
Tok tok tok.
"Masuk!" ujar Abiyu dari dalam.
"Kak, maaf ganggu, di rumah ada tamu yang ingin bertemu dengan, Kakak," ujar Reyna kepada suaminya. Reyna mendatangi Abiyu yang sedang berada di kantor resto.
"Siapa, Sayang?" tanya Abiyu sembari mengalihkan pandangan dari laptop ke arah istrinya yang berdiri di ambang pintu.
"Emm ... mending Kak Abi lihat langsung aja deh ke rumah," ujar Reyna yang membuat Abiyu memandang heran kepada istrinya itu. Sebab, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Reyna kali ini.
"Gak biasanya kamu main rahasia-rahasiaan begitu deh, Sayang," ujar Abiyu berharap istrinya akan mengatakan siapa tamunya.
"Emm, Kak Abi janji ya harus tenang, dan jaga emosi, apa pun itu bicarakan secara baik-baik!" ujar Reyna seraya berjalan masuk mendekat ke kursi yang sedang di duduki suaminya.
"Kamu ni semakin membuat aku penasaran aja deh, Sayang!" ujar Abiyu gemas seraya menarik Reyna ke dalam pangkuannya.
"Eh ... eh ..., gimana sih, Kak?" pekik Reyna kaget tatkala badannya terhuyung ke depan, "Kalau aku jatuh gimana, coba?" protesnya sembari mengernyit ke arah Abiyu.
"Gak akan dong, Reyn. Masa sih aku tega celakain kamu!" ujar Abiyu sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Reyna. "Ayo, bilang siapa tamunya!"
"Iya-iya aku kasih tahu, tapi lepasin dulu dong, Kak! nggak enak kan ntar kalau dilihat sama Tantin atau karyawan yang lain gimana?" tutur Reyna.
"Ya nggak mungkin dong, Sayang! emang mereka mau dipecat apa? masuk ke kantor boss gak pakai permisi dulu! lagian kamu itu istri aku, kenapa harus takut ketahuan mesra sama istri sendiri!" ujar Abiyu sembari melepaskan tautannya di pinggang istrinya.
"Ya, kan aku malu, Kak!" tutur Reyna yang malu-malu seraya beranjak berdiri membenarkan gamisnya. "Yuk ah buruan, kasihan dia nunggunya lama, Kak!" ujarnya.
"Eh kamu ingkar, Reyn. Udah dilepasin tapi kamu belum bilang juga siapa orangnya!" ujar Abiyu pura-pura marah.
"Namanya Raka, Kak," ungkap Reyna.
"Raka? kayak gak asing, siapa Raka?" tanya Abiyu seraya berpikir mengingat nama yang disebutkan oleh istrinya.
"Tuh kan, Kak Abi aja gak inget pas udah aku kasih tahu namanya, mending Kak Abi temui orangnya langsung, deh!"
__ADS_1
"Ya kamu jelasinnya yang lebih detail dong, Sayang Raka itu siapa? tinggal di mana? keperluannya ke sini itu mau apa? kalau cuma namanya aja kan aku kesulitan buat mengingat-ingat, apalagi kalau baru sekali bertemu," tutur Abiyu panjang lebar.
"Makanya lebih baik Kak Abi temui dia dulu, terus tanyakan sendiri sama orangnya. Aku pengen lihat seperti apa nyalinya buat menjelaskan siapa dia sama Kak Abi," tutur Reyna.
"Yaelah, kamu semakin membuatku penasaran aja sih, Reyn! ya sudah yuk pulang!" ujar Abiyu seraya bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke luar mengikuti istrinya menuju rumah belakang.
Sesampainya di ruang tamu, Raka langsung berdiri dan tersenyum ramah menyambut Abiyu.
"Selamat sore, Mas. Kenalkan saya Raka!" ujar Raka seraya mengulurkan tangannya ke depan untuk bersalaman dengan Abiyu.
"Abiyu," ucap Abiyu menyambutnya dengan ramah juga.
"Maaf mengganggu waktunya, Mas," ujar Raka sopan.
"Tidak apa-apa, ini juga sudah mendekati waktunya untuk mengakhiri jam kerja. Oh ya, mari silahkan duduk! ngomong-ngomong, Anda ini ...?" Abiyu tidak melanjutkan perkataannya seolah mengisyaratkan agar Raka yang menjelaskannya.
Raka yang langsung paham, kemudian mengungkapkan maksud dan tujuannya datang berkunjung, "Saya mengenal Felycia sejak lama, dan kedatangan saya ke mari dengan maksud ingin meminta maaf kepada Fely sekeluarga atas kesalahan saya dimasa lalu, yang kedua saya ingin mengkhitbah Fely untuk menjadi pendamping hidup saya," tutur Raka panjang lebar.
Sementara Reyna yang sudah tahu Raka itu siapa, nampak tidak suka mendengar hal itu. Dia masih ingat bagaimana keadaan Fely saat Raka mengecewakan adik iparnya itu.
Bukannya dia sudah menikah dengan wanita lain? batin Reyna kesal.
"Saya masih belum mengerti, Anda barusan bilang ingin meminta maaf, minta maaf untuk apa, ya?" tanya Abiyu meminta penjelasan.
"Saya ... yang dahulu sempat menikah siri dengan Fely, Mas," tutur Raka dengan hati-hati ada rasa takut dengan reaksi apa yang akan Abiyu lakukan terhadapnya setelahnya.
"Oh jadi kamu laki-laki yang dulu sempat mempermainkan adik saya? kurang ajar, kamu!" ujar Abiyu seraya berdiri kemudian menarik kemeja bagian atas milik Raka dengan cepat.
"Arghh ... tunggu, Kak! sabar dulu!" pekik Reyna terkejut seraya memegangi lengan tangan suaminya dan hendak memperingatkan agar suaminya tidak main hakim sendiri.
"Berani-beraninya kamu mendatangi rumah ini setelah kamu mempermainkan perasaan adikku, lantas ke mana saja kamu selama ini?!" ujar Abiyu dengan nada tinggi sembari mendorong Raka hingga terhuyung ke belakang.
"Kak, Sabar dulu!" ujar Reyna memperingatkan agar Abiyu mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Saya tahu saya salah, Mas. Untuk itulah saya datang ke mari dengan maksud untuk meminta maaf. Saya mohon berikan saya kesempatan untuk menjelaskan hal itu terlebih dahulu, Mas!"' Raka memohon dengan sungguh-sungguh.
Mendengar ada keributan Fely dan Bunda yang baru datang dari berziarah segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Fely dan bunda Maya hampir berbarengan.
"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya.
"R-raka ...! kamu mau ngapain ke sini?" tanya Fely terkejut dengan siapa yang dilihatnya saat ini.
"Fe, tolong maafkan atas kesalahan saya di waktu itu! saya sungguh-sungguh mencintai kamu, Fe. Saya nggak pernah bermaksud untuk mempermainkan perasaan kamu!" ungkap Raka dengan penuh perasaan.
"Enak sekali kamu bicara! setelah sekian lama kamu menghilang, kenapa baru sekarang kamu datang?! Fely sudah dilamar oleh laki-laki lain, kamu sudah terlambat! jadi lebih baik kamu kembali pulang!" tutur Abiyu dengan kesal.
Raka seketika terkejut mendengar ada orang lain yang juga melamar Fely, dia beralih memandang ke arah Fely seolah mencari jawaban dari sorot mata Fely. Dia tidak ingin Fely menjadi milik orang lain lagi.
Fely bimbang harus bagaimana, sebab apa pun alasannya Raka tetap bersalah padanya sebab dulu tidak mengatakan yang sesungguhnya tentang alasannya menikahi Maura. Tapi dia tidak tega melihat Raka diusir dari rumah ini.
"Tunggu, Bi. Sebenarnya ini ada apa? emosi tidak akan menyelesaikan masalah, sekarang semua duduk dan mari bicarakan hal itu dengan baik-baik!" tutur bunda menengahi.
Semuanya patuh atas perintah bunda. Semuanya kembali duduk ke tempatnya seperti semula.
"Ayo, Nak. Sekarang jelaskan dengan apa yang terjadi selama ini!" titah bunda.
Raka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh bunda. Dia segera menjelaskan kejadian yang sesungguhnya terjadi selama ini kepada mereka semua mulai dari pertemuan pertama sampai terakhir kali bertemu dengan Fely pada acara pernikahan teman Fely kemarin.
"Tante, saya menikahi Maura hanya demi menolongnya. Dan sebelum kepergian Maura dia menuliskan sepucuk surat dan berpesan agar saya memberikan surat itu kepada Fely. Dua tahun yang lalu setelah Maura meninggal saya datang ke rumah ini bermaksud untuk menyerahkan surat dari Maura dan menjelaskan yang sesungguhnya terjadi kala itu. Tapi, ternyata saat itu tepat di hari akad nikah Fely dengan suami pertamanya. Fely sudah menjadi milik orang lain. Saya mencoba untuk berbesar hati untuk menerima hal itu dan kembali pulang tanpa menyerahkan suratnya."
"Setelah itu saya tidak tahu menahu tentang suami Fely yang meninggal, saya pikir mungkin Fely tengah berbahagia dengan suaminya. Karena itulah saya tidak lagi mencari Fely karena saya tidak ingin mengganggu pernikahannya dengan suaminya, Tante. Saya mengetahui tentang meninggalnya suami Fely baru kemarin saat bertemu di pernikahan Mika," tutur Raka menceritakan yang dia ketahui selama ini.
"Baiklah, sekarang bagaimana dengan kamu, Fe? mana yang kamu pilih antara adiknya Nabil atau Raka?" tanya bunda.
..._________Ney-nna_________...
__ADS_1