Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Keinginan Kakek


__ADS_3

Sepulang dari pantai, Raka menuju ke rumah mamanya. Diparkirkan nya mobil di tepi jalan depan rumah mamanya, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah mamanya.


"Assalamu'alaikum, Ma," ucap Raka saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," jawab mama yang terdengar dari arah belakang.


Raka bergegas menjumpai mamanya yang dia duga sedang berada di dapur, dan ternyata benar. Mamanya sedang mencuci peralatan memasaknya.


Rahma memandang heran ke arah Raka yang baru muncul dari arah pintu.


"Kamu habis ngapain kotor begitu bajunya?" tanya Rahma saat melihat baju anaknya yang terlihat basah dan terdapat noda kehitaman seperti tanah di beberapa tempat.


"Barusan habis dari pantai, Ma!" jawab Raka kepada mamanya.


"Ke pantai? sama siapa?" tanya Rahma.


"Sama Fely, Ma," jawab Raka singkat.


"Kalian pergi berdua? kamu nggak ngapa-ngapain sama dia kan, Ka?" tanya Rahma yang menjadi ciriga kepada putranya.


"Enggak lah, Ma. Mau ngapain juga orang dia sama keluarganya juga kok!" tutur Raka yang tahu arah pembicaraan mamanya.


"Memangnya keluarga Fely sudah tahu jika kamu menikah siri dengan Fely?" tanya Rahma yang nampak sangat penasaran.


"Awalnya belum ada yang tahu sih, Ma. Tapi tadi Fely mengirim pesan, katanya kakak iparnya mengetahui hal itu," ujar Raka.


"Terus gimana? apa kakak iparnya marah?" tanya Rahma yang menjadi gelisah.


"Aku belum tahu sih, Ma. Tadi Fely nyuruh aku pulang duluan! tapi sepertinya setelah aku pergi mereka terlibat pembicaraan yang serius. Sampai saat ini Fely masih belum memberikan kabar!" tutur Raka yang meresahkan keadaan Fely saat ini.


"Ya ampun, semoga tidak terjadi apa-apa dengan Fely, jika keluarga nya dan juga ibunya tahu, pasti mereka akan sangat terkejut sebab anak perempuan semata wayang menyembunyikan hal ini pada mereka," tutur Rahma yang bisa membayangkan jika diposisi Fely pasti sangat sulit.


"Iya Ma, aku juga berpikir seperti itu dari tadi aku nggak tenang aku takut kalau dia kena marah sama kakaknya, harusnya aku tadi tetap di sana dan ikut menjelaskan hal ini kepada kakaknya. Aku tidak ingin dia menanggung penderitaan sendirian," tutur Raka yang sangat mengkhawatirkan keadaan Fely sepeninggalnya.


"Coba nanti kamu hubungi dia, jika dia butuh bantuan segera datang ke rumahnya dan jelaskan yang sesungguhnya terjadi kepada kakaknya. Kamu harus membantu Fely untuk menjelaskan kepada keluarganya!" ujar Rahma menasehati putranya. "Apa Fely sudah tahu jika pernikahan kalian tidak sah?" tanyanya lagi.


"Belum, Ma. Aku belum memberitahukan hal itu kepada Fely, tapi sungguh aku bersumpah aku tidak menyentuhnya!" tutur Raka mengatakan dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, Mama mempercayaimu. Mama hanya khawatir jika hal itu akan menjadi penghambat untukmu. Terlebih jika Fely marah padamu sebab merasa dibohongi," ujar Rahma mengungkapkan hal yang bisa terjadi.


Raka menjadi bingung. Hal itu juga yang saat ini dikhawatirkan olehnya.


"Semoga Fely bisa mengerti alasanku yang harus menyembunyikan hal itu. Tapi, yang jelas Fely tadi mengatakan dia sudah setuju untuk menjadi pendamping hidupku, Ma," tutur Raka kepada mamanya sembari tersenyum senang.


"Alhamdulillah, Fely memang anak yang tulus dan berhati baik, dia bahkan bisa menerimamu meski kamu mengatakan hanya seorang sopir. Mama merasa lega akan hal itu. Lantas apa rencana kamu ke depan?" tanya Mama.


"Nanti sepulang dari sini aku akan mengatakan kepada kakek jika aku ingin melamar Fely, Ma. Do'akan Raka ya, Ma. Semoga kakek merestui pilihan Raka untuk menikahi Fely," tutur Raka penuh harap.


"Aku yakin kakekmu pasti setuju, bukankah kakek menginginkan kamu menikah dengan orang kaya? dan Fely sangat pantas untuk bersanding denganmu, karena dia memenuhi kriteria yang kakekmu inginkan bukan? selain dia anak dari orang berada, Fely juga berpendidikan tinggi, apa yang akan membuat kakek tidak menyetujuinya? pasti kakekmu akan setuju! Mama yakin itu, Mama juga akan mendoakan agar jalan kalian untuk menuju pernikahan dipermudah!" tutur mama memberikan dorongan positif untuk anaknya.


Aku harap kamu tidak mengalami hal buruk seperti pernikahanku dengan ayahmu, Raka. Bahkan hingga kamu dewasa, tuan Wirya masih tidak bisa menerimaku sebagai menantunya! gumam Rahma di dalam hati.


"Iya, Ma. Aamiin! semoga saja kakek menerima Fely. Aku mandi dulu ya, Ma?" ujar Raka yang sudah merasa lengket dan tidak nyaman dengan tubuhnya yang kotor.


"Ya sudah, sana mandi! sebentar lagi adzan maghrib, habis salat kita makan bersama," tutur Rahma.


"Oke, Ma!" ucap Raka, kemudian naik ke atas menuju kamarnya.

__ADS_1


Raka bergegas untuk masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Setelah membersihkan diri, Raka mengambil wudhu. Raka bergegas memakai baju koko dan sarungnya tidak lupa menyirih rambutnya. Usai bersiap-siap dan sudah berpakaian rapi, Raka turun ke bawah untuk melaksanakan salat maghrib berjamaah dengan mamanya, di ruangan khusus untuk salat.


Seusai salat mereka makan bersama dalam diam, dengan pikirannya masing-masing. Raka masih menghawatirkan Fely yang masih belum memberi kabar padanya.


Sedangkan Rahma juga memikirkan hal yang sama dengan kelanjutan hubungan anaknya dan Fely. Seusai makan Rahma membawa pring kotor habis makan merek ke dalam wastafel dan mencucinya.


"Oh ya, Ka. Kemarin Mama bertemu dengan Pak RT saat berada di minimarket. Beliau menanyakan kapan kamu akan mendaftarkan pernikahanmu dengan Fely ke KUA. Beliau juga mengatakan jika siap sewaktu-waktu dipanggil sebagai saksi pengajuan itsbat nikah," tutur Rahma memberi tahu.


"Lalu Mama bilang apa sama Pak RT? tanya Raka kepada mamanya.


"Mama bilang jika kamu sedang mengusahakan. Semoga saja pernikahan kalian segera terwujud agar orang-orang yang kemaren memfitnah mu mereka tahu jika kamu benar-benar bertanggung jawab kepada Fely, bukan hanya sekedar menikah siri!" tutur mama yang merasa geram ketika mengingat orang-orang yang menyerukan hinaan dan cacian kepadanya maupun kepada putranya.


"Sudahlah, Mama tidak usah memikirkan orang lain mereka itu hanya pintar menilai keburukan orang lain tanpa menyadari sisi buruknya sendiri. Mama jangan sampai kepikiran karena hal itu! Mama jaga kesehatan ya," tutur Raka yang mengkhawatirkan keadaan mamanya yang hanya tinggal sendirian di rumah ini.


Jika bisa, suatu saat nanti ketika dia sudah menikah dia ingin membawa mamanya untuk tinggal bersamanya, agar dia bisa menjaga mamanya di hari tuanya. Dan iya yakin, Fely adalah orang yang tepat karena Fely juga sangat menyayangi keluarganya.


Seusai mengobrol dengan mamanya Raka berpamitan untuk pulang ke kediaman kakeknya. Ada nenek yang selalu menunggunya pulang seperti mama kedua baginya.


"Ma, Raka pulang dulu ya? jangan lupa kunci pintunya!" pamit Raka kepada mamanya.


Rahma mengantar putranya hingga ke depan pintu. Setelah Raka berlalu Rahma segera menutup pintu dan menguncinya.


****


Di kediaman Wirya Subrata.


Lima belas menit menempuh perjalanan dari rumah mamanya, kini Raka sudah sampai di kediaman kakeknya. Raka sedikit heran, karena melihat ada mobil lain yang terparkir di halaman rumah.


"Ah palingan itu mobil tamu, Kakek!" gumamnya sendiri.


Raka segera masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Sayup-sayup dia mendengar suara mereka yang sedang mengobrol tapi tidak jelas. Sampai di dalam Raka bertemu dengan kepala asisten rumah tangga kepercayaan kakek.


"Memangnya kenapa, Pak. Di depan kan ada tamu, kakek. Saya malas ah menemui tamu, Kakek!" ujar Raka yang sudah lelah dan ingin beristirahat.


"Tapi tuan Wirya menunggu anda. Dan, berpesan jika Mas Raka sudah pulang diminta menemuinya dan juga tamunya," tutur pak Yahya.


"Huh, siapa sih memangnya tamu, kakek?" tanya Raka dengan malas.


"Saya kurang tahu, Mas. Sebaiknya anda temui saja dulu, mungkin tamu penting yang ada hubungannya dengan perusahaan!" tutur Yahya meyakinkan Raka agar mengikuti perintah dari kakeknya.


"Kalau ada hubungannya dengan perusahaan harusnya dibicarakan di kantor bukan di rumah! ya sudah saya akan ke sana untuk menemui mereka," tutur Raka dan hendak pergi, namun terhenti saat mengingat sesuatu. "Oh ya, Pak. Keadaan nenek bagaimana?" tanya Raka sangat ingat pada neneknya.


"Nyonya besar sedang istirahat seusai meminum obatnya. Mas Raka tidak perlu mengkhawatirkan hal itu," tutur Yahya yang sudah memastikan jika perawat pribadi nyonya besar sudah mengurusnya dengan baik.


"Baiklah, aku pergi sekarang!" tutur Raka kemudian beranjak ke depan untuk menemui tamu kakeknya.


"Assalamu'alaikum, Kek!" ujar Raka kemudian mencium tangan kakeknya.


"Nah, ini Raka! kami sudah menunggumu dari tadi, kenapa pulang semalam ini?" tanya kakek kepada Raka yang sangat terlambat pulang.


"Ada urusan yang baru selesai, Kek!" ujar Raka beralasan.


Sebab, tidak mungkin jika dia mengatakan habis dari rumah mamanya. Kakek tidak pernah suka jika Raka terlalu sering berkunjung ke rumah mamanya.


"Raka masih ingat tidak sama mereka? mereka itu adalah orang tua dari Maura," tutur kakek memperkenalkan tamunya.


Mendengar hal itu Raka baru ingat kepada dua orang tamu kakek tersebut. Mereka adalah anak dari sahabat kakek dahulu. Ketika datang ke rumah mereka membawa anaknya yang seumuran dengan Raka.

__ADS_1


Maura adalah anak cengeng dan nyebelin yang selalu mengganggunya. Raka sangat ingat waktu dia dititipkan di rumah dan selalu mengintilnya kemanapun dia pergi. Dan setahu Raka mereka pindah ke Singapura dan menetap tinggal di sana.


Demi menjaga kesopanan kepada orang yang lebih tua, akhirnya Raka menghampiri tamu kakek dan menyapa mereka.


"Selamat malam, Om, Tante!" ujar Raka berbasa-basi.


"Malam Raka, wah Raka sudah sebesar ini ya dulu terakhir saya lihat waktu kelas enam SD ya, sekarang sangat tampan dan sudah gagah seperti ayahnya!" ujar mama Maura.


Raka hanya tersenyum menanggapi, sebenarnya dia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.


"Maaf Kek, Om, Tante, Raka permisi ke dalam dulu ya, Raka ingin melihat keadaan nenek terlebih dahulu!" pamit Raka dengan sopan.


"Baiklah Raka, kamu pasti capek baru saja pulang kerja, beristirahatlah!" ujar papa Maura.


Setelah kepergian Raka mereka melanjutkan pembicaraan tentang rencana mereka selanjutnya.


"Anak itu memang sangat menyayangi neneknya, setiap pulang kerja pasti mendatangi kamar neneknya, selalu itu yang pertama menjadi tujuannya!" ujar sang kakek.


"Justru itu menandakan bahwa Raka asalah anak yang baik Paman. Raka sepertinya sangat patuh kepada anda dan anaknya sopan, secara anak-anak jaman sekarang hanya segelintir yang tau sopan-santun dalam berperilaku kepada orang tua. Lebih banyak yang membangkang dan suka seenaknya, memang tidak salah jika kita menjodohkan Raka dengan Maura. Saya harap nantinya Raka bisa membimbing Maura menjadi seorang istri yang baik," tutur mama Maura.


"Kalian tunggu saja kabar dariku, nanti aku akan bicara dengan Raka agar meluangkan waktu untuk bertemu dengan Maura. Jika mereka sudah bertemu nanti, kita bicarakan lagi untuk penyelenggaraan pesta pertunangan untuk mereka!" tutur kakek Raka.


"Tapi, apa Anda yakin Raka mau menerima perjodohan ini? secara sudah lama sekali mereka tidak bertemu sejak Maura ikut kami tinggal di Singapura," ujar papa Maura yang meragukan anak mereka akan menurut untuk di jodohkan.


"Aku yakin Raka pasti akan menyetujui hal itu. Raka anak yang patuh, terlebih Maura anak yang cantik dan pendidikannya sangat baik, jadi mana mungkin Raka akan menolak Maura. Hanya Maura yang pantas menjadi pendamping Raka!" tutur kakek dengan penuh keyakinan.


"Ah, Anda terlalu memuji anak kami. Raka juga sangat berbakat di usianya yang masih muda dia sudah bisa menjadi direktur di perusahaan menggantikan ayahnya, sungguh kehormatan bagi kami bisa berbesanan dengan anda, Paman," ujar papa Maura yang merasa sangat senang atas tawaran kakek Raka untuk menjodohkan mereka.


"Kamu jangan terlalu merendahkan diri, perusahaan ayah kalian tak kalah hebat dari perusahaanku, dan kami dulu selalu bekerja sama dan saling bahu-membahu, sekarang dua perusahaan besar ini akan menjadi semakin maju ketika Raka dan Maura bersatu, sehingga kedepannya tujuanku dan ayahmu tercapai," tutur kakek Raka dengan senang.


"Tentu, Paman. Kami sangat mengharapkan hal itu bisa terwujud. Oh ya Paman, sepertinya sudah mulai larut, kami harus segera pulang, Paman. Anda juga harus beristirahat bukan! kami tidak ingin kedatangan kamu membuat waktu istirahat, Paman terganggu!" ujar mama Maura.


"Oh tidak, saya justru sangat senang dengan kedatangan kalian ke rumah ini, saya sudah menunggu sejak lama untuk hal ini. Dulu saat mereka masih kecil kami pernah membicarakan hal ini dengan ayahmu, tapi hanya obrolan ringan, apa salahnya jika kita mencoba berusaha untuk mewujudkannya, dan kalian tepat datang pada waktunya, di saat Raka belum mempunyai calon pendamping," tutur kakek Raka.


"Baiklah, Paman. Kami serahkan kepada Anda untuk mengatur bagaimana baiknya. Kami permisi pamit pulang. Selamat malam, Paman," ujar papa Maura.


"Iya, hati-hati di jalan!" ujar kakek Raka melepas kepergian mereka.


****


Setelah kepergian tamunya, kakek mendatangi kamarnya untuk menemui Raka. Sebab dia yakin Raka pasti berada di sana untuk menemani istrinya. Dan benar saja, Raka tengah berbicara berdua dengan istrinya.


"Raka, bisa kita bicara sebentar di ruang kerjaku?" ujar Kakek.


"Baiklah, Kek," ujar Raka patuh.


Kakek Raka kembali ke luar dari dalam kamar dan beranjak menuju ruang kerjanya.


"Nek, Raka pergi dulu ya ke ruang kerja Kakek? sekarang Nenek harus beristirahat, karena ini sudah larut malam," tutur Raka kemudian mengecup kening neneknya.


"Iya, jangan bertengkar dengan Kakekmu ya! bicarakan dengan baik-baik," ujar nenek yang sulit untuk dipahami.


Kenapa nenek berpesan seperti itu, ya? seolah-olah nenek tahu apa yang hendak dibicarakan oleh kakek! gumam Raka di dalam hati.


"Baiklah Nek, selamat tidur!" ujar Raka kemudian beranjak berdiri membenarkan selimut neneknya.


Setelah itu Raka melangkahkan kakinya ke luar kamar nenek, untuk menemui kakeknya.

__ADS_1


...___________Ney-nna___________...


__ADS_2