
Terdengar adzan berkumandang dari kejauhan, menyerukan ajakan bagi seluruh umat muslim untuk menghadap sang Ilahi Robbi. Sejenak Raka terdiam sembari duduk di tepian tempat tidur. Dalam hati dia menjawab seruan dari sang muadzin yang terdengar jelas di telinganya. Setelah itu dia segera bangkit untuk mengambil wudhu.
Dikenakannya sarung dan kemeja koko, kemudian bergegas ke luar rumah untuk menuju ke masjid terdekat di kampungnya. Dengan langkah mantap dia berjalan sembari memegangi sajadahnya yang tersampir di bahunya.
Angin yang berhembus mengedarkan aroma embun pagi yang membasahi rerumputan hingga menyeruak pada indera penciumannya. Langkahnya semakin lama terasa ringan saat menatap indahnya langit senja yang masih diterangi sinar bulan. Suasana pagi yang sunyi namun mententramkan jiwa bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Sesampainya di masjid tidak lupa Raka mengerjakan salat sunnah fajar. Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Nabi SAW tidaklah menjaga salat sunnah yang lebih daripada menjaga salat sunnah dua rakaat sebelum subuh.” (HR.Muslim). Maksudnya yakni salat sunnah fajar sangat dianjurkan oleh nabi, sebab memiliki banyak keutamaannya. Diantarannya adalah dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat salat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim). Hadist tersebut berarti melaksanakan salat fajar merupakan salah satu amalan yang sangat baik diantara kebaikan yang ada di dunia.
Selain itu mengerjakan salat sebelum matahari terbit akan diselamatkan dari api neraka, mendapatkan pahala yang tidak terbatas, mendapatkan perlindungan dari Allah, dibuatkan rumah di surga, dan mendapatkan penerangan cahaya ketika melewati jembatan sirath, agar jembatan yang hanya sehelai rambut dan gelap dapat terlihat terang bagi mereka yang senantiasa melaksanakan salat fajar.
Setelah melaksanakan salat fajar dan salat subuh, Raka perbanyak beristighfar dalam doanya. Para jema'ah salat subuh pun mulai meninggalkan masjid satu persatu.
Seusai bermunajat kepada Allah, Raka mendatangi kotak infaq yang berada di bagian depan masjid. Di rogohnya selembar uang dari saku kemejanya dan segera memasukkannya ke dalam kotak infaq tersebut.
Raka menyadari satu hal setelah menjalankan serangkaian ibadah subuhnya, hatinya terasa tenang, langkahnya ringan, dan pikirannya terbuka. Dia berharap dapat istiqomah dalam menjalankannya.
“Assalamu’alaikum, Ma,” ucap Raka seraya memasuki rumah.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Rahma yang tengah berdiri di depan pintu musalla seusai menyelesaikan salatnya.
“Ma, nanti seusai sarapan temani Raka mencari cincin dan seserahan untuk Fely ya, Ma,” pinta Raka.
“Iya, baru saja Mama mau mengingatkan, lantas bagaimana dengan maharnya? jadi uang atau yang lainnya?” tanya Rahma memastikan.
“Raka mempunyai rencana yang bagus tentang hal itu, Ma. Nanti Raka ceritakan saat kita sarapan. Raka ke kamar dulu ya, Ma. Raka ingin membaca Al-Qur’an dulu,” tutur Raka.
“Baiklah, Mama juga mau masak dulu,” jawab Rahma sembari tersenyum ke arah putranya.
****
“Raka, bagaimana ukuran cincinnya?” tanya Rahma saat berada di depan sebuah toko yang menjual perhiasan dari emas.
Sebelumnya mereka sudah berbelanja barang-barang untuk seserahan yang akan diberikan kepada Fely saat akad nikah nanti. Kemudian, mereka mendatangi toko perhiasan yang masih satu lokasi dengan tempat berbelanja tadi.
“Tenang, Ma. Raka sudah persiapkan untuk ukurannya,” ujar Raka seraya merogoh dompet dari saku celananya.
Raka membuka dompet tersebut dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. “Nih, ukurannya, Ma!" ujar Raka sembari memperlihatkan sedotan berbentuk lingkaran kecil dengan ikatan di bagian atasnya.
__ADS_1
Rahma nampak bingung saat melihat benda yang disodorkan ke hadapannya. “Bukannya itu sedotan? mau kamu apakan sedotannya, Raka?”
Raka tidak menjawab pertanyaan dari mamanya. Raka hanya tersenyum saat menanggapinya, kemudian beranjak mendekat pada showcase toko perhiasan emas tersebut.
“Mbak, permisi!” panggil Raka kepada karyawan toko perhiasan tersebut.
“Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” jawab si karyawan toko dengan ramah.
“Saya mau membeli cincin pernikahan, bisakah dicarikan cincin dengan model terbaru yang ukurannya sama dengan diameter lingkaran pada sedotan ini, Mbak?” pinta Raka sembari memperlihatkan sedotan yang tadi dibawanya ke hadapan si karyawan toko.
“Se-sedotan? pfftt…!” pekik si karyawantoko sembari menahan tawanya yang hampir meledak. “Oh maaf, maksud saya akan saya cek terlebih dulu ukurannya, Mas. Boleh saya pinjam sedotannya sebentar?” Ralatnya seraya meminta sedotan tersebut.
Selama menjadi karyawan toko baru kali ini dia melayani seorang pembeli dengan membawa sedotan sebagai contoh ukurannya.
“Silakan, Mbak. Hati-hati ya, jangan sampai ikatannya lepas!” ujar Raka memperingatkan sembari menyerahkan sedotannya pada karyawan toko itu.
“Baik, Mas. Mohon tunggu sebentar!” ucapnya, kemudian berbalik menuju ke belakang meninggalkan showcase perhiasan yang terpajang.
“Yaampun, Raka. Kamu lihat? bukan hanya Mama saja yang merasa keheranan dengan sedotannya. Ada ada saja kamu itu! Mama jadi penasaran bagaimana caramu mengambil ukurannya pada jari Fely? Ini sangat konyol,” tutur Rahma sembari tertawa berbisik di dekat telinga putranya.
“Astaga, anak muda jaman sekarang!” ujar Rahma sambil geleng-geleng kepala.
Drrrtt drrttt drrtt.
Raka merasakan ada yang bergetar pada saku celananya. Dirogohnya handphone miliknya tersebut. Rupanya ada telepon dari papa Maura.
“Hallo, assalamu’alaikum,Pa?” tanya Raka.
“Wa’alaikumsalam, Raka. Bisakah kita bertemu? Ada hal yang penting yang ingin Papa bicarakan denganmu,” tutur papa Maura.
“Emm, Raka sedang pergi ke luar dengan mama, Pa. Bagaimana kalau satu jam lagi?” jawab Raka.
“Oke baiklah. Satu jam lagi Papa tunggu di kantor Papa, ya? kamu bisa kan ke mari?” tanya papa Maura.
“Insyaa Allah bisa, Pa,”ujar Raka.
“Baiklah, Papa tunggu di ruangan Papa, ya!”
__ADS_1
“Iya, Pa. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Telepon dimatikan.
Raka segera memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku celananya.
“Ada apa, Raka?” tanya Rahma ingin tahu.
“Papa minta bertemu, Ma,” tutur Raka.
“Apakah ada kabar baik?” tanya Rahma.
“Raka belum tahu, Ma. Papa belum mengatakan alasannya meminta bertemu,” tutur Raka.
“Semoga saja itu adalah hal baik untukmu, Nak!”
“Aamiin, doakan saja yang terbaik buat Raka ya, Ma!"
“Tentu, Sayang!”
Seusai memilih cincin pernikahan dan satu set perhiasan untuk Fely, Raka dan mamanya pulang ke rumah. Banyak belanjaan yang mereka bawa sehingga Raka memilih untuk memesan taxi online untuk pulang dan perginya.
“Ka, kamu nggak pengen beli mobil?” tanya Rahma saat sudah tiba di rumahnya.
“Iya, Ma. Sebenarnya Raka ada rencana untuk membeli mobil second yang harganya tidak terlalu mahal. Tapi Raka belum dapat yang sesuai untuk Raka, Ma,” ujar Raka.
“Itu pasti cukup sulit buat kamu, saat bersama kakekmu kamu bisa membeli apa saja yang kamu inginkan. Dan, saat ini kamu harus menyesuaikan dengan isi kantongmu,” tutur Rahma.
“Raka lebih senang dengan yang sekarang, Ma. Meski hidup sederhana tapi lebih berarti bagi Raka.”
"Alhamdulillah, jika uangmu masih kurang Mama masih ada sedikit simpanan."
"Enggak, Ma. Insyaa Allah nanti akan di cukupkan oleh Allah," tutur Raka. "Ma, Raka pergi ke kantor papa dulu ya!"
"Iya, hati- hati di jalan, Ka!"
..._______Ney-nna_______...
__ADS_1