Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Mirip


__ADS_3

Pemuda itu menatap lekat ke arah Reyna. Reyna merasa kurang nyaman diperhatikan dengan intens oleh seorang laki-laki di depannya, apa lagi yang baru di kenalnya. Tiba-tiba ada seorang satpam yang mendekat.


"Ada apa ini?" suara lantang satpam bertubuh besar itu membuyarkan lamunan laki-laki itu.


"Pak, adakah cctv di dalam masjid?"


"Saya tadi sedang sholat, tiba-tiba ada yang mengambil tas saya," ungkap Reyna.


"Wah, ini pasti ulah anak itu lagi!"


"Saya akan melihatnya dari tayangan cctv. Mohon tunggu sebentar," satpam itu beranjak pergi.


"Terima kasih sudah menolong saya," ucap Reyna pada laki-laki di depannya yang masih dengan telaten mengompres kaki Reyna.


"Nama saya Dimas, saya seorang dokter di rumah sakit umum yang tidak jauh dari sini. Apakah ada keluhan lain selain di bagian kaki?" tanya dokter itu setelah menunjukkan name tagnya.


"Oh, terima kasih, Dok. Saya sedang hamil, Dok. Apakah terjatuh akan mempengaruhi kehamilan saya?" tanya Reyna.


"Berapa usia kandungannya?" tanya Dimas.


"Kurang lebih satu bulanan, saya belum memeriksakan untuk Usg," ucap Reyna.


"Emm, baru satu bulanan yah. Sepertinya tidak akan mempengaruhi janin karena usianya masih terbilang sangat muda. Tetapi ada baiknya dilakukan Usg untuk mengetahui lebih detailnya kondisi kandungan kamu" ungkap Dimas.


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Reyna.


"Sebaiknya kamu menghubungi keluarga kamu untuk datang kemari. Kamu akan kesulitan berjalan untuk beberapa hari. Sebaiknya tidak banyak berjalan karena semakin banyak pergerakan pada kaki, akan menimbulkan bengkak pada bagian kaki yang terkilir," tutur Dimas.


"Handphone saya hilang beserta uang dan semua data diri yang berada di dalam tas yang di curi. Saya tinggal di Jakarta, saya hanya singgah sebentar di sini," ungkap Reyna.


Ia tidak mungkin menceritakan bahwa ia habis di usir dari rumah mertuanya, apa lagi di depan banyak orang seperti saat ini.


"Dengan kondisi seperti ini kamu nggak akan bisa pulang ke Jakarta. Begini saja, saya akan membawa kamu ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengecek keadaan kandungan kamu. Nanti kita pikirkan lagi jalan keluarnya," usul Dimas.


"Baik, Dokter. Terima kasih karena sudah membantu saya," ucap Reyna. Dimas mengangguk.


"Sebentar, satpamnya tadi mana?" tanya Dimas pada orang-orang yang masih ada di sekitaran.


Terlihat dari kejauhan satpam yang tadi berlari mendekat.


"Itu dia satpamnya, Dok!" ujar seorang laki-laki menunjuk ke arah satpam yang datang.


"Maaf agak lama, setelah saya cek dari kamera cctv, terlihat bahwa ada dua orang yang bekerja sama mengambil tas anda, satu orang dewasa yang memerintah dan yang satu anak-anak seperti dugaan saya tadi. Saya sudah pernah menangkap anak ini, rupanya mulai berulah lagi. Nanti akan kita cari mereka, rumahnya masih di sekitar sini. Biasanya tasnya di buang di sekitaran stasiun. Nanti akan kita kerahkan petugas untuk menyisir lokasi," ujar satpam itu kepada Reyna dan Dimas.


"Ini, kartu nama saya. Tolong kabari jika ada info terkait dengan barang-barangnya yang hilang," ujar Dimas sambil mengulurkan kartu nama kepada satpam tersebut.


"Baik, begitu ada temuan saya akan segera mengabari anda dr.Dimas," ucap satpam itu setelah membaca kartu nama di tangannya.


"Oke, saya tunggu kabar dari anda!" pandangannya beralih menoleh pada Reyna,


"Mari saya antar ke rumah sakit," tawar Dimas. Reyna pun mengangguk.


Dengan perlahan Reyna berdiri kemudian berjalan dengan hati-hati dan terpincang-pincang menahan sakit. Dimas membawa koper Reyna. Ibu-ibu yang tadi kemudian memapah Reyna berjalan.


"Berhenti di sini, saya akan bawa mobilnya ke sini agar kamu tidak terlalu jauh berjalan," ujar Dimas kemudian berlari ke tempat parkir mobil.

__ADS_1


Tidak sampai sepuluh menit akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit umum di mana dr.Dimas bekerja. Dimas keluar dari mobil kemudian berjalan memutar mengambil kursi roda yang sudah tersedia di depan untuk Reyna.


"Ayo turun!" ucapnya saat membukakan pintu mobil untuk Reyna. Ia ulurkan tangan untuk membantu Reyna turun. Reyna menyambutnya kemudian ia duduk di kursi roda.


"Sampai lupa, nama kamu siapa?" tanya Dimas.


"Reyna, Dok," Dimas mengangguk kemudian mendorong Reyna masuk ke dalam UGD.


"Lhoh, dr. Dimas, kenapa kembali lagi?" tanya dokter jaga yang bernama Lisa. Setau dia dr. Dimas tadi sudah pulang karena jam kerjanya sudah berakhir.


Dimas sebenarnya tadi sedang mengantarkan temannya yang hendak pulang ke kampung halaman. Saat temannya sudah masuk ke peron ia memutuskan akan pulang sampai akhirnya melihat Reyna dalam kerumunan.


"Iya, tolong perban kakinya, yang sebelah kanan terkilir," Dimas menunjuk ke arah kaki kanan Reyna.


"Baik, Dok!" jawab Lisa.


"Reyna, saya tinggal sebentar ke Poli Obgyn supaya kamu bisa segera di periksa" ujar Dimas.


Reyna mengangguk. Ia cukup kagum dengan dr.Dimas yang dengan cekatan mengurusnya.


Lisa sempat terbengong melihat perhatian dr.Dimas terhadap Reyna. Baru sekali ini dr. Dimas terlihat perhatian dengan perempuan. Semenjak istrinya meninggal karena kecelakaan dan sedang mengandung bakal anak ke dua mereka, dr.Dimas berubah menjadi dingin terhadap rekan perempuan dan sangat tertutup.


Siapa wanita ini, sampai dr.Dimas bisa sepeduli ini! gumam Lisa.


Sepeninggal Dimas, Lisa kemudian memakaikan perban pada kaki Reyna yang terkilir.


"Mbak, saudara dr.Dimas ya?" tanya Lisa.


Reyna menggeleng, "Bukan, Dok."


"Bukan juga, Dok. Saya baru saja kenal, Dr.Dimas yang menolong saya saat saya sedang tertimpa musibah di stasiun," ungkap Reyna.


"Baru saja kenal? Benarkah?!" Lisa sangat terkejut.


Reyna dengan perlahan mengangguk, ia bingung mendapati Lisa yang seakan tidak percaya kepada ucapannya. Lisa terlihat geleng-geleng kepala.


"Ckckck..!" Lisa berdecak.


"Ada apa, Dok?" tanya Reyna.


"Emm... tidak apa-apa, Mbak," kilahnya. Sungguh mengejutkan!


Di ruangan Poli Obgyn, Dimas menemui dr.Anung Sp.OG.


"Nung, masih ada berapa pasien lagi?" tanya Dimas. Dimas dan Anung cukup dekat karena mereka sudah cukup lama kenal semenjak masih menjadi dokter umum.


"Tinggal satu pasien lagi, setelah itu jadwal visit," ucap dr.Anung.


"Tolong periksa satu orang lagi ya?" bujuk Dimas.


"Ya udah, gih buruan bawa ke sini, Dim," ujar Anung.


"Thanks, bro!"


"Bentar lagi gue kembali."

__ADS_1


Dimas berlalu, Anung melihat Dimas yang segirang itu merasa heran.


"Aneh! Jadi penasaran siapa yang di bawa!"


Beberapa saat kemudian Dimas kembali sambil mendorong Reyna menuju Poli Obgyn. Di ketuknya pintu ruang poliklinik. Terlihat suster membukakan pintu kemudian mempersilakan Dimas dan Reyna masuk.


"Reyna, ini dr.Anung, beliau dokter spesialis kandungan yang akan memeriksa kamu." ucapnya pada Reyna. Reyna mengangguk dan tersenyum pada dr. Anung.


"Nung, minta tolong ya, aku mau ngurus administrasinya dulu," ucapnya saat beralih berbicara kepada dr.Anung.


"Beres!" jawab Anung kemudian beralih memandang ke arah Reyna yang sedang di data oleh seorang suster. Mulut Anung menganga saking terkejutnya.


Hahh...! Pantas saja, memang sekilas cukup mirip! gumamnya.


"Ini, Dok!" suster memberikan catatan data diri Reyna seusai mencatat.


"Ny, Reyna, silahkan berbaring di sana. Tolong dibantu, Sus!" titah Anung.


Suster menyingkap baju Reyna yang menutupi perutnya, kemudian mengoleskan cairan gel di atas perutnya. dr.Anung mendekat, kemudian menempelkan dan memutar transducer di permukaan perut Reyna untuk mengetahui visualisasi janin dengan baik.


"Ini sudah terlihat ya janinnya baru seukuran biji kacang polong ukurannya kurang lebih 5 milimeter, usia kehamilannya memasuki 6 minggu. Bentuknya masih menyerupai kecebong, matanya sudah mulai terbentuk Detak jantungnya baik, cairan ketubannya bagus. Secara keseluruhan cukup baik, jadi kamu nggak perlu khawatir meski baru saja mengalami jatuh, hal itu tidak mempengaruhi kondosi janin, karena memang masih sangat kecil. Nanti pada saat usia 11 minggu di cek lagi ya, Reyna," dr.Anung menjelaskan panjang lebar.


"Terima kasih, Dok!" ucap Reyna. Cairan gel sudah di bersihkan kemudian Reyna merapikan bajunya.


Setelah pemeriksaan usai Reyna keluar dari ruangan poliklinik. Ternyata Dimas sudah menunggu di kursi tunggu. Kemudian dr. Anung berpamitan untuk visit.


"Reyna, bagaimana hasilnya?" tanya Dimas.


"Alhamdulillah, janinnya sehat. Kata dr.Anung hal tadi tidak mempengaruhi keadaan janin di dalam rahim saya, Dok," ujar Reyna.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Reyna, begini saja, karena kamu tidak ada tempat tinggal dan kakimu sedang sakit, lebih baik kamu tinggal di klinik kesehatan yang berada di rumahku. Jadi akan ada yang membantumu untuk mengurusmu," ucap Dimas.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak atas bantuan dokter hingga bersedia memberi saya tumpangan tempat tinggal. Saya banyak berhutang budi pada Dokter!" ungkap Reyna.


Dimas mengangguk, "Ya sudah ayo kita pulang!"


"Baik, Dok!" ucapnya.


****


Rangga sedang mengutak-atik handphone barunya. Memindahkan data-data yang tersimpan pada handphone barunya. Semakin tidak sabar untuk segera menghubungi Reyna agar masalah segera terselesaikan.


Namun sayang, sambungan yang dilakukannya pada nomor Reyna tidak membuahkan hasil.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"


"Shitt...!!" nihil, Reyna tidak dapat di hubungi.


Tring!


Ada pesan masuk dari Putri. Di bukanya pesan tersebut ternyata pesan gambar yang menampilkan foto Reyna dengan Abiyu yang sedang makan berdua di sebuah restoran dan foto kedua menampakkan Reyna yang berjalan berdampingan dengan Abiyu yang menenteng koper milik Reyna. Hati Rangga kembali memanas menyaksikan foto tersebut.


"Arghhh...!!!" teriaknya sambil menghantam dinding dengan kepalan tangannya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan comment 💞


__ADS_2