
POV Reyna.
Dia kembali mendekat dan menciumku. Aku merasakan degup jantungku berdetak dengan kencang dan tak beraturan. Sejenak ia berhenti untuk melepaskan hijab yang aku kenakan. Aku pasrah dengan perlakuannya itu. Namun, saat dia akan membuka kancing bajuku dengan reflek aku menahannya. Aku merasa ada yang kurang dari kegiatan yang kami lakukan. Dengan otak warasku aku berpikir cepat.
"Tunggu, Kak. Berdo'alah dulu!" ujarku saat mengingat ritual yang sering aku lakukan sesaat sebelum Rangga menjamahku.
Hubungan suami-istri diatas ranjang adalah sebuah ibadah kepada Allah yang akan mendatangkan pahala. Meskipun saat ini keadaannya sedikit terpaksa, tapi setidaknya kami melakukannya diawali dengan do'a. Sebab, aku tidak mau jin dan sebangsanya ikut menikmati apa yang kami lakukan.
Sebuah hadits dari Rasulullah S.A.W bersabda: 'Tabir antara pandangan mata jin dengan aurat manusia adalah apabila seseorang melepas pakaiannya, dia membaca: bismillah.'
Manfaat yang kedua dengan kita mengingat Allah sebelum berhubungan ialah ketika hubungan tersebut menghasilkan anak, maka Allah akan melindungi anak tersebut dari gangguan setan.
"Otakku buntu, Reyna. Cepat tuntun aku!" ujar kak Abi dengan muka yang sudah merah padam menahan hasratnya yang memuncak.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaitaana wa jannibi syaitoona maarazaqtaana," ucapku yang hampir berbarengan dengan kak Abi. Padahal kak Abi juga hapal do'a itu, rupanya pengaruh obat itu cukup besar bagi kewarasan seseorang setelah mengkonsumsinya.
Setelah berdo'a kak Abi semakin tak terkendali. Seluruh kain yang tadinya menempel di tubuhku dilucutinya dan dilempar begitu saja ke sembarang arah hingga tak bersisa sehelai pun di tubuhku. Dia mulai menjamahku di mana pun yang dikehendakinya dengan hasrat yang menggelora. Dan, bibirku mulai meracau suara-suara yang spontan ke luar begitu saja.
Sayup-sayup aku mendengar suara gedoran di pintu.
Tok tok tok.
"Mas Abi ... Mas!" ujar seseorang di luar sana yang terdengar lirih di telingaku.
Namun, kulihat kak Abi tidak menghiraukannya. Dia nampak tidak terganggu dengan suara yang kedengarannya seorang wanita yang memanggil namanya dari balik pintu. Sementara mulutku lebih sibuk meracau daripada mengingatkan hal itu pada kak Abi. Dan, Kak Abi justru semakin mempercepat aktivitasnya terhadapku. Hingga suara wanita itu sudah tak terdengar lagi.
Setelah lenguhan panjang yang terucap kak Abi mencium keningku kemudian berkata, "Terima kasih, Reyna. Maaf ...," ujarnya sembari menatap lekat ke arahku dan jari jemarinya membelai lembut pada pipiku. Setitik air mata lolos begitu saja dari ujung kelopak mataku yang mengharu.
Terakhir dia mengecup singkat bibirku dengan lembut. Hingga akhirnya tubuhnya lunglai dan terkulai lemas di sampingku, menyisakan napas yang menderu dan peluh yang membasahi tubuh kita berdua.
****
POV Author.
__ADS_1
Flashback On.
Satu Jam sebelumnya.
Tok tok tok.
"Permisi ...!" ujar seorang waiter yang datang sembari membawa nampan di tangannya yang berisi beberapa gelas dan berbagai makanan yang memjadi andalan di restoran milik Abiyu.
Saat pelayan laki-laki itu menurunkan hidangan untuk menjamu tamu, Mega menaikkan alisnya sebagai tanda sedang bertanya ke arah pelayanan resto tersebut. Kemudian pelayan itu menjawab dengan mengangguk kecil ke arah Mega.
Setelah pelayan itu pergi mereka memulai untuk makan malam bersama. Abiyu dengan ramah memberikan pelayanan terbaik untuk menjamu tamunya. Seusai makan mereka melanjutkan mengobrol tentang perencanaan acara yang akan diadakan oleh pihak klien. Tiba-tiba saja di sela-sela mengobrol Abiyu merasakan ada perubahan di dirinya.
Badanya terasa panas dan kepalanya mulai berdenyut.
"Maaf Pak Richard, tiba-tiba saya merasa kurang enak badan. Saya mohon pamit terlebih dulu. Untuk pembahasan lebih lanjut bisa dibicarakan dengan asisten saya!" ujar Abiyu yang kemudian beralih pada Mega. "Meg, tolong lanjutkan, ya? saya permisi dulu!" Mega mengangguk sembari tersenyum menyanggupi.
Bagus obatnya mulai bereaksi! tunggu aku mas Abi ... aku akan menemuimu setelah ini! gumam Mega dalam hati.
"Baik Pak Abiyu, semoga lekas membaik!" ujar Richard.
Dengan tergesa-gesa Abiyu beranjak pergi menuju rumah belakang.
Tepat di saat itu Reyna yang baru sampai dan masuk ke dalam restoran melihatnya. Reyna mengikutinya dari belakang.
Saat sampai di kamarnya Abiyu segera menuju kamar mandi untuk mengguyur badannya. Dan saat keluar dari kamar mandi Abiyu terkejut melihat Reyna berada di kamarnya. Rupanya Reyna menyusulnya karena Abiyu terlambat pulang dan handphonenya habis daya.
Ketika mengulang mandinya dan tidak meredakan gejolak yang timbul karena pengaruh obat perangsang yang dicampurkan oleh seseorang pada minuman atau makannya, Abiyu memohon kepada Reyna untuk meminta haknya.
Reyna terkejut mendengar permintaan dari Abiyu. Namun, Reyna tidak tega melihat suaminya yang seolah mengiba menahan sesuatu yang menyiksanya. Akhirnya Reyna merelakan Abiyu untuk menjamahnya. Dan, terjadilah yang seharusnya terjadi.
Tepat saat itu Mega telah menyelesaikan meetingnya bersama klien. Dengan senyum liciknya ia mendatangi rumah belakang. Mega mengetuk pintu dan menyerukan nama Abiyu. Namun, tidak ada jawaban dari dalam sana.
Mega mencoba mendekatkan telinga pada pintu ia mendengar suara lenguhan dan pekikan seorang wanita yang mengisyaratkan sedang terjadi pergolakan kenikmatan di dalam sana. Mega mencoba menggerakkan gagang pintunya, dan ternyata pintu itu dikunci dari dalam
__ADS_1
"Brengzekk!! siapa wanita yang bersama mas Abi?!" umpat Mega kesal.
Apa jangan-jangan ada karyawan resto yang dipanggil mas Abi ke mari?! sial ini gara-gara Pak Richard yang banyak bertanya hingga mengulur-ulur waktu!
Dengan penuh amarah di hatinya, Mega kembali menuju ke dalam restoran. Mega menuju kasa dan bertanya kepada karyawan yang sedang berjaga di depan kasa.
"Tin, apa semua karyawan ada pada tempatnya?" tanya Mega pada Tantin yang merupakan karyawan senior di restoran Abiyu, yang bertugas di kasa sekaligus pengawas.
"Sebentar saya cek dulu, Mbak!" ujar Tantin kemudian beranjak menyisir seluruh ruangan untuk mengecek semua karyawan yang masuk disift 2.
Usai memastikan semua karyawan ada pada tempatnya dan tugasnya masing-masing, Tantin kembali menghadap kepada Mega.
"Semua karyawan ada pada tempatnya, Mbak. Tidak ada yang kurang satu pun!" ujar Tantin melaporkan hasil pengawasannya.
"Lalu, siapa yang bersama mas Abi barusan?" ujar Mega lirih, namun masih bisa didengar oleh Tantin.
"Ohh ... soal itu, Mbak? tentu saja bersama Bu Reyna!" ujar Tantin memberi informasi.
"Reyna!!" pekik Mega terkesiap dengan apa yang di dengarnya.
"Iya! beberapa saat yang lalu kan Bu Reyna datang, kemudian melihat Pak Abi yang berjalan menuju rumah belakang. Akhirnya Bu Reyna mengikuti Pak Abi ke belakang," tutur Tantin menjelaskan.
Mega mengepalkan tangan dan segera pergi ke ruang kantornya.
"Arghhh! lagi-lagi kau datang dan mengacaukan semuanya wanita sialan! saat ini kamu boleh bersenang-senang, tapi aku tidak akan tinggal diam, kali ini aku akan membuatmu benar-benar pergi dari dunia ini!" Mega menggebrak meja yang ada di depannya dan mengobrak-abrik semua yang berada di sana.
Flashback Off.
____________________Ney-nna________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...GTive a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕💕💕...