Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Asal Bicara


__ADS_3

Matahari mulai terbenam sayu-sayu terdengar adzan maghrib berkumandang dari kejauhan.


"Kak Abi, terima kasih ya sudah mengantar sekaligus menemani aku dari tadi. Ini sudah menjelang malam, sebaiknya kakak pulang saja untuk beristirahat." ucap Reyna.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Semoga Kakek cepat sembuh. Reyna tolong pamitkan kepada Nenek ya, aku takut mengganggu yang didalam, jadi aku langsung saja." Abiyu berdiri hendak pergi, namun iya berbalik. "Reyn, jika Kakekmu sudah pulih, aku akan datang bersama Bunda untuk melamarmu. Kamu jaga kesehatan, jangan terlalu lelah." ucap Abi penuh perhatian.


"Iya kak, sekali lagi terimakasih." Abiyu mengangguk kemudian kembali berjalan meninggalkan rumah sakit. Reyna masuk ke dalam kamar Kakek.


"Nek, sebaiknya kita sholat dulu di mushola. Rangga bisa beristirahat dulu sambil menemani Kakek." ujar Reyna.


"Baiklah." Nenek bangkit kemudian berjalan keluar ruangan bersama Reyna.


Sepeninggal Nenek, Rangga tiduran di sofa yang berada di dalam kamar Kakek. Rangga sedikit terganggu dengan pemikirannya tentang laki-laki yang bersama Reyna diluar. Sebab belum sempat Nenek menjawab, Reyna sudah masuk kedalam kamar Kakek. Mungkinkah Reyna punya pacar. Ia merasa ada yang perih dalam dadanya mendapati Reyna dimiliki orang lain.


Dibandingkan dengan rasa kehilangan Putri yang menjalin hubungan dengan laki-laki lain, justru ia sudah tidak memikirkannya lagi, seperti hanya emosi sesaat namun kini mulai pudar sudah tiada benci atau kecewa dihatinya.


Dulu saat SMA Putri merupakan salah satu primadona di sekolahnya. Putri anaknya cantik dan terkenal karena menjadi model. Banyak yang menginginkan menjadi pacarnya. Ranggapun tidak kalah tenarnya hingga dijuluki cowok playboy. Sebab ia suka tebar-tebar pesona hingga banyak penggemarnya. Berawal dari di tantang oleh temannya akhirnya ia mendekati Putri. Rupanya Putri meresponnya sampai kemudian mereka jadian. Putri anaknya asik dan tidak membosankan. Sampai akhirnya hubungan mereka bertahan cukup lama.


Namun ia baru menyadari rupanya rasa sayang terhadap Putri terasa berbeda dengan rasa sayang yang dulu pernah ia rasakan terhadap Reyna. Ketidak hadiran Reyna selama ini dalam hidupnya, masih menyisakan tempat dihatinya yang terdalam. Sehingga saat bertemu Reyna kembali seperti getaran-getaran yang dahulu ada dalam hatinya bangkit kembali.


"Ga..." Rangga, kemudian menoleh kesumber suara. Rupanya Kakek sudah bangun. Rangga mendekat ke tempat tidur Kakek.


"Kakek, gimana Kek...ada yang dirasakan?" Rangga sedikit panik mengkhawatirkan keadaan Kakek.


"Kakek baik-baik saja...Kakek masih mempunyai tanggung jawab untuk menikahkan Reyna, Kakek harus sembuh." ujar Kakek lemah.

__ADS_1


Rangga tercengang mendengar alasan Kakek. Apakah selama ini Kakek masih terbebani karena ia menolak untuk menikahi Reyna.


"Kek, aku akan menikahi Reyna." kata-kata itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Rangga.


"Benarkah?" raut muka Kakek terlihat berbinar bahagia.


Rangga merutuki mulutnya yang asal bicara. Bagaimana kata-kata itu langsung keluar dari mulutnya tanpa difilter. Harusnya dia mendiskusikan dahulu dengan Reyna. Bagaimana jika Reyna tidak menyetujui untuk menikah dengannya. Kakek sudah terlanjur mendengarnya dan raut mukanya terlihat bahagia. Ia tidak tega jika akhirnya nanti akan mengecewakannya lagi jika pernikahan ini tidak terwujud.


"Emm...ii..iiyaa, Kek." pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.


Nenek dan Reyna kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian gantian Rangga keluar untuk sholat terlebih dahulu. Kemudian Nenek membantu Kakek sholat dengan tayamum. Selesai sholat Reyna menyuapi Kakek makan.


"Kakek, makan dulu ya...Reyna suapi kek. Nenek juga makan dulu tadi Reyna sudah belikan." Nenek mengangguk.


"Reyna..." panggil Kakek.


"Tunggu dulu Kek, kakek harus minum obatnya terlebih dulu." Reyna menginterupsi.


"Papaa..." tiba-tiba muncul Papi Reza dari arah pintu berbarengan dengan Rangga yang kembali dari mushola.


"Papa sudah baikan, Pa? Beruntung Reza mendapatkan tiket penerbangan sore dan langsung berangkat kemari." Papi Reza kemudian memeluk Kakek.


"Papa baik-baik saja, istrimu tidak ikut?" Kakek terlihat kecewa, pasalnya dalam keadaan ia sakitpun menantunya tidak ikut menjenguknya.


"Marlena, sedang di rumah Windy, Pa. Katanya Chaca sedang demam dan suami Windy sedang ke luar kota. Mungkin besok baru akan menyusul kemari." Papi Reza menjelaskan. Kakek hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Mama..Reza sangat merindukan Mama."


Ucap Reza kemudian memeluk Nenek erat.


"Reyna kamu tambah cantik saja." Reyna mencium tangan Papi Reza.


"Om Reza makan dulu saja, ini tadi Reyna sudah pesankan makan. Ini buat kamu Ga."


Reyna menyerahkan bungkusan terakhirnya kepada Rangga.


Saat ia pesan tadi hanya untuk Nenek, Rangga dan dirinya. Tidak tahu jika Reza juga akan datang.


"Terus punya kamu mana Reyn?" tanya Rangga tidak melihat ada nasi box yang tersisa.


"Aku bisa beli lagi di kantin. Kalian kan habis dari perjalanan jauh pasti lapar." jawab Reyna.


"Kalau begitu aku temeni kamu makan dikantin...ayok." Rangga langsung menarik tangan Reyna keluar. Reyna terpaksa mengikutinya.


"Lepasin Ga, aku bisa jalan sendiri." akhirnya Rangga melepakan genggamannya.


"Kali ini aku lepaskan, tapi nantinya kamu harus terbiasa." jawab Rangga nyengir dan berjalan lebih cepat meninggalkan Reyna yang masih bengong.


"Apaan sih maksudnya, aneh banget." gerutu Reyna, kemudian menyusul Rangga.


Sesampainya di kantin ternyata lumayan penuh. Begitu mendapat tempat duduk yang kosong mereka buru-buru duduk. Rangga beranjak berdiri untuk memesan makan. Rupanya pelayanannya rumayan cepat. Tak lama ia kembali duduk, seorang pramu saji sudah mengikuti membawa makanan pesanan mereka. Kemudian mereka mulai menyantap makanannya dalam hening.

__ADS_1


__ADS_2