
Fely memacu mobilnya dengan kecepatan sedang memecah jalanan kota Yogyakarta yang cukup padat dengan kendaraan yang hilir mudik.
Weekend adalah waktu yang tepat berkunjung bagi sebagian orang atau turis lokal maupun mancanegara untuk mendatangi kawasan ini. Sehingga tidak heran jika sepanjang jalan raya arah Malioboro cukup padat dan macet.
Ketika mendekati perempatan jalan, traffic lamp pun menyala warna merah, Fely segera mengurangi kecepatan laju mobilnya dan berhenti tepat di belakang garis. Tanpa sengaja ketika Fely melihat ke arah depan, di seberang jalan dia menangkap sosok yang dikenalnya. Seorang wanita paruh baya yang tidak asing baginya itu sedang menggendong seorang anak kecil sembari menenteng kantong belanjaan di kedua tangannya.
Saat wanita itu hendak menyeberang tanpa sadar mainan dalam genggaman sang anak itu terjatuh. Anak kecil itu pun menangis seraya meronta-ronta ingin diturunkan dari gendongan. Namun, wanita paruh baya itu tidak mengerti kenapa anak yang berada dalam gendongannya tiba-tiba rewel.
Wanita itu mulai kerepotan dan konsentrasinya pun terbagi. Tiba-tiba datang pengendara sepeda motor dari arah depan hendak berbelok ke kiri. Fely seketika histeris menyaksikan detik-demi detik kejadian itu berlangsung.
Beruntungnya kecelakaan dapat terelakkan saat wanita itu reflek memundurkan diri hingga badannya terhuyung ke belakang. Semua belanjaannya pun terjatuh ke bawah. Yang terpenting adalah nyawanya dan anak yang berada pada gendongannya selamat.
Fely pun merasa lega ketika menyaksikan wanita itu baik-baik saja. Ada kekhawatiran saat melihat orang yang dikenalnya hampir celaka. Saat lampu hijau menyala, Fely yang awalnya hendak lurus merubah arah menjadi belok ke kanan. Fely segera menepikan mobilnya setelah sampai di tempat yang aman untuk memarkir mobilnya. Fely turun dari mobilnya dan segera mendekat ke arah Wanita yang dilihatnya tadi berada.
"Tante, bagaiman apa ada yang sakit?" tanya Fely dengan nada cemas.
"Fe, bagaimana kamu bisa ada di sini?" Rahma balik bertanya saat terkejut mendapati Fely yang tiba-tiba berada di tempat yang sama.
"Saya tadi sedang berhenti di lampu merah di seberang jalan, Tante ...," ujar Fely memberi penjelasan di mana posisinya saat kejadian berlangsung.
"Alhamdulillah, Tante masih diberi pertolongan oleh Allah, Fe. Tante tidak apa-apa," jawab Rahma.
Saat itu Rahma sudah mendapatkan pertolongan juga dari orang-orang di sekitar tempat kejadian. Namun, anak yang berada dalam gendongannya masih terus menangis.
"Oh, Sayang ... kamu ketakutan, ya? cup cup cup, maafkan Nenek, ya!" ujar Rahma mencoba menenangkan si anak dalam dekapannya.
"Mainannya terjatuh di jalan saat Tante hendak menyeberang jalan barusan, Tan. Tunggu! biar Fely carikan mainannya tadi, Tante," ujar Fely kemudian berdiri menuju tempat di mana ia melihat Rahma saat berdiri hendak menyeberang jalan.
Beruntung mainan itu masih berada di pinggir jalan sehingga tidak terjadi kerusakan. Fely segera kembali dan menyerahkan mainan itu kepada si anak. Dan, anak itu pun berhenti menangis.
__ADS_1
"Terima kasih, Fe! untung kamu melihatnya, itu adalah mainan kesukaannya, jika sampai terlindas dan rusak, dia pasti akan semakin rewel jika tahu," tutur Rahma.
"Apa dia anaknya Raka, Tante?" tanya Fely dengan hati-hati.
Rahma sejenak diam memikirkan jawaban apa yang tepat untuk dia katakan kepada Fely
"Bisakah saya meminta tolong untuk diantarkan pulang ke rumah, Fe? nanti Tante akan menceritakan semuanya yang Tante rasa kamu harus tahu!" ujar Rahma mencoba membujuk Fely.
Fely nampak ragu karena dia teringat akan pesan Reyna saat ditelepon, bahwa dia harus segera pulang karena ibunya Nabil datang dari Surabaya dan meminta untuk bertemu.
Namun, Fely sungkan untuk menolaknya. Pada akhirnya Fely pun setuju untuk mengantar Rahma terlebih dahulu.
****
Sesampainya di rumah, Rahma memaksa Fely untuk masuk ke dalam rumahnya. Seusai menidurkan anak kecil tadi di kamarnya, Rahma kembali ke ruang tamu untuk menemui Fely yang sudah menunggu.
Flashback On ...
Kandungan Maura sudah memasuki tiga puluh tiga week. Hanya menunggu tiga minggu lagi menuju hari perkiraan lahir yang ditetapkan oleh dokter.
Maura sudah tidak sabar untuk melihat bayinya lahir ke dunia. Meskipun anaknya itu bukan anak yang sengaja dihadirkan dari buah cintanya, namun Maura merasa anak yang sedang dikandungnya ini membawa berkah tersendiri baginya.
Mungkin lewat anaknya itu Allah tengah menunjukkan jalan taubatnya agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berkat hal itu juga dia dipertemukan dengan keluarga Raka yang memperlakukannya dengan sangat baik, sehingga dia mau menerima kehamilannya dan merawat janin yang dikandungnya dengan baik.
Namun, Maura merasa resah. Dia merasakan semakin bertambahnya hari, kondisi tubuhnya semakin terasa tidak baik-baik saja. Dia kurang mengerti dengan kondisinya saat ini, karena ini adalah kehamilan pertamanya.
Maura mencoba mencari tahu, namun hal itu dikatakan hal wajar yang sering dirasakan oleh ibu hamil. Seiring bertambah besarnya berat badan sang janin yang dikandung, kondisi Maura semakin tidak baik.
Maura yang awalnya membenci janin yang di kandungannya itu, sebab anak itu adalah hasil dari tindakan yang telah merenggut kesuciannya dengan paksa, setelah menikah dengan Raka, hari demi hari justru Maura mulai menyayangi anaknya itu. Demi mengandung anaknya, Maura rela dengan perubahan yang terjadi pada kondisi fisiknya, asalkan janinnya tumbuh sehat.
__ADS_1
Dua minggu seusai bertemu dengan Fely di rumah sakit saat itu, membuat Maura menyadari bahwa tidak seharusnya dia menuntut balasan cinta dari Raka. Dia sangat tahu seperti apa dirinya kala itu. Raka telah merelakan cintanya demi menolongnya, memberinya belas kasih untuk menikahinya.
Padahal jika dipikir, laki-laki mana yang mau menikahi wanita yang bahkan sudah hamil di luar nikah. Terlebih bukan karena perbuatannya. Bukankah dia sangat beruntung dipertemukan dengan Raka.
Untuk itu Maura ingin membalas budi atas kebaikan Raka. Maura sempat berkata jika rela diceraikan oleh Raka seusai dia melahirkan. Untuk itu dia menulis sepucuk surat yang berisi alasan Raka menikahinnya dan menceritakan bagaimana kehidupan rumah tangganya kepada Fely, berharap Fely mau kembali pada Raka.
Seusai menulis surat untuk Fely, malam itu Maura merasakan badannya meriang dan dadanya terasa sesak. Takut jika terjadi sesuatu, dengan sigap Raka dan bu Rahma segera mengantarkannya untuk periksa ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dan usai diperiksa oleh dokter, ternyata Maura harus menjalani rawat inap. Akhirnya semenjak malam itu Maura di rawat di rumah sakit.
Lima hari berada di rumah sakit kondisi Maura terus-menerus menurun. Pada akhirnya dokter harus mengambil tindakan cepat dan memberikan pilihan kepada Raka untuk memilih antara menyelamatkan bayinya atau tidak keduanya. Sebab, kemungkinan Maura untuk sembuh sangatlah kecil. Sedangkan untuk bayinya, jika tidak segera dikeluarkan akan mengalami komplikasi.
Raka kemudian mendiskusikan hal itu kepada mama dan papa Maura. Mereka setuju untuk dilakukannya operasi caesar agar bayinya dapat diselamatkan. Usai mendapat persetujuan dari Raka sebagai suami Maura dan persetujuan dari orang tua Maura, akhirnya dokter segera melakukan tindakan. Dan, beruntungnya bayi Maura dapat diselamatkan.
Bayi Maura yang berjenis kelamin laki-laki tersebut lahir prematur karena belum cukup bulan dan harus dirawat di NICU. Sedangkan Maura, lima jam pasca operasi caesar, nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Maura telah menghembuskan nafas terakhirnya dengan bahagia.
Sebelum kondisinya kritis, Maura sempat berpesan kepada Raka untuk memberikan sepucuk surat yang ditulisnya untuk Fely.
Seminggu setelah kepergian Maura, Raka mendatangi rumah Fely dan berniat ingin menyerahkan surat tersebut. Namun, Raka berubah pikiran saat melihat janur kuning melengkung di pintu depan restoran milik keluarga Fely. Di depan pagar bertengger beberapa karangan bunga yang bertuliskan 'Selamat Menempuh Hidup Baru Felycia & Nabil'.
Hal itu membuat hati Raka seketika hancur berkeping-keping. Terlebih ketika mendengar Nabil tengah membacakan qobulnya atas Fely. Wanita yang dicintainya telah sah menjadi istri laki-laki lain.
Flashback Off.
"Ini adalah surat yang dituliskan sendiri oleh Maura sebelum dia mengalami kritis. Tante dan Raka tidak tahu apa isinya. Kamu yang berhak membukanya karena surat ini tertulis untukmu," ujar Rahma sembari menyodorkan sepucuk surat yang masih melekat dengan sempurna di bagian amplopnya.
Fely menerimanya dengan ragu, dia merasa heran mengapa Maura harus repot-repot menulis surat untuknya. Dengan, hati-hati Fely membuka amplopnya dan mengeluarkan isi yang ada di dalamnya.
...____________Ney-nna____________...
__ADS_1