
Belum ada tiga jam berlalu seusai Dipa mengakhiri pelajaran di hari pertamanya dengan sang istri. Tiba-tiba saja Dipa dikejutkan oleh tepukan yang dilayangkan oleh sang istri tepat di mukanya.
Plukk ... plukk...
"Bangun! udah adzan subuh ... salat dulu, gih!" ujar Mira masih dengan mata terpejam.
Dipa seketika membuka mata tatkala terkejut mendapat tepukan di wajah secara tiba-tiba. Dipa mengerjap melihat ke arah istrinya yang masih pulas dalam tidurnya. Dipa memicingkan mata ke arah jam di dinding. Rupanya masih pukul 02.30.
"Perasaan tadi dia bilangnya salat subuh, kan? baru jam segini juga, pasti dia ngelindur!" gumam Dipa.
Karena semalam dia begadang hingga larut malam setelah memberikan les privat kepada istrinya akhirnya Dipa masih sangat mengantuk dan malas untuk bangun. Matanya terasa berat dan lengket. Akhirnya Dipa memutuskan untuk kembali tidur.
Baru saja dia memejamkan mata tiba-tiba terdengar suara bunyi dari handphone Mira
Dipa mengulurkan tangannya menjangkau handphone di atas nakas untuk mematikan bunyi alarm dari handphone Mira.
🎶 mbek ... mbek ... mbek ...
Dipa menyipitkan mata untuk mengatur cahaya handphone yang masuk ke mata, cukup menyilaukan ketika pertama kali membuka mata saat bangun dari tidurnya. Dilihatnya pada layar handphone Mira yang di setel alarm.
"Estoge, gimana ini cara matiin alarmnya?" ujar Dipa saat pertama kali melihat tampilan yang berbeda dari alarm bawaan handphone.
Ada gambar seekor domba yang terus mengembik, namun saat Dipa memencet kata yang tertulis snooze pada layar bagian bawah, alarm juga tak kunjung mati.
Dengan segera Dipa beranjak bangun dari tidurnya, kemudian dia duduk sembari mengamati layar handphone milik istrinya.
Sedangkan si embek terus saja mengembik tak kunjung berhenti.
"Apa ini sebuah aplikasi alarm? astaga jadi musti main game dulu agar alarmnya mati!" gumam Dipa sendiri dengan menerka-nerka cara mainnya.
Ternyata Dipa harus memberi makan dombanya terlebih dahulu dengan dua kotak jerami. Setalah memberi makan domba akhirnya dengan otomatis alarmnya mati.
"Alarm Unyu," ejanya pada layar handphone. "Ya ampun Mira ada-ada aja pakai aplikasi alarm, kalau alarmnya begini jelas aja harus bangun untuk memainkan gamenya!" ujar Dipa yang sedikit kesal.
Gara-gara alarm itu Dipa tidak dapat tidur kembali. Akhirnya Dipa segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Dipa berencana untuk melaksanakan salat tahajud. Sebab waktunya sangat tepat untuk menjalankan salat malam.
Seusai berwudhu Dipa segera mendirikan salat. Dilaksanakan salat tahajud dua rakaat salam sebanyak empat kali dan ditutup dengan salat witir tiga rakaat. Seusai salat dan berdzikir, Dipa menyempatkan diri untuk melantunkan ayat suci Al-Quran sembari menunggu adzan subuh berkumandang.
Tak berapa lama akhirnya adzan subuh pun berkumandang. Dipa segera berdiri untuk mendirikan salat fajar. Seusai salat sunnah, Dipa beranjak ke luar dari dalam kamarnya untuk pergi ke masjid yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Saat itulah Dipa menyadari jika dia beruntung sekali karena memiliki istri yang cukup kreatif seperti Mira yang menyetel alarm Unyu di handphonenya, sehingga Dipa dapat mengisi waktu paginya untuk melaksanakan serangkaian salat sunnah. Ada rasa senang ketika dapat melawan kantuk demi melaksanakannya salat di sepertiga malam yang bagi sebagian orang terasa berat dijalankan karena itu adalah waktu lelapnya orang tidur.
__ADS_1
Seusai melaksanakan salat subuh Dipa membangunkan Mira dan ingin mengajaknya untuk sekedar berjalan-jalan menghirup udara pagi yang masih bersih dari polusi.
"Mir, bangun! ini sudah pagi," ujar Dipa sembari menoel pipi istrinya.
Merasa tidurnya terganggu Mira mengganti posisi tidurnya yang semula terlentang menjadi miring ke kanan, bahkan tanpa membuka mata.
"Emh... sudah cukup hentikan!" racau Mira masih dengan mata tertutup.
Dipa mengernyit mendengar perkataan istrinya. "Apa maksudnya? apanya yang sudah cukup?" gumam Dipa berpikir tentang apa yang diucapkan istrinya.
"Hey... bangun! ini sudah pagi!" ujar Dipa lagi mencoba membangunkan Mira dengan menggelitiki telapak kaki istrinya.
"Iihh... !" pekik Mira merasakan geli di kakinya dan reflek menendangg ke sembarang arah.
Bughh.
Tendangan kaki Mira tepat mengenai bagian perut Dipa.
"Arrgh!" pekik Dipa terkejut saat tiba-tiba mendapat tendangan mautt dari istrinya. "Estoge, malah ditendangg. Mir, bangun dong!" ujar Dipa sembari mengguncang tubuh istrinya, namun Mira tetap tidak bergeming.
"Susah banget sih dibangunkan!" ujar Dipa yang semakin frustasi.
Tiba-tiba Dipa teringat akan alarm pada handphone Mira. Disetel nya alarm di jam 05.00, dengan mode heavy slepper. Kemudian memilih karakter pinguin diet. Didekatkannya handphone di samping telinga istrinya. Kemudian Dipa sembunyi agar Mira benar-benar bangun dan mematikan alarmnya sendiri. Dua menit kemudian alarm pun berbunyi.
Mira masih juga tidak bergeming dalam dua menit.
Tiga menit kemudian ...
Mira terlihat melenguh dan netranya mulai mengerjap. Tangannya mulai meraih handphone yang berada di samping telinganya. Matanya mulai memicing melihat layar di handphonenya.
"Apa nih? perasaan aku setel domba kenapa jadi pinguin!" gumam Mira dengan suara lirih dan berat merasa keheranan karena setelan alarmnya berubah.
Perlahan dia mulai beranjak duduk. Matanya mulai terbuka lebar. Kesadarannya pun mulai sepenuhnya terkumpul. Di sentuhnya layar yang bertuliskan start, game pun dimulai. Mira menekannya berulang-ulang agar pinguin itu melakukan lompat tali berulang kali dan alarm pun padam.
"Nah, akhirnya bangun juga!" seru Dipa ke luar dari tempat persembunyiannya di wardrobe room.
"Astaghfirullah!" pekik Mira terkejut.
"Sekarang, ayo cuci muka dan ganti baju kita jogging!" ajak Dipa pada istrinya.
"Jogging?" tanya Mira mengulangi kata-kata dari Dipa.
__ADS_1
"Iya yuk, buruan!" ujar Dipa sembari mendorong pelan bahu Mira agar segera beranjak bangun.
Dengan enggan Mira bangun dan beranjak menuju kamar mandi. Seusai bersih-bersih dan bersiap-siap rupanya Dipa sudah tidak berada di kamarnya. Mira pun bergegas membuka pintu untuk ke luar.
Klekk ... klekk ...
"Kok pintunya nggak bisa di buka?! gimana sih?" tutur Mira seraya mencoba untuk membuka pintunya.
Dokk ... dokk ... dokk ...
"Dip, ini gimana pintunya nggak bisa ke buka!" seru Mira sembari menggedor-gedor pintu.
Dipa yang menunggu di ruang tengah tidak mendengar teriakan istrinya yang berada di lantai dua rumah itu.
Mira mengambil handphonenya dan segera menelepon Dipa.
Tulilit ... tulilit ... tulilit
Mira menajamkan pendengarannya saat mendengar seperti bunyi handphone, yang bukan berasal dari handphonenya.
"Astaghfirullah! handphone Dipa ada di kamar lagi! Dipa-a buka pintunya ...!" teriak Mira kesal saat menemukan handphone suaminya ada di dalam laci nakas kamar mereka.
Sedangkan Dipa yang sudah menunggu cukup lama, namun Mira juga tidak kunjung datang, akhirnya bermaksud untuk mengecek apa yang dilakukan istrinya di kamar. Ditempelkannya ibu jari pada sensor pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka dan terlihat Mira yang tiduran di kamar sembari menekuni layar handphonenya.
"Ish-ishh-ishh, ditungguin di bawah dari tadi kenapa malah malas-malasan di kamar sih, Mir?" ujar Dipa sembari berkacak pinggang hendak memarahi istrinya.
Mira memicing tajam pada Dipa kemudian bangkit dari pembaringan dan beranjak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Dipa dengan raut muka yang tidak bersahabat.
Eh, Mira kenapa malah terlihat marah begitu sih! dia kenapa? batin Dipa.
"Dipa Birendra! teganya ya kamu kurung aku di kamar, hah!" ujar Mira dengan nada marah.
"Apa maksudnya? jelas-jelas aku nungguin kamu di bawah dari tadi, kan mau jogging, kenapa kamu nggak turun-turun?" Dipa balik bertanya merasa dia tidak salah.
"Pintunya kenapa harus dipassword? pokoknya aku nggak mau pintu ini di password lagi! kalau aku mati di sini gimana? nggak ada yang bisa nolongin aku gimana?" ujar Mira dengan menusuk-nusuk perut Dipa dengan telunjuknya.
Dipa seketika ingat jika dia belum memberitahukan password pintunya kepada Mira.
__ADS_1
"Astaghfirullah! maaf, Mir. Aku bener-bener kelupaan!" tutur Dipa merasa bersalah.
...___________Ney-nna__________...