Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Kenangan


__ADS_3

Dona berjalan dengan cepat mengikuti Reyna dan Rangga dari belakang. Ia setengah berlari supaya tak ketinggalan. Begitu ada kesempatan Dona berlari dengan cepat menabrak pelayan restoran yang sedang membawa kue yang berjalan dibelakang tidak jauh dari Reyna.


Alhasil kue yang dibawa oleh pelayan itu terpelanting ke depan mengenai punggung Reyna bagian kiri. Sedangkan piringnya terjatuh ke lantai dan pecah. Seketika hal itu menjadi perhatian seluruh pengunjung yang berada di resto. Reyna dan Rangga pun akhirnya berbalik.


"Aduuhh..maaf, Bu. Saya tidak sengaja menjatuhkan kuenya karena terdorong dari belakang." ungkap pelayan laki-laki itu kepada Reyna.


Rangga langsung melihat perempuan yang berada di belakang pelayan itu.


"Dona!" pekiknya.


Mata Rangga mengitari ruangan sekitar, ia menemukan Putri dan Monica yang berdiri di belakang agak jauh dari tempat kejadian. itu berarti Dona sedang bersama mereka di sini.


"Nanti aku yang ganti rugi, Mas. Barusan aku buru-buru mau ke toilet." ucap Dona pada pelayan resto.


"Kamu sengaja ya, Don." terka Rangga.


"Nggak lah. Orang gue udah bilang tadi buru-buru mau ke toilet. Lo jangan asal nuduh dong. Emangnya lo yang suka seenaknya memperlakukan orang!" Dona menyangkal dengan nada ketus.


"Sudah, Ga. Gak apa-apa, ini kan cuma kena kue, bajunya bisa di bersihkan. Lagian aku kan nggak kenapa-napa." lerai Reyna memegangi lengan Rangga.


Dari muka Dona yang seolah tidak bersalah dan malah berkata ketus kepada Rangga memang terasa menjengkelkan. Sudah pasti hal itu menyulut keributan. Tangan Rangga terkepal mendapati sikap dari sahabat mantan pacarnya itu. Ia cukup tau bahwa Dona memang paling emosian diantara teman-temannya.


"Aku memperlakukan orang seenaknya, sama siapa maksud kamu? Ngomong yang jelas, Don!"


"Kamu yang nabrak bukannya minta maaf sama istriku, malah kamu yang marah-marah!" jawab Rangga jadi ikutan emosi.


Putri dan Monica segera mendekat ke tempat kejadian. Mereka jelas tahu bahwa memang Dona yang tadi sengaja ingin membuat masalah, hanya saja belum sempat mencegahnya Dona sudah keburu bertindak. Putri hafal betul Dona memang paling semangat kalau bikin ribut.


"Kalau dari dulu lo masih berharap sama cinta pertama lo, seharusnya lo nggak diem aja sampai selama ini. Lo tuh kaya PHP'in Putri. Seenaknya aja lo putusin Putri dan menikah dengan dia!" Dona berbicara penuh emosi kemudian menunjuk ke arah Reyna.


"Ohh.. jadi karena hal itu kamu memancing keributan! Kamu seharusnya marahnya sama aku bukan malah mencelakai istriku. Dia nggak tahu apa-apa."


"Dan ini tuh gak seperti yang kamu omongin barusan! Aku nggak pernah punya niatan buat PHP'in Putri atau mutusin Putri hanya demi ingin menikah sama Reyna. Jadi kamu jangan asal bicara kalau tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi." jawab Rangga penuh emosi.


"Putri tahu tentang foto yang ada di laci kamar lo. Kalau masih gak bisa move on, kenapa lo selama ini diem aja. Sama aja lo PHP'in Putri. Putri deket sama temen cowoknya itu cuma pengen buktiin tentang perasaan lo ke dia. Ehh...malah lo putusin begitu aja dan tiba-tiba menikah sama perempuan ini!" ungkap Dona gak mau kalah.

__ADS_1


"Dona, cukup!" Putri mendekat ke arah Dona.


"Ini mas buat ganti ruginya." Putri menyerahkan uang tiga lembar seratus ribuan kepada pelayan resto.


"Ayo, Don kita pergi!" Putri dan Monika langsung mendorong Dona pergi menjauh.


Semua pengunjung yang melihat geleng-geleng kepala melihat kejadian itu. Sungguh memalukan!


"Ayo Reyn, kita bersihkan dulu bekas kuenya. Habis itu kita kembali ke kamar." Rangga segera menggandeng tangan Reyna menuju toilet.


Sesampainya di kamar, Reyna langsung bergegas mengganti bajunya di kamar mandi. Sedangkan Rangga duduk bersandar di tempat tidur, kedua tangannya terlipat di atas perut, sambil melamun memikirkan hal tadi.


"Putri tau tentang foto itu! Sejak kapan ia tahu?" gumam Rangga di dalam hati.


Selesai berganti baju Reyna berdiri di sisi ranjang sambil memperhatikan Rangga yang sedang melamun. Reyna kemudian duduk di sisi ranjang yang lain.


"Masih memikirkan yang tadi?" tanya Reyna.


"Ehh..udah selesai?" Rangga tersadar dari lamunannya kemudian menoleh menyadari keberadaan Reyna setelah mendengar suaranya. "Tadi kamu bilang apa?" Rangga balik bertanya, ia tidak mendengarkan saat tadi Reyna bertanya.


"Jadi mau pergi nggak?" akhirnya kata itu yang keluar.


"Jadi lah, ayo jalan-jalan ke luar." Rangga berdiri kemudian menggandeng tangan Reyna keluar dari kamar hotel.


Selama perjalanan Rangga nampak diam, mungkin masih memikirkan hal tadi. Reyna agak penasaran mau dibawa kemana karena lumayan lama juga perjalanannya. Namun pemandangannya memang sangat bagus melihat perbukitan, hamparan sawah dan perkebunan, di kanan-kiri, kabut yang menyelimuti daerah pegunungan dengan hawa dingin meski hari mulai siang. Kemudian berganti dengan jalanan berkelok menurun dengan tebing dan jurang di samping kanan maupun kiri. Setelah menempuh perjalanan 41 menit sampailah mereka di tempat wisata Telaga Sarangan.


Seusai memarkirkan mobil Rangga dan Reyna turun untuk menuju ke telaga. Pemandangan alam yang indah dan udara yang segar sangat baik untuk melepas penat bagi yang tinggal di kawasan perkotaan yang penuh dengan hiruk pikuk dan asap kendaraan. Berwisata di daerah pegunungan adalah ide bagus untuk refreshing.


Dari kejauhan nampaklah telaga yang indah ramai di kunjungi para wisatawan. Dari parkiran mereka harus berjalan selama 4 menit untuk sampai ke telaga. Rangga dan Reyna berjalan beriringan sambil mengaitkan jari-jemari tangannya.


Reyna sungguh takjub melihat cantiknya panorama alam yang disuguhkan begitu sampai di pinggir telaga. Air yang jernih terdapat pulau kecil di tengah dan kabut di atasnya. Terlihat beberapa speedboat yang membawa penumpang untuk berputar mengitari telaga.


Reyna dan Rangga mulai berjalan mengitari tepian telaga. Dipinggiran telaga banyak didirikan tenda-tenda dan tempat duduk lesehan dengan digelarnya tikar bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi kuliner sate kelinci dengan view pemandangan telaga dari dekat. Ada juga penyewaan kuda bagi yang ingin mengitari telaga dengan menunggang kuda.


"Reyn, kita duduk di sana." Rangga menunjuk kursi panjang yang terletak di pinggiran telaga.

__ADS_1


"Suka tidak?" tanyanya lagi ketika mereka sudah duduk di atas kursi.


"Suka..suka banget! Tenang dan nyaman." jawab Reyna, bahkan sambil tersenyum melihat pemandangan di depannya tanpa beralih memandang yang diajak bicara.


Rangga tersenyum melihat istrinya yang begitu ceria menikmati suasana, bahkan sampai berdiri di pinggiran pagar yang membatasi langsung ke arah telaga yang lokasinya lebih tinggi di atas tebing. Bagaikan anak kecil yang baru pertama kali diajak piknik.


Cuaca mulai mendung, tak berapa lama turun gerimis. Rangga bergegas mengajak Reyna berteduh ke penginapan terdekat. Rangga menemui penjaga hotel dan meninggalkan Reyna di luar.


Saat ia kembali, ia tertegun mendapati Reyna yang sedang asyik bermain air hujan yang turun dengan menengadahkan kedua telapak tangannya. Ia jadi teringat kembali dengan kenangannya di masa lalu. Sama seperti saat itu, sebahagia ini Reyna yang dulu dilihatnya waktu awal mengenalnya semasa SMP.


Flashback On...


Pov. Rangga


Saat itu bel berbunyi menandakan saatnya pelajaran terakhir usai. Namun di luar hujan turun dengan lebatnya. Alhasil beberapa anak tidak langsung pulang dan tetap berada di Sekolah menunggu hujan reda.


Aku duduk di atas meja sambil melihat ke arah luar dari balik kaca jendela. Aku terkesima saat melihat pemandangan di luar jendela yang menampakkan Reyna yang tersenyum bahagia di depan teras kelas, sambil menengadahkan kedua telapak tangannya pada air hujan yang mengalir dari atas genteng. Dia asyik bermain air hujan yang membasahi kedua tangannya.


Aku mengambil handphone yang ada di dalam tas. Aku menuju pintu agar lebih jelas menangkap wajahnya dari layar handphone. Diam-diam aku mengambil fotonya dari samping yang sedang tersenyum manis bermain air.


Aku masukkan kembali handphone ke dalam tas. Aku mulai gatal untuk mengganggunya. Aku berdiri di belakangnya. Saat ia lengah aku percikkan air hujan ke mukanya.


"Akhh!" pekiknya saat kaget dengan apa yang aku lakukan.


Aku tertawa melihat ekspresi cemberutnya yang nampak lucu. "Iihhh...rese banget sih!"


Tanpa aba-aba dia langsung membalas memercikkan air ke arah ku bertubi-tubi tanpa ampun.


Flashback Off.


"Reyn, di luar dingin banget, ayo kita masuk." akirnya suara Rangga mengalihkan perhatiannya pada air hujan.


"Iya..ayook!" ucapnya sambil menggandeng lengan tangan Rangga.


Rangga sedikit heran dengan tindakan Reyna yang lebih dulu mulai menggandengnya. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang bahagia sehingga membuatnya senyaman ini. Dalam hatinya ia merasa senang jika Reyna mulai terbiasa dengannya.

__ADS_1


__ADS_2