Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Buket Bunga


__ADS_3

POV. Cindy


Dua bulan sudah semenjak pembatalan khitbahku. Aku mendengar dari Umar, katanya kemarin Mas Fadhil telah melaksanakan akad nikah di masjid pesantren. Dan abi pun membenarkannya. Abi bilang, Ustadz Maulana bercerita jika Fadhil enggan untuk melakukan ta'aruf kembali di waktu dekat. Namun, kali ini pihak dari perempuan lah yang mendatangi terlebih dahulu untuk mengajak ta'aruf Fadhil, atas desakan Ummi Aini, akhirnya Fadhil menurutinya.


Aku merasa lega dan bahagia mendengar kabar pernikahan itu. Sama sekali tak ada iri atau kesedihan di hatiku. Justru aku sangat bersyukur, artinya mas Fadhil tengah move on dariku dan mau kembali menata hidupnya.


Sebelumnya aku merasa sangat bersalah karena membuat mas Fadhil kecewa dan terluka. Aku tahu mas Fadhil bersungguh-sungguh denganku waktu itu. Tapi aku harus tetap melakukannya. Aku tak mau menikah tapa restu dari orangtua. Aku berharap mas Fadhil berbahagia dengan pernikahannya kini.


"Alhamdulillah, aku turut bahagia, Bi. Akhirnya mas Fadhil menikah juga," ujarku pada abi.


"Cin, kamu gak sedih? Apa dulu kamu membatalkan khitbah waktu itu karena ada laki-laki lain?" tanya abi.


"Astaghfirullah, Abi. Cindy tidak sejahat itu, Bi. Cindy punya alasan yang kuat mengapa Cindy harus membatalkannya, Bi," ujarku kesal pada abi.


"Lantas karena, apa? Dari dulu kamu tidak pernah mengatakan alasan yang sejujurnya pada Abi dan Ummi," tanya abi.


"Tapi Abi janji ya, tidak akan mengatakannya pada Ustadz Maulana atau mas Fadhil?" aku harus pastikan abi tetap menjaga alasanku ini agar tidak di ketahui mas Fadhil.


"Insyaallah, kamu membuat Abi semakin penasaran saja, Cin," ujar abi tak sabaran.


"Sebenarnya..., itu karena permintaan Ummi Aini, Bi," ucapku lirih.


"Mbak Aini?" tanya Abi dengan sangat terkejut, "Mengapa Mbak Aini meminta kamu membatalkannya?"


"Karena Ummi Aini khawatir aku tidak akan bisa memberinya keturunan, Bi. Kakak Mas Fadhil hingga saat ini belum dikarunia momongan, Bi. Dan, Ummi khawatir itu akan terjadi juga pada Cindy. Ummi khawatir aku akan mengalami masalah kesuburan karena aku mempunyai kista," ungkapku pada abi.


"Astaghfirullah, kenapa mbak Aini bisa berpikiran sempit seperti itu. Jodoh dan keturunan itu kehendak Allah. Dan kenapa kamu tidak memberitahukan hal ini kepada Abi dan Ummi, Cin?" abi terlihat sangat sedih.


"Aku tidak ingin Abi dan Ummi ikut merasakan kesedihanku. Dan, aku tidak mau sampai Mas Fadhil tau alasanku, Bi," ujarku sendu.


"Astaghfirullah Cindy, kamu yang sabar ya, Nduk. Maafkan Ummi dan Abi telah berprasangka buruk padamu kemarin. Suatu saat nanti kamu pasti akan mendapatkan ganti yang jauh lebih baik atas kesedihan yang kamu alami kemarin!" ummi yang mendengar langsung meninggalkan cucian piring di wastafel dan beralih memelukku.


"Iya, Ummi. Cindy sudah mengikhlaskannya. Allah memang tidak mentakdirkan Cindy dengan mas Fadhil untuk berjodoh. Tapi Cindy yakin, Cindy akan menemukan jodoh yang terbaik yang sudah Allah tuliskan di lauhul mahfudz untuk Cindy," ujarku menyakinkan ummi, "Cindy, berangkat kerja dulu ya, Ummi?"


Aku beranjak dari dudukku dan salim kepada ummi dan abi.


"Iya, Cin. Kamu hati-hati ya!" ujar ummi mengiringi langkahku.


"Iya, Ummi. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam!" jawaban ummi dan abi yang masih ku dengar.


Aku sudah merasa pulih, sehingga dalam seminggu ini aku tidak lagi diantar oleh abi untuk berangkat kerja. Terakhir saat kontrol pada dr.Anung SpOG. Rahimku dinyatakan subur dan bersih, dari kista. Tapi tidak menutup kemungkinan kista itu suatu saat akan tumbuh kembali.

__ADS_1


"Cindy, ini adalah saat yang bagus untuk kondisi rahimmu. Kalau saran saya sih, segeralah menikah dan jangan menunda untuk memiliki momongan," ujar dr. Anung yang membuatku tersenyum.


"Dokter bisa saja, nanti saya cari dulu ya, Dok. Laki-laki yang mau menikahi saya," jawabku dengan candaan.


"Memangnya belum ada calonnya, apa mau saya bantu carikan? Saya punya teman yang sedang mencari jodoh juga lhoh, Cin!" ujar dr. Anung.


"Ahh, Dokter bercanda terus nih! Do'akan saja ya, Dok. Semoga tidak lama lagi ada yang mau melamar saya," ujarku saat itu.


Tidak terasa aku sudah sampai di tempat kerjaku. Pagi itu adalah pagi yang ceria karena bebanku seolah terlepas. Aku sempat berpikir tidak akan menikah sebelum mas Fadhil juga menikah. Dan sekarang saat mas Fadhil telah menikah, pundakku terasa ringan tanpa beban.


Aku berjalan dengan senyum terkembang menuju tempat kerjaku. Sesampainya di ruang khusus karyawan aku membuka loker yang bertuliskan namaku di bagian tengahnya. Betapa terkejutnya aku, saat aku membuka pintu loker dan hendak memasukkan tasku.


Ada sebuah buket bunga mawar merah di dalam lokerku. Aku sedikit ragu untuk mengambilnya. Apa jangan-jangan ada yang salah menaruh karena terburu-buru. Namun, buket bunga itu begitu menarik untuk aku lewatkan, ingin aku menyentuhnya. Toh buket bunga ini berada di dalam lokerku. Akhirnya setelah memastikan tidak ada orang lain selain aku di ruangan itu, dengan perlahan aku keluarkan buket bunga itu dari dalam lokerku.


Saat ku keluarkan aroma semerbak wangi bunga itu pun menyeruak di indera penciumanku. Sungguh buket bunga yang indah dan cantik. Saat ku perhatikan bentuknya, ada secarik kertas yang menggantung di dalamnya. Aku pun mengambilnya karena rasa penasaran untuk mengetahui tulisan di dalamnya. Mungkin saja ada nama penerimanya, sehingga aku bisa memberikan pada pemiliknya, jika memang ini buket bunga yang nyasar. Bisa jadi ini milik temanku yang bertugas pada sift malam. Dugaanku!


Aku sangat terkejut saat membaca tulisan di kertas itu. Tangan kiriku membekap mulutku yang menganga dan mataku membulat sempurna setelah membaca tulisannya.


'Will you marry me, Cindy? 💕


From: Dimas'


Jantungku seolah berhenti berdetak dan rasa tak percaya akan tulisan yang berada di dalam secarik kertas itu. Badanku terasa panas dingin.


'Benarkah ini ya Allah?' dalam hati aku bertanya-tanya.


"Pagi Cindy!" sapa mbak Sari saat memasuki ruang khusus karyawan.


Dengan segera aku memasukkan secarik kertas ke dalam kantong bajuku.


"Ehh, mbak Sari. Pagi juga, Mbak!" ujarku.


"Kamu kenapa, Cin? Sehat kan?" tanya mbak Sari sembari mendekat padaku. Ia menyentuh dahi, pipi dan tanganku.


"Ihh apaan sih, Mbak. Aku gak apa-apa, Mbak!" ujarku sembari menjauh darinya.


"Pipimu memerah, terus suhu badanmu hangat dan tanganmu sangat dingin. Jangan-jangan mau masuk angin, Cin?" ujar mbak Sari yang seketika membuatku merasa lucu.


'Apa benar seperti itu ekspresi di wajahku? Untung saja hanya lewat tulisan. Bagaimana jika dr. Dimas yang berada di depanku saat ini dan mengucapkan kata-kata itu langsung kepadaku? Mungkin saja aku akan pingsang di tempat!' batinku saat menghalu memikirkan hal itu sembari tersenyum.


"Cin, Cindiiy...!" aku tersentak mendengar teriakan mbak Sari di dekat telingaku sehingga membuyarkan lamunanku.


"Ehh..ii-iya, Mbak. Sakit tau, Mbak!" aku cemberut sembari mengusap-usap telingaku yang panas karena teriakan mbak Sari.

__ADS_1


"Habisnya diajak bicara malah, melamun. Udah gitu senyum-senyum sendiri. Ntar kesambet baru tau rasa!" ujar Mbak Sari.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu membuatku menoleh ke arah pintu yang masih terbuka lebar sejak kedatangan mbak Sari.


Deg.


Aku sangat terkejut, dan tubuhku mendadak kaku. Jantungku serasa akan copot. Aku bahkan seolah bisa mendengar bunyi detak jantungku yang berdentum dengan sangat kencang. Seketika aku langsung menunduk saat ia melihat ke arahku. Aku menggigit bibir bawahku dan meremas ujung bajuku. Entahlah, mungkin saat ini mukaku sudah seperti kepiting rebus.


"Ada yang bisa di bantu, Dok?" tanya mbak Sari.


"Oh ya, Sari, tolong hubungi dokter lain yang bisa menggantikan jadwal praktikku nanti malam, sebab nanti malam aku ada urusan," titah dr.Dimas.


"Baik, Dokter!" ujar mbak Sari.


"Cindy...!"


Panggilan dr.Dimas yang mau tidak mau membuatku harus mendongak ke arahnya.


"Emm..., i-iiya, Dok!" ucapku gugup kemudian kembali menunduk.


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak akan meminta jawabannya sekarang," ujarnya.


Aku meliriknya sebentar, kemudian mengangguk mengiyakan. Badanku serasa lemas saat itu juga. Aku berharap dr. Dimas segera pergi agar aku bisa bernapas dengan baik.


"Ya sudah, Sari, nanti tolong kabari saya, dokter yang bisa menggantikan jadwal praktik saya, ya? Saya permisi, selamat bekerja!" ujar dr. Dimas kemudian beranjak meninggalkan ruangan.


"Baik, Dok!" mbak Sari masih sempat menjawabnya.


Aku langsung menghela napasku yang sempat tertahan sejak tadi, "Hhhhuuuuh...!"


"Ehh...Cin, maksud dr.Dimas tadi apa?" tanya mbak Sari.


"Hahh, emm...gak ada apa-apa, Mbak!" kilah Cindy.


"Tadi jawaban apa yang di minta dr.Dimas? Apa mungkin...," mbak Sari mulai berpikir keras.


"Biasa, Mbak. Aku diminta mengajari Qila belajar!" ujarku memotong dugaannya. Jangan sampai mbak Sari berpikir macam-macam padaku dan dr.Dimas.


"Ohhh...aku pikiiir....," ujar mbak sari yang cepat-cepat aku potong.


"Sudah-sudah ayo kerja, Mbak!" ujarku sembari keluar ruangan meninggalkan mbak Sari.

__ADS_1


_____________________Ney-nna_______________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, selalu dukung author 🙏😘💕💕


__ADS_2