
Rapat usai pada pukul 03.00 WIB. Rangga bergegas pulang ke rumah. Ia berniat untuk mengajak Reyna menginap di daerah lereng Gunung Lawu. Hitung-hitung honeymoon kecil-kecilan, mumpung besok weekend.
Saat memasuki kamar ia mendapati istrinya yang masih tidur. Perlahan Rangga berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Kemudian Rangga duduk ditepian ranjang dan mencondongkan badannya mendekat ke arah Reyna. Kedua tangannya berada di samping kanan dan kiri bahu Reyna. Dikecupnya kening Reyna perlahan, namun tidak ada respon. Kembali diciumnya bibir Reyna singkat, masih tak bergeming. Rupanya istrinya benar-benar kecapekan. Akhirnya ia putuskan untuk membersihkan diri terlebih dulu dan membiarkan istrinya lelap dalam tidurnya.
Saat usai mandi dilihatnya Reyna sudah duduk di ranjang membawa baju ganti untuk Rangga.
"Sudah bangun ya?" ucap Rangga sambil mendekat mengambil baju dipangkuan Reyna.
"Kenapa tidak dibangunkan?" tanya Reyna.
"Kasian, kamu kecapean sepertinya. Niatnya mau aku bangunkan setelah mandi, eh.. ternyata sudah bangun." jawab Rangga sambil menyisir rambutnya.
Reyna memperhatikan pemandangan di depannya, sempat terpesona melihat suaminya yang terlihat segar sehabis mandi.
"Sekarang kamu mandi dulu, habis itu nanti aku ajak ke suatu tempat." Reyna hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju ganti di dalam kopernya. Seusai mandi Reyna sudah tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Ia kemudian bergegas sholat.
Rangga masuk ke dalam kamar ketika Reyna sedang berdandan.
"Sini aku bantu sisirin?" tawar Rangga.
"Ehh..nggak usah, Ga. Aku bisa sendiri kok."
Rangga terdiam mendapat penolakan dari Reyna. Namun ia tetap tersenyum, ia tau Reyna masih canggung. Padahal Rangga sudah menahan-nahan pengen memakan istrinya yang masih polos itu. Kayak yang baru pertama pacaran masih malu-malu tapi mau.
"Okelah sayang, aku akan sabar menunggu." ucap Rangga dalam hati.
"Sudah. Mau kemana?" Reyna telah selesai berdandan dan mengenakan hijabnya.
"Nanti kamu akan tau. Ayo..berangkat sekarang." jawab Rangga sambil menenteng koper di tangan kiri dan kanannya.
Saat berada di bawah mereka bertemu dengan Mami yang sedang melihat televisi.
"Mau kemana kalian?" tanya Mami yang penasaran melihat Rangga membawa koper di tangannya.
"Kita pergi dulu ya Mih, aku pengen ngajakin Reyna ke Tawangmangu." jawab Rangga.
"Nginep dong! Berapa hari?" Mami terlihat kaget. Masih tidak rela jika Rangga semakin dekat dengan Reyna.
"Palingan dua hari Mih, kan kita musti balik ke Jakarta juga." jawab Rangga.
"Ya sudah! Hati-hati di jalan." ucap Mami.
Rangga menyalami tangan Mami kemudian beranjak pergi untuk menyimpan kopernya di bagasi mobil. Sementara Reyna, gantian menyalami ibu mertuanya itu. Namun tangannya di cekal oleh Mami.
"Reyn, jangan lupa minum pil nya begitu kamu sampai di sana. Sembunyikan dari Rangga, jangan sampai dia tahu. Ingat itu!" bisik Mami di telinga Reyna kemudian mendorong bahu Reyna perlahan setelah selesai berbicara.
Sesaat Reyna terdiam, namun kemudian mengangguk dengan cepat. Sebaiknya diiyakan saja.
__ADS_1
"Reyna berangkat ya Mih?" pamit Reyna
"Hmmm...!" hanya itu yang keluar dari mulut ibu mertuanya.
Selesai mesasukkan koper ke dalam bagasi mobil, mereka berdua pun berangkat. Sepanjang jalan Reyna memperhatikan pemandangan di luar mobil. Masih banyak persawahan yang luas di kanan kiri jalan. Udaranya lumayan segar. Jalanannya tidak sehiruk pikuk di Jakarta namun cukup padat mengingat ini malam minggu pasti banyak wisatawan yang mengarah ke kawasan wisata lereng Gunung Lawu, untuk sekedar menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.
Mulai memasuki kawasan wisata, jalanannya semakin menanjak. Berkelok-kelok disamping kiri tebing disamping kanan jurang. Reyna tak henti-hentinya berdo'a agar mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat.
"Hati-hati, Ga! Jangan dekat-dekat sama mobil yang di depan!" beberapa kali kata-kata itu yang meluncur dari mulut Reyna. Menegangkan!
Rangga hanya melirik sambil tersenyum melihat kepanikan istrinya. Pasalnya jalanan ini sudah sering kali ia lalui untuk bepergian bersama teman-temannya semenjak SMA maupun kuliah. Naik motoran, ngebut pula.
Menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya mereka sampai di parkiran hotel bintang lima yang cukup terkenal di daerah Tawangmangu. Beruntung sebelumnya Rangga sudah meminta Doni untuk memesankan kamar untuk mereka. Sehingga ia bisa mendapatkan pelayanan kamar terbaik di hotel ini, mengetahui banyaknya pengunjung yang datang. Jika tidak melakukan reservasi terlebih dahulu pasti sudah tidak kebagian.
Mereka kemudian berjalan memasuki lobby hotel. Setelah melakukan reservasi ulang mereka masuk ke dalam lift. Tak berapa lama sampailah mereka di lantai tiga. Rangga merogoh dompetnya kemudian memberikan tip kepada seorang bell boy yang telah mengantarkannya sampai ke dalam kamar. Reyna cukup puas dengan kamar yang dipilih. Yaitu tipe Deluxe room balcony, dengan kamar tidur king size dan fasilitas yang cukup lengkap bagi pasangan honeymoon. Viewnya menghadap ke taman yang indah dan kolam renang di bagian bawah yang langsung menghadap ke perbukitan.
Reyna begitu takjub dengan pemandangan di luar jendela. Ia membuka pintu kemudian menuju balkon. Dari balkon ia bisa menyaksikan sunset dilangit senja dengan latar pegunungan.
Hawa pegunungan yang cukup dingin merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba ada tangan melingkar diperutnya memberikan pelukan hangat dari belakang.
"Gimana, suka nggak tempatnya?" Reyna melirik ke samping ke sumber suara.
"Suka, bagus banget pemandangannya." Rangga mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya di salah satu sisi bahu Reyna.
"Hatcuuuuh..!!" Reyna bersin tatkala hawa dingin mulai merasuk ke hidungnya.
"Aku pesankan minuman hangat ya biar kamu nggak masuk angin?" tawar Rangga.
Reyna mengangguk, "Hidungku memang sensitif sama debu dan udara dingin. Kalau udaranya dingin banget gini jadi gampang flu."
"Ya udah kamu istirahat dulu Reyn."
Rangga kemudian menghubungi restoran hotel untuk mengirimkan minuman hangat dan berbagai menu makanan terbaik yang ditawarkan. Berhubung kondisi Reyna yang butuh beradaptasi dengan lingkungan akhirnya Rangga memutuskan makan malamnya di kamar saja. Karena dipastikan udara malam hari akan semakin dingin.
Tak lama adzan maghrib berkumandang. Reyna dan Rangga kemudian melaksanakan sholat bersama di dalam kamar.
Seusai sholat mereka segera menyantap hidangan yang telah diantarkan ke kamar.
"Reyn, minum air jahenya." titah Rangga.
"Bismillah."
Srlurrrp!
"Enak, terasa hangat di tenggorokan." ujar Reyna.
"Sekarang kita makan. Tadinya aku pengen ngajak kamu dinner di rooftop, tapi karena kamu alergi dingin mendingan kita makan di kamar aja. Nanti kalau kamu sudah baikan baru kita keluar jalan-jalan." ucap Rangga.
__ADS_1
"Di sekitar sini ada air terjun Grojogan sewu, taman Balekambang sejenis taman bermain dengan miniatur ikon terkenal di suatu negara, Bukit Sekipan dengan wahana permainan anak, kebun strawberry, Sakura hills dengan konsep wisata ala negeri sakura, the lawu park yaitu tempat wisata di hutan pinus dengan spot foto, salju buatan dan penginapan di dalam cottage maupun Glamping (glamour camping), kalau mengarah ke Magetan, Jawa timur bisa ke telaga Sarangan. Kalau dari kota tadi kita ambil jalur kiri nanti menuju tempat wisata kebun teh Kemuning, dan Candi Cetho. Masih banyak banget deh tempat wisata di lereng Gunung Lawu ini."
"Wah, kalau gitu gak cukup dua hari dong." ucap Reyna.
"Nanti kapan-kapan kita ke sini lagi." ujar Rangga sambil mengelus-elus rambut istrinya yang tergerai panjang.
Seusai makan mereka nonton TV berdua sambil mengobrol. Rangga memeluk Reyna yang bersandar di dadanya. Beberapa kali Reyna mulai menguap. Rangga juga sudah mulai mengantuk.
"Udah ngantuk yah, kita sholat dulu yuk, habis itu kita bobo." ajak Rangga.
Reyna mengangguk kemudian berjalan ke kamar mandi mengambil wudhu. Seusai sholat bersama, Reyna berniat untuk mengganti bajunya dengan piama tidur. Dicarinya berulang-ulang namun tidak menemukan baju tidurnya.
"Nyari apa sih Reyn?" tanya Rangga yang memperhatikan tingkah istrinya yang kebingungan.
"Ga, baju tidur aku kok nggak ada ya."
"Perasaan kemaren udah aku masukin beberapa." Rangga menahan untuk tidak tertawa, pasalnya saat Reyna mandi sewaktu di rumah, Rangga mengambil piama tidur Reyna dan menaruhnya di almari.
"Mungkin ketinggalan kali Reyn, di rumah Nenek." Reyna menggeleng, masih yakin jika ia sudah membawa.
"Oya ... Nih ada kado dari Doni." ucap Rangga sambil menyerahkan bungkusan ke pada Reyna.
Dibukanya kado tersebut, membuat Reyna melotot saking kagetnya. Namun buru-buru ia masukkan kembali ke dalam kantong. Dan menyembunyikan dibelakang punggungnya.
"Ada apa, kok dimasukkan lagi?" tanya Rangga.
"Gak apa-apa." jawab Reyna singkat.
"Coba kesiniin!" titah Rangga.
Dengan ragu Reyna memberikan bungkusan itu kepada Rangga. Rupanya isinya lingerie berwarna pink dan hitam. Rangga menahan untuk tidak tertawa dengan ide gila Doni.
"Ini kan baju tidur, coba kamu pakai Reyn." pinta Rangga.
"Gak bisa, Ga. Ini terlalu terbuka, nih." di angkatnya baju tersebut, memperlihatkan mini dress tanpa lengan hanya ada tali kecil dibagian atasnya dan berbahan tipis dan transparan.
"Memangnya kenapa, kan cuma aku yang lihat, habis itu ditutupin pakai selimut." bujuk Rangga. Reyna menggeleng.
"Ayo Reyn, masa kamu mau tidur pakai gamis gini sih, pasti nanti nggak nyaman." Rangga terus membujuk Reyna agar mau memakainya.
"Ya udah aku ganti dulu." dengan terpaksa Reyna berjalan ke kamar mandi sambil membawa lingerie berwarna hitam.
Beberapa saat kemudian dengan perlahan Reyna berjalan mendekat ke arah ranjang. Dengan mengenakan piama kamar mandi.
"Kok pakai piama sih Reyn, coba buka piamanya." dengan ragu Reyna membuka piama kamar mandi dan dengan cepat masuk ke dalam selimut." Rangga sempat speechless melihatnya meskipun hanya sekilas ia tahu Reyna tampak seksi dengan baju itu. Rangga kemudian mendekat ke arah Reyna.
"Sayang, bolehkah aku memintanya sekarang?" tanya Rangga dengan penuh hasrat.
__ADS_1
Reyna terdiam sesaat, kemudian ia mengangguk.