
Sesampainya di penginapan, Cindy menyampaikan pada Dimas jika selepas maghrib Reyna mengundang mereka makan bersama di restaurant yang berada di resort tempat Reyna menginap.
Dimas menyetujuinya, kemudian segera mandi. Sedangkan Cindy bersantai menunggu giliran bersama Qila. Seusai mandi Dimas menyempatkan sholat di masjid yang berada di desa setempat yang tak jauh dari tempatnya menginap.
Cindy bergegas memandikan Qila terlebih dahulu, kemudian memutuskan untuk tidak langsung mandi melainkan bersihkan kaki tangan, dan mencuci muka. Lantas ia mengambil wudhu dan berganti baju untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu, karena takut kehabisan waktu jika akan mandi. Seusai sholat Dimas datang.
"Mas, aku tadi belum mandi takut gak keburu sholat maghrib jadi sholat dulu. Apa mendingan kalian ke tempat Reyna dulu ya aku nanti nyusul," tutur Cindy.
"Yakin, kamu nggak apa-apa kita tinggal?" tanya Dimas.
"Iya, Mas. Gak apa-apa. Aku merasa lengket soalnya pengen keramas dulu, ntar jadi kelamaan kalau nunggu aku!" ujar Cindy.
"Ya udah, ayo Qila kita ketempat tante Reyna dulu," Dimas menggandeng Qila keluar dari kamar, kemudian mengajak Rosa dan ibunya menuju resort tempat Reyna menginap.
Sesampainya di resto milik resort tempat Reyna menginap, Dimas dan keluarganya di sambut hangat oleh keluarga besar Rangga. Windy, kakak dari Rangga ternyata juga datang bersama suami dan Chaca. Mereka kemudian makan bersama di restoran tersebut sembari menikmati suasana pantai di malam hari.
Sedangkan Dimas meminta ijin untuk kembali ke homestay tempatnya menginap untuk menjemput Cindy. Ia khawatir karena ini sudah malam, takutnya Cindy nyasar atau ada orang yang berniat jahat.
Sesampainya di homestay, Dimas langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.
"Arrghh..., Mas Dimas bikin kaget aja ih!" pekik Cindy yang terkejut mendapati Dimas masuk ke dalam kamar mereka.
Ia tadinya tidak menduga jika Dimas akan kembali lagi, sehingga berniat untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu sebelum memakai gamisnya agar tidak basah terkena rambutnya yang basah seusai keramas.
Dimas diam mematung di depan pintu saat melihat penampilan Cindy. Ini adalah pertama kalinya ia melihat istrinya tanpa menggunakan hijab. Terlebih lagi yang ia lihat saat ini, Cindy hanya terbalut dengan handuk kimono. Otak liarnya mulai berkelana ke mana-mana. Ia jadi berpikir yang tidak-tidak tentang isi di balik kimono istrinya. Dengan susah payah Dimas menelan salivanya menyadari betapa indahnya sosok di depannya.
Cindy terlihat berbeda dengan rambutnya yang terurai lurus di bawah telinga bagian depan dan bagian belakang lebih pendek, sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih bersih. Auratnya terekspos karena kimononya hanya sependek satu jengkal di atas lutut.
Cindy yang menyadari sedang di perhatikan oleh Dimas, buru-buru beranjak menuju kopernya untuk mengambil baju ganti. Kemudian ia hendak masuk kembali ke kamar mandi, namun terurung karena Dimas dengan cepat menahan tangannya.
"Maaf, Mas. Aku mau memakai baju dulu!" ujar Cindy.
Namun, Dimas tak mengindahkannya. Ada yang bereaksi dari tubuhnya setelah sekian lama tak terjamah yang mendorongnya untuk mendekati Cindy. Seolah terdapat daya tarik magnet yang membawanya mendekat pada sosok di depannya.
Dimas merengkuh tubuh istrinya dan dengan cepat m******* bibir istrinya. Pada saat di awal Cindy sempat berontak namun saat ciumannya semakin menuntut dan semakin dalam berjelajah mengabsen seluruh yang ada, ia pun tak bisa berkutik.
Perlahan-lahan Dimas menuntunnya menuju ranjang dan menjatuhkan diri mereka di atas sana tanpa melepas pag*********. Dengan tersengal karena menahan napas Cindy m****** bahu Dimas, saat merasakan ada sentuhan yang tak biasa di bagian tubuhnya.
Dimas berhenti sejenak saat menyadari Cindy kesulitan bernapas.
"Bernapas, Sayang. Rileks saja, jangan tegang!" ujar Dimas sembari merenggangkan tubuhnya.
"Hahh...hahhh...," dengan susah payah Cindy menghembuskan napasnya yang sempat tertahan.
"Boleh aku memintanya sekarang?" tanya Dimas.
Dengan muka yang sudah merah Cindy hanya diam dan mengangguk perlahan. Namun saat Dimas hendak menciumnya kembali, Cindy dengan sigap menahannya dengan tangannya.
__ADS_1
"Do'a dulu, Mass!" ucap Cindy.
"Oiya, maaf-maaf, saking terlalu bersemangat, Mas sampai lupa!" keduanya pun terkikik merasa lucu.
"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaitaana wa jannibi syaitoona maarazaqtaana," gumam Dimas lirih di depan muka Cindy kemudian mencium kening istrinya.
Aktivitasnya pun kembali berlanjut hingga pembungkus tubuh mereka terlepas satu demi satu. Hanya selembar selimut tipis yang menutupi polosnya tubuh mereka. Lenuhan-demi lenguhan keluar begitu saja dari mulut si wanita, tatkala merasakan kenikmatan duniawi yang pertama kali ia rasakan.
****
Sedangkan di tempat lain seorang anak terus mencari-cari induknya.
"Tante, Papa dan Umma kenapa lama sekali," ujar Qila dengan cemberut.
"Mereka gak kasih kabar Ros?" Bu Lilis pun mulai khawatir.
"Gak tau nih mas Dimas sama mbak Cindy gak ada yang angkat telepon aku!" ujarnya kesal karena chat dan telepon tak ada tanggapan dari keduanya.
"Mungkin mampir dulu kemana gitu," ujar Reyna berpendapat.
"Alahh udah tenang aja, mereka gak ke mana-mana. Nanti kalau udah satu jam berlalu juga ke sini kalau gak pakai nambah!" ujar Rangga.
"Maksudnya gimana sih mas Rangga, aku kok nggak ngerti?" tanya Rosa yang tidak mengerti dengan ucapan Rangga.
"Iya, By. Kamu nggak jelas deh!" Reyna menambahi.
"Masa kamu juga gak ngerti sih, Sayang! Kalau Rosa nggak ngerti itu wajar, Rosa kan belom cukup umur. Tapi kalau kamu gak ngerti juga, itu sih kebangetan, Sayang. Udah berbuah segede ini masa masih tanya juga. Mau aku kasih tahu, yuk kita ke kamar sekarang!" ujar Rangga sembari menarik tangan Reyna.
"La, kamu nanti bobo sama aku aja di kamar tante Reyna," ujar Chaca.
Dua anak itu meski baru saja bertemu, namun langsung akhrab. Selain karena mereka sebaya juga karena keduanya memiliki kecocokan.
"Emang boleh?" tanya Qila.
"Mommy, nanti Qila ikut bobo sama aku ya?" tanya Chaca kepada Windy.
"Boleh aja kalau Papanya Qila kasih ijin, Cha!" ujar Windy.
"Ya udah nanti kalau Papamu datang aku akan bicara empat mata sama Papa kamu!" ujar Chaca.
"Bicara empat mata itu gimana, Cha?" tanya Qila yang merasa tidak mengerti.
"Gimana ya jelasinnya? Aku juga gak tahu, Mommy aku suka bilang kaya gitu!" jawab Chaca jujur.
Karena yang lain ikut mendengar akhirnya semua orang yang ada pun jadi tertawa mendengar celotehan kedua anak itu.
Dan saat itu nampak Dimas yang baru datang.
"Nah, ini nih yang di tunggu-tunggu sudah datang," ujar Rangga.
__ADS_1
"Lhoh, Cindynya mana, Dok?" tanya Reyna karena tidak terlihat Cindy menyertai kedatangannya.
"Maaf Reyn, Cindy kurang enak badan. Barusan aku pesankan makanan pada pemilik homestay agar membawakan makanan ke kamarnya," ujar Dimas.
"Ohh, Cindy sakit. Ya sudah biar dia istirahat saja, Dok," ujar Reyna.
Saat yang lain kembali mengobrol, Rangga mendekati Dimas.
"Sudah gol belum, Dok?" bisik Rangga di samping Dimas.
"Hahhhaha...tau saja sih!" jawab Dimas lirih.
"Kita kan sama-sama laki-laki, Dok. Masa saya gak ngerti yang kaya begitu, hhhahaha..!" ujar Rangga yang merasa tebakannya benar.
"Sayangnya, Gatot!" ujar Dimas dengan miris.
"Kok bisa?" pekik Rangga yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa, By? Kamu meremehkan aku ya? Awas ya, By kalau ngomongin aku, nanti jangan bobo sama aku!" ancam Reyna yang salah paham.
"Ehh, siapa yang ngomongin kamu, Sayang. Orang ngomongin Dokter Dimas nih!" kilah Rangga.
Dimas tertawa paling kencang menertawakan nasib Rangga.
"Papa, nanti Qila boleh bobo di sini ya sama Chaca? Please!" Qila memohon.
"Memangnya di kasih ijin sama Tante Reyna?" Dimas balik bertanya.
"Gak apa-apa, Dok. Lagi pula tempat tidurnya ada banyak kok, masih muat kalau cuma nyelipin Qila doang sih," ujar Reyna.
"Ya sudah, Papa ijinkan jika tidak merepotkan," ujar Dimas.
"Yeyyy, makasih Papa!" ujar Qila girang.
Karena sudah malam akhirnya Dimas berpamitan pulang ke penginapannya dengan Rosa dan Bu Lilis.
Setelah masuk ke dalam villa, Reyna merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size di bagian atas. Qila dan Chaca mengikutinya dan merebahkan diri di samping Reyna.
Sementara Mami dan Papi tidur di tempat tidur bagian bawah. Windy dan suaminya menyewa suite room di lantai atas resort.
Rangga yang baru masuk ke dalam villanya kemudian mengunci pintu dan naik ke bagian atas di mana Reyna berada.
"Ehh...aku tidur di mana, Sayang?" Rangga kebingungan saat melihat Qila dan Chaca tidur di sisi kanan dan kiri tubuh Reyna.
"Tuh...!" ujar Reyna sambil melirik ke tempat tidur kecil yang muat satu orang terletak di sudut ruangan.
"Wahh kejamnya nasib ini ya Allah. Yang lain pada enak-enakkan sama pasangan masa kita malah buka jasa penitipan anak sih, sayang!"
"Jasa penitipan anak? Hahhaha..., ada-ada aja sih kamu, By!" tawa Reyna mendengar candaan suaminya.
__ADS_1
_____________________Ney-nna________________