Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Datang Kembali


__ADS_3

Seusai mengurus administrasi di kasa rumah sakit, lantas Reza berniat kembali ke kamar di mana istrinya di rawat. Saat hendak membuka pintu kamar, pintu membentur sesuatu, Reza terkejut rupanya Reyna sedang berdiri tak jauh dari pintu.


"Aww...Papiii!" pekik Reyna saat menoleh kebelakang, terkejut karena bahunya terdorong oleh pintu.


"Ehh....Reyna, maaf-maaf Papi nggak tau kalau kamu berdiri di depan pintu," ujar Reza yang sama kagetnya.


Seketika hal itu membuat Rangga menoleh ke arah belakang, sedangkan Lena, matanya menatap tajam ke arah Reyna yang baru dilihatnya.


Kok dia bisa di sini! batin Lena kesal.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Rangga.


Lena melihat ke arah Rangga dan Reyna bergantian, melihat dari interaksi putranya terhadap Reyna sebaik itu, artinya mereka sudah berbaikan.


"Emm...aku nggak apa-apa kok, By!" ucap Reyna dengan tersenyum kemudian melirik ke arah mami. Reyna kemudian menyalami papi.


"Reyna kamu ternyata juga ikut pulang ke Solo?" tanya papi.


"Reyna sejak tiga hari yang lalu sudah berada di Solo, Pi!" jawab Reyna sambil melirik ke arah mami.


"Lhoh, trus kamu tinggal dimana? Kenapa dari kemarin gak pulang ke rumah?" tanya papi heran.


Dari raut mukanya, Reyna bisa melihat ada kekhawatiran dan kebencian di mata ibu mertuanya.


"Ceritanya panjang, Pi. Beberapa hari yang lalu paman Reyna meninggal, kemudian Reyna pulang ke Jogja, hal itu menimbulkan kesalahpahaman antara Reyna dan Rangga. Nenek memberitahu jika Rangga pulang ke Solo, akhirnya Reyna menyusulnya ke Solo. Sampai di stasiun Solo, Reyna kecopetan dan kaki Reyna terkilir. Sampai akhirnya ada seorang dokter yang menolong Reyna hingga Reyna di beri tumpangan untuk menginap di klinik kesehatan miliknya," cerita Reyna panjang lebar.


"Ya Allah Reyna, Papi nggak nyangka kamu menghadapi banyak hal kemaren, Tapi sekarang sudah sembuh kan? Rangga gimana sih kemaren pasti salah komunikasi langsung ngambek ya? Kebiasaan kamu tuh!" omel Papi sambil melihat ke arah Rangga.


"Papi nih, orang udah baikan juga jangan di provokasi lagi dong, Rangga kan juga sudah minta maaf!" ucap Rangga sambil cemberut, "Sini, Sayang!" Rangga mengulurkan tangannya agar Reyna mendekat.


"Ahh kamu itu musti belajar dari kesalahan, jangan sampai terulang lagi!" peringatan Papi.


Reyna akhirnya mengikuti ajakan suaminya untuk mendekat ke tempat tidur Mami.


"Assalamu'alaikum, Mi. Maafkan Reyna datang kembali ya, Mi," bisik Reyna di telinga mami saat memeluk ibu mertuanya itu.


Mami terhenyak dengan kata-kata Reyna di telinganya. Ia teringat akan apa yang ia katakan saat mengusir Reyna dari rumah. Dia memang mengatakan agar Reyna tidak lagi datang di keluarga ini. Lena bertanya-tanya mengapa Reyna tidak menceritakan hal itu kepada suaminya, dan sepertinya Rangga pun tidak tau. Karena jika Rangga tahu pasti lah ia akan marah kepadanya. Begitu juga dengan suaminya. Lena bersyukur Reyna menyembunyikan hal itu. Hanya saja ia tetap waspada, bisa jadi Reyna sedang merencanakan sesuatu untuk membalasnya.


"Dimana yang terluka, Mi?" tanya Reyna.


"Emm...tangan Mami patah, harus operasi," Lena mencoba untuk tetap bersikap baik di depan yang lain.


"Operasinya kapan, Mi?" tanya Rangga.


"Besok, Ga. Kamu harus nemenin Mami ya. Mami takut, Ga," Rengek Mami.


"Pasti, Mi. Rangga besok temenin Mami di sini. Oya, Mih, Reyna sekarang sedang hamil. Bentar lagi Mami dan Papi akan punya cucu lagi dari kami," ujar Rangga penuh semangat.


Seketika mata Lena membulat karena terkejut.


Bagaimana bisa hamil? Bukannya sudah aku beri pil KB! batin Lena kaget.


"Wahh selamat ya Reyna, jaga kandungan kamu baik-baik! Rangga kamu harus semakin dewasa untuk membimbing anak kamu nantinya!" ujar Papi.

__ADS_1


"Iya, Pi. Rangga akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak Rangga," ucapnya sambil merangkul bahu Reyna.


Tok...tok...tok...


Pintu terbuka menampakkan Windy datang bersama suami dan anaknya.


"Oma...Oma...! Mommy bilang, Oma sakit?" Chaca berlari menghampiri omanya.


"Ya Allah, Mi. Kok bisa kaya gini gimana ceritanya?" Windy nampak khawatir melihat tangan kanan maminya terlilit perban elastis berwarna coklat.


Lena menceritakan kejadian yang menimpanya tadi pagi. Tak berapa lama terdengar kumandang adzan dhuhur.


"Win, kamu ikut Papi pulang buat siapin kebutuhan Mami. Kamu pasti jauh lebih mengerti yang musti di bawa apa aja ketimbang Papi," titah Reza kepada Windy, "Kunci mobil mana, Ga?" Reza mengulurkan tangannya kepada Rangga.


"Ini, Pi!" Rangga menyerahkan kunci yang diambil dari saku celananya.


"Ayo, Win!" Windy hendak beranjak mengikuti papi.


"Opa, Chaca ikuut...!" rengek Chaca.


"Ya udah ayok, buruan! Mih, Windy pergi dulu ya? pamitnya pada mami.


"Iya, hati-hati di jalan!" ucap Mami.


"Ga, kita sholat dulu yuk!" ajak Dino kakak Ipar Rangga.


"Iya, Kak. Sayang aku tinggal sholat bentar yah?" pamitnya pada Reyna. Reyna mengangguk. Akhirnya hanya tersisa Reyna dan Lena di ruangan tersebut.


Tak berapa lama ada soarang perawat mengantar makan siang untuk pasien. Reyna menerimanya.


"Gak usah, Mami bisa makan sendiri!" ujar Lena. Reyna akhirnya menurut saja, ia akan tetap bersabar dengan perlakuan mami.


"Reyna bantu ya, Mi," Reyna membantu Lena untuk duduk namun tidak di tolak karena Lena memang kesulitan untuk bangun.


Karena yang sakit tangan kanan, akhirnya Lena makan dengan tangan kiri. Namun karena sejatinya ia bukan kidal maka cukup sulit melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Lena kesulitan untuk memotong lauk pauknya. Reyna yang menyaksikan kemudian berniat membantu.


"Mi, tolong ijinkan Reyna yang menyuapi Mami ya?" pinta Reyna.


Lena kemudian mengangguk karena ia memang kesulitan, lalu ia berikan sendoknya pada Reyna. Reyna dengan telaten menyuap makanan untuk ibu mertuanya itu.


"Em...kenapa kamu tidak mengadukan soal aku yang sudah mengusir kamu dari rumah, pada Rangga dan Papi?" tanya Lena.


"Untuk apa, Mi? Reyna tidak ingin bermusuhan dengan Mami. Reyna kan sudah bilang akan membuktikan bahwa Reyna tidak seperti yang Mami tuduhkan waktu itu. Karena itu Reyna kembali, hanya demi keutuhan pernikahan Reyna. Reyna mohon Mami percaya pada Reyna bahwa Reyna tulus mencintai Rangga, Mi. Reyna bersumpah demi anak yang ada dalam rahim Reyna, Reyna tidak punya maksud buruk terhadap keluarga ini, Mi!" ujar Reyna memastikan.


Dari ucapannya, sepertinya dia sungguh-sungguh. Jika ia berniat buruk, seharusnya tadi adalah kesempatan baginya untuk menjelek-jelekkan aku di mata Rangga dan suamiku. Apa Putri yang selama ini memanfaatkan ku untuk menghancurkan pernikahan Rangga dengan Reyna? Ah masa iya Putri bahkan sangat baik sebelum ini! batin Lena.


"Emm...baik lah, Mami akan melihat kesungguhanmu!" ujar Lena, sesungguhnya ia sangat beruntung Reyna tidak memberitahukan tindakannya yang kasar pada waktu itu. Namun, untuk meminta maaf dan berterima kasih sangat sulit baginya. Ia teramat gengsi.


"Terima kasih, Mi!" ucap Reyna. Mami mengangguk.


Waktu cepat berlalu, malam ini Windi dan Papi yang akan menjaga Mami. Dino pulang bersama Chaca karena besok Chaca harus tetap sekolah dan Dino harus kerja. Reyna dan Rangga juga pulang atas perintah Papi.


****

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Reyna sedang membuat susu di dapur. Sepulang dari rumah sakit ia tadi sempat mampir untuk membeli susu ibu hamil atas saran Windy.


"Udah bikin susu ya, pada hal tadi mau aku buatin, Sayang!" ucap Rangga sambil memeluk Reyna dari belakang kepalanya bersandar pada bahu Reyna.


"Boleh deh, kalau gitu besok-besok kamu yang buatkan, By!" ini yang paling Reyna suka dari Rangga. Ia sangat perhatian.


Reyna meneguk susu ibu hamil dengan rasa coklat sampai habis tak bersisa. Rangga kemudian membalikkan tubuh Reyna menjadi berhadap-hadapan.


"Gampang itu, sih! Sekarang gantian, Sayang. Aku juga mau nyusu!" ujar Rangga dengan senyum nakalnya semakin mendekat hingga Reyna semakin menempel pada sisi dapur.


"Mau, aku buatin susu juga? Ya udah aku buatin dulu!" ujar Reyna hendak beranjak membuat susu untuk suaminya. Namun, langkahnya di tahan oleh Rangga.


"Eiitzz, mau kemana!" tanya Rangga.


"Katanya mau susu!" ujar Reyna bingung.


"Susunya sudah ready di sini, Sayang!" bisik Rangga di telinga Reyna sambil menyusuri leher Reyna yang masih tertutup hijab.


"Ishhh...geli tau, By!" Reyna mencengkeram pinggang Rangga ketika Rangga terus bermain di lehernya.


Reyna mulai menyadari yang di maksud oleh suaminya kalau sudah menempel begini. Rangga hendak mencium bibir Reyna ketika tiba-tiba terdengar suara.


Ngiiiik...!


Reyna langsung mendorong tubuh Rangga yang berada di depannya saat terlihat mbak Siti masuk ke dalam dapur.


"Ehh, Mbak Reyna sama mas Rangga mau minum ato makan, biar saya buatin?" tanya mbak Siti.


"Emm...ini Mbak. Tadi abis bikin susu, nih udah habis!" Reyna menunjukkan gelas bekas minum susunya tadi yang sudah kosong.


"Ohh...ya sudah, saya mau ambil botol air putih saya, Mbak. Buat jaga-jaga nanti malam kalau haus. Nih, botolnya, saya balik ke kamar dulu ya, Mbak, Mas!" ujarnya sambil keluar meninggalkan dapur. Reyna mengangguk.


Sepeninggal mbak Siti Rangga kembali menempel pada Reyna.


"Aishh...malah di lanjut lagi sih, By!" Reyna menahan dada Rangga agar sedikit memberi ruang untuk Reyna bergerak.


"Aku sudah seminggu nggak nyusu, Sayang. Gimana mau pinter, kalau di tahan terus!" ujar Rangga.


"Hhhhaha....ngomong apa sih, By kamu ni. Ayo, ah kita ke kamar. Malu ntar kalau ada yang lihat!" Reyna beranjak dari dapur sambil menggenggam tangan Rangga.


"Yes, kita lanjut ngamar kalau gitu!" saking senangnya Rangga langsung menggendong tubuh Reyna ala bridal style.


"Ehh...turunin dong, By! Aku jalan sendiri aja!" ujar Reyna kaget, reflek tangannya melingkar di leher Rangga.


"Diem, Sayang. Semakin bawel, bibir kamu semakin menggoda!" ujar Rangga sembari menaiki tangga.


Reyna akhirnya diam agar tidak terdengar oleh mbak Siti. Malu juga kalau sampai dilihat lagi gendong-gendongan begini. Sesampainya di depan kamar Rangga meminta Reyna memutar knop pintu, begitu pintu terbuka dan mereka masuk Rangga kemudian menutup pintu dengan tendangan di kakinya.


Rangga menjatuhkan Reyna di atas ranjang kemudian berdo'a sembari melepas hijab yang Reyna kenakan. Tanpa aba-aba Rangga langsung mengungkung Reyna di bawah tubuhnya, kedua tangannya menahan bobot tubuhnya sebagai penyangga. Diciumnya bibir istrinya yang sudah berhari-hari tak dijamah olehnya. Rangga beralih menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Reyna sembari membuka kancing piama yang di kenakan istrinya. Permainannya semakin panas untuk melepas kerinduan yang sempat tertahan. Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari bibir Reyna menambah gairah Rangga semakin besar. Ia buang satu persatu kain yang menutupi tubuh mereka ke sembarang arah sembari menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya yang sudah menjadi candu untuknya. Kali ini Rangga sangat bahagia bisa menuntaskan hasratnya, bagaikan kucing yang kelaparan mendapat mangsa ikan segar. Malam ini ia lakukan berulang-ulang sampai keduanya terkapar kelelahan.


❤️❤️❤️


Jangan lupa like --> Comment --> Vote --> follow author.

__ADS_1


Salam hangat,


Neyna


__ADS_2