas," ucapku dengan malu-malu kemudian menunduk.


"Hhhahahhh..., kamu menggemaskan sekali, Cindy!" ujarnya dengan tawa lebarnya.


'Huhhh, malah ditertawakan!' batinku dengan muka cemberut.


"Ehh, maaf, bukan bermaksud menertawakanmu, tapi aku gemas saja dengan ekspresimu!" ucapnya sambil memandang ke arahku.


Aku melirik sejenak ke arahnya, sungguh aku tidak nyaman dengan pandangan matanya. Aku pun menunduk sembari menggigit bibir bawahku.


"Cindy, kenapa kamu selalu menunduk, coba lihat aku!" aku membulatkan mata, mendengar permintaannya.


Tiba-tiba saja beliau merengkuh pundakku sehingga aku berhadapan dengannya. Dengan perlahan aku mengangkat wajahku dan melihat ke arahnya. Dalam beberapa saat kami berpandangan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini tapi kami sama-sama diam. Reflek aku menunduk sembari menggigit bibir bawahku merasa tak nyaman dipandangi olehnya.

__ADS_1


Kini satu tangannya terulur memegang daguku. Sehingga aku melihat lagi ke arahnya. Hatiku terasa berdesir. Pikiranku kacau menduga-duga apa yang akan beliau lakukan setelahnya. Namun, aku tak tahu harus berbuat apa.


Perlahan beliau mencondongkan badannya ke depan. Kini jantungku berdetak dengan kencangnya. Tubuhku seolah terkunci dan kaku seakan tak bisa bergerak. Dan jantungku serasa akan copot, saat ia memperpendek jarak diantara kita. Reflek aku memejamkan mata, tatkala bibirnya menempel di bibirku. Dalam beberapa saat beliau hanya mengecup bibirku saja. Kemudian, ia melepaskan kecupannya di bibirku. Aku langsung membuka mata. Aku bertanya-tanya apa aku melakukan kesalahan.


"Cindy, apa aku boleh melakukannya?"


Tanyanya yang entah apa maksudnya aku kurang paham. Melakukan apa maksudnya. Apakah hubungan suami istri? Aku masih bingung dan hanya mengeryit tanda tak mengerti.


"Emm, tidak maksudku bukan melakukan hubungan suami-istri!" beliau terlihat kikuk dan salah tingkah. Aku masih menatapnya dalam diam.


"Aku tahu kamu belum siap untuk itu. Kita bisa memulainya perlahan-lahan agar kamu terbiasa denganku. Maksudku bolehkah aku mencium bibirmu?"


'Hahh, pertanyaan macam apa itu. Bukankah ia sudah menciumku barusan. Kenapa baru minta ijinnya sekarang!' Akhirnya aku pun mengangguk saja.


Perlahan ia kembali mendekatkan wajahnya. Satu tangannya kini berada di tengkuk leherku dan membawaku semakin mendekat kepadanya. Bibirnya kembali menempel di bibirku. Detik berikutnya ia mulai m****** bibirku.


'Ehh..apa ini. Apa yang harus aku lakukan. Mengapa ini semakin menggairahkan dan aku tak bisa berkutik dengan perlakuannya. Apakah seperti ini yang beliau maksud dengan menciumku!' ujarku di dalam hati dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.


Lama kelamaan lum**** itu semakin menuntut, dan tanpa sadar aku membuka mulutku. Aku seolah melayang di buatnya.


Klekk.


Reflek beliau melepaskan ciumannya dan aku pun terhuyung sedikit kebelakang. Kami pun tercengang menatap ke arah pintu.


"Papa, aku mau bobo sama Umma!" muncul Qila di depan pintu. Rupanya ia terbangun dari tidurnya.


"Ahhh, iya Sayang. Ayo kemari!" ucapnya pada Qila.


"Maaf aku lupa mengunci pintu, karena sudah lama tidur sendirian aku melupakan langkah awalnya!" beliau tertawa kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya sembari mengangguk.


_____________________Ney-nna_______________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, reader's terπŸ’•πŸ’•

__ADS_1


Selalu dukung author agar author semangat Up.


Terima kasih buat yang selalu mendukung karya ini. Semoga terhibur dan sehat sll, berkah barokah. Aamiin πŸ™


__ADS_2