Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kecurigaan Abiyu


__ADS_3

Reyna mengetuk pintu ruangan yang sudah terbuka sebagian. Nampak dr.Arif sedang duduk bersandar di sandaran kursinya, sembari memejamkan mata. Harusnya saat ini memang beliau sudah beristirahat, namun terurung karena harus memeriksa Reyna, setelah membuat janji di jam usai praktik.


"Assalamu'alaikum, Dok!" ucap Reyna dengan berdiri di ambang pintu menunggu dipersilakan masuk oleh pemilik klinik.


"Wa'alaikumussalam, silakan masuk, Reyn!" ujar dr.Arif sembari tersenyum ramah menyambut kedatangan Reyna.


Reyna masuk ke dalam kemudian duduk di hadapan dr.Arif. Beberapa waktu berlalu atas pemeriksaan yang dilakukan oleh dr. Arif. Kemudian, dr.Arif menyiapkan beberapa obat sendiri karena apotekernya sudah pulang. Arif memberikan sejumlah obat yang harus dikonsumsi oleh Reyna, tentunya yang aman di konsumsi untuk ibu hamil.


"Dokter apa ada harapan suatu saat ingatan saya akan kembali lagi?" tanya Reyna pada dokter Arif di sela-sela menunggu obat.


"Kemungkinan untuk sembuh secara total sangat kecil Reyna, menilik dari cedera yang mengenai otakmu cukup parah. Kemungkinan bisa sembilan bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mengembalikan ingatan di masa Lalumu. Tapi, mungkin sedikit demi sedikit akan ada ingatanmu yang kembali dengan bantuan orang-orang terdekatmu yang selama ini mendampingimu, seperti keluarga, teman, dan kerabat dekat misalnya. Juga dengan melihat fotomu di masa lalu, atau mendatangi tempat-tempat yang memiliki kisah emosional yang berkaitan dengan memory di masa lalu," tutur dr.Arif panjang lebar.


"Reyna, kamu harus melakukan terapi dengan seorang psikiater untuk mengembalikan ingatanmu. Meskipun dengan terapi sekalipun juga cukup sulit, setidaknya itu perlu dicoba dengan harapan kamu akan lekas pulih usai melakukan terapi!" tutur dr.Arif menambahkan.


"Saya tidak memiliki uang untuk mendatangi seorang psikiater, Dok. Saya bisa berobat pada anda saja, hal ini karena kemurahan hati anda dan pihak ponpes yang telah membantu membiayai pengobatan saya. Hingga mempertemukan saya dengan salah satu donatur ponpes yang baik hati hingga berkenan mengobati saya tanpa imbalan uang sepeser pun," tutur Reyna mengingat jasa-jasa dr.Arif dan pihak yayasan ponpes yang selama ini selalu membantunya untuk sembuh dari sakitnya.


Pengobatan dengan seorang psikiater tentunya bukan hal yang dapat dijangkaunya. Karena, dia tidak mempunyai penghasilan apa pun. Sedangkan hal itu pastinya membutuhkan biaya yang cukup mahal. Selama ini dia sudah terlalu banyak merepotkan pihak ponpes. Dari biaya rumah sakitnya saat Reyna pertama kali ditemukan, biaya pemeriksaan ke dokter kandungan, biaya operasi di kepalanya, biaya pemulihan untuk luka-luka di tubuhnya, dan biaya hidup selama tinggal di ponpes hingga tiga bulan lamanya. Jika di total berapa ratus juta saja biaya hidupnya selama tiga bulan di ponpes, tentu hal itu telah menghabiskan banyak sekali uang. Tidak mungkin baginya untuk menambah lagi beban hidup dengan meminta membiayai terapinya pada seorang psikiater.


Bahkan untuk biaya pengobatan di klinik dr.Arif selama ini adalah kemurahan hati darinya. Sejak pertama kali Reyna telah ditangani oleh dr.Arif saat di rumah sakit. Sehingga dr. Arif mengetahui riwayat medis sejak pertama kali Reyna di bawa ke rumah sakit oleh Fadhil. Rasa empati membuatnya memberikan pengobatan gratis untuk Reyna.


"Reyna, aku bisa membantumu, kamu bisa berobat ke salah satu rekan kerjaku jika kamu mau, dan aku yang akan membayar semua biayanya," ujar dr Arif dengan sungguh-sungguh.


"Dokter, biayanya sangat mahal bukan? Untuk apa anda menghabiskan banyak uang hanya untuk menolong saya?" Reyna merasa heran karena dr.Arif bersikeras untuk membiayai pengobatannya, bahkan meski tidak ada hubungan apa pun diantara mereka.


Arif tidak segera menjawab. Dia melihat ke arah Reyna dengan pandangannya yang lekat. Sembari menyusun kalimat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya yang sesungguhnya terhadap Reyna. Sudah sejak lama Arif menyimpan rasa pada Reyna. Dan, baru kini dirasa waktu yang tepat untuk mengutarakan niatannya.


Merasa diperhatikan oleh lawan jenis hingga seintens itu membuat Reyna segera memalingkan wajahnya ke samping. Reyna menangkap ada kejanggalan dari sikap dr. Arif kali ini kepadanya, sesuatu yang lain selain rasa simpati dari seorang dokter dengan pasiennya.


Melihat Reyna seperti merasa tidak nyaman, Arif menurunkan pandangannya. "Maaf, Reyna. Jujur saja selama ini aku menolongmu dengan ikhlas, namun lambat-laun perasaan ini tumbuh menjadi perasaan yang lebih terhadapmu. Aku peduli padamu, aku menyayangimu, aku ingin menolong dan melindungimu dengan sepenuh hatiku. Jika kamu bersedia, aku ingin mengkhitbahmu, seusai kamu melahirkan nanti," tutur dr.Arif dengan keyakinan di hatinya.


🎢🎢


I see your monsters


I see your pain


Tell me your problems


I'll chase them away


I'll be your lighthouse


I'll make it okay


When I see your monsters


I'll stand there so brave


And chase them all away


In the dark we we


We stand apart we we

__ADS_1


Never see that the things that we need are staring right at us


You just want to hide hide hide


Hide never show your smile smile


Stand alone when you need someone it's the hardest thing of all


That you see are the bad bad bad


Bad memories take your time and you'll find me


by Katie Sky


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sementara Abiyu merasa resah saat menunggu cukup lama di ruang tunggu. Dia ingin sekali menerobos masuk ke dalam ruang praktik. Tapi, perawat yang berada di front office selalu saja mengawasinya.


Sedangkan di ruang praktik, Reyna merasa sangat terkejut dengan perkataan dr.Arif kepadanya. Meskipun selama ini dr. Arif sangat baik kepadanya, namun Reyna tidak memiliki perasaan yang lebih kepada dr.Arif. Dan, saat ini situasinya menjadi semakin canggung setelah dr.Arif mengungkapkan isi hatinya kepada Reyna.


Meskipun Reyna sudah berhutang budi cukup banyak kepada dr.Arif. Namun, Reyna juga tidak mau memberi harapan apapun di saat keadaannya pun sedang tidak baik. Reyna memutar otak, untuk memberi alasan yang tepat agar dr. Arif tidak berharap lagi padanya. Namun, juga tidak menyakiti perasaannya.


"Maaf Dokter, saya rasa itu tidak akan adil buat anda. Jika saya menjalani terapi, kemudian ingatan saya kembali, bagaimana jika saya mengingat kepada seseorang yang saya cintai misalnya suami saya? Dan, ketika saya kembali kepada keluarga saya sebelum saya menikah dengan anda, bukankah hal itu akan sia-sia saja untuk anda? Saya merasa tidak pantas untuk di cintai atau pun mencintai. Saya hanya ingin suatu saat bisa memunculkan ingatan saya agar semua jelas. Saya permisi pulang, Dok. Terima kasih atas kebaikan anda selama ini!" ujar Reyna kemudian beranjak berdiri.


"Reyna, bagaimana jika suamimu yang telah membuangmu?" pertanyaan dr.Arif menghentikan langkahnya yang sudah hendak pergi dari ruangan ini.


Reyna menoleh ke belakang sembari berkata, "Jika benar begitu, lebih baik saya hidup sendiri dengan anak yang ada di dalam kandungan saya, Dok!" ujarnya sendu, kemudian melanjutkan langkahnya ke luar ruangan.


"Apa pemeriksaannya sudah selesai?" tanya Abiyu kepada Reyna.


Reyna memandang ke arah Abiyu dengan terkejut, sebab dia pikir laki-laki yang tadi mengantarnya sudah pilang, ternyata masih berada di klinik ini dan menunggunya.


"Anda menunggu saya? Bukankah seharusnya anda sudah pulang dari tadi?" tanya Reyna dengan memandang heran ke arah Abiyu.


"Ada barang saya yang tertinggal di ponpes, saya harus mengambilnya karena barang itu cukup penting. Karena itu lah saya berada di sini, sekalian menunggu anda untuk kembali bersama," kilah Abiyu beralasan.


"Oh, begitu. Maaf membuat anda menunggu lama," ujar Reyna merasa sungkan karena sudah merepotkan.


"Tidak masalah, mari kita ke luar!" ujar Abiyu yang tidak merasa direpotkan oleh Reyna.


Reyna mengikuti langkah Abiyu dari belakang. Dan, tanpa mereka sadari, sedari tadi dr.Arif melihat interaksi antara keduanya.


Setelah kepergian mereka dr.Arif bertanya kepada asistennya. "Mbak, laki-laki yang barusan itu siapa?" tanya dr.Arif.e


"Katanya yang mengantar Mbak Reyna, Dok. Sepertinya barusan juga pulang bersama!" ujar asistennya.


Mendengar hal itu, Arif terdiam dengan pikirannya sendiri.


...****...


Setelah beberapa saat berlalu dengan hening akhirnya mereka telah sampai di pondok pesantren.


"Sekali lagi terima kasih atas tumpangannya! Saya permisi," ucap Reyna kemudian membuka pintu mobil.

__ADS_1


Segera Abiyu menghentikan langkah Reyna. "Tunggu!" pekiknya kepada Reyna. "Kalau saya boleh tahu anda sakit apa?" tanya Abiyu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu hingga harus mendatangi dokter spesialis penyakit saraf.


"Saya mengalami cidera di bagian otak," jawab Reyna singkat. "Assalamu'alaikum!" ucap Reyna segera mengakhiri obrolan karena merasa tidak diketahui tentang keadaan dirinya dan dikasihani. Selesai berucap Reyna segera turun dari mobil Abiyu.


"Wa'alaikumussalam!" jawab Abiyu entah didengar atau tidak karena langkah Reyna sangat cepat hingga jarak mereka semakin jauh.


Abiyu memandangi kepergian wanita itu hingga menghilang dari pandangan. Ingin rasanya Abiyu melayangkan beberapa pertanyaan lagi untuk mengorek informasi tentang wanita tadi. Tapi sepertinya sulit karena wanita itu selalu terburu-buru menyudahi obrolan.


Cedera otak!? Kedengarannya itu cukup serius. Aku semakin penasaran dengan wanita itu! Apa hal itu ada kaitannya dengan sebuah ingatan? Naluriku mengatakan jika wanita itu adalah Reyna. Dan aku berharap kecurigaanku benar. Berikan aku petunjuk ya Allah! batin Abiyu sendu.


Akhirnya Abiyu kembali ke ruangan kantor ustadz Maulana dan meminta waktu untuk dipertemukan kembali dengan Lala dengan alasan ingin bertemu karena ada pesan penting yang harus disampaikan sebelum dia kembali ke Yogyakarta. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Lala datang menemui Abiyu.


"Ada apa, Mas? Dari tadi Mas Abi belum pulang?" tanya Lala yang merasa heran saat diberi tahu ada yang penting hingga Abiyu meminta bertemu kembali.


"Iya, La. Tolong kamu kamu cari tahu tentang wanita yang tadi mengantarkan minuman ke kantor. Aku merasa dia ada--," ujar Abiyu terpotong.


"Adalah mbak Reyna!?" sergah Lala dengan cepat.


"Kamu juga merasa dia adalah Reyna, La?" tanya Abiyu terkejut jika perkiraan mereka sama.


"Benar, Mas. Suaranya mirip sekali terlebih namanya sama. Tapi kenapa jika mbak Reyna, dia tidak mengenali kita, Mas?" Lala merasa bingung dengan hal itu.


"Aku merasa ada sesuatu yang terjadi padanya, dia memiliki masalah dengan syaraf otaknya. Aku akan cari tahu tentang hal itu. Dan, tolong kamu pastikan wajahnya, La. Cari cara agar kamu bisa melihatnya saat membuka cadarnya. Cari tahu sebanyak mungkin informasi tentang dia. Sementara aku akan mencari penginapan di sekitar sini. Jika benar dia adalah Reyna segera kabari aku, La!" tutur Abiyu, kemudian mengungkapkan rencananya.


"Hape Lala di kumpulkan ke ustadzah, Mas. Lala gak bisa pegang handphone selama kegiatan berlangsung!" tutur Lala.


"Astaghfirullah!" Abiyu mengusap kasar mukanya.


"Aku akan mencari cara besok untuk bisa menemuimu lagi atau jika benar itu Reyna katakan saja yang sesungguhnya pada ustadz Fadhil dan mintalah dia untuk menghubungi aku!"


"Baik, Mas. Semoga saja benar mbak Reyna ya, Mas!" Lala berharap ini adalah jalan untuk menemukan Reyna setelah sekian lama hilang bak di telan bumi.


"Aamiin. Sekarang kamu kembalilah ke dalam ... ustadzahmu sudah menunggu, di belakang!" tutur Abiyu saat melihat ustadzah Lala memperhatikan mereka yang sedang mengobrol.


"Oh, oke, Mas. Aku masuk dulu, ya? Mas Abi hati-hati di jalan! Assalamu'alaikum," tutur Lala kemudian berbalik setelah Abiyu menjawab salamnya.


Lala berjalan bersama dengan ustadzah Vinda untuk kembali ke pondok putri. Disela-sela berjalan mereka berbicara.


"La, kedepannya jangan terlalu banyak ijin untuk bertemu wali murid, ya? Di sini itu harapannya kamu bisa fokus belajar dan mandiri. Kalau ditengok terus ... sama kaya anak TK bukan? Ustadzah cuma mau ngingetin aja nih, La. Dari pada kamu di tegur sama Ust. Maulana sendiri, bisa kena hukuman nanti," tutur ustadzah Vinda memperingati.


"Iya, Ust. Maaf," jawab Lala singkat.


Tidak terasa langkah mereka sudah sampai di pondok putri. Setelah sampai di persimpangan ustadzah Vinda dan Lala berpisah pada arah dan tujuannya masing-masing. Tapi, tiba-tiba ust Vinda berbalik.


"Nah, buruan antri mandi sana, La. Keburu maghrib ntar," ujar Vinda kemudian melanjutkan perjalanan menuju messnya.


"Baik, Ust," seru Lala menjawab perintah dari ustadzah Vinda, kemudian menuju kamarnya.


Lala mengambil perlengkapan mandi dan baju gantinya, kemudian dia ke luar dari kamarnya menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi masih ada empat orang santriwati yang berjajar mengantre di depan pintu. Itu artinya Lala harus sabar menunggu entah berapa puluh menit kemudian atau bahkan satu jam lamanya.


Ya ampun, aku melupakan hal ini saat mencari informasi tentang kebiasaan tinggal di pondok pesantren. Gimana misal aku sudah tidak tahan ingin kebelakang, ya? Beri hambamu ini kekuatan dan kesabaran untuk mengantre mandi setiap harinya ya Allah! batin Lala sembari menekan pelipisnya yang berdenyut.


__________________Ney-nna_________________

__ADS_1


__ADS_2