
Netra Mira membulat dan mulutnya terbuka saat melihat siapa yang berdiri di balik pintu.
"Jona ...!" pekik Mira dengan sangat kaget.
Terlihat beberapa pembalut luka di kepala, tangan dan kakinya, juga lebam yang kebiru-biruan di wajahnya.
"Maaf, Ra. Aku tadi nggak bisa hubungi kamu. Pas pulangnya aku mengalami kecelakaan di jalan. Handphone aku juga rusak," tutur Jonathan dengan mengulas senyum meski nampak menahan perih di sudut bibirnya yang lebam.
Mira speechless tidak tahu harus berkata apa. Mau marah karena Jona yang nekat datang disaat acara ta'arufnya, juga tidak mungkin. Sebab, melihat Jona yang datang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dengan luka di sekujur tubuhnya, membuat Mira merasa iba kepada laki-laki yang pernah dicintainya tersebut.
"Emm, di dalam sepertinya cukup ramai ... memangnya ada acara apa, Ra?" tanya Jona yang mendengar suara orang sedang berbincang-bincang di dalam rumah Mira dan beberapa kendaraan yang terparkir di tepi jalan komplek depan rumah Mira.
Mira semakin bingung harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Jona terhadapnya dan juga bingung dengan reaksi Jona, ketika nantinya mengetahui apa yang saat ini sedang berlangsung.
"Jo, kamu ke sini sendirian?" akhirnya kata itu yang terlontar dari bibir Mira.
"Iyalah sendiri, mau ngajakin siapa coba? aku bawa mobil kok, motorku ringsek gara-gara jatoh tadi," tutur Jona seolah mencari perhatian dari wanita yang dicintainya.
"Jo ... a-aku nggak bisa me--," ucap Mira terhenti tatkala terdengar langkah seseorang dari arah belakangnya.
"Siapa yang datang?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Mira.
Seketika Mira menoleh ke arah sumber suara.
"Di-Dipa ...," pekik Mira terbata-bata, saat mengetahui Dipa lah yang datang menghampirinya.
Dipa terpaku melihat sosok yang diketahuinya sebagai mantan pacar Mira yang kala itu meninggalkan Mira di butik mamanya, saat sedang fitting baju pengantin dan pergi dengan wanita lain.
__ADS_1
Untuk apa dia datang ke sini dengan kondisi seperti itu? apa urusan di antara mereka belum selesai? bukankah Mira mengatakan jika mantan pacarnya sudah menikah dengan wanita yang dihamilinya saat itu? lantas mau apa lagi dia datang?! batin Dipa yang menyimpan banyak pertanyaan yang bercokol di benaknya.
"Siapa dia, Ra?" tanya Jona kepada Mira.
"Tunggu sebentar! jangan ada yang bicara sebelum aku kembali!" tutur Mira memperingatkan kepada kedua laki-laki itu dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Sejenak Dipa dan Jona berpandangan dengan mata memicing penuh arti sebelum akhirnya saling membuang muka.
Jona beralih mendudukkan diri di teras rumah, karena merasa tidak kuat lama-lama berdiri dengan tubuhnya yang masih lemah. Dia berusaha datang ke rumah Mira demi untuk mengklarifikasi ketidak hadirannya tadi siang kepada Mira. Demi Mira dia rela menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang masih basah.
Sementara Dipa sudah menduga jika ada sesuatu yang belum selesai di antara meraka. Melihat gelagatnya, Dipa menduga laki-laki yang berada di hadapannya saat ini pasti belum mengetahui tentang ta'arufnya dengan Mira.
Beberapa saat berlalu akhirnya Mira kembali dari dalam rumah.
Melihat Mira datang Jona segera berdiri dari duduknya seraya mengulas senyum kepada Mira.
Dipa berdiri menyandar pada tembok sembari tangannya bersedekap di depan dadanya.
Mira berpaling, kemudian merogoh sesuatu dari dalam saku gamisnya. Nampak sebuah kotak kecil yang sudah bisa ditebak apa isi yang berada di dalamnya.
Mira mengulurkan cincin tersebut ke hadapan Jona.
"Jo, aku minta maaf! a-aku nggak bisa menerima lamaran dari kamu ...," tutur Mira dengan rasa bersalahnya.
Weys ...jadi dia juga melamar Mira lagi?! batin Dipa.
"Kenapa, Ra?" tanya Jona dengan kekecewaan di wajahnya.
__ADS_1
Dilihatnya Mira yang diam sembari menunduk. Jona bisa menduga jika laki-laki yang saat ini bersandar di tembok dengan santainya itu adalah salah seorang saingannya.
"Apa karena dia?" tanya Jona sembari menunjuk dengan salah satu tangannya yang tepat mengarah pada Dipa.
Apa ini, kenapa aku ikut dibawa-bawa?! batin Dipa.
Mira mengangguk pelan kemudian berkata, "Aku menjalin ta'aruf dengannya, Jo ...," tutur Mira dengan pelan.
"Ta'aruf?!" pekik Jona yang merasa tidak percaya jika Mira menjalani ta'aruf.
"Iya, Jo. Aku dan dia sedang menjalani ta'aruf. Sudah sejak lama aku mengirimkan CV ta'aruf ke kantor pusat tempatku mengaji dan sore itu tepat disaat kita bertemu, aku mendapatkan balasan dari pengajuan untuk ta'aruf. Aku dan mama setuju untuk melanjutkan proses ta'arufnya. Sebenarnya, sedari siang hal inilah yang ingin aku katakan kepadamu. Aku ingin mengembalikan cincin ini. Maaf aku tidak bisa menerimanya," tutur Mira dengan sendu sembari mengulurkan kotak perhiasan berwarna merah itu kehadapan Jona.
Sesungguhnya, Mira pun juga merasa hatinya ikut perih mendengar kata-katanya sendiri yang bagaikan belati yang sedang menyayat hati. Namun, hal itu lah yang harus dia katakan kepada Jona, sebab Mira tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Jona.
"Jadi kamu lebih memilih dia dari pada aku? apa kamu lebih menyukainya dibanding aku?" tanya Jona lagi merasa belum bisa cukup menerima penolakan dari Mira.
"Aku tahu di antara aku dan dia belum ada ikatan cinta, namun aku yakin suatu saat ketika Allah sudah mentakdirkan dia adalah jodohku, maka Allah akan menumbuhkan rasa cinta di antara kita seiring berjalannya waktu, di saat yang tepat, yaitu di saat terjalinnya ikatan suci yang halal di antara sepasang manusia. Dan, untuk saat ini, demi kecintaan ku kepada Allah, aku pasrahkan jodohku kepada Allah!" tutur Mira dengan mantap.
Jona tak bisa berkata apa-apa mendengar jawaban dari Mira. Dia sudah tak bisa menyangkal lagi jika dia telah kalah dengan laki-laki di sampingnya itu.
"Oke, Ra. Jika menurutmu dia lebih baik daripada aku, dan jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mundur demi kebahagiaanmu. Aku tahu aku telah banyak berbuat salah dan banyak menorehkan luka disaat kita masih bersama, namun sesungguhnya kali ini aku benar-benar telah bertaubat, aku berjanji kepada diriku, untuk tidak melukai hatimu lagi dan aku serius ingin menebus kesalahanku kepadamu, aku pasti bisa melakukan hal itu untukmu! namun, aku sadar, aku tidak pantas buat kamu, karena terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan sehingga kamu pasti lebih memilih dia daripada aku! semoga kedepannya kamu selalu bahagia, Ra!" tutur Jona hendak pergi.
"Jo, jika kamu hendak bertaubat, bertaubatlah dengan sungguh-sungguh kepda Allah. Jangan karena demi aku, karena aku sama sepertimu yang hanya manusia biasa yang juga bisa berbuat kesalahan. Dan satu lagi, jangan kamu terlalu banyak berjanji, jika kamu belum tentu bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Allah " tutur Mira.
Jona akhirnya pulang dengan sakit di hatinya, membawa cincin di genggamannya yang tiada arti lagi. Sekuat tenaga dia menguatkan diri untuk menerima penolakan dari Mira.
...____________Ney-nna_____________...
__ADS_1