
Hari itu Abiyu dan Reyna telah meninggalkan Yogya. Dan untuk sementara waktu mereka menitipkan Lala tinggal di rumah Bi Lastri agar tidak kesepian di rumah sendiri. Mega yang tengah menyusun rencana balas dendam, menjadi geram. Sebab niatnya untuk mencelakai Reyna gagal.
Mega tidak menemukan aktivitas saat memantau rumah Reyna seharian, setelah mengorek dari tetangga Reyna, Mega mendapat info jika rumah itu dalam keadaan kosong. Mega baru tahu jika Reyna dan Abiyu telah meninggalkan Yogyakarta sejak kemarin malam.
...🌾🌾🌾...
...Selepas kau pergi...
...Tinggallah di sini ku sendiri...
...Kumerasakan sesuatu...
...Yang tlah hilang di dalam hidupku...
...Bantu aku membencimu...
...Kuterlalu mencintaimu...
...Dirimu begitu berarti untukku...
...Kau telah mencinta...
...Dan dicintai kekasihmu...
...Ini tak adil bagiku...
...Hilanglah damba tinggalah hampa...
...🍃🍃🍃...
****
POV. Reyna.
Malam itu aku dan Kak Abi telah sampai di Jakarta. Kami langsung menuju rumah bunda Maya. Padahal aku sangat ingin pulang ke rumah kediaman kakek Hadi Jaya. Namun, aku tidak mengatakannya kepada Kak Abi demi menjaga perasaannya.
Terlebih bunda Maya telah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatanganku dan Reynand di rumahnya untuk yang pertama kali sebagai seorang menantu.
Saat pertama aku datang Bunda langsung memintaku untuk naik ke atas menuju ke kamar kak Abi. Sedangkan kak Abi masih di depan rumah untuk menurunkan koper dari bagasi. Bunda terlihat sangat senang dan antusias menyambutku saat aku datang.
Namun,aku merasa ada yang berbeda dari tatapan Fely padaku. Fely menatap jengah terhadapku. Padahal seingatku dulu Fely sangat ramah padaku. Saat aku melihat ke arahnya, dia malah berpaling dan pergi begitu saja meningggalkan ruangan dan menuju kamarnya.
__ADS_1
Aku mencoba berpikir positif, mungkin Fely sedang ada masalah pribadi atau dia sedang sibuk hingga tidak menyapaku. Aku tidak ambil pusing dengan hal itu. Aku merasa sangat lelah dan mengantuk jadi begitu sampai di kamar kak Abi aku langsung meletakkan Reynand di tempat tidur anak yang bergambar doraemon, yang telah disediakan khusus oleh bunda Maya untuk Reynand.
Aku merasa sangat beruntung mempunyai ibu mertua sebaik bunda Maya yang sedari awal sudah aku anggap seperti ibu kandungku sendiri dan sangat peduli padaku.
“Reyn, kamu istirahat ya? Bunda juga mau istirahat dulu. Sudah ngantuk sekali!” ujar bunda Maya saat menyadari jam sudah menunjukkan pukul 23.30.
“Iya, Bun. Terima kasih atas segalanya, Bun!” ucapku pada ibu mertuaku.
“Iya sama-sama, Sayang.”
Setelah itu bunda ke luar dari kamar kak Abi dan berlalu menuju kamarnya.
Lantas aku masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti baju dengan piama tidur. Saat aku ke luar dari kamar mandi kak Abi sudah berada di kamar sedang merebahkan diri di sofa, dan beranjak duduk saat melihatku.
“Sudah selesai ya? Jika sudah cape tidak usah menunggu langsung istirahat saja!” ujar kak Abi kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Aku terdiam tidak menjawab hanya memperhatikan saja hingga kak Abi masuk ke dalam kamar mandi. Terkadang aku membayangkan, jika yang berada di hadapanku tadi Rangga pasti akan berbeda. Rangga pasti akan berkata: “Sayang, kalau sudah cape kamu istirahat saja duluan!” setelah itu Rangga pasti akan membelai kepalaku sebelum beranjak pergi.
“Astaghfirullah, kenapa aku jadi membanding-bandingkan mereka!” ucapku kemudian beranjak ke tempat tidur.
Aku mulai merebahkan tubuhku di atas ranjang kemudian mencoba memejamkan mata. Dan, dalam sekejap aku sudah terlelap dalam tidurku.
Tiba-tiba saja aku merasakan kasurnya berguncang. Dengan malas aku mencoba untuk membuka mata. Seraya berkata, “Ada apa, By? Aku masih ngantuk!”
“Kak Abi!” pekikku kaget.
“Mulai berani ya panggil nama aku?” tanya Kak Abi yang tidak aku mengerti.
Panggil nama? Apamaksudnya?
“Maksudnya, Kak? tanyaku pada kak Abi, yang tidak mengerti.
“Barusan kamu bilang, ‘Ada apa, Bi? Aku masih ngantuk!’ apa itu kalu bukan panggil nama?” tanya kak Abi padaku.
Astaghfirullah, aku tadi pasti salah sebut! Maafkan aku Kak! By, yang aku ucapkan itu bukan untuk memanggil namamu!
“Ehm … maaf Kak, aku pasti tanpa sadar mengucapkan hal itu!” kilahku tanpa menjelaskan yang sesungguhnya terjadi.
“Ya sudah, ayo cepat bangun ini sudah jam setengah lima, dan kamu belum salat subuh kan!” ujar kak Abi mengingatkan.
“Setengah lima?” aku langsung bejingkat hendak melompat turun dari ranjang, tapi langkahku tertahan.
__ADS_1
Eh, kenapa ini! pekikku dalam hati, kemudian menoleh ke belakang. Rupanya kak Abi menahan bajuku bagian belakang.
“Kenapa kak?” tanyaku heran.
“Kamu kalau bangun tidur jangan langsung bangkit! duduk dulu sebentar hingga system syarafnya normal dulu biar tidak pusing!” ujar kak Abi mengingatkan.
“Hhehehehe … iya terima kasih Kak, sudah diingatkan!” ujarku sembari tersenyum ke arahnya.
Dari hal ini aku tahu jika keduanya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika Rangga suka jahil dan bercanda denganku, kak Abi lebih dewasa dan ngemong kalau orang jawa bilang. Setiap orang memberikan warna tersendiri dalam hidup kita. Dan keduanya punya cara tersendiri untuk menyentuh hatiku.
Dirasa nyawaku sudah terkumpul, aku berusaha untuk perlahan bangkit. Kemudian aku melaksanakan kewajibanku pada Allah.
Seusai salat aku mendekat ke arah kaK abi untuk bertanya sesuatu, “Kak, bolehkah aku menemui nenek?” tanyaku.
Kak Abi terlihat mengernyit kemudian nampak berpikir. “Lalu , kapan kamu berniat akan mendatangi Mira, atau pergi ke rumah Nenek dahulu?” tanya kak Abi yang membuatku bingung.
“Oiya, Kak. Aku mau ke rumah nenek dulu saja!” kalau bertemu di ruko nanti rebut-ribut di ruko yang lain akan tahu. Kasian MIra jadi bahan pergunjingan.
“Ya sudah, nanti aku antar ke rumah nenek dulu habis itu aku tinggal dulu ya, mau nengok ke café yang baru. Sorenya aku jemput lagi, terus kita ke rumah Mira,” ujar kak Abi memberi usulan.
“Baik, Kak. Makasih ya, Kak!” ujarku kemudian memeluk kak Abi saking senangnya.
****
Saat di meja makan, aku kembali merasa aneh dengan sikap Fely yang terlihat dingin padaku. Lagi-lagi aku tidak disapa dan seolah-olah dia tidak peduli dengan keberadaanku di rumah ini. Aku mulai merasa sedih dan insecure berada di rumah ini. Sebenarnya apa yang membuat sikapnya tiba-tiba berubah drastis padaku. Apa salahku hingga aku diperlakukan seperti ini? nyaliku menciut dan merasa serba salah.
“Ayo, Reyn! makan yang banyak!” ucap bunda yang membuatku sedikit beralih ke mode normal. Padahal sesungguhnya aku merasakan sesak di dada jika diperlakukan seperti itu.
“Iya, Bunda. Masakan Bunda enak banget!” ujarku pada bunda.
Namun, tepat saat itu Fely menatap tajam padaku, seolah ada yang salah dari perkataanku dan dia tidak menyukai hal itu.
Seusai itu Bunda dan Felly berangkat ke restoran dan kak Abi mengantarkanku ke rumah nenek. Diperjalanan aku terus memikirkan sikap Fely. Padahal aku dari dulu menyayanginya selayaknya adik perempuanku. Sehingga hal itu membuatku merasa sedih.
____________________Ney-nna________________
Minta tolong dukungannya ya reader's, supaya author semangat UPnya terima kasih 🙏🙏
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
__ADS_1
...GTive a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕💕...