
"Temani saya makan siang di restoran anda sekarang!" tutur Raka.
Fely seketika membulatkan mata dengan permintaan mantan karyawannya itu.
"Apa kamu bilang?! yang benar saja, kamu mau mempermainkan saya?!" pekik Fely dengan sangat terkejut menanggapi ajakan laki-laki di depannya.
Astaghfirullah ... keceplosan deh, gue! tuh kan marah kan dia! gumam Raka di dalam hati merutuki kebodohannya yang telah salah berucap.
"Maaf ... maaf. Saya hanya bercanda saja, Mbak. Mana mungkin seorang pegawai rendahan seperti saya berani makan satu meja dengan seorang pemilik restoran?!" tutur Raka dengan segera mengoreksi kata-katanya.
"Justru kamu dengan bicara seperti itu telah menghina saya, seolah-olah saya ini membedakan seseorang dari kelas sosialnya, saya hanya tidak mau makan dengan kamu karena hanya berdua saja, sehingga hal itu bisa mendatangkan fitnah, karena makan berdua itu tadi, terlebih dengan disaksikan karyawan saya yang lain, tentunya akan menimbulkan pertanyaan bagi karyawan saya, seolah saya ada hubungan yang lebih dengan kamu!" tutur Fely panjang lebar dengan nada yang setengah meninggi.
Aduh ... gawat tambah salah lagi kan di mata dia! harusnya gue gak bilang gitu tadi! batin Raka menyesali perkataannya.
"Maaf, Mbak. Sungguh saya tidak bermaksud seperti itu kepada anda! begini saja, jika diijinkan bisakah saya mendapatkan satu porsi dessert box buatan anda seperti yang di jual di restoran yang ada di Jakarta untuk menukar gaji saya? tadinya saya mau merekomendasikan makanan itu kepada teman-teman di kantor, karena rasanya sangat enak. Namun, saya tidak menemukannya di buku menu restoran ini," tutur Raka.
Mendengar pujian itu hati Fely kembali menghangat, namun dia tidak serta-merta melunak kepada laki-laki di depannya itu.
"Saya memang belum bisa untuk menambahkan menu itu di restoran ini, sebab saya masih beradaptasi untuk mengelola restoran ini. Kamu yakin hanya menginginkan satu porsi dessert box untuk menggantikan gaji kamu selama tiga hari?" tanya Feli memastikan kepada laki-laki di depannya.
"Iya Mbak, cukup satu porsi saja, asalkan diberikan dengan ikhlas. Itu pun jika anda mau, tapi jika anda keberatan tidak usah digaji tidak apa-apa, saya sudah mengikhlaskan nya seperti apa yang saya bilang tadi," tutur Raka kekeuh mempertahankan keinginannya dan tidak ingin menggantikan dengan yang lain.
Fely terdiam memikirkan hal itu sebenarnya membuat dessert adalah hal yang paling digemarinya, dan bagi Fely, ketika ada yang berkata sangat menyukai dessert buatannya itu, hal itu membuatnya sangat bahagia.
Setelah menimang-nimang hal itu, akhirnya Fely setuju untuk membuatkan dessert box sebagai ganti upah kerja mantan karyawannya itu. Fely berpikir mungkin saking sukanya dengan dessert box buatannya itu, pemuda itu hingga merelakan upahnya diganti dengan sebuh dessert box saja.
"Baiklah, insyaallah aku buatkan. Datang saja di hari senin diwaktu yang sama, aku akan berusaha membuatkannya untukmu!" tutur Fely dengan menyepakati untuk mengabulkan keinginan laki-laki di depannya.
__ADS_1
"Sungguh, Mbak?! anda mau membuatkannya untuk saya? saya benar-benar berterima kasih sekali jika Mbak Fely mau membuatnya untuk saya," ujar Raka dengan senang. "Baiklah, saya pastikan besok saya akan datang di jam yang sama untuk menerimanya," tambahnya.
"Ya sudah ... kalau begitu saya permisi dulu, saya masih ada banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan," tutur Fely kemudian hendak beranjak pergi, namun dia menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arah Raka. "Satu lagi jangan panggil aku 'Mbak' lagi, aku bukan lagi atasanmu! assalamu'alaikum," tutur Fely kemudian benar-benar pergi menuju kantornya.
Raka hanya memandang kepergian Fely dengan tersenyum.
"Wa'alaikumsalam!" jawabnya lirih.
Aku tidak menyangka jika Allah mempertemukan kita kembali, mungkinkah ini Jodoh?! gumam Raka di dalam hati.
****
Sudah hampir dua minggu Reyna tidak datang untuk mengontrol kan kesehatannya ke klinik milik dr.Arif. Hal itu membuat dr.Arif menjadi heran dan bertanya-tanya, apakah Reyna baik-baik saja? batinnya.
Untuk memastikannya, Arif berencana untuk mendatangi pondok pesantren di sore hari, seusai dia menyelesaikan tugasnya di rumah sakit. Dan, benar saja ketika sore menjelang Arif datang ke pondok, kemudian menuju kantor.
"Jazakallah khoiron, Dokter! semoga dilancarkan dalam rezekinya dan dimudahkan dalam segala kebaikan yang dicita-citakan," ucap Fadhil berterima kasih dengan cara mendo'akan kebaikan untuk dr.Arif.
"Wa jazakallahu khoiron, Ust! semoga pesantren ini semakin maju dan berkembang, serta memberi banyak manfaat bagi lulusannya," jawab Arif dengan mendo'akan hal yang sama untuk Fadhil dan pondok pesantren. "Oh ya Ustadz, sudah dua minggu ini Reyna tidak datang untuk mengontrol kan kesehatannya ke klinik, apakah kondisinya baik-baik saja?" tanya Arif menelisik keadaan wanita yang dikaguminya secara diam-diam.
"Jadi, Dokter belum mendengarnya? alhamdulillah Reyna sudah menemukan keluarganya, setelah malam anda dipanggil untuk memeriksa Reyna waktu pingsan kala itu, kemudian keesokannya suaminya membawa Reyna pulang ke rumahnya yang berada di Yogyakarta!" tutur Fadhil menjawab pertanyaan Arif.
"Apa sudah dibuktikan jika keluarganya tidak akan membahayakan keadaan Reyna lagi?" tanya Arif yang belum puas dengan jawaban dari Fadhil.
"Alhamdulillah sudah bisa dipastikan siapa pelakunya, saat ini pelakunya sudah tertangkap yaitu tersangkanya adalah pembunuh bayaran. Namun, dalang dari rencana pembunuhan yang ditujukan untuk Reyna itu belum dapat ditangkap, sebab tersangka utama melarikan diri ke luar negeri. Sehingga sudah dibuktikan jika tersangkanya itu bukan dari kalangan keluarganya. Justru keluarganya selama ini mencarinya ke mana-mana dan baru menemukannya waktu mengantar saudaranya mendaftar di pesantren ini," tutur Fadhil menjelaskan panjang lebar kepada Arif.
Arif nampak sangat kecewa mendengar hal itu. Hatinya terasa perih saat mendengar wanita yang dicintainya diam-diam kini telah pergi bersama suaminya. Padahal Arif serius ingin menikahinya dan dengan tulus menerima statusnya yang telah mengandung, rupanya takdir tidak berpihak padanya. Arif mencoba untuk mengikhlaskannya jika Reyna bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
__ADS_1
****
Di asrama putri.
Sudah dua minggu di pesantren ternyata hal ini cukup berat bagi Lala. Pertama karena rutinitas yang padat, disiplin waktu yang ditetapkan sebagai aturan yang wajib ditaatinya. Seperti halnya salat harus tepat waktu, sebelum adzan harus sudah berada di masjid, yang nantinya salat lima waktu dilakukan berjamaah dengan seluruh santri dan ustadzah.
Terlebih karena banyaknya materi tentang agama yang harus dipelajarinya. Sebab, di sekolah umum dia hanya mengikuti materi yang umum di ajarkan pada sekolah menengah atas negeri, sedangkan di pesantren materi agamanya yang sangat banyak dibandingkan materi di sekolah formal yang pernah di cecapnya sebelum masuk ke pesantren.
Selain itu dia juga harus menyempatkan waktunya untuk selalu menghafal, kapan pun setiap ada kesempatan, karena dia diharuskan menyetor hafalan kepada ustadzah. Begitu terus berulang-ulang dalam kesehariannya. Cukup berat bagi Lala yang baru awal masuk ke pondok pesantren.
Lala sangat merindukan hari-harinya bersama ibunya, hari-harinya bersama Reyna dan Reynand, dan rindu dengan sekolahnya yang lama. Namun, dia harus belajar untuk sabar dan kuat dalam menjalaninya, semata-mata demi menuntut ilmu dan lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Beruntung semua penduduk pondok sangat bersahaja, menganggap semua adalah saudara, keluarga dan teman seperjuangan. Sehingga saling tolong menolong dan membantu, terutama Meilani dan Najwa sebagai sahabat baiknya selama berada di pesantren yang dengan sabar menghadapi Lala yang sering menangis disaat-saat tertentu ketika mengingat kehidupannya yang 'nyaman' sebelum masuk ke pesantren. Nyaman, sebab banyak waktu longgarnya yang dihabiskan untuk bermalas-malasan dan kurang bermanfaat, sedangkan di sini waktu sangatlah berarti, sebab hampir setiap waktunya dihabiskan untuk mengingat Allah dengan kegiatan di pondok yang padat.
Di sela-sela menunggu adzan salat ashar berkumandang, Lala dan Meilani mengobrol sembari duduk-duduk santai di depan asrama.
"Lan, apa keluargamu sering menjenguk mu?" tanya Lala dengan sendu.
"Enggaklah, La. Mana boleh sering-sering dijenguk, yang ada nanti kita tidak fokus belajar dan pengen ikut pulang. Paling sebulan sekali, La. Rumahku kan tidak dekat juga. Kamu pasti rindu sama keluargamu, ya? yang sabar ya, La! kamu pasti kuat menjalani ini semua, ada aku, Najwa, ummi, ustadzah semua di sini keluarga kita," tutur Meilani menghibur Lala yang sedang sedih.
Lala hanya bisa mengangguk perlahan dengan pasrah.
"Lan ... Meilani ...!" teriak Najwa dari arah belakang mereka, sembari berlari ke arah mereka duduk.
"Ya ampun Wa, selalu saja teriak-teriak. Ada apa, Wa? kaya yang senang banget kamu tuh!" ujar Meilani menegur tingkah najwa yang kekanak-kanakan.
...___________Ney-nna___________...
__ADS_1