Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Benturan


__ADS_3

Melanie Lala dan Najwa lari tunggang langgang menuju aula pondok pesantren. Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat Reyna, Abiyu dan juga bu Salamah yang sedang duduk sembari memangku Reynand.


"Mbak Reyna ...!" teriak Meilani girang saat melihat Reyna datang.


"Reynand ...!" teriak Lala tak mau kalah saat melihat bayi gembul yang paling dirindukannya.


"Ishh, apa bedanya kalian dengan aku? akhirnya kalian juga teriak-teriak," sindir Najwa pada teman-temannya.


Sesampainya di aula mereka langsung memeluk Reyna dan Lala memeluk Reynand.


Pertemuan itu sungguh mengharukan bagi Lala karena Reyna datang disaat yang tepat, ketika dia sangat merindukan dengan orang-orang yang yang dahulu tinggal bersamanya. Terlebih dengan Reynand, sudah lama sekali Lala tidak bertemu dengan bayi gembul yang selalu lengket kepadanya itu, setelah Reynand dibawa ke Jakarta oleh oma dan opanya.


"Sayang, aku menemui ustadz Fadhil dulu ya?" ujar Abiyu kepada Reyna yang ingin memberi kesempatan kepada istrinya untuk melepas rindu dengan orang-orang terdekatnya selama di pondok pesantren yang dirasa akan aman.


"Iya, Kak," jawab Reyna singkat sembari tersenyum, terlihat dari kelopak matanya yang membentuk cekungan di bawah mata meskipun senyumnya tertutup oleh niqobnya.


Lala mengambil alih Reynand dari bu Salamah, digendongnya bocah kecil itu ditimang-timang nya dan dihujani dengan kecupan di wajahnya. Melihat hal itu Meilani dan Najwa ikut mengerubungi Lala yang sedang menggendong Reynand, seolah mendapatkan mainan baru, mereka berebut perhatian bayi tampan yang sangat lucu itu.


Tiba-tiba saja Reynand meronta-ronta seolah ingin diturunkan dari gendongan. Mungkin baby Reynand merasa tidak nyaman, karena merasa risih dikerubungi banyak orang terlebih yang baru dilihatnya.


Akhirnya Lala pun menurunkan Reynand dari gendongannya. Ketika diturunkan bayi itu langsung berlarian ke sana ke mari, dan terlihat sangat riang. Rupanya baby Reynand ingin bergerak dengan bebas.


Lala kemudian mendekati Reyna dan memeluknya merasa rindu dengan wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri itu.


"Lala, kamu betah kan berada di sini?" tanya Reyna sembari mengelus punggung Lala.


"Mbak, bolehkah Lala pulang bersama Mbak saja? Lala ingin pulang!" tutur Lala sembari meneteskan air mata.


"Ehh, anak manis tidak boleh begitu. Diawal memang terasa berat, La. Tapi, nantinya lama-lama kamu akan mulai terbiasa. Ingat kan apa tujuan awal kamu masuk ke pondok, ini adalah cobaan jadi kamu harus kuat dan sabar," ujar bu Salamah menasehati.


"Iya, La. Kamu tega ninggalin kita, kan kita selalu ada buat bantuin kamu. Kita awalnya juga begitu, La. Kamu hanya perlu bersabar sebentar lagi," tutur Meilani kepada Lala.


"Iya, La. Bukan Mbak nggak mau kamu ikut pulang, tapi ini untuk kebaikan kamu bukan? jangan seperti Mbak yang sudah terlambat belajar, kamu masih muda, tentunya peluangnya akan lebih banyak yang bisa kamu dapatkan dari belajar di pesantren. Carilah ilmu setinggi-tingginya, tentu hal itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kamu kelak, La. Mbak datang ke sini karena Kak Abi bilang kamu pasti sangat merindukan Reynand, makanya kita jenguk kamu supaya lebih semangat belajarnya. Dua minggu lagi insyaallah Mbak akan datang lagi buat jenguk kamu, jadi Lala harus semangat belajarnya, kamu pasti bisa Lala," ujar Reyna panjang lebar menasehati Lala.

__ADS_1


"Baiklah, Mbak ... Lala akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan," tutur Lala kemudian menghapus air matanya. "Terima kasih Mbak Reyna dan Mas Abi sudah datang untuk jenguk Lala," ujar Lala kemudian memeluk Reyna lagi.


Di saat itu Reyna melihat Reynand berdiri di pinggiran selokan yang cukup dalam sekitar satu meter.


Seketika Reyna melerai pelukannya dengan Lala dan dengan cepat berlari menuju anaknya berada.


"Reynand ...!" pekik Reyna sembari berlari kencang tanpa memperhatikan sekitarnya.


Dug!


Bugh!


Di saat yang sama dari arah yang berbeda ada santri yang sedang berlari karena terburu-buru hendak ke masjid karena adzan berkumandang. Akhirnya tubrukan pun tak terelakkan.


Santri itu terjatuh begitupun dengan Reyna yang seketika limbung jatuh ke lantai hingga tak sadarkan diri. Rupanya tabrakan itu tepat membentur kepala Reyna.


Semua orang yang menyaksikan langsung panik mendekati Reyna. Begitu juga dengan Lala yang mendahulukan untuk menghampiri Reynand agar tidak jatuh ke selokan, kemudian baru menghampiri Reyna yang sudah dikerumuni oleh yang lain.


"Reyna .... Reyn ...!" ucap bu Salamah sembari menepuk pelan pipi Reyna dengan cemas.


"Wa, cepat lapor ke kantor!" titah bu Salamah kepada Najwa untuk meminta bantuan.


Najwa beranjak berdiri dan segera pergi menuju kantor untuk meminta bantuan.


Ternyata di kantor sudah ditutup, sebab semua orang sudah menuju masjid. Sedangkan Najwa tidak mungkin mencari Abiyu, karena laki-laki berada di masjid yang berada di lingkungan pondok putra yang dikhususkan hanya laki-laki yang boleh masuk ke dalam area itu, perempuan tidak akan diperbolehkan masuk ke lingkungan itu. Akhirnya Reyna dibawa ke asrama untuk dibaringkan dan diberi pertolongan pertama.


Setelah salat ashar, salah seorang santri melapor ke kantor dan Abiyu diberitahu akan kondisi istrinya. Setelah mengetahui keadaan istrinya yang tidak sadarkan diri, Abiyu segera membawa Reyna ke rumah sakit. Sedangkan Reynand sementara dititipkan di pesantren bersama bu Salamah dan Lala, sebab tidak memungkinkan jika membawanya turut serta ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Reyna langsung dibawa ke ruang UGD, kemudian ditangani oleh dokter. Dokter mengatakan jika Reyna akan kembali siuman setelah beberapa saat. Dokter juga mengungkapkan jika tidak ada gangguan pada janin yang dikandungnya. Selang waktu dua jam akhirnya Reyna mulai sadar, dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Reyna mulai mengerjap, kemudian netranya mengitari seluruh sudut ruangan dan berhenti saat menangkap bayangan sosok yang di kenalnya.


"Aargh ...!" pekiknya sembari memegangi bagian atas kepalanya.

__ADS_1


Reyna merasa potongan-potongan ingatannya bermunculan secara tidak beraturan. Kepalanya seolah berdenyut, berputar-putar, dan serasa seolah ditusuk-tusuk.


"Sayang ... kamu sudah sadar? apa kamu butuh sesuatu?" tanya Abiyu kepada istrinya.


Reyna masih terdiam tanpa merespon kata-kata suaminya, matanya kembali terpejam dan terlihat gelisah dari raut wajahnya.


Abiyu memencet tombol untuk memanggil perawat agar segera datang.


"Em ... aku di mana, Kak? apa yang terjadi padaku?" tanya Reyna dengan tatapan bingung.


"Saat ini kita di rumah sakit, Reyn. Kamu tadi pingsan setelah bertabrakan dengan salah seorang santri," ungkap Abiyu mengatakan apa yang terjadi sebelum Reyna pingsan.


"Di mana Reynand, Kak? apa Reynand baik-baik saja? Reynand hampir jatuh ke selokan tadi, Kak!" tutur Reyna dengan pertanyaan bertubi-tubi yang meluncur dari bibir pucatnya.


"Tenang, Reyn. Reynand baik-baik saja dan tidak jatuh. Reynand aku titipkan dengan aman bersama bu Salamah dan Lala," tutur Abiyu menenangkan istrinya.


"Syukurlah, Kak. Aku ingin segera pulang dan bertemu Reynand, Kak. Tapi, kepalaku rasanya sangat sakit, Kak. Kepalaku serasa berputar-putar," tutur Reyna masih dengan memegangi kepalanya.


"Baiklah, kamu tenang dulu ya, kita tunggu apa kata dokter, Reyn. Kamu mau minum dulu? aku sudah memanggil perawat untuk datang," tutut Abiyu mencoba untuk menenangkan istrinya.


Tok tok tok!


Terlihat seorang suster muncul dari balik pintu.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang perawat.


"Tolong istri saya, Suster. Dia baru saja siuman, namun dia merasakan sakit di kepalanya," tutur Abiyu menjelaskan apa yang terjadi pada Reyna.


"Baiklah saya akan panggilkan dokter untuk memeriksanya. Sementara Bu Reyna harus tenang dan jangan panik ya! saya akan segera kembali!" tutur perawat tersebut.


Reyna akhirnya menurut untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Perlahan-lahan dia kembali memejamkan mata untuk merilekskan otaknya sembari menahan rasa sakit di kepalanya.


Setelah beberapa saat seorang perawat datang membawa dokter yang menangani Reyna. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ada kemungkinan ingatan Reyna kembali. Dokter memberikan obat suntikan pada infus agar Reyna bisa tenang saat menerima ingatannya itu. Dan, menyarankan agar Reyna kembali beristirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


...____________Ney-nna___________...


__ADS_2