
πΆπΆ
Ingin ku akui cinta yang kau beri
Ingin ku akhiri sepi dan sendiri
Siapa yang mengerti perih dalam hati
Ingin ku akhiri pahitnya misteri
Hasrat untuk tepiskan semua kenyataan
Dan seribu bayangan hilang
Cinta itu, menjauhlah
Tinggalkanlah aku sendiri
Cinta itu, musnahkanlah
Karena kau satu-satunya
Yang ku cintai
πΆπΆ
Menyendiri di ruang kamarnya yang sunyi dan gelap. Mira hanya diam sembari memandangi langit malam yang tak berbintang dari kaca jendela kamarnya. Nasibnya seolah bersekutu dengan alam. Sepi dan sendiri.
Beberapa lagu yang bergenre mellow di putarnya untuk menambah sempurnanya kegalauannya malam ini. Tak bisa di pungkiri bahwa di lubuk hatinya terdalam masih sangat mencintai Jonathan. Namun, kebenciannya pun tak kalah besarnya untuk laki-laki yang tak bisa menjaga cintanya itu.
Mungkin Allah memang sengaja menggagalkan rencana pernikahan yang sudah di depan mata, agar ia tahu bahwa bukan Jonathan lah jodoh yang ditakdirkan untuknya. Sebab untuk yang kesekian kalinya, ia harus merasakan yang namanya patah hati dengan orang yang sama.
Namun, mengapa harus seperti ini situasinya ya Allah. Apa kata orang-orang nanti jika tahu pernikahanku batal. Terutama Mama, apa yang harus aku katakan kepada Mama, ya Allah. Aku tak akan sanggup jika melihat mama kecewa dan sakit karena aku. Kenapa bukan hanya aku saja yang merasakan kekecewaan ini! Mengapa Mama harus ikut merasakan luka hatiku!gumam Mira dalam hati sembari meneteskan air mata yang tak terbendung lagi.
Sampai saat ini Mira belum bisa mengatakan yang sedang terjadi kepada Mamanya. Ia harus mencari cara yang tepat untuk membuat Mamanya tidak shock.
Handphone ia biarkan dengan mode non aktif. Sebab Jonathan terus saja menghubunginya dan meminta Mira untuk tidak membatalkan pernikahannya.
Mana mungkin bisa, menikah dalam bayang-bayang sang suami yang telah memiliki anak dari perempuan lain. Apa itu adil untuk anak yang lahir dari kesalahan mereka. Betapa bencinya si anak itu ketika dewasa jika ia mengetahui ayah biologisnya tak bertanggung jawab, dan meninggalkan ibu yang mengandungnya, dan memilih untuk menikahi wanita lain.
Tidak! Mira tidak mungkin melakukannya. Jika itu sampai terjadi maka seumur hidup pun ia tak akan pernah mendapat ketenangan, bahagia di atas penderitaan orang lain. Biarkan Jonathan mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat.
****
Keesokannya seusai bersiap untuk pergi bekerja Mira di buat terkejut saat keluar dari kamarnya dan hendak menuju ruang makan. Ia berdiri mematung melihat pemandangan yang ada di depan mata yang menyesakkan hatinya. Jonathan tengah menelan makanannya sembari tertawa renyah dengan mamanya.
Lagi-lagi ia harus berusaha menyembunyikan perasaan terlukanya dengan mamanya.
"Ehh, itu Mira. Ayo Mir, buruan sarapan. Jonathan sudah menunggu kamu sejak tadi," ujar Mama dengan antusias.
Sungguh kamu membuatku semakin jengah. Bahkan kamu telah merusak moodku sedari pagi! batin Mira kesal.
"Mira, nanti sarapan di kantor aja, Ma. Pagi ini ada hal yang harus Mira kerjakan di kantor sebelum produksi di mulai," kilah Mira yang sudah tak berselera untuk makan sejak melihat wajah laki-laki itu.
"Haduhh, gimana sih, Mir. Jonathan kan belum selesai makan. Ayo makanlah sedikit!" pinta Mama.
"Beneran, Ma. Mira sudah gak keburu waktunya!" ujar Mira berbohong.
Mira mendekat ke Mamanya dan mencium punggung tangannya untuk salim. Ia kemudian berlalu meninggalkan Jona begitu saja tanpa mengajaknya berbicara.
"Ra, tungguin!" seru Jonathan yang buru-buru meneguk minumnya dan salim kepada mama Mira.
Jonathan berlari mengejar Mira yang telah lebih dulu berjalan ke luar.
"Ra, kamu gak perlu bawa mobil. Kita berangkat bersama. Aku akan mengantarkan mu terlebih dulu ke ruko," ujar Jonathan.
"Ogah, gue mau pergi sendiri!" ujar Mira ketus.
"Mira, kalian gak berangkat bareng?" rupanya mama menyusul juga ke depan.
Dengan berat hati akhirnya Mira setuju untuk berangkat bersama dengan Jonathan. Ia tidak ingin mamanya semakin curiga. Sementara ia akan mengalah sampai ia mendapatkan cara yang tepat untuk mengatakan yang sesungguhnya pada mamanya.
Saat berada di mobil suasana hening. Mira hanya diam sembari membuang pandangannya ke luar jendela dan berkutat dengan isi otaknya.
"Ra, mama belum tahu kan? Itu artinya kamu akan kasih aku kesempatan bukan?" tanya Jona memecah keheningan sembari mengemudi.
"PD sekali lo menyimpulkan demikian. Gue hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada mama. Jangan pernah sekalipun lo berpikir gue akan memberimu kesempatan. Karena tak akan ada kesempatan lagi buat lo!" ujar Mira dengan penuh penekanan.
"Please, Ra. Kasih aku kesempatan sekali ini. dan aku janji gak akan pernah mengecewakan kamu lagi, Ra," Jonathan memohon.
"Gak akan ada kesempatan lagi buat lo. Lo udah bikin gue kecewa dua kali, bahkan sebelum kita menikah. Siapa yang akan menjamin jika lo gak akan mengulangi kesalahan lo lagi untuk kesekian kalinya di kemudian hari?"
__ADS_1
"Lagi pula lo seharusnya memikirkan bagaimana cara lo untuk bertanggungjawab kepada bayi yang ada di dalam kandungan wanita itu. Anak itu darah daging lo, yang suatu saat akan mencari ayah biologisnya. Gue gak mau bahagia di atas penderitaan orang lain. Jadi mendingan lo urus aja wanita itu, dan gak usah nemuin gue lagi. Hubungan kita sudah berakhir!" tutur Mira dengan tegas.
"Tapi, Ra....," perkataan Jonathan terpotong karena mereka sudah sampai di depan ruko.
"Nah, gue udah sampai. Terima kasih buat tumpangannya. Lain kali jangan pernah lagi lo datang ke rumah gue dan nemuin, Mama. Lo tahu kan Mama gue sakit-sakitan. Kalau Lo masih punya hati, jangan libatkan Mama untuk membuat gue kembali sama lo. Karena gue juga gak akan pernah mau ngasih kesempatan lagi sama lo!"
Mira bergegas ke luar dari dalam mobil Jonathan dan tergesa-gesa masuk ke dalam ruko. Jonathan ikut ke luar dari dalam mobilnya dan terus memanggil-manggil Mira untuk memberinya waktu berbicara. Namun, Mira tak lagi menoleh ke belakang dan terus melangkah meninggalkannya.
Abiyu dan Bunda Maya yang saat itu baru datang ikut menyaksikan pemandangan tidak sedap antara sepasang kekasih itu dari dalam mobilnya.
"Ada apa lagi dengan Mira dan pacarnya? Bukankah mereka akan segera menikah?" gumam Abiyu yang di dengar oleh bundanya.
Jonathan terlihat frustasi dan beberapa kali menendang ban mobilnya dengan kesal. Sungguh pemandangan yang menyedihkan.
"Mereka batal menikah!" ujar bunda Maya yang sudah tahu akan duduk permasalahan mereka.
Abiyu memandang bundanya dengan terkejut, "Memangnya ada apa, Bun? Bukankah sebentar lagi rencana pernikahannya?"
Abiyu seolah tak percaya akan hal yang di dengarnya.
"Kasihan, Mira. Semoga masalahnya cepat berlalu dan menemukan pengganti yang lebih baik daripada kekasihnya itu!" ujar bunda Maya dengan sendu.
Dimulai dari pagi harinya yang sudah menguras hati, akhirnya berkelanjutan hingga sore moodnya tak jua kembali membaik.
Drrrrt drrrt drrrrt.
Handphonenya bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya saat mengetahui siapa peneleponnya.
"Hallo, Assalamualaikum, Beib!"
"Wa'alaikumussalam, Mir. Lagi sibuk nggak?" tanya Reyna dari seberang telepon.
"Nggak, Beib. Gue kangen banget nih sama lo. Kapan si ganteng di bawa ke Jakarta?"
"Aku juga kangen banget Mir, sama kamu. Ini aku udah di Jakarta. Baru juga tadi pagi nyampe sini," tutur Reyna.
"Beneran, Beib. Aduh gue jadi gak sabar nih pengen liat si ganteng Reynand," ujar Mira antusias.
"Ke sini aja, Mir. Bentar lagi uda jam pulang kan. Ini dia bangun, bentar lagi aku mau mandiin Reynand. Biar uda ganteng nanti kalau di apelin sama aunty cantik!" terdengar lirih suara bayi menangis.
"Ehh, itu dia nangis ya, Beib. Iya deh nanti gue pulang kantor mampir ke sana!" ujar Mira.
"Oke di tunggu ya, Mir. Udah dulu ya aunty, Reynand rewel nih bangun dari bobonya minta ASI."
"Wa'alaikumussalam!"
Telepon di matikan.
Hanya mendengar kabar jika Reyna kembali ke Jakarta bersama babynya saja mood Mira kembali ceria.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Mira membereskan pekerjaannya dan bergegas turun menuju loby. Ia bisa melihat jika Jonathan sudah menunggunya di luar.
Sial! Ngapain lagi sih dia ke sini! Kalau gue keluar sekarang karyawan yang lain bakal ngelihat perdebatan gue sama Jona, nih. mendingan gue tunggu sampai sepi deh! batin Mira gusar.
"Ayo, mbak Mira, kita pulang!" ujar Gina sembari memakai jaketnya untuk bersiap pulang.
"Emm, gue balik ke atas dulu deh, Gin. Ada yang ketinggalan. Pintu utama ruko biar aku saja yang kunci. Mana kuncinya?" kilah Mira yang kemudian menyabet kunci dari tangan Gina.
"Ya udah deh, aku duluan ya, Mbak!" seru Gina kepada Mira yang kembali menaiki anak tangga dan menuju ruang kantornya.
"Hati-hati, Gin!" seru Mira. Yang di jawab dengan anggukan oleh Gina dan mengacungkan jari jempolnya.
Mira memperhatikan dari jendela ruang kantornya yang terletak di lantai 2. Karyawan sudah mulai berhamburan pulang. Dan, Jona masih saja setia menunggu duduk di dalam mobilnya. Hingga lima belas menit berlalu kantor sudah sepi, terlihat Jona ke luar dari dalam mobilnya dan hendak masuk ke dalam loby ruko. Mira bergegas turun untuk ke luar.
"Ra, ayo aku antar pulang!" ajak Jona yang langsung menggenggam tangan Mira ketika melihat Mira keluar dari dalam ruko.
Mira menghempaskan nya dengan kasar, "Lepaskan!"
Mira kemudian mengunci pintu ruko dan memasukkan kuncinya ke dalam tasnya.
"Sudah gue bilang jangan menemui gue lagi, buat apa lo ke sini. Gue bisa pulang sendiri!" ujar Mira dengan ketus.
"Aku tak akan berhenti berusaha untuk meyakinkanmu, Ra. Aku tidak mencintainya, Ra. Aku hanya mencintai kamu!" Jonathan terus membujuk Mira agar kembali padanya.
"Gila lo ya! Di mana hati nurani lo sebagai laki-laki. Lo udah menghamili perempuan maen di tinggal begitu aja dan memohon-mohon untuk kembali sama gue dan menikah sama gue begitu! Di mana sih otak lo gak di pake buat mikir ya! Urus masalah lo sana. Hubungan kita sudah berakhir. End! Gak ngerti juga ya dari kemaren dibilangin. Gue gak bakalan lagi balik sama lo! Camkan itu!" Mira berjalan ke samping pelataran restoran bunda Maya saat melihat Abiyu hendak pulang.
"Ra...., Rara....!" seru Jonathan sembari mengikuti Mira dari belakang.
"Kak Abi...! Gue nebeng ya pulang? Gue gak bawa mobil nih!" tutur Mira.
"Emm...., boleh sih," Abiyu sedikit ragu karena ada laki-laki di belakang Mira yang terus mengikutinya.
__ADS_1
"Ya udah buruan masuk, ngapain bengong aja!" tegur Mira yang melihat Abiyu seolah bingung.
Mira langsung masuk begitu saja ke jok depan di samping Abiyu. Abiyu menyalakan mesin mobilnya.
"Ini beneran gak apa-apa nih kamu pulang bareng aku?" tanya Abiyu yang masih bingung karena Jona terus saja menggedor-gedor kaca mobil dan meneriaki Mira.
"Ishh, buset deh kak! Ayo buruan jalan! Tinggal aja sih!" greget Mira.
Abiyu kemudian menurut dan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan Jona.
"Di mana rumah kamu?" tanya Abiyu ketika mereka sudah sampai berada di jalan raya.
"Kita ke rumah Reyna, Kak!" ujar Mira.
"Hahh ke rumah Reyna? Bukannya Reyna tinggal di Solo?" tanya Abiyu yang nampak terkejut.
"Reyna uda balik tadi pagi katanya, Kak. Aku mau nengokin bayinya," ujar Mira.
"Ohh, sudah lahiran. Cewek apa cowok?" tanya Abiyu.
"Cowok kak, kak Abi kapan?" canda Mira.
"Ehh, ada-ada aja nih pertanyaan kamu. Kapan apanya?" jawab Abiyu sembari membuang muka ke jalanan seolah sibuk memperhatikan jalanan.
"Kapan move on'nya, eaaa....! Hhhahaha...!" Mira tertawa lepas seolah sedang tak mempunyai beban masalah.
Baginya ada kesenangan tersendiri ketika mengganggu laki-laki lempeng yang berada di sampingnya.
"Apa sih kamu itu suka nggak jelas! Tadi udah kayak kebakaran jenggot, kenapa cepat sekali ceria begitu!" tanya Abiyu heran.
"Hhhahaha....habisnya kak Abi lucu banget sih! Ketahuan tau mukanya kalau belom move on!" goda Mira lagi.
"Ehh kata siapa! Gak lah!"
Tak terasa mereka sudah sampai di pelataran rumah kediaman Hadi Jaya.
"Eh, Kak ikut turun yuk!" ajak Mira.
"Nggak ah, sungkan sama keluarganya," Abiyu memperhatikan deretan mobil yang berjajar penuh di garasi. Artinya suami Reyna kemungkinan besar ada di rumah.
"Yahh, gak seru ihh!" Mira kecewa.
"Miraa, jadi ke sini ternyata...!" tiba-tiba saja Reyna muncul dari teras rumah.
"Reynaaaa...!" Mira langsung turun dari mobil dan menghambur memeluk sahabatnya.
Abiyu yang tadinya mau langsung pergi tanpa turun akhirnya ikut turun karena kepalang tanggung sudah terlihat yang punya rumah. Sungkan jika pergi tanpa pamit.
"Ehh, ada kak Abi juga," ujar Reyna saat melihat Abiyu keluar dari dalam mobilnya.
"Apa kabar, Reyn!" sapa Abiyu.
"Baik, kak. Kok bisa barengan?" tanya Reyna.
"Barusan kak Abi nolongin gue waktu di kejar orang gila," ujar Mira.
"Orang gila, kok bisa?" tanya Reyna heran.
"Bisalah kenapa gak bisa!" Mira kembali kesal mengingat hal tadi.
"Sayang, nih Reynand mulai gak bisa diem, mungkin mau minum?" Rangga keluar dari dalam rumah sembari menggendong bayinya.
"Ehh, ini si ganteng ya! Aduh gemoy banget, Ga. Mirip siapa ini?" Mira seketika mendekati bayi Reyna.
Reynand yang tadinya anteng begitu mendengar suara berisik Mira jadi menangis. Reyna kemudian mengambil alih untuk menggendong putranya. Dan membawanya masuk untuk diberi ASI. Mira mengikuti Reyna masuk ke dalam rumah dan melupakan Abiyu yang tercenung di tinggal bersama dengan Rangga berdua saja, di teras rumah.
Keduanya nampak canggung dan sungkan untuk mulai menyapa terlebih dahulu.
"Mari silakan masuk!" ujar Rangga yang akhirnya memulai membuka percakapan.
"Emm, maaf saya langsung pamit saja karena masih ada urusan di tempat lain," ujar Abiyu beralasan.
"Oh, begitu. Baiklah!" jawab Rangga yang sama canggungnya.
Abiyu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, "Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!" jawab Rangga sembari menjabat jemari Abiyu.
Keduanya merasa lega karena tidak harus terlibat dengan percakapan yang panjang. Dan Abiyu pun berlalu meninggalkan kediaman Hadi Jaya.
______________________Ney-nna______________
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya reader's. Terima kasih dukungannya πππ