
"Ibuku berhutang sebanyak itu untuk apa, Bulik?" tanya Maya penasaran.
"Assalamu'alaikum!" Tiba-tiba terdengar suara Fely yang baru datang.
"Wa'alaikumussalam," jawab Maya dan nenek Arum berbarengan seraya melihat ke arah pintu.
"Nenek jadi pulang sekarang, kan? tunggu ya, kita bersih-bersih dulu habis itu nanti kita antar ke bandara!" ujar Feli kepada nenek Arum
"Iya ..., jadi dong! ya udah kalian mandi dulu aja sana, jangan lama-lama ya nanti nenek ketinggalan pesawat!" perintah nenek.
"Siap Nenekku sayang!" ucap Feli, kemudian beranjak menuju kamarnya bersama Raka.
*****
Bandar Udara Adisucipto, Yogyakarta.
Seusai melakukan check-in dan mendapatkan boarding pass, nenek Arum menunggu di dekat gate keberangkatan.
"Raka, tolong jaga Feli baik-baik ya! kalian harus selalu akur dan saling percaya!" ujar nenek Arum saat Raka membantu membawakan kopernya.
"Baik, Nek. Saya pasti akan berusaha menjaga Fely dengan sebaik-baiknya," tutur Raka.
"Semoga perjalanannya lancar, Nek. Nanti kalau sudah sampai di rumah, kasih kabar ya, Nek? terus nanti kalau Nenek mau balik pulang ke Yogya lagi, kasih tau Fely ya? biar Feli jemput di bandara," tutur Fely penuh perhatian.
"Iya, Fe. Nenek pergi dulu ya?" ucap nenek Arum, kemudian memeluk Fely.
Nenek kemudian beralih ke pada bunda Maya.
"May, lain kali kita sambung lagi pembicaraan kita yang tadi, banyak yang harus kamu tahu," pesan nenek Arum, lalu memeluk keponakannya itu.
"Iya, Bulek. Jaga kesehatan ya, Bulek! nanti Maya akan berkunjung jika Bulek sudah berada di Yogya."
"Iyo. Wes, yo ... aku mangkat!" Pamit nenek.
(Iya. Sudah, ya ... aku berangkat!)
Usai berpamitan nenek beranjak menuju ke gate keberangkatan. Setelah petugas memeriksa KTP dan boarding pass, nenek di persilakan untuk masuk menuju ke pesawat yang akan ditumpanginya.
"Bun, Fely ke toilet bentar, ya?"
"Iya, Fe. Buruan!" jawab bunda.
""Ntar ya, Mas!" ujar Fely meminta ijin sama suaminya.
Raka mengangguk sebagai jawaban.
Sepeninggal Fely tinggallah Raka dan bunda Maya. Raka ikut duduk di samping ibu mertuanya itu.
"Bun, nanti Raka minta ijin bawa Fely ke luar ya, Bun? mungkin nginep," ujar Raka kepada bunda Maya.
"Iya, Nak. Kalian nggak berencana honeymoon?" tanya Maya.
__ADS_1
"Raka belum bisa bawa Fely honeymoon, Bun. Raka belum bisa ambil cuti. Raka hanya ingin membawa Fely ke suatu tempat. Besok kita udah balik lagi kok, Bun."
"Ya sudah, lusa kan Bunda sudah balik lagi ke Jakarta, Bunda titip Fely ya sama kamu? kalau dia ada salah tolong ditegur dengan baik. Terkadang memang agak manja dan ngeyel, tapi sebenarnya dia anak yang baik." Pesan Bunda.
"Iya, Bun. InsyaaAllah Raka akan menjaga Fely dengan sebaik-baiknya, Bun," jawab Raka sopan.
"Lagi ngomongin apa sih seru, banget?" ujar Fely yang baru kembali dari kamar mandi.
"Nggak apa-apa. Yuk buruan pulang!"
Bunda berjalan lebih dulu di depan, sementara Raka dan Fely mengikutinya sembari bercanda.
"Tadi ngomongin aku ya, Mas?" bisik Fely.
"GR kamu!"
****
"Diajeng!" panggil Raka pada istrinya.
Fely yang tengah packing baju ganti pun segera berpaling ke arah suaminya. "Iya, Kangmas?"
"Besok aku sudah mulai kerja, maaf ya tidak bisa mengajakmu untuk honeymoon dalam waktu dekat ini. Aku karyawan baru di sana, aku tidak mungkin mengambil cuti lebih lama."
Raka sebenarnya merasa sedih karena tidak bisa membawa Fely honeymoon. Namun, dia tidak bisa memungkiri tabungannya yang semakin menipis. Selain itu dia harus masuk kerja.
"Iya nggak apa-apa, Mas. Aku paham kok. Honeymoon itu bisa dibilang untuk quality time bersama pasangan bukan? bukankah di rumah ini keesokannya hanya tersisa kita berdua setelah bunda, kakak, dan kak Reyna pulang ke Jakarta. Anggap saja kita tengah berbulan madu di rumah. Kita ciptakan waktu yang menyenangkan saat-saat berdua meskipun cuma di rumah," tutur Fely berpendapat.
"Tapi quality time kita hanya sebentar, pagi hingga petang aku kerja. Kita hanya punya waktu di malam hari," ujar Raka.
"Kalau gitu mumpung aku ada di disini, jangan ditahan-tahan rindunya, luapkan saja. Aku nggak akan jauh-jauh kok, aku hanya akan selalu di hati kamu, Sayang," ucap Raka sembari mendekap tubuh istrinya dari belakang lalu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher istrinya dan mengecupnya dengan lembut.
"Ishh, geli tauk, Mas." Fely mulai merasakan bulu romanya berdiri dan tak bisa duduk dengan tenang dengan ulah suaminya.
"Katanya nggak kuat menahan rindu, masa suami ada di rumah didiemin aja sih!" gumam Raka sembari mengendurkan sedikit pelukannya.
"Ini kan masih siang, Mas. Kalau dicariin bunda gimana?"
"Emang kita mau ngapain? kamu mulai mesum, Diajeng. Orang aku cuma mau peluk sama cium aja masa bunda melarang," ujar Raka menggoda istrinya sembari cekikikan.
Fely seketika mencubit pinggang Raka hingga pelukannya terlepas.
"Aww, seneng banget sih cubit-cubit aku, Fe! KDRT lhoh ini," ujar Raka sembari mengelus bekas cubitan istrinya.
Fely berbalik dengan cepat, kemudian menggelitiki pinggang suaminya. "Kamu ngerjain aku, Mas. Kamu yang menggiring aku berpikir begitu!"
"Aku cuma bantuin kamu untuk meluapkan rasa rindumu saja, Sayang!" kilah Raka seraya menghindar dari serangan istrinya.
"Ishh, kamu menipuku, Mas. Dan, aku sudah masuk perangkapmu. Padahal sebenarnya itu maunya kamu, kan?! huhh ... rasakan akibatnya, Mas!" ujar Fely di sela-sela menggelitiki suaminya.
"Ampun, Fe. Stop!" pekik Raka dengan wajah yang sudah memerah karena tak henti-hentinya tertawa.
__ADS_1
"Udah ah, aku cape juga tau, Mas. Kita sebenarnya mau ke mana sih, Mas?" tanya Fely seraya kembali memasukkan perlengkapan yang akan dibawa ke dalam koper.
Raka memintanya untuk packing beberapa baju mereka dan memasukkannya ke dalam koper, tapi tidak memberitahukan ke mana mereka akan pergi.
"Nanti kamu juga akan tahu, Sayang! mukenanya udah dibawa belum?" Raka mengingatkan.
"Oh iya, sebentar aku ambil dulu!" ujar Fely kemudian mengambil mukena traveling yang sering dibawanya bepergian agar tidak makan tempat dan praktis di bawa-bawa.
Setelah salat dhuhur dan makan siang mereka pergi menuju ke tempat tujuan dengan mengendarai mobil Fely.
****
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka sampai di sebuah rumah megah dengan halaman yang luas di bagian depan.
"Kangmas, ini rumah siapa?" tanya Fely begitu Raka selesai memarkirkan mobilnya.
"Sebentar lagi kamu akan tahu, Diajeng. Ayo kita ke luar!"
Raka kemudian ke luar dari dalam mobil dan berjalan sembari menggandeng tangan istrinya menuju ke dalam rumah melewati pintu samping yang hanya diperuntukkan bagi pemilik rumah dan PRT yang ada di rumah itu.
"Mas ... Mas ..., kok kita langsung masuk aja sih? Kita nggak lewat pintu depan?" tanya Fely yang merasa heran dengan suaminya yang sepertinya sudah paham betul dengan rumah itu.
"Selamat siang, Mas Raka!" ujar Yahya menyambut kedatangan mereka sembari melirik ke arah Fely.
"Kenapa kakek sudah dibawa pulang? memangnya sudah pulih?" tanya Raka sembari melanjutkan langkahnya menuju kamar kakeknya. Sementara Fely terus mengikutinya.
"Keadaanya sudah lebih baik, namun tuan besar sedikit kesulitan dalam berbicara. Beliau ingin dirawat di rumah. Saya sudah menyiapkan perawat untuk berjaga, dan dokter keluarga akan datang setiap harinya untuk memantau kondisi tuan besar nantinya," tutur Yahya seraya mengikuti langkah Raka.
"Baiklah saya akan melihatnya sebentar!"
"Baik, Mas. Akan saya siapkan kamar Anda segera."
"Tidak perlu! saya tidak akan menginap!"
Mendengar obrolan mereka, perlahan Fely mulai mengerti jika ini adalah kediaman dari kakek suaminya, dan pastinya yang sedang mengikuti mereka saat ini adalah asisten si kakek.
Sampailah mereka di depan sebuah kamar yang ditempati kakek Raka. Sebelum masuk Raka menoleh ke arah Fely sejenak, kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
"Kek, aku datang bersama istriku," ujar Raka pada kakeknya.
Kakek menatap ke arah Fely dengan sendu. Beliau tidak mengatakan apa pun, namun pandangannya tak beralih dari menatap ke arah Fely. Dan, hanya mulutnya saja yang seperti bergumam suara yang tidak jelas.
Dengan sedikit ragu dan rasa takut Fely mendekat ke arah kakeknya Raka. Dijabatnya tangan kakek dan menempelkan punggung tangannya di keningnya.
Tiba-tiba saja mata kakek mulai berembun dan lama kelamaan beliau terisak sembari memegangi dadanya. Sedangkan kedua bahunya bergetar seirama dengan isakannya.
Fely mundur ke arah suaminya. Dia bingung karena melihat kakek menangis. Fely bertanya-tanya, apa mungkin kakek tidak menyukai kedatangannya?
"Kangmas?" ucap Fely seolah bertanya ada apa dengan kakek hingga tiba-tiba menangis setelah melihatnya. Fely merasa bersalah dan khawatir jika kedatangan akan memperburuk kondisi kakeknya Raka.
"Tuan Besar!" Yahya segera mendekat ke arah majikannya. "Perawat!" serunya pada perawat yang berjaga di ruangan samping kamar kakek.
__ADS_1
"Diajeng, sebaiknya kita ke luar sekarang!" ujar Raka seraya menggandeng Fely menuju ke luar kamar.
..._________Ney-nna_________...