Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Makan malam terpanas


__ADS_3

Aku merasa seperti ada gempa. Tubuhku berguncang dalam waktu sepersekian detik. Namun badanku terasa berat untuk di gerakkan. Aku ingin tetap tidur sebentar lagi.


"Cin, Cindy...., bangun...!" seperti ada yang memanggil-manggil namaku.


"Sebentar lagi, Ummi. Badan Cindy pegel banget, Ummi," ujarku masih dengan mata tertutup. Rasanya mataku lengket, tak bisa ku buka.


Aku mengubah posisi miring ke sebelah kanan, membelakangi suara yg terasa berdenging di telinga kiriku.


"Cindy, cepet buka mata kamu, dan lihat lah siapa aku!" kok dari suaranya kayak suara laki-laki. Sepertinya juga bukan suara abi.


'Iihh siapa sih nyebelin banget, ganggu orang lagi tidur saja!' dalam hati aku merasa sangat kesal.


Ku coba untuk menggerakkan badan. Badanku serasa patah-patah di bagian tulangnya. Aku mengucek-kucek mataku agar bisa untuk di buka, sebab rasanya bagian atas dan bawah menempel sehingga seperti di lem . Perlahan aku mengerjapkan mata, meyoroti ruangan di mana aku berada. Sedikit-demi sedikit nyawaku mulai terkumpul dan ke sadaranku mulai normal.


'Ehh, ini aku di mana? Seperti bukan kamarku!' batinku.


Perlahan aku mengubah posisiku hingga terlentang.


"Arghh.. astaghfirullahalazim!" pekikku kaget, "Dokter, ngapain Dokter di sini?"


Reflek aku langsung menggeser kepalaku untuk menjauh ke belakang.


"Emang salah kalau aku di sini? Kamu lupa siapa aku?" tanya dr.Dimas.


Kemudian aku mengitari pandangan ke seluruh ruangan.


'Kamar Qila! Oh iya... aku kan tadi tidur bersama Qila. Dan, aku kan sudah menikah dengan dr.Dimas. Kenapa bisa lupa!' aku merutuki kebodohanku dan merasa malu yang teramat sangat pada dr.Dimas.


"Sudah ingat belum? Apa masih bermimpi? Apa perlu aku cium agar kamu sadar?" ejek dr.Dimas melihat aku linglung.


"Em... emm... ma-af, Dok. Saya pikir tadi saya berada di rumah saya," sungguh aku sangat malu sekali. Kemudian, aku beranjak untuk duduk.


""Hhhhh...!" dr.Dimas menghela nafas beratnya.


"Ya sudah, sekarang kamu cepat mandi. Sebentar lagi adzan maghrib. Aku mau bersiap ke masjid," ujar dr.Dimas.


'Hah, sudah hampir maghrib? Lama sekali aku tidur!' batinku.


"Satu lagi, baju-baju kamu bisa kamu pindahkan ke dalam almari. Isi saja ruang-ruang yang kosong," aku mengangguk, patuh dengan perintah dr.Dimas.


Dr.Dimas beranjak hendak meninggalkan ruangan ini. Namun, saat hendak menjangkau pintu, dia berbalik.

__ADS_1


"Ohh ya..., mau sampai kapan kamu akan memanggilku dengan sebutan 'dokter Dimas'?" tanya dr. Dimas yang membuat aku tercengang.


Kemudian ia langsung beranjak pergi, meninggalkan aku yang terkejut dengan perkataannya. Aku menggigit bibir bawah ku saat menyadari kesalahanku. Sesegera mungkin aku beranjak dari kamar Qila menuju kamar dr.Dimas.


"Umma...!" terdengar suara Qila memanggilku.


Aku menoleh ke arah ruang tengah, rupanya anak itu sudah cantik dan sedang menonton televisi bersama Ibu dr.Dimas. Menantu macam apa aku ini, di hari pertama saja aku sudah membuat banyak kesalahan.


"Ya, Sayang. Sebentar ya, aku mandi dulu!" ujarku pada anak itu.


"Ya Umma, habis itu cepat ke sini!" ujarnya lagi.


Aku mengangguk mengiyakan, kemudian aku memutar knop pintu kamar dr.Dimas dan masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di dalam aku melihat dr. Dimas, maksudku suamiku yang sudah rapi mengenakan kemeja koko, dan sarung.


'MasyaAllah, suamiku ganteng sekali!' gumamku dalam hati sembari menelan salivaku.


Dia memandang ke arahku, secepat kilat aku segera mengalihkan pandanganku dan menuju di mana koperku berada, untuk mengambil baju ganti.


Perasaan canggung berada satu ruangan bersamanya membuatku sulit bernapas. Aku berharap beliau segera keluar agar aku bisa mandi dengan tenang.


"Baik!" jawabku singkat.


Aku masih bingung mau memanggilnya dengan sebutan apa. Rasanya aneh memanggil dengan sebutan yang lain. Karena sejak awal sudah terbiasa memanggil dengan sebutan dokter karena beliau atasanku sebagai seorang dokter.


'Yaampun aku harus memanggilnya dengan sebutan apa! Pak Dimas begitukah? Atau Mas Dimas? batinku yang bergejolak dengan isi di dalam otakku.


"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Cepat mandi sana!" ujarnya seoalah mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.


"I-iya...," aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa baju gantiku.


Aku mandi dengan cepat, kemudian mengambil wudhu. Saat aku keluar dari kamar mandi beruntung suamiku belum pulang. Ku ambil mukena dan membawanya ke luar mencari Qila. Rupanya anak itu masih di depan televisi.


"Qila..., ayo kita sholat dulu!" ajakku.


"Yeyy, sholat bareng, Umma!" aku tersenyum melihat anak itu begitu riang.


Aku menggandengnya menuju ruangan khusus yang telah di siapkan untuk sholat. Tak berapa lama bu Lilis pun datang, hendak sholat juga. Akhirnya kita sholat berjamaah bertiga.


Seusai sholat bu Lilis mendekatiku, kemudian menyentuh lengan tanganku.

__ADS_1


"Cindy, sekarang Ibu kan keluargamu juga, jadi anggap lah Ibu seperti Ibumu sendiri, kamu jangan sungkan untuk bertanya kepada Ibu atau meminta bantuan, Ibu," ujar bu Lilis lembut.


"Baik, Bu," jawabku.


"Saya tahu ini akan sedikit sulit untukmu beradaptasi dengan Dimas. Apalagi Dimas karakternya sedikit keras. Namun, sebenarnya dia sangat penyayang. Kamu yang sabar ya menghadapinya?" bu Lilis menepuk-nepuk punggung tanganku memberi kekuatan.


"Iya, Bu. Saya akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik," ujarku untuk meyakinkan bu Lilis.


"Ayo, kita makan. Mungkin Dimas sudah menunggu," aku segera melipat mukenaku dan mengikuti Ibu mertuaku menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan ternyata benar, suamiku sudah menunggu. Mbak Minah sudah menyajikan makanan di meja makan.


Aku bingung antara akan duduk atau menghidangkan makan untuk suamiku. Saat di rumah ummi selalu menghidangkan makanan di piring abi.


"Kenapa berdiri saja, Cindy. Ayo duduk!" ujar Ibu mertuaku.


Aku berjalan mendekat ke arah suamiku. Suamiku sedikit bingung melihat aku mendekatinya.


"Em..., ijinkan saya untuk mengambilkan makanannya!" dia mengernyit, kemudian dengan gerakan tangannya seolah-olah ia memberiku ijin.


Aku menyendok dua centong penuh nasi ke atas piringnya, "Segini cukup gak?"


"Cukup," jawabnya singkat.


"Emm, ada yang tidak anda sukai?" tanyaku.


"Daging boleh, sayurnya boleh, sudah itu saja!" baiklah aku ambilkan semua sesuai yang ia mau. Aku cukup canggung karena saat ini semua diam memperhatikanku.


"Umma, Qila juga mau diambilkan," ujar anak itu mencairkan suasana.


"Silahkan...!" aku menaruh piringnya dihadapannya, kemudian beralih ke piring Qila.


"Iya, Qila. Nasinya sedikit atau banyak?" melayani Qila terasa sangat ringan berbeda saat melayani beliau.


Ini adalah makan malam terpanas yang pernah aku lalui. Rasanya begitu bingung, canggung, dan terasa tidak karuan bagiku. Aku merasa beberapa kali beliau melirik ke arahku.


__________________Ney-nna___________________


Maaf ya yang tadi sempat baca, judul bab aku ganti dan aku revisi ya 😅😅 keburu ngantuk jadi oleng ✌️, baca ulang ya terimakasih reader's 💕💕


jangan lupa dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2