
Rangga menjemput Reyna lebih awal dari biasanya. Rangga mengatakan, ia ingin mengajak Reyna berkunjung ke suatu tempat sebelum pulang.
"Mau mampir beli kue atau jajanan dulu nggak, Sayang?" tanya Rangga.
"Boleh, By. Itu di depan sepertinya ada Alfastore, By," ujar Reyna sembari menunjuk ke arah depan.
Rangga memarkir mobilnya di pelataran toko. Keduanya turun kemudian berjalan berdampingan masuk ke dalam toko. Reyna mengambil beberapa makanan yang menarik hatinya. Rangga mengikuti di belakangnya.
"Ambil dua botol air mineral, Sayang. Nanti kita akan butuh itu!" ujar Rangga.
Memangnya mau ke mana, By?" tanya Reyna.
"Rahasia!" ujar Rangga kemudian berjalan lebih dahulu menuju kasa.
Rangga menyerakan keranjang belanjaan yang Reyna pilih kepada kasir.
"Tunggu bentar ya, Mbak. Istri saya masih belum selesai belanja," ujar Rangga sambil matanya mengarah ke arah Reyna berada.
"Iya, Mas," ujar kasir yang berjaga kemudian menawarkan promo-promo belanja hemat dan penawaran membeli pulsa.
Reyna, yang melihat dari kejauhan, jika suaminya sedang asik mengobrol dengan penjaga kasa, seorang perempuan yang berucap sembari senyum-senyum ke arah Rangga, sehingga membuatnya jealous.
"Apa sih yang di obrolkan, sampai kaya yang akrab begitu!" gumam Reyna sambil bersungut-sungut.
Ia kemudian bergegas menyelesaikan belanjaannya. Lalu, menuju kasa di mana suaminya berada.
"Ini, Mbak!" ujar Reyna dengan sedikit jutek.
Penjaga kasir yang tadinya mau menyuarakan penawaran produk yang sedang promo, mengurungkan niatnya setelah melihat Reyna melipat tangannya di dada dan bermuka jutek.
"Udah, Sayang?" tanya Rangga.
"Dah!" jawab Reyna singkat.
Rangga mengernyit mendengar jawaban Reyna dan raut mukanya yang seperti sedang kesal.
Setelah membayar Rangga membawa kantong belanjaan yang di ulurkan ke arah Rangga.
"Terima kasih sudah berbelanja di Alfastore," ujar kasir wanita itu.
Rangga terseyum, sedangkan Reyna langsung berpaling dan memimpin berjalan ke luar. Rangga merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.
Sesampainya di parkiran, Rangga menaruh belanjaan di bagasi kemudian memutar berjalan ke kursi kemudi. Ia melihat Reyna masih manyun dengan pandangan lurus ke depan. Ia tidak mengambil pusing perihal istrinya, ia menyalakan mesin mobilnya kemudian mengarahkannya menuju jalan raya. Dua puluh menit berkendara sampailah mereka di kawasan pesisir pantai Ancol. Rangga memarkir mobilnya di tempat parkiran, kemudian mengajak Reyna turun dari mobil. Reyna hanya diam dan menurut dengan perintah suaminya.
'Kenapa ke pantai?' gumam Reyna dalam hati.
"Ayo, Sayang!" Rangga menggandeng tangan kanan Reyna.
Meski penasaran Reyna hanya pasrah dan masih diam. Keduanya berjalan berdampingan menuju pesisir pantai.
Sore itu pemandangan di pantai begitu indah, udaranya sejuk dan teduh karena sinar matahari mulai menyingsing. Angin sepoi-sepoi menerpa gamis dan hijab Reyna melambai-lambai. Rangga melepaskan genggamannya dan membiarkan Reyna menikmati suasana pantai kala itu.
__ADS_1
Reyna terlihat sangat bahagia dengan senyuman di wajahnya. Perlahan ia merentangkan tangannya merasai angin berhembus mengenai gamisnya yang berayun-ayun.
Rangga mundur kebelakang, kemudian di ambilnya potret Reyna beberapa kali dari arah belakang dan samping. Sehingga menampakkan foto seorang perempuan berhijab dari bagian belakang dengan ujung gamis yang berkibaran dan terlihat pemandangan pesisir pantai kala senja di bagian latar foto.
"Masyaallah, cantik sekali!" gumam Rangga mengagumi hasil fotonya.
Rangga kemudian berjalan mendekati istrinya brrada.
"Gimana suka nggak, Sayang?" tanya Rangga sembari memeluk Reyna dari belakang.
"Suka banget, By. Hahh...aaku suka pantaaai!" teriak Reyna dengan merentangkan kedua tangannya ke samping. Rangga pun tertawa.
"Kapan terakhir ke pantai?" tanya Rangga.
"Udah lama banget, By. Mungkin terakhir waktu kuliah, sama temen-temen. Tapi kalau ke pantai ini, trakhir dulu pas study tour SMP. Inget tidak waktu ke sini sekelas waktu kelas VIII?" tanya Reyna.
"Inget lah, sudah sepuluh tahun sejak saat itu. Dan saat ini kita kembali ke pantai ini saat kamu dan aku sudah menjadi sepasang suami istri. Aku inget waktu itu kamu berdiri di sana, kamu begitu senang seperti yang aku lihat barusan saat kita baru sampai di tempat ini. Pada hal tadi di jalan manyun terus. Kenapaa...ha?"
Cup!
Tanpa aba-aba Rangga mencium pipi istrinya yang masih berada di pelukannya itu. Blush!
Pipi Reyna langsung merah merona dengan perlakuan manis suaminya yang tiba-tiba. Ia memegangi pipinya yang merona karena malu. Pasalnya, saat ini mereka sedang berada di tempat umum, bukan di rumah. Masih ada beberapa pengunjung yang datang dengan tujuan, ingin menyaksikan sunset di pantai ini. Meski jaraknya dengan pengunjung lain agak jauh, tapi tetap saja banyak pasang mata yang mungkin saja sedang melihat ke arah mereka berdua.
"Ishhh...banyak orang, By!" ujar Reyna malu.
"Biarkan saja, mereka tidak mempedulikan kita," jawab Rangga.
"Tadi itu kamu nyebelin banget, By. Ditinggal belanja bentar langsung godain cewek!" raut muka Reyna sudah berubah masam.
'Menggemaskan!' batin Rangga.
"Menggoda? Siapa yang menggoda siapa, Sayang? Kamu salah paham!" ujar Rangga lembut.
Padahal dulu ia suka menjahili istrinya. Namun, saat sedang hamil begini ia tidak berani menjahili Reyna. Takutnya akan berpengaruh pada kandungannya, jika menyebabkan istrinya stres. Kalinini Rangga harus lebih banyak bersabar dan mengalah.
"Kamu atau bisa jadi penjaga toko tadi yang kegenitan. Ngobrolin apa sih sampai kaya yang akrab banget!" selidik Reyna kesal.
"Tuh kan bener kata aku. Kamu pasti salah paham, Sayang. Tadi itu ceritanya aku minta mbaknya ngitung dulu sembari nunggu kamu belanja biar cepet. Terus, biasalah mbaknya, menawarkan, produk yang sedang promo sama nawarin pulsa. Ya aku sih cuma becanda buat nolak secara halus biar mbaknya gak berkecil hati dan tetap semangat buat promo ke yang lain nantinya. Soalnya kalau menurut aku, mereka yang getol nawarin gitu, ya karena kemungkinan mereka di target oleh koordinator wilayahnya. Daripada godain mbaknya tadi mendingan juga godain kamu, Sayang. Siapa tau nanti malam dikasih bonus extra," goda Rangga.
"Ishhh....pasti alasannya nengokin debay lagi deh!" ujar Reyna kala mengingat alasan yang di buat-buat Rangga untuk meminta haknya.
"Ya emang bener nengokin kan, Sayang. Toh malahan kamu yang suka minta nambah!" ujar Rangga yang langsung mendapat cubitan di perut oleh Reyna.
"Awww....sakit, Sayang!" pekik Rangga.
"Biarin, hahhahahahaa!" Reyna tertawa senang.
Karena sudah terlepas dari pelukan Rangga, Reyna berlarian menuju pinggir pantai dengan kaki telanjangnya. Rangga pun mau tak mau harus mengejarnya. Mereka berlarian di pinggir pantai bagaikan anak kecil yang sedang bercanda tawa.
Capek berlarian mereka pun duduk di pasir sembari menunggu sunset. Reyna bersandar di bahu Rangga sedangkan tangan kiri Rangga merangkul pinggang istrinya.
__ADS_1
"Capek ya, Sayang?" tanya Rangga.
"Sedikit, By. Tapi ini sangat menyenangkan sekali!" ujar Reyna.
"Syukurlah jika kamu menyukainya, Sayang," di kecupnya pucuk kepala istrinya, sayang.
"Kenapa membawaku ke mari, By?" tanya Reyna.
"Sebentar lagi kamu hamil besar, rasanya tidak mungkin membawamu melihat sunset di saat hamil besar. Hhhaha..!" ujar Rangga dengan tawanya.
"Ishh...malah di ketawain sih, hamil juga kan anak kamu!" Reyna menusuk-nusuk perut Rangga.
"Ehh...eh...eh..jangan, Sayang!" Rangga merasa sangat geli.
"By, apa yang membuatmu menyukaiku saat itu?" tanya Reyna menerawang masa-masa saat di SMP.
"Emm...apa ya?" Rangga nampak berpikir.
"Mungkin berawal dari senyummu. Dulu kamu terlihat energik dengan senyum manis, rambut panjang kuncir kuda, dan pembawaanmu yang pemberani dan riang. Kamu terlihat menyenangkan, dan aku suka saat menjahilimu. Hhhahaha...!" jawab Rangga sembari menerawang kala itu.
"Dasar, kamu dulu nyebelin banget tau gak, aku rasa aku menyukaimu berawal dari benci. Bukan karena aku menyukaimu!" ujar Reyna.
"Ahh yang beneer...!" goda Rangga sembari menjawil dagu Reyna.
"Iya lah, ehh kita kok kaya yg lagi pacaran aja ya, By?" ujar Reyna.
"Ya nggak apa-apa kan kita dulu langsung nikah jadi pacarannya ya sekarang. Justru lebih menyenangkan mau ngapain juga bisa, gak ada yang larang dan nggak dosa. Hahhhaha!" ujar Rangga.
"Iya deh yang udah pengalaman pacaran," ujar Reyna.
"Jangan bahas itu deh, kali ini aku cuma pengen bahas tentang kita. Cuma ada kamu di hatiku selamanya, Reyna," ujar Rangga lembut. Pandangannya lekat ke arah istrinya.
Reyna pun membalas menatap ke arah Rangga. Ia bisa merasakan ketulusan hati Rangga.
"By, sorot mata ini, tatapan mata ini yang tak pernah aku lupa dari kamu sejak dulu," Reyna mencakup kedua pipi suaminya, "Aku sangat mencintaimu, By!" ujar Reyna.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang!" balas Rangga yang kemudian mencondongkan mukanya ke depan hendak mencium istrinya.
Namun, dengan sigap Reyna menghalanginya dengan jari-jarinya.
"Stop, banyak orang, By!" ujar Reyna.
"Hihihiii...!" keduanya cekikikan menyadari tempatnya berada.
"Gak jadi romantis deh!" ujar Rangga sembari merengkuh Reyna ke dalam pelukannya.
"Tahan dulu ya, By!" diusapnya punggung suaminya lembut.
'Guratan senja di pantai Ancol yang tak akan pernah terlupakan, saat indah menyaksikan sunset bersamamu, By!' gumam Reyna dalam hati.
___________________Ney-nna_________________
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote, Gift dan Comment.
Terimakasih buat dukungannya, semoga sehat selalu...😘💕💕