
Setelah mengantar Maura, Raka kembali pulang dan baru menyadari jika nomor Fely kembali tidak aktif. Saat di cek panggilan terakhir ada riwayat telepon selama enam menit. Raka mengernyitkan dahi.
"Fely sempat mengangkat telepon aku?" gumam Raka sembari berpikir kapan Fely mengangkat teleponnya.
Mas Raka, tuan besar meminta anda untuk mengantar nona Maura pulang ke rumahnya! seketika Raka mengingat kata-kata Yahya.
"Jangan-jangan dia mendengar perkataan pak Yahya tadi?!" gumam Raka kemudian menepuk keningnya dengan tangan, "Astaghfirullah, Fely pasti salah paham lagi!" pekik Raka sendiri saat menyadari kesalahannya yang tidak memutus sambungan terlebih dahulu.
Raka merutuki kesalahannya itu. Dan menyesal telah mengantar Maura. Sebab, dia ingat akan kata-kata mata-matanya tentang persekongkolan kakeknya dengan keluarga Maura. Namun, Raka belum jelas pastinya seperti apa persekongkolan itu.
Keesokannya Raka bertemu dengan mata-mata suruhannya. Jadi seorang mata-matanya yang sedang membuntuti Maura, mengetahui Maura dan mama papanya sedang membuat janji temu degan seseorang. Dan ternyata orang itu adalah kakek Raka. Orang itu mengeluarkan sebuah alat perekam dan memutarnya di hadapan Raka.
Kakek Raka membahas jika dialah yang waktu itu meminta Maura untuk tetap menerima perjodohan meskipun Raka menolaknya, dengan begitu perjodohan tidak akan batal jika bukan dari pihak Maura sendiri yang membatalkan. Dan ternyata kakek juga yang menyuruh Maura mengenakan hijab, semata-mata karena kakek tahu dari seorang suruhannya, jika ciri-ciri wanita yang sedang dicintai cucunya adalah wanita berhijab. Sehingga dengan begitu akan mengundang simpati Raka kepada Maura, karena Maura juga gadis salihah seperti Fely.
Raka sudah menduganya, kakeknya pasti akan menggunakan berbagai cara agar bisa memaksa Raka untuk menikah dengan Maura.
"Lanjutkan mencari tahu kehidupan mereka selama di Singapura!" ujar Raka pada orang suruhannya.
Raka masih merasa ada yang mereka tutupi sehingga begitu mudahnya Maura menerima perjodohan ini. Jelas Maura gadis yang cantik dan dari kalangan berada, ini janggal ketika Maura semudah itu mau untuk dijodohkan orang tuanya di jaman modern seperti ini.
Sore itu Raka pulang ke rumah mamanya. Raka benar-benar pusing karena Fely kembali tidak bisa dihubungi. Raka juga sangat enggan untuk pulang ke kediaman kakeknya.
"Kamu sedang ada masalah, Ka?" tanya Rahma sembari menaruh segelas kopi di hadapan putranya.
Raka memang paling tidak bisa menyembunyikan masalah dari mamanya. Baginya pulang ke rumah mamanya adalah hal yang bisa membuatnya lebih tenang karena mama tidak pernah menuntut apapun darinya.
"Ma, Fely pulang ke Jakarta dan nggak bisa dihubungi," tutur Raka.
"Kalian bertengkar?" tanya mama sembari duduk di sebelah Raka.
"Fely melihatku sedang makan siang dengan wanita lain, Ma. Kakek menjodohkan aku dengan wanita itu! dan Fely mendengarnya tentang perjodohan itu," tutur Raka menceritakan masalahnya pada mamanya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Raka! jelas saja Fely pasti merasa kecewa dan merasa dipermainkan olehmu!" tutur Rahma.
"Lantas Raka harus bagaimana, Ma? kakek tidak mengijinkan aku untuk menolak perjodohan dengan ancaman yang sama seperti dulu-dulu. Kakek mau harus dari pihak Maura sendiri yang membatalkannya, padahal ternyata mereka bersekongkol dan membohongiku, Ma!" ujar Raka kesal.
"Kakekmu akan terus melakukan berbagai cara agar kamu menurutinya Raka, sama seperti dia memisahkan Mama dengan papamu dulu, dan papamu akhirnya memilih meninggalkan Mama juga demi keselamatan Mama," tutur Rahma yang merasa geram dengan ulah kakek Raka.
"Ma aku ingin meninggalkan kakek dan pergi saja dari kediaman kakek. Kita pergi jauh di mana kakek tidak tahu keberadaan kita, kita bisa hidup bersama dengan sederhana ditempat lain kan, Ma?" ujar Raka mengemukakan idenya.
"Lantas bagaimana dengan keinginan mu menikahi Fely? jangan gegabah Raka, pikirkan masak-masak sebelum kamu bertindak, kakekmu memang sangat kejam, tapi pasti ada kelemahannya. Apalagi kakekmu sudah tua Raka, kamu harus bisa menaklukkan kakekmu. Bersabarlah, Mama juga akan mendoakan agar kamu mendapatkan jalan yang terbaik," tutur Rahma.
****
Dua hari berlalu, tiba-tiba saja kakek sudah mengatur acara pertunangan Raka dengan Maura yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Raka sangat kesal karena kakek memutuskan untuk mengadakan pesta pertunangan secara sepihak tanpa bertanya dahulu kepada Raka.
"Nek, Raka ingin pergi dari sini, Raka sudah tidak tahan lagi dengan kakek yang selalu memaksakan kehendak kepada kita semua, kali ini Raka tidak bisa memenuhi keinginan kakek untuk bertunangan dengan Maura, Nek. Maaf Raka harus meninggalkan nenek," tutur Raka yang sudah tidak bisa menolerir keinginan kakeknya.
"Raka, Nenek tidak akan sanggup berpisah denganmu, hanya kamu lah alasan yang membuat Nenek bertahan hidup," ujar nenek yang tidak rela cucu satu-satunya pergi.
Handphone Raka bergetar tanpa panggilan masuk.
"Nek, Raka tinggal dulu untuk mengangkat telepon!" ujar Raka kemudian masuk ke dalam kamarnya setelah nenek mengangguk.
"Halo, ada kabar apa?" tanya Raka saat telepon sudah tersambung.
"Saya punya kabar bagus tentang nona Maura, Tuan. Saya yakin kakek anda belum tahu tentang hal ini!" ujar mata-mata suruhannya.
"Baiklah kita ketemu di tempat biasa!" ujar Raka.
"Baik Tuan!" telepon ditutup.
****
__ADS_1
Setelah bertemu dengan mata-matanya Raka mengundang Maura dan keluarganya untuk datang ke kediaman kakek untuk makan malam sebelum pesta pertunangan di gelar.
Mereka sedikit bingung, karena tiba-tiba Raka bersikap baik, kepada mereka. Mereka menduga ini karena pengaruh dari kakeknya. Mereka pun dengan senang hati mendatangi kediaman kakek Raka.
Kakek pun juga merasa sangat senang akhirnya Raka dengan patuh menerima acara pertunangan yang akan diselenggarakan besok malam.
Mereka makan malam dengan sangat khidmat dan senyum bahagia terpancar dari kakeknya maupun orang tua Maura. Hanya Maura yang nampak tidak baik saat Raka tersenyum penuh arti kepada Maura.
Seusai makan malam mereka mengobrol di ruang tengah. Raka mengajak Maura untuk mengobrol berdua di teras samping.
"Bagaimana perasaan mu ketika akan segera bertunangan denganku, Maura?" tanya Raka dengan tawa mengejek
"Tentu saja aku sangat senang, Raka!" ujar Maura dengan tersenyum, namun sedikit gelisah di wajahnya saat melihat Raka menyeringai aneh.
Aneh sekali ketika melihat Raka tiba-tiba bersikap baik! batin Maura.
"Kamu yakin tetap ingin bertunangan denganku, Maura?" tanya Raka menjeda kata-katanya. "Apa kamu tidak merindukan ayah dari janinmu itu?" tanya Raka menohok.
Maura terkejut dengan mulut terbuka tidak percaya jika Raka mengetahui hal itu. Sebab, tidak banyak yang tahu jika dia sedang berbadan dua.
"Kamu, ngomong apa, Raka! jangan bicara yang bukan-bukan!" elak Maura tidak mengakui hal itu.
Raka melempar bukti-bukti yang membuat Maura tidak bisa berkutik lagi di depan Raka.
"Kamu mau mengatakan sendiri kepada kakekku, atau aku yang membongkar kebusukan mu pada kakekku! aku yakin keluargamu juga ingin memperalat kakekku untuk mendapatkan suntikan dana atas perusahaan papamu yang hampir kolaps bukan?" tutur Raka yang membuat Maura semakin terkesiap.
...____________Ney-nna___________...
Assalamu'alaikum,
Hai, reader's! mohon maaf author beberapa hari kemaren tidak bisa Up karena sedang sakit. Semoga kedepannya segera membaik agar bisa rutin Up.
__ADS_1
Terima kasih buat yg masih setia mengikuti jalan ceritanya 🙏🙏🙏