
Pagi menjelang subuh hujan turun dengan lebatnya. Bagi kebanyakan orang yang bekerja dengan ketepatan waktu, tidak ada alasan untuk bersantai, meski harus melawan cuaca extream demi sesuap nasi. Namun, tidak sedikit yang memilih untuk kembali menarik selimutnya usai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
Begitupun dengan pasangan baru yang sedang mencecap indahnya memadu kasih dengan pasangan halalnya, Reyna dan Abiyu memilih untuk tetap berada di kamarnya seusai melaksanakan salat subuh, dan menyempatkan untuk berolahraga pagi di dalam kamar.
“Kak, aku nggak enak sama bunda nih, gak bantuin masak!” ujar Reyna yang masih tenggelam dalam pelukan suaminya di balik selimut tebal.
“Dengar … di luar hujan, bunda pasti sudah mengerti alasan kamu belum juga turun untuk membantu memasak. Justru bunda akan senang jika tahu aku yang menahanmu agar tidak keluar dari kamar!” ujar Abiyu yang semakin mengeratkan pelukannya.
“Aww!” pekik Abiyu saat Reyna mencubit pingggangnya. “Kamu ihh … sakit tau Reyn!” Abiyu mengusap pinggangnya bekas cubitan sang istri.
“Maaf! habisnya Kak Abi yang benar saja, masa iya aku mau bilang kayak gitu sama bunda … malu ihh!” ujar Reyna mengambil alih mengusap lembut bekas cubitan di pinggang suaminya.
“Kamu pilih mana Reyn, malu sama bunda tapi mendapat ridho dari suami, atau meninggalkan ajakan suami dan mendapat laknat dari para malaikat di atas sana, tapi dipuji sama bunda?” tanya Abiyu sembari mengendurkan pelukannya dan memandang lekat ke arah istrinya.
Sejenak Reyna terdiam berpikir. Dua-duanya sama-sama tidak mengenakkan. Tiba-tiba saja jawaban yang nyeleh muncul dari dalam otaknya.
“Ahh, ini sih jebakan! aku pilih mendapat ridho dari suami dan di puji sama bunda dong! Hahahaha …,” ujar Reyna kemudian tertawa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Gimana caranya biar kamu mendapatkan keduanya secara bersamaan, coba?" tanya Abiyu yang masih belum puas.
"Caranya, Kak Abi kalau mau ngajakin juga harus lihat situasi dan kondisi. Jadi tidak berbenturan dengan waktunya sang istri sibuk. Ditahan dulu dong sampai istri siap untuk melayani! pas malem gitu contohnya!" ujar Reyna beralasan.
Abiyu tercengang dengan jawaban Reyna. Dia mengernyitkan dahi karena merasa dicurangi dengan jawaban istrinya yang seolah mengisyaratkan jika salah suami kalau minta jatah di saat yang tidak tepat.
“Eh … pinter banget sih jawabnya, istri siapa ini? aku mau kasih hadiah tambahan atas jawaban kamu yang brilian itu, Reyn!” ujar Abiyu kemudian bangun dari tidurnya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.
“Ishh … hadiah apaan sih geli tau, Kak!” tutur Reyna sembari terkikik. Reyna menahan bahu Abiyu dengan kedua tangannya.
“Kita ulangi sekali lagi, Reyn!” ujar Abiyu yang hendak beranjak menempatkan posisinya pada sang istri.
“Huwaa … mamma …, mammaa …."
Suara tangis Reynand memenuhi seluruh ruang kamar. Bayi itu terduduk di atas tempat tidur sembari terisak saat terbangun dari tidurnya.
Abiyu dan Reyna seketika membatallkan aktivitasnya yang baru akan dimulai dan menatap sedih pada Reynand yang menangis. Saat Abiyu menoleh ke arah Reyna, Reyna mengedipkan mata sembari tersenyum, seolah mengisyaratkan jika keinginan suaminya telah gagal.
__ADS_1
Tangannya mengelus lembut dada Abiyu yang berada di atasnya, sembari berkata, “Sabar ya Kak!”
Dengan kerelaannya Abiyu kembali ke tempatnya, membiarkan Reyna bangun dan mengenakan kembali kain yang tadi dilucuti olehnya. Lantas Abiyu melakukan hal yang sama. Dan akhirnya olahraga pagi terhenti sampai di sana.
****
Setelah membersihkan diri, Reyna dan Abiyu turun untuk sarapan pagi. Macam-macam masakan sudah tersaji di atas meja. Bunda Maya yang telah memasaknya dibantu oleh Fely. Reyna menjadi sungkan, sebab sebagai menantu dia datang ketika masakan telah tersaji. Reyna meletakkan putranya pada high chair, kemudian menyuapinya terlebih dulu.
Kepalanya masih sakit, Reyn?" tanya bunda Maya setelah itu menyuap makanannya ke dalam mulut.
"Alhamdulilah sudah mendingan ko, Bun!" ujarnya sembari menoleh ke arah bunda sebentar, kemudian berpaling dan kembali menyuapi putranya.
"Alhamdulillah, kalau begitu," ujar bunda kemudian mengelap mulutnya dengan sapu tangan, setelah menyelesaikan makannya. "Sini, Reynand biar sama Bunda. Gantian kamu yang makan dulu, Reyn!" titah bunda.
"Makasih ya, Bun!" ucap Reyna, merasa bersyukur dengan perhatian ibu mertuanya yang telah memperlakukan dirinya dengan baik.
Terima kasih ya Allah, engkau berikan aku ibu mertua yang snagat mengerti keadaanku. Bahkan meski aku pernah mengecewakan bunda saat itu!
Reyna tersenyum menatap kepergian bunda Maya dengan Reynand di gendongan. Kemudian, dia menuang nasi, sejumlah lauk dan sayur ke dalam piring yang berada di hadapannya.
"Fe ini yang masak kamu apa bunda?" tanya Reyna saat mencoba menyuap makanannya.
"Enak banget ini, Fe. Kamu emang jago deh bikin masakan!" ujar Reyna sembari menyodorkan dua jempolnya ke depan.
"Nanti mau gak Mbak, kita nyoba bikin desert bareng buat nanti siang?" tanya Fely.
"Okey siap!" ujar Reyna dengan senang hati.
Dalam hati Reyna bersyukur akhirnya masalah dengan adik ipar terselesaikan dengan baik.
Derrt derrt derrt.
Handphone Abiyu yang berada di saku celananya bergetar beberapa kali. Abiyu menghentikan makannya, kemudian mengambil handphonenya. Tampak pada layar, ada telepon masuk dari Tantin.
Abiyu segera menggeser gambar warna hijau pada layar dan mendekatkan handphone itu ke telinganya.
__ADS_1
"Iy, Hallo. Assalamu'alaikum, Tin. Ada apa?" tanya Abiyu pada seorang asistennya yang baru.
"Wa'alaikumussalam, Pak Abi. Barusan terjadi insiden Pak di dapur resto. Tiba-tiba saja saat akan proses memasak gasnya meledak. Bagian dapur resto terbakar. Beruntung petugas pemadam kebakaran segera datang sehingga api tidak merembet ke area depan resto maupun rumah belakang," tutur Tantin melaporkan insiden yang terjadi di restoran milik Abiyu.
"Innalillahi wa 'inna ilaihi raji'un!" Abiyu tercengang dengan kabar buruk yang telah menimpa restoran miliknya. "Ada korban jiwa tidak, Tin?" tanya Abiyu kemudian.
"Alhamdulillah tidak ada, Pak. Saat itu kami sedang melaksanakan briefing pagi sebelum melaksanakan aktivitas," tutur Tantin.
"Alhamdulillah ... yang penting tidak ada korban jiwa dulu, Tin. Nanti saya akan segera ke sana setelah mendapatkan tiket pesawat dengan jadwal penerbangan terdekat. Tolong handle semuanya dulu selagi aku belum datang, Tin. Segera kabari aku jika terjadi sesuatu!" perintah Abiyu pada asistennya.
"Baik, Pak! assalamu'alaikum!" ujar Tantin mengakhiri sambungan teleponnya.
"Wa'alaikumussalam!" jawab Abiyu kemudian mengusap kasar pada mukanya.
Reyna dan Fely yang ikut mendengar pembicaraan tersebut saling berpandangan dengan dugaannya masing-masing, mereka penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Dari pembicaraan itu Reyna menangkap ada hal buruk yang terjadi di restoran milik Abiyu.
"Ada apa, Kak?" tanya Reyna sesaat setelah sambungan telepon di putus.
"Terjadi kebakaran di dapur resto, Reyn," ujar Abiyu dengan mimik mukanya yang muram. "Secepatnya aku harus kembali ke Yogya, hari ini juga!" tutur Abiyu dengan penegasan.
"Baik, Kak. Aku ikut. Setelah ini aku akan segera berkemas! kak Abi yang sabar ya dengan cobaan ini!" ujar Reyna sembari mengusap pundak sang suami untuk menguatkan.
"Yahh ... padahal Mbak Reyna baru dua hari di sini," ujar Fely merasa kecewa karena rumah akan kembali sepi.
"Maaf, ya Fe? lain kali mbak Main ke sini lagi!"
"Iya, Mbak tidak apa-apa. Itu kan masalah yang urgent."
Akhirnya sore itu Abiyu, Reyna dan Reynand kembali ke Yogyakarta.
____________________Ney-nna________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...GTive a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕💕...