Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Rindu


__ADS_3

Pov. Rangga


Seusai sholat subuh kuputuskan untuk kembali tidur. Aktivitas kemarin cukup padat. Sore menjelang maghrib aku baru pulang dari kantor. Kemudian pukul tujuh mengantar Mami ke rumah Kak Windi. Mami merajuk karena kesepian tinggal sendirian di rumah.


Flashback On,,


"Mi, aku antar ke rumah Kak Windi saja bagaimana? Mami pasti rindu kan dengan Chaca." bujukku


"Kamu ini ya, Ga. Paling bisa saja membuat Mami luluh, menuruti kemauanmu."


"Ya sudah, Mami setuju sementara tinggal di rumah Kakakmu."


"Tapi jangan sampai suatu saat kamu nggak berbakti sama Mami hanya karena perempuan." ucap Mami.


"Mami itu segala-galanya buat Rangga. Mana mungkin Mami tidak Rangga patuhi jika Mami benar." aku rangkul tubuh Mami untuk menenangkan.


Kasihan juga sih sama Mami. Seandainya bisa aku ingin mengajak Reyna tinggal di Solo saja. Sehingga Mami ada yang menemani. Dulu alasan Mami sangat senang aku berpacaran dengan Putri adalah, karena dia sering menemani Mami saat main ke rumah.


Bahkan di saat aku tidak ada, Putri sering datang dan pergi berdua dengan Mami dan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Entah nyalon bareng atau berbelanja di mall. Hal itulah yang membuat mereka sangat akrab, bagaikan seorang ibu dan anak perempuannya.


Saat aku tahu Mami meminta Reyna meminum pil penunda kehamilan aku sempat sangat syok dan emosi. Aku bertanya-tanya mengapa Mami sampai melakukan itu. Saat Reyna mengatakan, mungkin Mami perlu waktu untuk menerimanya menjadi istriku. Saat itu aku mulai berpikir jika aku diposisi Mami.


Seorang ibu pasti merasakan sedih dan kecewa jika Putrinya ditinggal menikah oleh kekasih yang dicintainya dengan wanita lain. Karena itulah Mami belum bisa sepenuhnya menerima pernikahanku dengan Reyna.


Sesampainya di rumah Kakak, Chaca langsung berlari menghampiri kami. Aku tangkap dia kemudian aku gendong. Mami terlihat sangat bahagia melihat cucunya ini. Diciuminya pipi Chaca berkali-kali. Kemudian aku turunkan bocah ini di sofa ruang tengah.


"Cha, jagain Oma yah? Om mau ke rumah Kek Uyut!" aku duduk di samping anak itu kemudian mengusap kepalanya.


"Om, mau ke rumah Kek uyut? Ada aunty juga?" anak itu berpaling dari acara televisi yang menayangkan Upin dan Ipin dan beralih memandang ke arahku dengan penuh tanya.


"Iya dong ada aunty juga." aku menjawil pipinya gemas. Rupanya sekali bertemu Reyna cukup membekas di benak anak ini. Kemarin waktu ke Jakarta mereka memang sangat menempel.


"Chaca mau ikut, Om..Chaca ikuut..!" anak itu mulai merengek.


"Om, ada yang musti diurus dulu sayang! Chaca nanti nyusul sama Mommy and Daddy, sama Oma juga." bujukku.


"Nih, susunya diminum dulu, Cha!"


"Memangnya acara resepsinya kapan, Dek?" Kak Windi yang baru muncul dari dapur menyerahkan satu gelas susu kepada Chaca kemudian ikut bergabung duduk di sebelah Chaca.


"Kamis depan, Kak. Kata Papi nyari gedungnya agak susah karena waktunya mepet, jadwal sewa gedung hotelnya untuk minggu ini sudah penuh. Akhirnya menyesuaikan tanggal yang kosong kamis depan." jawabku.


"Kenapa nggak diselenggarakan di rumah Kakekmu saja, halaman Kakek kan luas, buat apa repot-repot sewa gedung hotel." Mami yang dari toilet ikut nimbrung.


"Papi nggak pengen ganggu istirahat Kakek Mi, kan kalau di rumah buat persiapan dan beres-beres butuh waktu juga. Kalau di rumah pasti nanti banyak orang berlalu lalang dan tamu-tamu yang datang, jadi Kakek nggak bisa istirahat dengan baik." aku beranjak berdiri dan akan kembali pulang ke rumah.


"Bener juga itu, Dek. Kasian Kakek kalau nggak bisa istirahat, kan baru pulih dari sakit." Kak Windi ikut bersuara.


"Om, mau kemana? Chaca ikuut!" Chaca ikut berdiri kemudian menggandeng jari tanganku.


"Tadi kan Om, sudah bilang. Chaca besok berangkatnya sama Mommy." aku berjongkok di di depan anak itu, kemudian kupegang kedua bahunya.


"Nggak mau, Chaca mau ketemu sama aunty. Chaca mau main salon-salonan sama aunty, Om!" anak itu mulai merengek merangkul pundakku erat, takut ditinggalkan.


"Duh, gimana ini, Kak cara membujuknya?" aku menoleh kepada Kak Windi minta bantuan. Pasalnya anak ini kalau sudah punya kemauan susah bujuknya, maunya dituruti. Kak Dion, suami Kak Windi sangat memanjakan putrinya.


"Bawa tidur dulu aja deh ke kamarnya. Biasanya jam segini waktunya dia bobok. Abis dia angler nanti baru kamu pergi!" usul Kak Windi untuk meninggalkan Chaca ketika ia sudah lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Chaca ini kan udah malem, perginya besok aja ya..? Yuk, Om temani bobok di kamar!" bujukku dengan halus, supaya nih anak mau nurut.


"Bener ya Om, Chaca besok boleh ikut?" perlahan Chaca mengendurkan tangannya yang melingkar di leherku.


"Iya, Chaca pasti diajak ke rumah Kakek Uyut ntar sama Mommy juga."


"Yuk, Om gendong ke kamar!" aku angkat tubuh bocah ini, tangannya merangkul leherku. Ternyata semakin berisi. Pantas saja bertambah berat dari terakhir bertemu, pipinya terlihat semakin chubby.


"Mommy, Oma, Chaca bobok dulu yah? Dadah...!" satu tangannya berdada-dadah, pamitnya pada kak Windy dan Mami. Sementara Kak Dino sedang di ruang kerjanya.


"Dadah, jangan lupa berdo'a dulu ya sebelum tidur?"


"Good night, Sayang!" seru Kak Windi mengiri langkahku menaiki tangga.


"Good night, Mommy!"


"Good night, Oma!" anak ini sungguh menggemaskan. Kehadiran seorang anak itu membawa keceriaan tersendiri di tengah-tengah keluarga. Dan aku pun tak akan menunda kehadiran malaikat kecil dalam rahim istri ku, jika Allah memberikannya sekarang atau nanti.


Sesampainya di kamar aku menurunkan Chaca di atas ranjang. Aku merebahkan tubuhku di sampingnya.


"Om, kenapa aunty nggak diajak tinggal di sini sama kita?" bocah ini memiringkan tubuhnya menghadap ke arah ku.


"Karena aunty ingin menjaga Kek Uyut dan Nek Uyut di sana. Kan kasian, Kakek dan Nenek Uyut sudah sangat tua harus di jaga. Apalagi sedang sakit." anak itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Nanti kalau sudah besar Chaca juga akan selalu jagain Mom n Dad!" anak baik aku usap pucuk kepalanya.


"Tentu dong sayang. Chaca kan anak baik." ucapku.


"Om, rindu tidak sama aunty?" pertanyaan anak ini membuatku ingin segera terbang ke Jakarta atau seandainya bisa teleportasi, aku akan melakukan teleportasi menuju kamar Reyna sekarang juga.


"Tentu saja rindu sayang, kangen banget malah!" jawabku.


"Kalau tante Puput rindu tidak?" pertanyaannya kali ini membuatku terkesiap. Aku tidak akan menyangka jika Chaca akan menanyakan hal ini juga. Beruntung saat ini hanya sedang berdua saja, bagaimana jika di tanyakan saat kita sedang bertiga dengan Reyna.


Bertahun-tahun berpacaran dengan Putri, menjadikan kehadirannya sudah hal biasa ditengah-tengah keluarga ini. Ku akui ada rasa kehilangan, saat aku membutuhkan teman untuk sharing, dulu dia selalu ada untuk mendengarkan. Saat aku membutuhkan bantuan, dia ada untuk membantu. Saat aku sedih, dia ada untuk menghibur.


Tapi rasa rindu ini bukan seperti merindukan seorang kekasih, lebih tepatnya merindukan kebersamaan dengan sahabat atau saudara perempuan. Andaikan dia menjadi adik kandungku atau sahabat ku saja mungkin saat ini hubungan kita lebih baik. Aku tidak ingin bermusuhan dengannya. Aku ingin melihat dia bahagia bersama laki-laki yang mencintainya. Karena dia sesungguhnya adalah sosok wanita yang baik.


Akulah yang telah bersalah kepadanya. Menahannya agar tetap bersamaku hingga selama ini, padahal aku tidak merasakan getaran cinta saat bersamanya. Meski aku sudah mencoba berkali-kali untuk mencintainya namun terasa bagaikan kepura-puraan saja. Hatiku tidak beralih kepadanya. Namun aku bagaikan pengecut yang tak berani mengakhirinya karena takut melukai hatinya, pada akhirnya dia kini benar-benar terluka.


"Emm.. tentu saja rindu juga sayang. Kan tante Putri teman yang baik juga." aku ingat Chaca pun dulu juga sangat menempel dengan Putri. Mereka terkadang menyantap es krim bersama dalam satu cup besar. Membeli boneka bersama, Putri bisa menjadi teman baginya.


Aku tidak ingin menebar kebencian pada orang lain. Jangan karena tidak berpacaran dengannya silaturahminya dengan keluargaku yang dekat dengannya ikut terputus.


Tapi untukku yang terbaik saat ini, adalah menjaga jarak dengannya. Menegaskan batasan-batasan antara kita. Tidak baik juga bagiku jika terus berdekatan dengannya meski sebagai sahabat. Aku harus bisa menjaga perasaan Reyna sebagai istriku dan menjaga perasaan Putri agar tidak semakin terluka. Aku harap ia bisa segera move on dan mendapatkan laki-laki yang mencintainya.


Setelah Chaca tertidur aku langsung bergegas untuk pulang. Aku harus menyiapkan keberangkatan ku ke Jakarta. Jika tidak segera berangkat aku akan terlambat dan ketinggalan pesawat.


Sesampainya di rumah aku langsung mengambil koper, kemudian menuju ke rumah Doni. Supaya dia bisa mengantarkanku ke bandara.


"Don, ayo buruan keburu telat nih!" kataku tak ingin terlambat.


Sesampainya di bandara aku langsung berlari masuk. Beruntung aku masih belum ketinggalan pesawat karena masih ada sisa waktu lima belas menit setelah usai melakukan check in dan mendapatkan boarding pass, kemudian menuju gate keberangkatan.


Tidur di pesawat selama satu jam sungguh melegakan. Setidaknya sedikit mengisi tenaga karena sudah beristirahat sebentar. Sesampainya di Jakarta aku langsung memesan taxi. Kelamaan kalau harus menunggu Papi atau Pak Bejo menjemput.


Saat tiba di halaman rumah Kakek, aku hendak masuk ke dalam rumah, namun terhenti sejenak karena ternyata ada Papi di teras.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pi. Belum tidur?" tanyaku.


"Wa'alaikumsalam."


"Belum, kamu kenapa sudah datang? Bukannya harusnya besok?" selidik Papi.


"Nggak ada apa-apa juga sih, Pi. Aku hanya ingin segera sampai di Jakarta." kilahku.


"Ya sudah, buruan sana masuk. Pasti kamu lelah!" aku mengangguk kemudian menuju kamar Reyna.


Saat masuk ke dalam kamar ternyata Reyna sudah tidur. Aku letakkan koperku kemudian bergegas ke kamar mandi. Seusai membersihkan diri dan berganti baju aku langsung beranjak naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Reyna. Aku peluk tubuh istriku yang sangat aku rindukan. Tiga hari tidak bertemu membuatku frustasi karena jarak yang memisahkan kita. Aku ciumi wajahnya, dia sedikit bergerak namun masih terpejam.


Saat aku meneluknya erat, rupanya pergerakanku membuat Reyna terbangun. Aku sangat menginginkan hasratku bisa tersalurkan malam ini. Meski sangat capek aku tak ingin meninggalkan kesempatan memadu kasih dengannya. Akhirnya terjadilah malam panjang yang sangat mendebarkan.


Flashback Off.


Aku terbangun saat mendapati nada dering handphone. Aku yang semula sangat enggan membuka mata akhirnya tergugah saat melihat handphone Reyna yang berdering di atas meja riasnya. Saat aku dekati, deringnya sudah berhenti. Tertulis pada layar, panggilan tak terjawab dari Dipa.


"Siapa Dipa?" gumamku.


Aku dengan lancang membuka isi pesannya. Sisi keegoisanku ingin tau. Kubaca pesan sebelumnya hanya mengirimi alamat maps ruko di jam 7 malam.


"Apa kemarin mereka bertemu di ruko?" aku akan bertanya nanti.


Tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan Reyna dari balik pintu.


"Sudah bangun, By?" ia tersenyum menatapku dan mendekati ku. Aku menyambutnya dengan merengkuh pinggangnya.


"Sudah sarapan ya?" dia mengangguk-angguk. Aku sodorkan handphone ke depannya.


"Barusan ada telepon dari Dipa, belum sempat aku angkat sudah berhenti berdering. Siapa Dipa?" tanyaku.


"Oh, itu dia temen lama aku, By. Kemaren bertemu saat di butik tante Shinta. Ternyata dia anak tante Shinta." point pertama Reyna berkata jujur.


"Untuk apa mengirimi alamat ruko?" tanyaku.


"Emm.. kemaren dia hanya mengajak ngobrol saja. Dulu saat kuliah handphone aku sempat di curi, saat itu kita menjadi lost contact. Karena aku sedang lembur menunggu kedatangan barang, aku memintanya datang ke ruko. Dulu kami bersahabat, By. Kamu nggak marah kan?" aku ragu. Aku merasa sedikit posesif terhadapnya.


"Apa dia pernah mempunyai perasaan lebih terhadapmu?" Reyna terlihat agak kaget dengan pertanyaanku. Dia diam tidak langsung menjawab.


"Dia menyukaimu?" tanyaku lagi.


"Emm...iya, aku baru mengetahuinya kemarin. Namun tidak terjadi apapun, By. Sejak dulu aku hanya menganggapnya seorang sahabat, dan diapun mengerti dengan posisi aku yang sekarang sudah bersuami. Aku pastikan dia tidak akan menggangu hubungan kita, By!" jelasnya.


"Benarkah? Lastas untuk apa dia menghubungi mu sepagi ini?" Reyna mengendurkan pelukannya di leherku.


"Aku nggak tau, By." jawabnya lirih.


"Namun aku bisa memastikan tidak ada yang akan berubah, bagiku dia hanya akan menjadi sahabatku tidak lebih. Dan hanya kamu yang ada dihatiku, By!" ucapnya lagi.


Aku terdiam memikirkannya. Aku cemburu pastinya. Istriku disukai oleh laki-laki lain. Reyna masih sulit di tebak. Instingku mengatakan dia belum pernah berpacaran sebelum kita menikah, Reyna masih sangat polos, namun akhir-akhir ini ada saja nama laki-laki yang muncul menyukainya.


"Okey, aku percaya sama kamu, Hana. Tapi jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain. Kamu harus menegaskan batasan-batasan diantara laki-laki yang pernah dekat. Saat ini kamu adalah seorang istri. Jangan sampai ada celah bagi laki-laki lain untuk mendekatimu!" aku menegaskan. Reyna tampak memandang lekat ke arahku.


"Apa kamu sedang cemburu, By?" dia menangkup kedua pipiku dengan tangannya.


Aku luluh dengan tatapannya. Perlahan aku hembuskan nafas agar lebih tenang.

__ADS_1


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga martabatku sebagai seorang istri, By. Aku pastikan tidak ada laki-laki lain, di hatiku hanya ada satu nama yaitu Rangga. Tolong jangan pernah berhenti mempercayaiku, By. Aku mencintaimu!" aku sangat senang mendengar kata-kata terakhirnya.


Aku tarik pinggangnya hingga ia menempel, kemudian aku kecup bibirnya singkat, aku tatap matanya. Aku merasa dia jujur. Aku kembali mencium bibirnya dan me l*******.


__ADS_2