
Mira duduk diam di meja kerjanya sembari mendengarkan alunan musik yang terputar dari kotak musik pemberian Dipa untuk Reyna. Sedangkan di tangannya sedang menggenggam handphone. Sedari tadi dipandanginya kontak yang tertulis nama Dipa pada layar handphone miliknya.
Sejak kemarin Mira berniat untuk bertanya kepada Dipa mengenai ta'arufnya. Namun, Mira ragu, lebih tepatnya gengsi untuk menghubungi Dipa lebih dulu. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dipa dan dengan perlahan hendak menaruh kembali handphonenya ke atas meja.
Baru saja akan diletakkan, tiba-tiba handphonenya bergetar. Terlihat panggilan masuk dari ustadzah Hanifah. Mira segera menggeser simbol hijau pada layar.
"Hallo, assalamu'alaikum," ujar Mira mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikumussalam. Mbak Mira sedang sibuk tidak?" tanya Hanifah.
"Tidak, Ust Hani. Ini saya sedang senggang kok. Ada apa, Ust?" tanya Mira.
"Mohon maaf, Mbak Mira. Nanti sore saya tidak bisa mengajar, saya ada kepentingan mendadak di luar kota," tutur Hanifah.
"Oh, iya tidak apa-apa, Ust Hani" ujar Mira tidak masalah untuk sesekali libur.
"Bagaimana ta'arufnya kemarin? cocok tidak dengan kriteria Mbak Mira?" tanya Hanifah tentang ta'arufnya Mira.
Sejak kemarin Mira belum tahu jika Hanifah yang merekomendasikan dia untuk berta'aruf dengan Dipa, kepada suaminya.
"Em, sebenarnya saya bingung Ust Hani, karena yang ta'aruf dengan saya adalah orang yang sudah saya kenal sebelumnya," tutur Mira.
"Alhamdulillah, kalau begitu artinya Mbak Mira di mudahkan dalam proses ta'arufnya di dekatkan dengan orang yang sudah diketahui baik atau buruknya. Jika merasa ragu tinggal dimantapkan lagi dengan melaksanakan salat istikharah, Mbak!" ujar Hanifah.
"Sudah Ust Hani, tapi saya tidak mendapatkan petunjuk dalam mimpi saya, Ust. Saya masih bimbang...," tutur Mira mengatakan kebimbangan yang dia rasakan.
"Tidak semua orang setelah melaksanakan salat istikharah mendapatkan petunjuk dari mimpi, Mbak Mira. Bisa jadi lewat hal-hal lain," tutur Hanifah.
"Hal-hal lain? contohnya, Ust?" tanya Mira penasaran ingin tahu.
"Misalnya dengan mendapat sinyal-sinyal dari Allah, contohnya diberi kemantapan hati atau tiba-tiba ada yang sebut-sebut namanya, terus ada fakta terungkap tentang kebaikan atau keburukannya, atau bisa jadi tidak mendapatkan petunjuk apa pun, tapi ketika melanjutkan ta'arufnya, Allah mempermudah jalannya. Misalnya kedua belah pihak keluarga menyetujui, tidak ada gangguan dalam prosesnya, hari H-nya dilancarkan, bisa jadi seperti itu, Mbk Mira," tutur Hanifah panjang lebar.
"Oh, jadi begitu ya Ust! alhamdulillah sangat bermanfaat sekali, untung Ust Hani telepon, tadinya aku gak mood, Ust. Sekarang jadi lebih baik setelah mendengar pencerahan dari anda," tutur Mira merasa lega.
"Sama-sama Mbak Mira, sebenarnya saya yang merekomendasikan anda berta'aruf dengan mas Dipa," tutur Hanifah jujur.
"Lhoh kok, bisa sih!" ujar Mira dengan kaget.
__ADS_1
"Iya jadi waktu mengantar makan siang untuk suami saya di kantor pusat saya melihat suami saya sedang melihat-lihat berkas CV ta'arufnya, saya melihat CV ta'aruf Mbak Mira, lantas saya bertanya, apa kandidat laki-lakinya mempunyai akhlak yang baik dan mampu? suami saya menjawab 'iya, beliau teman saya sendiri sehingga saya mengenalnya', mendengar hal itu akhirnya saya menyarankan pada suami saya untuk memilih Mbak Mira, saya dan suami tidak menduga jika ternyata Mbak Mira dan Mas Dipa sudah saling mengenal. Mungkin memang sudah jodohnya Mbak Mira, maka dipertemukan dengan yang dekat. Sebab, Allah Maha Tahu jauh atau dekatnya jodoh kita, sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiar dan Allah yang menentukan," tutur Hanifah panjang lebar.
"Seperti yang pernah saya ceritakan kepada Ust Hani saya pernah akan menikah dan kemudian gagal, apa mungkin saya memang tidak berjodoh dengan laki-laki itu?" tanya Mira yang masih penasaran sebab di saat ketika dia memutuskan untuk mengikuti ta'aruf justru tiba-tiba Allah menghadirkan Jona kembali untuk melamarnya.
"Bisa jadi memang bukan jodohnya Mbak Mira, karena laki-laki keji untuk perempuan keji dan sebaliknya, dan wanita baik untuk laki-laki yang baik pula dan sebaliknya, sehingga ketika kita ingin mendapatkan laki-laki yang baik maka kita harus berusaha untuk memperbaiki diri atau memantaskan diri, sehingga menjadi pantas dengan laki-laki baik pula, karena jodoh itu diusahakan, dicari, dan diperjuangan," tutur Hanifah menerangkan.
Mira terdiam untuk mencerna kata-kata dari ustadzah Hanifah. Mira teringat dengan kata-kata Jonathan kala itu, dia pernah mengatakan terpaksa bermalam di sebuah motel karena tidak bisa melanjutkan perjalanan sebab cuaca buruk, dan terpaksa menempati satu kamar karena hanya ada satu kamar yang tersisa saat itu.
Menelaah dari cerita Jona, bukankah berduaan di dalam satu kamar dengan lawan jenis itu mendekati zina? dan Jona mengabaikan hal itu, kemudian nekad sekamar berdua dengan Dhewi! batin Mira.
Meskipun pada akhirnya dia tidak melakukannya karena mendapat tipu daya dari Dhewi, tapi sebelumnya dia sempat tergoda untuk mendekati Dhewi sebelum hilang kesadarannya. Jika dia benar-benar laki-laki yang berpegang teguh pada agamanya, seharusnya ada cara lain untuk menghindari zina itu. Jona bisa tidur di mobilnya atau mencari masjid, bukan malah berduaan di dalam satu kamar.
Fix bukan Jona jodohku! batin Mira menjadi mantap dengan menjatuhkan pilihannya kepada Dipa.
"Halo Mbak ... Mbak Mira ...," panggil Hanifah dari balik sambungan telepon, yang mengira sambungan teleponnya dengan Mira terputus.
"Eh ... iya, Ust. Saya masih di sini!" tutur Mira begitu tersadar dari lamunannya.
"Jika Mbak Mira kurang berkenan bisa menolaknya, namun jika merasa tidak ada hal buruk yang terlihat selama ta'aruf berlangsung sebaiknya diterima saja, insyaallah ini jalan Allah mempertemukan Mbak Mira dengan jodohnya. Karena jodoh itu adalah rahasia Allah, kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan Allah yang akan menentukan," tutur Hanifah.
"Baik, Ust. Terima kasih atas pencerahannya, insyaallah dari obrolan kali ini saya sudah menemukan jawabannya dan saya mendapatkan kemantapan hati," tutur Mira.
"Aamiin, sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Ust," tutur Mira.
"Saya mau bersiap-siap untuk bepergian dulu ya, Mbak Mira. Semoga saat kembali pulang nanti saya sudah mendapatkan kabar baiknya. Assalamu'alaikum," ujar Hanifah mengakhiri teleponnya.
"Iya, Ust. Aamiin, wa'alaikumussalam."
Sambungan terputus.
Mira merasa sangat lega seusai berbicara dengan ustadzah Hanifah. Saat ini dia merasa beban pikirannya seolah menguar dan terganti dengan kemantapan hati. Dan pilihannya telah jatuh pada Dipa.
"Bismillah, ya Allah. Semoga kali ini dialah jodohku. Aku akan mengatakan kepada Jona jika aku tidak bisa menerima lamarannya," gumam Mira dalam do'anya.
Kemudian Mira menelepon mamanya untuk meminta tolong dicarikan cincinnya yang hilang, agar dapat segera mengembalikannya kepada Jona.
Jam sudah menunjukkan waktunya salat dhuhur. Mira bergegas melaksanakan salat di mushola ruko. Seusai melaksanakan salat, Mira, Gina dan Sesha berniat makan siang bersama di resto bunda Maya. Saat sedang berjalan tiba-tiba handphone Mira bergetar.
__ADS_1
Drrtt drrtt drrtt.
Mira menghentikan langkahnya dan mengambil handphone yang berada di dalam saku gamisnya. Saat melihat pada layar handphonenya tertera notifikasi pesan masuk dari Dipa. Mira agak terkejut mendapati pesan dari Dipa, dengan segera dia membukanya.
✉️ Dipa.
Assalamu'alaikum, Mira.
Insyaallah nanti ba'da salat isya' aku akan berkunjung ke rumahmu bersama orang tuaku.
Entah mengapa seusai membaca pesan dari Dipa tersebut, Mira merasa hatinya menghangat seolah mendapat pesan dari pacar.
Mira tersenyum sembari memandangi handphone di tangan.
Gina yang melihat hal itu lantas menegurnya.
"Cie, Mbak Mira ... baca pesan sambil senyum-senyum sendiri. Dapat pesan dari mas Jonathan, ya?" tanya Gina ingin tahu.
"Eh, sok tahu kamu, Gin. Yuk buruan ke resto bunda!" tutur Mira sembari memasukkan handphone ke dalam sakunya, tanpa sempat membalasnya terlebih dahulu dan bergegas menuju ke dalam resto bunda Maya.
****
Di tempat lain.
Dipa mengernyit heran saat mendapati pesannya terbaca oleh Mira, namun dia tidak mendapatkan balasannya.
"Sudah centang dua, kenapa Mira tidak membalas pesanku? apa dia sedang sibuk?" gumam Dipa sendiri.
..._____________Ney-nna____________...
Assalamu'alaikum,
Neyna mohon bantuannya kepada reader's yang membaca karya ini. Tolong bantuannya untuk memberikan rate 5 pada karya neyna, jika tidak berkenan untuk melanjutkan membaca tidak apa-apa, mungkin cerita neyna kurang menarik, tapi neyna mohon jangan memberikan rate buruk pada karya ini.
Buat yang sudah mendukung karya ini saya ucapkan banyak terima kasih, Jika tanpa sengaja neyna membuat tidak nyaman dengan alur ceritanya neyna mohon maaf 🙏🙏🙏
Terbuka untuk kritik dan sarannya, silahkan tulis di kolom komentar atau PC author, semoga kedepannya neyna bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan neyna agar tidak terulang lagi.
__ADS_1
Salam sayang dari author,
Neyna 🙏💕💕