Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Seusai MP Mira


__ADS_3

...Bagi yang belum cukup umur boleh ~skip~...


Mira mengerjap saat mendengar alarm Unyunya berbunyi. Perlahan dia menggeser tubuhnya ke samping untuk menjangkau handphone yang terletak di atas nakas di sebelah tempat tidur.


Setelah memainkan mini game pada alarm yang disetel pada handphonenya, akhirnya alarm padam. Mira merasakan sekujur tubuhnya pegal-pegal, terutama di bagian intinya yang terasa perih. Matanya masih enggan untuk dibuka, ingin rasanya kembali memejamkan mata dan kembali tidur untuk beberapa saat. Namun, sayangnya dia merasakan ingin buang air kecil, yang sudah tak tertahankan lagi.


Sembari memegangi selimut yang menutupi bagian tubuh polosnya, Mira memungut baju tidur yang dipakainya semalam. Bajunya yang berserakan di bawah lantai. Diulurkannya tangan untuk menjangkau baju-bajunya, dan dengan segera dia mengenakannya.


Mira berjalan pelan sembari menahan ngilu dibagian intinya, menuju kamar mandi. Mira memutuskan untuk sekalian mandi junub, karena sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Dibawah guyuran shower dia masih terbayang-bayang kenikmatan semalam. Dia mendadak menjadi malu dan ingin menyembunyikan wajahnya dari sang suami.


Tok ... tok ... tok.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Dipa dari balik pintu.


"Iya, bentar lagi selesai, kok!" tutur Mira dari dalam kamar mandi.


Mira mandi agak lama dari biasanya. Itu karena rasa perih yang timbul membuatnya ngilu saat bagian intinya terkena air. Sehingga pergerakannya kurang nyaman.


"Okey ...!" jawab Dipa, kemudian tidak terdengar apa pun lagi.


Mira segera menyelesaikan ritual mandinya, kemudian mengambil wudhu. Saat tengah memakai handuk dia menyadari banyak stempel dibagian leher maupun bagian dadanya.


"Astaga, untung malam pertama nggak di rumah mama, kalau di rumah mama sudah pasti dibully mama habis-habisan ini!" ujar Mira saat melihat pantulan dirinya pada cermin di depannya.


Mira segera mengenakan handuk kimononya, dan menautkan handuk kecil di atas kepalanya. Dengan sedikit ragu Mira membuka pintu kamar mandi.


Klik.


Mira melangkah ke luar dari kamar mandi dengan wajah tertunduk dan berjalan dengan hati-hati.


Dipa tersenyum melihat ke arah istrinya yang nampak malu-malu.


"Apa masih sakit?" tanya Dipa perhatian.


"Sedikit!" ujar Mira singkat.

__ADS_1


"Terima kasih atas kenikmatan semalam yang sangat menyenangkan!" bisik Dipa di telinga Mira.


Blashh.


Perkataan dari mulut Dipa tersebut seketika membuat pipi Mira merona.


Setelah melihat wajah Mira yang memerah sembari mengulas senyum, dengan segera Dipa masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Dipa masih terbayang-bayang akan kejadian yang membuatnya sangat terkejut.


Flashback On ...


Awalnya Dipa memimpin Mira untuk berdoa sebelum kegiatan itu di mulai. Kemudian, Dipa mulai mengecup pucuk kepala istrinya dan diikuti dengan kecupan di area yang lain yang dia suka.


Mira mulai hanyut, menikmati setiap sentuhan yang tercipta oleh Dipa. Lama-kelamaan naluri Mira mulai menuntut untuk hal yang lebih dari sekedar sentuhan. Hasrat keduanya semakin besar. Gerakan Mira mulai mengimbangi perlakuan dari Dipa, yang menciptakan kenikmatan duniawi, yang baru pertama kali mereka rasakan.


Saat gairah keduanya sudah memuncak, dan Dipa masih bermain-main di tempat-tempat kesukaannya, dengan tiba-tiba Mira membalik keadaan. Mira yang lebih dulu merasa hasratnya sudah memuncak tidak tahan menunggu untuk dihentakkan ke langit ketujuh. Dengan segera Mira mendorong suaminya hingga terbaring di sampingnya.


Dipa nampak terkejut dan bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan oleh istrinya saat itu?


Dan terjadilah yang harusnya terjadi. (🙈 skip on)


Flashback Off.


Seusai salat subuh, Mira beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Dipa yang baru pulang dari masjid menghentikan langkahnya yang akan menuju ke lantai dua untuk menjumpai istrinya yang terlihat sudah sibuk di dapur.


"Sayang, kenapa tidak dipakai beristirahat dulu? memangnya tidak capek habis jingkrak-jingkrak?" tanya Dipa dengan usil saat sudah berada di samping istrinya.


"Ishh, jangan bahas itu lagi, Di. Aku malu banget sama kamu!" ujar Mira sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa malu, aku justru sangat terpesona atas kegigihan mu," tutur Dipa yang benar-benar takjub dengan keberanian Mira.


"Ishh, aku bilang hentikan, dan jangan bahas itu lagi!" ujar Mira dengan pipi merona menahan malu.


"Iya, deh. Masak apa nih?" tanya Dipa.

__ADS_1


"Cuma masak nasi goreng. Persediaan sayur di kulkas ternyata habis, aku lupa belum belanja kemarin," tutur Mira sembari menyiapkan bumbu untuk nasi goreng.


"Ya sudah, aku bantuin ya? bentar aku ganti baju dulu!" tutur Dipa kemudian beranjak menuju ke kamarnya setelah melihat istrinya mengangguk.


Setelah berganti baju Dipa segera menjumpai istrinya di dapur.


"Mimi, maaf aku hari ini harus ke galery karena ada urgent. Kamu di rumah sendiri nggak apa-apa kan jika aku tinggal kerja?" tanya Dipa pada istrinya.


"Oh gitu, kita nggak jadi liburan dong!" tutur Mira sembari cemberut.


"Memangnya kamu yakin mau liburan di saat masih sakit itunya?" tanya Dipa sembari melirik bagian yang dimaksud.


"Memang sedikit kurang nyaman, tapi aku pengen ke pantai, di sini kan banyak pantainya yang bagus-bagus, aku bosan di rumah," tutur Mira yang merasa jenuh di rumah sendirian.


Bagaimana tidak, sebelumnya setiap hari dia bekerja dan bertemu dengan banyak orang, sekarang dia hanya diam di rumah. Mira yang biasanya banyak aktivitas dan melakukan ini itu secara mandiri merasa tidak betah jika harus berdiam diri di rumah saja.


"Ya sudah, mau ikut ke galery nggak? habis itu sorenya kita je pantai buat lihat sunset," ujar Dipa memberi ide.


"Wah, mau-mau!" ujar Mira dengan antusias. "Eh, tunggu ... memangnya tidak apa-apa jika aku ikut?" tanya Mira.


"Nggak apa-apa, asal kamu hanya diam di ruangan kantor aku dan tidak bawel saja, lagi pula aku ownernya, siapa yang akan melarangku membawa istri ke kantor," tutur Dipa.


"Ihh, siapa yang bawel?! paling-paling cuma bikin heboh kayak kedatangan kamu waktu itu ke ruko, yang tiba-tiba datang dan langsung bilang kalau kamu calon suami aku, di saat aku belum bilang ke mereka tentang hal itu. Alhasil jadi omongan semua karyawan," protes Mira kepada suaminya.


"Memangnya kenapa harus di sembunyikan? kamu malu kalau calon suamimu itu aku?" tanya Dipa dengan heran.


"Nggak gitu, Didi. Sebenarnya aku takut jika kita tidak jadi menikah, ada rasa trauma saat rencana pernikahan pertamaku gagal di saat semua orang sudah tahu rencana itu, kamu pasti tahulah gimana perasaan aku? saat itu adalah saat-saat yang berat dan aku nggak mau hal itu terjadi lagi padaku!"


"Tapi, aku bersyukur karena hanya dalam waktu yang singkat akhirnya pernikahan kita terwujud meskipun berawal tanpa adanya cinta. Di saat aku bersusah payah mencari pendamping hidup, Allah mengujiku dengan kegagalan, dan di saat aku lebih mendekatkan diri kepada Allah dan tidak memikirkan hal itu, jodoh datang dengan sendirinya."


"Saat ini aku seolah memetik buah dari kesabaran ku, ketika aku mendekatkan diri kepada Allah, Allah memberikan laki-laki yang baik untukku. Saat ini aku merasa Allah sangat baik padaku dan Aku bersyukur karena memilikimu!" ujar Mira seraya mencakup kedua pipi suaminya.


"Oh, sweetnya istriku!" ujar Dipa sembari merengkuh Mira ke dalam pelukannya.


...__________Ney-nna_________...

__ADS_1


__ADS_2