
Seperti biasanya Fely tengah tertidur di sofa ruang tamu saat menunggu suaminya pulang kerja. Meski Raka sudah membawa kunci cadangan, namun Fely selalu menunggunya di ruang tamu hingga Raka datang.
Berbeda dari biasanya kali ini Fely terbangun tanpa dibangunkan oleh suaminya. Biasanya Raka akan menggendongnya ke tempat tidur dan menyuruhnya untuk kembali tidur. Namun, kali ini Fely terbangun dan mendapati dirinya masih berada di ruang tamu.
Perlahan Fely beranjak duduk. Dia merasai badannya sangat pegal dan terasa dingin. Fely mengerjapkan mata melihat ke arah jam di dinding. Fely seketika membulatkan mata tatkala jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi.
"Astaghfirullah, udah jam tiga?" pekik Fely saat menyadari bahwa ini sudah menjelang waktu subuh.
Ya Allah kenapa aku masih di sini? apa Mas Raka belum pulang? gumam Fely di dalam hati.
Fely segera berlari menuju ke kamarnya. Namun, ternyata kosong. Tidak ada siapa pun di sana selain dirinya sendiri. Fely buru-buru merogoh ponsel di sakunya dan mencoba untuk menghubungi suaminya. Namun, tidak ada jawaban. Pikirannya sudah ke mana-mana dan dia semakin cemas akan keberadaan suaminya.
"Ya Allah semoga suamiku baik-baik saja. Tolong lindungi suami hamba ya, Allah!" gumam Fely di sela-sela memikirkan keberadaan Raka.
Tiba-tiba terdengar suara deru motor dari luar. Fely segera berlari menuju jendela kamar untuk melihat ke bawah memastikan pada sumber suara. Dilihatnya sang suami tengah memarkirkan motornya dan berjalan menuju teras.
Fely seketika berlari ke luar kamar dan menuju ke ruang tamu untuk menyambut kedatangan suaminya.
Cklek!
Pelan-pelan pintu terbuka dan Raka masuk dengan mengendap-endap, agar tidak membangunkan istrinya. Namun, Raka sangat terkejut saat mendapati Fely yang sedang berdiri di anak tangga terakhir tengah memandang ke arahnya.
"Mas ...," ucap Fely menegur suaminya.
"Fe! Emm ..., Assalamu'alaikum," ucap Raka.
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah, kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Mas? Aku sangat khawatir, takut terjadi sesuatu padamu, Mas," tutur Fely seraya menghambur memeluk Raka dengan haru.
"A-aku nggak kenapa-kenapa, Diajeng. Maaf sudah membuatmu menunggu. A-aku semalam ketiduran di kantor," tutur Raka dengan terbata-bata.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa, yang penting kamu sudah pulang dengan selamat. Aku percaya sama kamu, Mas," ujar Fely usai mengurai pelukannya.
Fely dengan cepat mengambil tas jinjing dari tangan suaminya dan menggandengnya menuju kamar mereka. Sesampainya di kamar, dengan penuh perhatian Fely segera membantu Raka untuk melepaskan kancing kemejanya agar suaminya bisa segera membersihkan diri.
__ADS_1
Raka dengan cepat menghentikan tindakan istrinya dengan mecekal tangannya.
"Sayang, em ... biar aku saja yang melakukannya sendiri. Kamu istirahat saja! kamu pasti ngantuk menungguku semalaman!" tutur Raka beralasan.
"Nggak kok, Mas. Aku juga baru aja bang---" Perkataan Fely terhenti tatkala Raka memotong ucapannya.
"Udah biar aku saja!" Dengan cepat Raka menghempas tangan istrinya dan segera berpaling meninggalkan Fely menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi Raka memeriksa setiap bagian dari kemejanya. Dia menghembuskan napas beratnya saat tidak menemukan apa pun di sana. Dia segera mengguyur seluruh tubuhnya di bawah kucuran air shower untuk mensucikan diri. Air hangat yang membasahi dinding kepalanya seolah dapat menguraikan benang kusut di dalam otaknya.
Namun, ketika mengingat sesuatu, lagi-lagi rasa percaya dirinya hancur dan seolah tidak memiliki harga diri lagi. Dia menangis tanpa suara. Kepalanya tertunduk tak berdaya dan tangannya mengepal pada dinding. Dia merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Tok tok tok.
"Mas, apakah mandinya masih lama? sudah adzan, lhoh!" seru Fely mengingatkan agar suaminya tidak terlambat untuk salat di masjid.
Sedari tadi Fely tidak berselera untuk kembali tidur. Dia memilih menyiapkan baju ganti untuk suaminya dan menunggu hingga suaminya selesai mandi.
Raka mengusap wajahnya dengan kasar, lalu mematilan kran airnya. "Ekhm ... iya bentar lagi aku ke luar," jawabnya.
Sepanjang perjalanan menuju masjid, Raka lebih banyak merenung dan berpikir, dari pada menikmati udara pagi yang sejuk. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal lainnya. Karena pikirannya sudah penuh akan sesuatu yang kini menimpanya.
Seusai melaksanakan salat subuh Raka tidak segera pulang. Dia sempatkan untuk berdoa memohon ampunan kepada Yang Maha Kuasa dan beristighfar sebanyak-banyaknya dalam sujud panjangnya. Hingga tak terasa setitik air mata pun menetes dari sudut matanya.
...Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. ...
...(QS Al-Baqarah ayat 222)...
Saat dirasa batinnya sudah cukup kuat untuk menghadapi kenyataan hidup Raka menyudahi sujud nya. Waktu terus berjalan dan kita tak akan bisa menghentikannya. Meratapi kesalahan berlarut-larut hanya akan membuatnya semakin terpuruk dalam penyesalan. Dia perlahan bangkit dan beranjak pulang. Sembari berjalan pulang dia memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya agar mendapatkan solusi yang tepat.
Sesampainya di rumah Raka tidak menemui Fely yang terlihat sibuk di dapur. Raka memilih untuk masuk ke dalam kamar dan mencari handphonenya.
Kemudian, Raka mencoba melakukan panggilan pada nomor telepon Agung. Namun, setelah dering pertama handphone Agung tiba-tiba mati. Raka mencoba mengulanginya beberapa kali, namun nomor yang dituju sedang tidak aktif.
__ADS_1
Menghubungi Yasmine sepagi ini rasanya tidak etis. Dia tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman jika Fely mendengar dia sedang melakukan panggilan telepon dengan seorang perempuan. Akhirnya Raka menyerah, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk saat ini.
Setelah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, seperti biasa Raka dan Fely menyempatkan sarapan pagi bersama sembari bertukar cerita tentang kegiatan masing-masing. Namun, kali ini agak berbeda. Raka lebih banyak diam dan lebih banyak mendengarkan kisah yang dibagikan oleh istrinya. Sesekali dia menanggapi seperlunya.
"Mas, Aku udah siapkan bekal untuk makan siang dan satu lagi yang paling special. Tarraa ... dessert box rasa tiramisu kesukaan kamu, Mas. Jangan lupa dimakan ya, Mas! aku udah buatin dengan penuh cinta lhoh semalam," ujar Fely sembari menyodorkan tas bekal ke hadapan sang suami.
"Terima kasih, Sayang. Pasti aku makan, kok! aku berangkat sekarang, ya? jaga diri baik-baik selama aku pergi bekerja!" tutur Raka sembari mengusap pipi istrinya dengan mata sayu nya.
Fely segera meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya? semangat!" seru Fely sembari mengangkat satu tangannya yang terkepal setinggi kepala.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Mas." Fely mengulas senyum manisnya yang tak putus-putusnya sembari ber dada-dada menghantarkan kepergian sang suami.
Raka menarik sedikit ujung bibirnya kebelakang hingga menyimpulkan senyumnya sebagai balasan. Kemudian, dia menghidupkan sepeda motornya dan perlahan-lahan melaju menuju ke jalanan.
*****
Sesampainya di kantor Raka segera menuju ruangannya. Nampak Agung sudah datang dan duduk santai di depan mejanya.
"Pagi, Mas Raka!" sapa Agung dengan ramah.
"Gung, tadi kenapa nggak angkat teleponku?" tanya Raka.
"Hehe, maaf Mas! saya lupa mencharge handphone saya," ujar Agung seraya menampilkan deretan giginya yang berjajar rapi.
"Semalam kenapa kamu ninggalin aku pulang?" tanyanya.
"Habisnya Mas Raka tidurnya pules banget. Pas aku mau bangunin dilarang sama Mbak Yasmine. Katanya biarkan saja kasihan sama Mas Raka pasti kecapean. Pas saya mau pulang, kata Mbak Yasmine suruh ninggal aja, ntar mau dibangunin sama dia. Ya udah saya pulang duluan deh, Mas. Emangnya kenapa, Mas?" tanya Agung penasaran.
"Nggak kenapa-kenapa, ya udah lanjutin kerjaan kamu!" ujar Raka kemudian beranjak ke tempat duduknya.
__ADS_1
...___________Ney-nna___________...